
Bandung, UPI
SMA Negeri 2 Bandung menyelenggarakan Workshop Desain Solusi Lingkungan Berbasis Riset pada Jumat (31/7/2026). Kegiatan ini digelar untuk melatih para siswa dalam merancang solusi atas tantangan lingkungan secara terukur, sekaligus memperkuat prestasi bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di sekolah tersebut.
Acara yang berlangsung interaktif ini dibuka langsung oleh Kepala SMAN 2 Bandung, Sucipta, M.Pd. Dalam sambutannya, Sucipta menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis aksi nyata.
“Kegiatan ini bukan sekadar pembelajaran teori, melainkan pelatihan bagi siswa untuk menjadi pemecah masalah (problem solver) bagi tantangan nyata di lingkungan sekitar,” ujar Sucipta.
Untuk memperkuat keterampilan teknis siswa, SMAN 2 Bandung menggandeng dosen dan tim mahasiswa dari Grup Riset Instrumentasi Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Melalui kolaborasi ini, para siswa dibekali kemampuan berpikir berbasis data, merancang metodologi sederhana, hingga menguasai teknologi instrumentasi dan pemograman (coding).
Ketua Grup Riset UPI, Dr. Selly Feranie, S.Pd., M.Si., mengapresiasi antusiasme para siswa. Ia menekankan pentingnya pendekatan presisi dalam menyelesaikan isu lingkungan.
“Solusi lingkungan harus terukur agar keajegan dan efektivitasnya dapat dipantau secara berkala,” jelas Selly.
Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua Grup Riset, Amsor, M.Si., yang mendorong siswa memanfaatkan limbah sekolah menjadi barang berdaya guna, seperti formulasi pupuk organik untuk mengurangi penggunaan bahan kimia. Sementara itu, pakar pengembang coding lingkungan UPI, Dedi Sasmita, memaparkan peran Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi—seperti sistem deteksi otomatis yang diikuti perlakuan (treatment) mandiri—dalam memaksimalkan efektivitas solusi lingkungan.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian siswa adalah demonstrasi produk inovasi buatan mahasiswa Fisika UPI. Beberapa karya teknologi tepat guna yang dipamerkan di antaranya, Smart Soil Multimeter (Karya Fathir Abid Firdaus), Carbon Detection & Capture System (Karya Reza Muhammad Ilham dkk.), Non-Contact Surface Temperature Sensor (Karya Muhammad Ali Rio dan Marzhal), dan Water Quality Alert System (Karya Haikal dkk.).

Jajaran manajemen sekolah menyambut baik dampak positif dari lokakarya ini. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Mariano Nathanael, berharap siswa dapat memanfaatkan produk inovasi ini untuk melatih nalal berbasis data. Di sisi lain, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Asep Suryanto, optimistis kegiatan ini melahirkan inventor muda baru.
Harapan ini diaminkan oleh guru sains SMAN 2 Bandung, Yulfi dan Hanifah. Menurut mereka, kehadiran tim ahli dari UPI akan semakin memotivasi para siswa yang selama ini aktif berkompetisi dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) maupun ajang STEM lainnya.
Melalui sinergi antara SMAN 2 Bandung dan UPI ini, diharapkan lahir generasi muda yang tak hanya peka terhadap isu lingkungan berkelanjutan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi teknologi terapan berdaya saing internasional. (DN)

