
Bandung, UPI
Sebanyak 96 siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 11 Kota Bandung mengikuti program edukasi literasi digital Misleading Message (MLM) yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UPI) bekerja sama dengan Litera Rasa Indonesia
Kegiatan yang mengusung slogan “SSS: Saring Sebelum Sharing” tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengenali berbagai bentuk misinformasi dan modus penipuan digital yang semakin marak terjadi di masyarakat.
Kepala SRMA 11 Bandung, Tintin Sri Suprihatin, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan pelajar saat ini yang tidak terlepas dari penggunaan media sosial dan teknologi digital.
“Materi ini sangat dekat dengan kehidupan siswa sehingga dapat membantu mereka menjadi agent of change dalam menyaring berbagai informasi yang beredar di media sosial,” ujarnya.
Pemateri pertama, Raja Wirayuda, menjelaskan bahwa kemampuan literasi media tidak hanya sebatas mengakses informasi, tetapi juga mencakup kemampuan menguasai AAP, yaitu kemampuan dalam mengakses, analisis, produksi informasi secara bijak guna menghindari kesalahpahaman di media sosial.
Raja juga menjelaskan sejumlah modus penipuan yang banyak ditemukan saat ini, mulai dari lowongan kerja palsu, transaksi jual beli fiktif, hingga phishing yang digunakan pelaku untuk mencuri data pribadi korban.
Menurutnya, banyak kasus penipuan digital berhasil dilakukan karena pelaku memanfaatkan kondisi psikologis korban, seperti rasa panik, tekanan waktu, iming iming, dan kepecayaan palsu bahkan pada orang pintar sekalipun.

Dilanjutkan oleh narasumber Noer Rachman, S.Pd., S.Ag., MM., M.Pd. yang membahas pola-pola misleading message yang umum digunakan dalam berbagai bentuk kejahatan digital.
Ia menjelaskan bahwa pelaku biasanya menggunakan strategi impersonation yaitu penyamaran identitas sebagai pihak resmi, false promise menawarkan keuntungan yang tidak realistis, serta urgency scams yang menciptakan situasi mendesak agar korban mengambil keputusan tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Di akhir sesi beliau menyampaikan bahwa “Keamanan digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu bersikap kritis terhadap informasi yang diterimanya,” ujarnya.
Sebagai bentuk penguatan pemahaman peserta, rangkaian kegiatan juga diisi dengan workshop berbasis studi kasus, para siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk mengidentifikasi pola-pola penipuan yang sering muncul di media digital dengan pendampingan langsung dari mahasiswa.
Dengan pembekalan ini, siswa diajak mengidentifikasi ciri-ciri misinformasi sekaligus menyusun langkah pencegahan yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi serupa di dunia digital.
Menutup rangkaian kegiatan, Vidi Sukmayadi, Ph.D., selaku dosen pembimbing mengucapkan “Hatur Nuhun” atas SRMA 11 Kota Bandung atas keterbukaan kerja sama yang luar biasa dalam menyukseskan acara Misleading Message.
Menurutnya, “kebanggan paling utama dari seorang pendidik adalah ketika melihat anak didiknya mampu berkembang dan berdampak”.
Vidi juga menyampaikan melalui kegiatan MisLeading Message, besar harapannya agar siswa-siswi SRMA 11 Bandung dapat tumbuh menjadi pelajar yang bijak dalam bermedia sosial, mampu melindungi diri dari berbagai ancaman kejahatan di platform online, serta menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Beliau juga menyampaikan doanya kepada siswa-siswi SRMA 11 Kota Bandung semoga kelak menjadi insan-insan muda gemilang harapan bangsa dan orang tua. (Azka Hayya Zahidah/Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI)

