
Bandung, UPI
Dua fakultas di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berkolaborasi memadukan ilmu sastra dan ilmu medis untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak usia dini.
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) bersama Fakultas Kedokteran (FK) UPI menggelar pelatihan bertajuk “Model Storytelling Edukatif Berbasis Kesehatan Anak” di Aula Desa Cimaung, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Senin (29/6/2026).
Kegiatan yang merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi ini dihadiri oleh 100 peserta, yang terdiri dari 50 guru Taman Kanak-kanak (TK) dan 50 orang tua siswa dari wilayah Kecamatan Cimaung.
Tim pelaksana terdiri atas dosen FPBS UPI, yaitu Drs. Encep Kusumah, M.Pd., Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., dan Dr. Halimah, M.Pd., bersama dosen Fakultas Kedokteran UPI, yaitu dr. Muhamad Ersyad Hamda, M.Kes. dan dr. Gita S. Purnama Adiprama, Sp.DVE., FINSDV. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari FPBS dan FK sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus penguatan kepedulian terhadap kebutuhan nyata masyarakat.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu FPBS UPI, Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru dan orang tua yang telah hadir. Menurutnya, keluarga dan guru merupakan dua lingkungan utama yang berperan dalam membentuk karakter, kebiasaan hidup sehat, dan perkembangan anak sejak usia dini.
“Anak belajar bukan hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman emosional yang dibangun melalui cerita. Ketika cerita dikemas secara menarik, anak akan lebih mudah memahami dan menerapkan pesan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Prof. Yulianeta.

Ia menjelaskan bahwa pesan-pesan kesehatan yang biasanya kaku akan jauh lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak jika disampaikan melalui cerita yang dekat dengan keseharian mereka.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi bekal berharga bagi guru dan orang tua dalam menghadirkan proses belajar yang menyenangkan sekaligus membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter. Storytelling bukan sekadar kegiatan bercerita, melainkan media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kesehatan, empati, dan kebiasaan hidup positif kepada anak,” ujarnya.
Ketua IGTKI–PGRI Kecamatan Cimaung, Encih Suryanah, S.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan storytelling sebagai media edukasi kesehatan yang menarik, menyenangkan, dan mudah dipahami anak, sekaligus memperkuat praktik pengasuhan anak di lingkungan keluarga.
Hal senada disampaikan oleh Komariah, S.Pd., M.M., Pengawas TK Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung. Ia menilai kegiatan ini menjadi penyegar sekaligus motivasi bagi para guru, khususnya menjelang tahun ajaran baru. Ia juga berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di sekolah serta dibagikan kepada guru dan orang tua lainnya sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Materi disampaikan secara tematik oleh para narasumber sesuai bidang keahliannya. Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. membawakan materi “Menyentuh Hati, Menyehatkan Diri” yang menekankan pentingnya storytelling sebagai media pembentukan karakter dan pembiasaan hidup sehat sejak usia dini. dr. Muhamad Ersyad Hamda, M.Kes. menyampaikan materi “Anak Sehat, Generasi Juara”, sedangkan dr. Gita S. Purnama Adiprama, Sp.DVE., FINSDV. memberikan edukasi mengenai perawatan kulit sehat pada anak. Sementara itu, Drs. Encep Kusumah, M.Pd. bersama Dr. Halimah, M.Pd. memberikan pelatihan mengenai teknik storytelling yang efektif agar penyampaian cerita menjadi lebih hidup, menarik, dan bermakna bagi anak.
Dalam wawancara terpisah, Prof. Yulianeta menjelaskan bahwa model storytelling edukatif dipilih karena pesan-pesan kesehatan akan lebih mudah dipahami dan diingat anak apabila disampaikan melalui cerita yang dekat dengan pengalaman mereka.
“Anak belajar bukan hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman emosional yang dibangun melalui cerita. Ketika cerita dikemas secara menarik, anak akan lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pesan-pesan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu memiliki keterampilan bercerita sebagai bagian dari pengasuhan yang edukatif, menyenangkan, dan bermakna,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud sinergi keilmuan antara FPBS dan FK UPI dalam menghadirkan solusi yang relevan bagi masyarakat. Kolaborasi antara bidang pendidikan, bahasa, sastra, dan kesehatan diharapkan mampu menghasilkan model pengabdian yang inovatif sekaligus memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini.

Lebih lanjut, Prof. Yulianeta menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi UPI dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui edukasi kesehatan anak, program ini berkontribusi pada SDG 3 (Good Health and Well-being). Penguatan kompetensi guru dan kapasitas pengasuhan orang tua mendukung SDG 4 (Quality Education), sedangkan kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, organisasi profesi guru, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi implementasi nyata SDG 17 (Partnerships for the Goals).
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui kolaborasi lintas disiplin dan kemitraan dengan berbagai pihak, kami berharap model storytelling edukatif berbasis kesehatan anak ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya membangun generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berkarakter,” tambahnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Ikeu Yuwandi, guru TK Azhar Nursyahid, mengaku memperoleh banyak wawasan baru mengenai teknik storytelling yang dapat langsung diterapkan dalam pembelajaran di kelas.
“Pelatihannya sangat menyenangkan dan aplikatif. Kami belajar bagaimana menyampaikan cerita dengan intonasi, ekspresi, dan alur yang menarik sehingga anak lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Yuli, orang tua siswa dari TK Melati Pertiwi, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru mengenai pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan hidup sehat melalui aktivitas sederhana seperti bercerita bersama anak di rumah.
Sebagai penutup kegiatan, tim UPI menyerahkan cenderamata kepada IGTKI–PGRI Kecamatan Cimaung sebagai simbol apresiasi sekaligus komitmen untuk terus memperkuat kemitraan dalam pengembangan pendidikan anak usia dini.
Melalui kegiatan ini, UPI kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat. Model storytelling edukatif berbasis kesehatan anak diharapkan menjadi praktik baik yang dapat direplikasi di berbagai daerah untuk memperkuat pengasuhan orang tua, meningkatkan profesionalisme guru TK, serta mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing sesuai dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs). (DN)

