Bandung, UPI

Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Barat mengapresiasi inisiatif Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam membangun kesadaran perencanaan ibadah haji sejak dini melalui program UPI Berhaji. Menurut Kementerian Haji, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya mendaftar haji sejak usia produktif, di tengah masa tunggu keberangkatan haji di Jawa Barat yang telah mencapai lebih dari dua hingga mendekati tiga dekade.

Apresiasi tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Barat, H. Boy Hary Novian, S.E., M.M., saat menghadiri kegiatan UPI Berhaji bertema “Langkah Awal Lebih Dekat ke Baitullah, Spiritual Bertumbuh, Kemabruran Tumbuh” yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Indonesia bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) di Gymnasium UPI, Kota Bandung, Rabu (22/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti ratusan sivitas akademika UPI dan turut menghadirkan Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., Regional CEO Region VI Bandung Bank Syariah Indonesia Fitria Ekayani, serta penceramah nasional Ustaz Hilman Fauzi.

Boy menjelaskan bahwa edukasi mengenai perencanaan haji sejak dini menjadi semakin penting apabila melihat kondisi penyelenggaraan ibadah haji saat ini. Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Indonesia memiliki antusiasme masyarakat yang sangat tinggi untuk menunaikan ibadah haji. Namun, kuota keberangkatan yang terbatas menyebabkan daftar tunggu terus bertambah dari tahun ke tahun.

Saat ini, kuota haji Jawa Barat tercatat sebanyak 29.643 jemaah per tahun. Dengan jumlah pendaftar yang terus meningkat, masa tunggu keberangkatan telah mencapai lebih dari dua hingga mendekati tiga dekade. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang baru mendaftar pada usia 40 hingga 45 tahun berpotensi baru memperoleh kesempatan berangkat ketika memasuki usia 65 hingga 75 tahun.

“Edukasi mengenai pendaftaran haji sejak dini sangat penting jika kita melihat data dan realita di lapangan. Oleh karena itu, kegiatan UPI Berhaji menjadi wake-up call agar perencanaan ibadah haji tidak ditunda hingga usia senja,” ujar Boy.

Menurutnya, perguruan tinggi merupakan mitra penting pemerintah dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perencanaan ibadah haji. Karena itu, Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Barat memberikan apresiasi terhadap inisiatif UPI yang menghadirkan edukasi tersebut kepada sivitas akademika.

“Kami sangat mendukung inisiatif civitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia dalam mensosialisasikan pendaftaran haji. Meskipun Jawa Barat memiliki penduduk muslim terbesar, jumlah pendaftar haji di Jawa Barat masih berada di bawah beberapa provinsi lain. Karena itu, edukasi seperti ini perlu terus diperluas,” katanya.

Boy juga menjelaskan bahwa transformasi kelembagaan Kementerian Haji dan Umrah menjadi kementerian tersendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan ibadah haji dan umrah. Dengan struktur kelembagaan baru, pelayanan diharapkan semakin fokus, profesional, transparan, dan akuntabel, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.

Selain itu, Kementerian Haji dan Umrah terus mengembangkan berbagai program pelayanan yang lebih inklusif. Setelah menghadirkan Haji Ramah Lansia dan Haji Ramah Disabilitas, pada 2026 kementerian mulai mengembangkan skema Haji Ramah Buruh dan memperkuat layanan Haji Inklusif secara bertahap. Di Jawa Barat sendiri disiapkan sekitar 1.400 kuota prioritas bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas yang didukung sistem pendampingan sejak proses manasik hingga pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.

Sementara itu, Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan bahwa UPI Berhaji merupakan bagian dari komitmen universitas dalam membangun pendidikan karakter. Menurutnya, pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang matang secara spiritual dan memiliki nilai-nilai kehidupan.

“Pendidikan itu tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pendidikan karakter, pengembangan sikap, dan pembinaan budi pekerti melalui dorongan bagi civitas akademika untuk melaksanakan ibadah haji,” ujar Prof. Didi.

Melalui kolaborasi ini, UPI dan Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Barat berharap literasi mengenai perencanaan ibadah haji dapat semakin meningkat, khususnya di kalangan generasi muda dan sivitas akademika. Perguruan tinggi diharapkan menjadi ruang edukasi yang mampu mendorong masyarakat merencanakan ibadah haji sejak usia produktif, sehingga kesempatan menunaikan rukun Islam kelima dapat diwujudkan pada waktu yang lebih ideal. (RK)