Bandung, UPI

Suasana di Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Selasa (21/7/2026), belum sepenuhnya lengang. Wisudawan dan keluarga masih saling berbagi kebahagiaan, mengabadikan momen yang telah lama dinanti. Di antara lautan toga hitam dan di tengah keramaian itu, seorang perempuan melangkah perlahan, senyumnya tampak tenang. Sulit membayangkan bahwa di balik langkahnya hari itu tersimpan perjalanan panjang yang penuh tantangan.

Perempuan itu adalah Sella Putri Aulia, wisudawati Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. Sebagai penyandang disabilitas netra, ia membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak pernah menjadi batas untuk meraih cita-cita.

Wisuda yang ia jalani hari itu bukan sekadar penanda berakhirnya masa kuliah. Bagi Sella, momen tersebut adalah jawaban atas perjalanan yang telah ia tempuh sejak bangku sekolah dasar.

“Saya enggak nyangka sebelumnya kalau saya bisa jadi mahasiswa, apalagi di UPI,” ujarnya sambil tersenyum. “Perjalanan studi saya dari SD sampai masuk perguruan tinggi itu kerikilnya banyak. Jadi saya benar-benar bangga karena dunia mengizinkan saya untuk bisa kuliah di UPI.”

Ucapan itu lahir dari pengalaman yang tidak selalu mudah.

Selama menjalani perkuliahan, Sella harus menghadapi berbagai tantangan yang sebagian besar berkaitan dengan materi berbasis visual. Mata kuliah seperti statistik, pengukuran psikologis, hingga tugas yang membutuhkan desain dan mind map menjadi tantangan yang tidak sederhana bagi seorang mahasiswa penyandang disabilitas netra.

Namun, ia tidak membiarkan keterbatasan itu menghentikan langkahnya.

Teknologi menjadi salah satu jembatan yang membantunya belajar. Melalui aplikasi pembaca layar (screen reader), ia dapat membaca materi kuliah, mengetik tugas, hingga mengakses berbagai referensi menggunakan telepon pintar maupun laptop. Ketika teknologi belum mampu menjawab seluruh kebutuhan, ia memilih berkolaborasi.

“Kalau ada tugas yang memang visual banget, kami saling membantu. Saya dibantu mengerjakan bagian yang visual, nanti saya membantu mengerjakan tugas mereka yang lain. Jadi simbiosis,” tuturnya sambil tertawa.

Baginya, proses belajar bukan tentang mengerjakan semuanya sendirian, melainkan tentang membangun kerja sama dan saling menguatkan.

Dukungan dari dosen, teman, dan keluarga juga menjadi energi yang terus menjaganya tetap melangkah.

“Mereka selalu percaya kalau aku bisa. Dengan adanya kepercayaan yang mereka berikan, aku juga jadi percaya diri kalau dengan banyaknya kendala, aku pasti bisa,” katanya.

Kepercayaan itu menjadi bekal ketika ia mendapat kesempatan mengikuti program study mobility di National Tsukuba University of Technology (NTUT), Jepang, sebuah perguruan tinggi yang memberikan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas, termasuk penyandang disabilitas netra. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan selama menempuh pendidikan di UPI karena membuka wawasannya tentang praktik pendidikan inklusif di tingkat internasional.

Meski demikian, bagi Sella, pencapaian yang paling membanggakan bukanlah perjalanan ke luar negeri.

“Lulus sebelum waktu yang ditentukan,” jawabnya singkat ketika ditanya pencapaian yang paling membuatnya bangga.

Di balik keberhasilan itu, ada sosok yang selalu menjadi sumber kekuatannya.

“Orang tua,” ujarnya ketika diminta menyebutkan orang yang paling berkesan selama masa kuliah.

Selama menempuh pendidikan di UPI, Sella juga menyaksikan perkembangan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Ia mengakui bahwa ketika pertama kali masuk kuliah, aksesibilitas fisik maupun layanan pendampingan masih sangat terbatas. Kini, menurutnya, kondisi tersebut mulai berubah ke arah yang lebih inklusif.

Meski demikian, ia berharap UPI terus meningkatkan aksesibilitas, baik dari sisi fasilitas maupun layanan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap mahasiswa penyandang disabilitas.

“Harapannya aksesibilitasnya diperbanyak lagi dan layanan pendidikannya semakin disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa,” ungkapnya.

Di balik semua perjuangan yang telah dilaluinya, Sella menyimpan satu cita-cita besar.

Ia ingin menjadi dosen.

Bukan semata-mata untuk mengajar di perguruan tinggi, tetapi agar dapat mencetak guru-guru Pendidikan Khusus yang lebih baik.

“Cita-cita saya ingin menjadi dosen supaya bisa mencetak guru-guru Pendidikan Khusus yang jauh lebih baik,” tuturnya.

Sebelum mengakhiri perbincangan yang berlangsung sesaat setelah prosesi Wisuda Gelombang III Tahun 2026 selesai, Sella menitipkan pesan kepada mahasiswa, khususnya penyandang disabilitas, yang tengah berjuang meraih pendidikan tinggi.

“Bagi teman-teman disabilitas maupun non-disabilitas yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, harus percaya bahwa kalian bisa. Di dunia ini sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin jika kita yakin dan mau melakukannya.”

Di luar Gedung Gymnasium, para wisudawan mulai meninggalkan kampus dengan membawa ijazah, bunga, dan harapan baru.

Sementara bagi Sella Putri Aulia, wisuda bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi langkah awal menuju impian yang lebih besar—mengabdikan diri sebagai dosen dan melahirkan guru-guru Pendidikan Khusus yang kelak membuka lebih banyak pintu bagi penyandang disabilitas untuk memperoleh pendidikan yang setara.

Sebab, seperti yang telah ia buktikan melalui perjalanannya sendiri, mimpi tidak pernah dibatasi oleh apa yang mampu dilihat mata, melainkan oleh keberanian untuk terus percaya bahwa setiap orang berhak meraih masa depan yang dicita-citakan. (Naufal Dlorif Efendi)