
Bandung, UPI
Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan Bedah Buku sebagai ruang akademik untuk mempertemukan gagasan, memperkuat budaya literasi, sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi antarguru besar. Kegiatan yang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh DGB UPI ini menghadirkan dua buku yang mengangkat isu strategis pendidikan, yakni Not for Profit: Why Democracy Needs the Humanities karya Martha C. Nussbaum yang dibedah oleh Prof. Fuad Abdul Hamied, M.A., Ph.D., serta Model Diferensiasi Pendidikan Teknologi Kejuruan di Indonesia karya Prof. Dr. Tuti Suartini, M.Pd. yang dibedah oleh Prof. Dr. Mumu Komaro, M.T.
Ketua Dewan Guru Besar UPI, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi akademik yang telah lama hidup di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, meskipun bedah buku bukanlah kegiatan baru bagi kalangan akademisi, penyelenggaraan oleh Dewan Guru Besar menjadi langkah awal untuk membangun forum ilmiah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
“Kegiatan ini memang bukan sesuatu yang baru. Bedah buku sudah lama dilakukan di lingkungan akademik. Namun bagi Dewan Guru Besar UPI, ini merupakan kegiatan perdana yang kami harapkan dapat menjadi ruang bertemunya gagasan, hasil riset, sekaligus memperkuat budaya diskusi ilmiah di kampus,” ujarnya.
Prof. Dadang menjelaskan, pemilihan kedua buku tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, keduanya menghadirkan refleksi penting mengenai tantangan pendidikan Indonesia dari dua perspektif yang saling melengkapi.
“Buku Martha C. Nussbaum memberikan kritik yang sangat tajam terhadap dunia pendidikan. Pendidikan seharusnya menghasilkan manusia yang humanis, beradab, dan bertanggung jawab. Namun ketika orientasi ekonomi ditempatkan sebagai tujuan utama dan nilai-nilai humaniora dipinggirkan, di situlah kegagalan pendidikan mulai terjadi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa buku kedua karya Prof. Tuti Suartini juga memberikan refleksi mengenai kondisi pendidikan vokasi di Indonesia yang hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stigma masyarakat hingga belum optimalnya implementasi pembelajaran.
“Mudah-mudahan kedua buku ini memberikan inspirasi bagi pendidikan Indonesia bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengejar kompetensi, tetapi juga harus mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan memahami kebutuhan peserta didik,” katanya.

Dalam sesi bedah buku pertama, Prof. Fuad Abdul Hamied mengulas pemikiran Martha C. Nussbaum yang menilai dunia sedang menghadapi silent crisis atau krisis senyap dalam pendidikan. Krisis tersebut muncul ketika pendidikan semakin berorientasi pada keuntungan ekonomi, sementara humaniora, seni, filsafat, sastra, dan sejarah semakin terpinggirkan.
Menurut Prof. Fuad, demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang mampu berpikir kritis, memiliki empati, dan berwawasan global. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan tenaga kerja yang kompeten secara teknis, tetapi juga manusia yang memiliki keberanian moral dan kepedulian terhadap sesama.
Ia juga mengangkat eksperimen psikolog Stanley Milgram yang menunjukkan bahwa seseorang dapat melakukan tindakan berbahaya hanya karena tunduk pada otoritas. Dari temuan tersebut, Prof. Fuad menegaskan pentingnya pendidikan ala Socrates yang mendorong peserta didik berani mengatakan “ini tidak benar” ketika menghadapi ketidakadilan.
“Guru seharusnya tidak hanya memberikan jawaban, tetapi menghadirkan pertanyaan yang melatih peserta didik berpikir kritis, berdialog, dan merefleksikan realitas kehidupan,” ungkapnya.
Prof. Fuad menambahkan bahwa di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pesan Martha C. Nussbaum menjadi semakin relevan.
“Kita mungkin akan memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi tanpa humaniora kita berisiko kehilangan empati, refleksi moral, dan keberanian untuk bersikap. Itulah yang membedakan manusia dari mesin.”
Sementara itu, pada sesi kedua, Prof. Dr. Tuti Suartini, M.Pd. memaparkan buku Model Diferensiasi Pendidikan Teknologi Kejuruan di Indonesia, yang merupakan hasil perjalanan penelitian panjang sejak tahun 2010 dan akhirnya diterbitkan pada 2025.
Dalam paparannya, Prof. Tuti menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap berbagai tantangan yang terus dihadapi pendidikan kejuruan di Indonesia. Salah satunya adalah masih tingginya angka pengangguran lulusan SMK, padahal pendidikan vokasi dirancang untuk menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja.
