Bandung, UPI

Digitalisasi bukan satu-satunya kunci utama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk bangkit dan bertahan pascapandemi. Keberhasilan transformasi digital justru sangat bergantung pada penguatan modal sosial, pelestarian budaya, dan ekosistem kolaborasi yang solid.

Hal tersebut menjadi kesimpulan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Tim Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Laboratorium Perkantoran FPEB UPI, Bandung, Kamis (16/7/2026).

FGD ini merupakan bagian dari riset kolaborasi empat perguruan tinggi ternama, yaitu UPI, Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Penelitian ini berfokus pada transformasi digital serta ketahanan sosial UMKM pascapandemi.

Ketua Grup Riset Humanova sekaligus Guru Besar FPEB UPI, Prof. Dr. H. Suwatno, M.Si., menegaskan bahwa riset ini bertumpu pada sinergi ekosistem triple helix yang menghubungkan akademisi, pelaku UMKM, dan pemerintah.

“UMKM yang mampu bertahan bukanlah yang sekadar terdigitalisasi, melainkan yang ditopang oleh ekosistem kolaborasi dan akar sosial yang kuat,” tegas Dr. Cucu Sukmana, M.Pd., Dosen Pendidikan Masyarakat FIP UPI saat memaparkan analisisnya dalam diskusi tersebut.

Diskusi terbatas yang diikuti 15 peserta ini menghadirkan enam pemaparan dari akademisi, praktisi UMKM, dan pemangku kebijakan untuk menggali praktik terbaik dari lapangan sekaligus merumuskan arah pemberdayaan ekonomi rakyat yang berkelanjutan. FGD merupakan bagian dari penelitian kolaborasi yang menggandeng empat perguruan tinggi: UPI, Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

Dari sudut pandang regulasi, Dr. Daniar Ahmad Nurdiyanto dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jawa Barat mengungkapkan tantangan besar di lapangan. Mengutip data BPS, meski 98,9 persen pelaku usaha di Jawa Barat merupakan Usaha Mikro dan Kecil (UMK), sebanyak 79,54 persen di antaranya belum memanfaatkan e-commerce. Data ini makin menegaskan urgensi peningkatan literasi digital yang terarah.

Merespons tantangan tersebut, Guru Besar UPI Prof. Dr. H. Achmad Hufad, M.Ed., menekankan pentingnya hilirisasi riset dan pembentukan pola pikir kewirausahaan (entrepreneurial mindset) di tengah masyarakat.

Sebagai rekomendasi konkret, tim riset mendorong pembangunan matching platform yang menghubungkan pemerintah sebagai regulator, akademisi sebagai penyedia inovasi, serta komunitas bisnis sebagai pengguna. Tim RKI menargetkan keluaran berupa policy brief (ringkasan kebijakan) untuk mengawal pemberdayaan ekonomi rakyat yang inklusif dan berkelanjutan. (DN)