
Bandung, UPI
Program Studi Pendidikan Seni Jenjang Magister Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar pertunjukan seni yang menampilkan sepuluh karya inovatif mahasiswa angkatan 2025 di Gedung Amphitheater UPI, Senin (8/6/2026). Pertunjukan ini merupakan output dari mata kuliah Pendidikan Penciptaan Seni yang mengusung metode riset artistik (Artistic-Based Research).
Melalui metode tersebut, karya yang disajikan tidak hanya sekadar menjadi tontonan, melainkan sebuah refleksi budaya yang berpijak pada tradisi Nusantara sekaligus merespons isu-isu kontemporer. Pertunjukan ini juga berkolaborasi dengan MGMP Seni Budaya Kota Bandung sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) untuk memperluas ruang apresiasi guru seni.
Secara garis besar, sepuluh karya yang dipentaskan terdiri dari dua kategori utama, diantaranya Eksplorasi Isu Lingkungan Lewat Musik, digarap oleh bidang musik di bawah bimbingan Dr. Rita Milyartini, M.Si., kelompok musik ^DE(S)IBEL^, Experimental Music, dan Jori Dogu Kazoo tampil eksploratif. Uniknya, mereka menyusun komposisi musik menggunakan instrumen yang dibuat dari barang bekas. Karya ini sengaja dirancang untuk menumbuhkan kesadaran ekologis terhadap kelestarian lingkungan bagi pencipta maupun penonton.
Sementara itu, dibawah bimbingan Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd., tujuh karya lainnya disajikan secara mandiri dengan kekuatan tata cahaya, kostum, dan desain ruang yang estetis.
Tujuh karya tari digarap secara individu yaitu Niskala Sangga, Ngareak, Kala Narasima, Tandur Kenca, Laku Raka, Aor Rahsa, dan Kama Lasmi mengangkat isu lokal yang digarap secara kontemporer. Niskala Sangga mengeksplorasi nilai kebersamaan dalam tradisi Seren Taun. Tari Ngareak menafsirkan kembali kesenian Reak di Ujung berung sebagai ekspresi spiritual dan identitas masyarakat. Tari Kala Narasima menghadirkan simbol-simbol ritual ruwatan yang menggambarkan pertarungan antara kekuatan baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Karya Tandur Kenca mengangkat kehidupan masyarakat agraris melalui gerak-gerak yang terinspirasi dari aktivitas bertani dan filosofi keselarasan dengan alam. Tari Laku Raka menyoroti fenomena sosial yang masih banyak ditemukan dalam masyarakat Sunda, yakni tekanan psikologis yang dialami seseorang ketika adiknya menikah lebih dahulu.
Perspektif lain ditawarkan melalui Aor Rahsa, yang mengangkat nilai keseimbangan maskulin dan feminin dalam ritual budaya, sedangkan karya Kama Lasmi yang menghadirkan sosok R.A. Lasminingrat sebagai simbol perjuangan perempuan Sunda dalam bidang pendidikan dan pemikiran progresif. Selain kekuatan gagasan, ketujuh karya tari juga menampilkan pengolahan artistik yang beragam melalui tata cahaya, musik, properti, kostum, dan desain ruang pertunjukan. Unsur-unsur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pendukung visual, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman estetik dan penyampaian makna kepada penonton.
“Penciptaan seni berbasis riset ini mendorong mahasiswa untuk berinovasi menjadikan karya tari sebagai media refleksi, edukasi, sekaligus ruang dialog antara masa lalu dan masa kini,” tegas Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd.
Sedangkan Ketua Program Studi Pendidikan Seni SPs UPI, Prof. Juju Masunah, M.Hum., Ph.D., menambahkan bahwa rangkaian acara ini membuktikan peran penting seni pertunjukan dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus menjawab isu sosial-lingkungan modern.
Selain seni pertunjukan yang berlangsung dari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB ini, panitia juga menggelar pameran produk Kewirausahaan dan Industri Kreatif. Sementara itu, untuk karya produk seni rupa dan desain yang diampu oleh Dr. Tri Karyono, M.Sn., dijadwalkan akan disajikan pada Seminar Internasional Quo Vadis ke-XXI pada 23 Juni 2026 mendatang di Gedung Pascasarjana UPI. (DN)