Menurutnya, persoalan utama pendidikan kejuruan bukan semata-mata terletak pada kurikulum. Kurikulum di Indonesia dinilai telah mengalami banyak perkembangan, namun implementasi pembelajaran di lapangan sering kali belum menyentuh hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Melalui buku ini, Prof. Tuti menawarkan model diferensiasi pendidikan teknologi kejuruan, yakni pendekatan pembelajaran yang memandang setiap peserta didik sebagai individu dengan karakteristik, kebutuhan, dan potensi yang berbeda sehingga proses belajar tidak dapat diseragamkan.
“Keberhasilan seorang guru sebenarnya hanya ada dua, yaitu guru memahami cara mengajar dan murid memahami cara belajar. Ketika dua hal itu bertemu, pembelajaran akan membentuk manusia seutuhnya,” ungkap Prof. Tuti.
Ia juga menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna harus berangkat dari pengalaman peserta didik. Karena itu, pendidikan kejuruan tidak cukup hanya mengembangkan hard skills dan soft skills, tetapi juga perlu membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui Taksonomi Bloom serta memperhatikan kebutuhan peserta didik sebagaimana dijelaskan dalam Hierarki Kebutuhan Maslow.
Selanjutnya, buku tersebut dibedah oleh Prof. Dr. Mumu Komaro, M.T. Menurutnya, model diferensiasi yang ditawarkan Prof. Tuti menjadi sangat relevan di tengah perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang terus berubah.
Prof. Mumu menilai pendidikan tidak boleh memperlakukan peserta didik seperti mesin yang dipaksa memiliki kemampuan yang sama. Sebaliknya, guru perlu memandang setiap peserta didik sebagai manusia dengan potensi yang berbeda sehingga proses pembelajaran dapat mengembangkan kemampuan mereka secara optimal dan lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja maupun tantangan masa depan.
Selain membangun tradisi diskusi akademik, Dewan Guru Besar UPI juga berkomitmen memperkuat hilirisasi hasil penelitian agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. Dalam waktu dekat, DGB UPI akan menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan hilirisasi hasil riset bekerja sama dengan Direktorat Inovasi UPI dengan menghadirkan narasumber dari kementerian.
“Kami ingin para guru besar tidak hanya menghasilkan riset dan buku, tetapi juga melakukan hilirisasi sehingga tujuan utama penelitian benar-benar tercapai, yakni memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Dadang.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan bedah buku merupakan langkah awal untuk membangun budaya akademik yang lebih hidup di lingkungan universitas. Menurutnya, meskipun bedah buku telah lama menjadi tradisi di kalangan akademisi, penyelenggaraan oleh Dewan Guru Besar UPI menjadi pengingat bahwa universitas harus terus menghadirkan ruang diskusi ilmiah sebagai bagian dari kehidupan akademik sehari-hari.
“Para dosen memiliki banyak hasil penelitian yang dapat dituangkan dalam bentuk buku. Buku bukan hanya menjadi luaran penelitian, tetapi juga menjadi potret gagasan, pengalaman, dan kontribusi akademik yang perlu didiskusikan agar memberi manfaat yang lebih luas,” katanya.
Prof. Dadang juga menyampaikan harapannya kepada para guru besar maupun calon guru besar agar terus aktif membangun budaya keilmuan melalui berbagai forum akademik. Menurutnya, seminar, webinar, bedah buku, maupun kegiatan ilmiah lainnya bukan hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan dan melahirkan kolaborasi riset.

“Kami berharap kegiatan-kegiatan seperti ini terus dilakukan. Selain menjadi ajang silaturahmi di tengah kesibukan masing-masing, forum akademik juga dapat mempertemukan ide-ide baru yang berkembang menjadi riset kolaboratif, baik di tingkat internal kampus, regional, nasional, maupun internasional,” tuturnya.
Ia berharap semangat berbagi ilmu dan memperkuat jejaring akademik tersebut dapat terus tumbuh, tidak hanya di kalangan guru besar yang telah dikukuhkan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para dosen yang sedang mempersiapkan diri menuju jabatan guru besar.
Melalui penyelenggaraan Bedah Buku perdana ini, Dewan Guru Besar UPI menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum-forum akademik yang memperkaya khazanah keilmuan, memperkuat kolaborasi antarakademisi, serta mendorong hasil-hasil riset agar semakin berdampak bagi masyarakat dan kemajuan pendidikan Indonesia. (Fauzan)

