Bandung, UPI

Ketua Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI), Amich Alhumami, mengajak para wisudawan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk memaknai wisuda bukan sebagai akhir dari perjalanan akademik, melainkan sebagai awal pembuktian kompetensi, integritas, dan pengabdian di tengah masyarakat pada saat Upacara Wisuda Gelombang III 2026 yang dilaksanakan di Gedung Gymnasium UPI Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Jawa Barat. Selasa (21/7/2026).

Dalam sambutannya pada prosesi wisuda UPI, Amich menegaskan bahwa pencapaian akademik yang diraih para lulusan merupakan hasil perjuangan panjang yang patut disyukuri. Namun demikian, menurutnya, ijazah hanyalah simbol pengakuan atas keberhasilan akademik yang harus dibuktikan melalui karya nyata.

“Ijazah memang memberikan otorisasi atas kemampuan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh. Akan tetapi, makna sesungguhnya dari ijazah baru akan terlihat ketika kemampuan tersebut diuji dan dibuktikan melalui pengabdian serta kontribusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia melanjutkan bahwa perkembangan dunia yang semakin dinamis menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan yang tidak hanya bersifat spesifik pada satu disiplin ilmu, tetapi juga adaptif terhadap berbagai perubahan. Oleh karena itu, para lulusan didorong untuk terus mengembangkan kapasitas diri melalui pembelajaran sepanjang hayat.

Amich menyoroti perkembangan ilmu neuroscience yang menunjukkan bahwa setiap individu memiliki talenta, potensi, dan kecerdasan yang beragam (multiple intelligences). Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi dasar penting bagi setiap lulusan untuk terus mengoptimalkan berbagai kemampuan yang dimiliki sehingga mampu menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.

Ia juga menekankan pentingnya cognitive flexibility, yakni kemampuan untuk mengkombinasikan berbagai kompetensi lintas bidang. Kemampuan tersebut dinilai menjadi salah satu modal utama dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja masa kini yang mengedepankan transformative competencies dan transferable skills.

“Lulusan tidak cukup hanya menguasai satu bidang keilmuan. Kemampuan beradaptasi, belajar hal baru, dan mengintegrasikan berbagai kompetensi menjadi tuntutan penting agar mampu bertahan dan berkembang di masa depan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Amich juga mengutip pandangan Albert Einstein yang menyatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan karena pengetahuan memiliki batas, sedangkan imajinasi mampu menjangkau dunia. Menurutnya, kemampuan berimajinasi yang didukung oleh fleksibilitas berpikir akan melahirkan inovasi dan kreativitas yang sangat dibutuhkan pada era transformasi saat ini.

Selain kompetensi, ia mengingatkan bahwa kepercayaan diri merupakan pondasi penting menuju keberhasilan. Mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Arab, Amich menyampaikan bahwa pengetahuan adalah kunci kesuksesan, sementara keberhasilan hanya dapat dibangun dengan rasa percaya diri yang kuat.

Pada akhir sambutannya, Amich secara resmi menyambut seluruh wisudawan menjadi bagian dari keluarga besar Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia. Ia mengajak para lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater serta membawa nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan selama menempuh pendidikan di UPI.

Sebagai anggota baru IKA UPI, para alumni juga diperkenalkan dengan kartu tanda anggota yang memberikan berbagai manfaat, termasuk akses terhadap sejumlah layanan dan program kerja sama. Lebih jauh, Amich mengajak seluruh alumni untuk berpartisipasi dalam memperkuat organisasi alumni serta mendukung pengembangan Dana Abadi Universitas Pendidikan Indonesia sebagai bentuk kontribusi nyata bagi kemajuan almamater.

“Kontribusi sekecil apa pun dari alumni akan menjadi kekuatan besar untuk memperkuat optimisme dan mewujudkan cita-cita Universitas Pendidikan Indonesia di masa depan,” tutupnya. (RI/DN)