Bandung, UPI

Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) memunculkan pertanyaan baru bagi dunia bisnis dan manajemen: ketika semakin banyak pekerjaan dapat dilakukan teknologi, bagian mana yang seharusnya tetap menjadi tanggung jawab manusia? Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam The 11th Global Conference on Business, Management, and Entrepreneurship (GCBME) 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jumat (7/8/2026).

Diselenggarakan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) UPI di Auditorium FPEB, Gedung B Lantai 6, konferensi tahun ini mengangkat tema “Strategic Management and Business Transformation in the Era of Artificial Intelligence.” Tema tersebut merespons perubahan cepat yang terjadi dalam pengelolaan organisasi dan bisnis seiring berkembangnya pemanfaatan AI.

Wakil Rektor UPI Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kemitraan, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., mengatakan AI kini telah digunakan perusahaan untuk memahami pelanggan, meningkatkan layanan, menjalankan pekerjaan rutin, mengembangkan produk, dan mendukung pengambilan keputusan.

Bagi pelaku usaha, termasuk usaha kecil, AI juga membuka akses terhadap berbagai kemampuan yang sebelumnya membutuhkan sumber daya lebih besar, seperti pemasaran, layanan pelanggan, dan analisis finansial. Namun, menurut Prof. Agus, dampak AI telah bergerak melampaui kepentingan bisnis karena turut mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengakses informasi.

“Kita tidak lagi hanya mempertanyakan apa yang dapat dilakukan AI untuk pekerjaan kita, tetapi apa yang seharusnya dilakukan AI dan apa yang harus tetap menjadi tanggung jawab manusia,” ujarnya.

Menurut Prof. Agus, pertanyaan tersebut menjadi salah satu isu penting bagi penelitian bisnis dan manajemen saat ini. Organisasi tidak cukup hanya memahami cara mengadopsi AI, tetapi perlu memastikan pemanfaatannya berlangsung secara bertanggung jawab, inklusif, dan berkelanjutan.

“Kita membutuhkan pemimpin yang memahami teknologi, tetapi juga memahami manusia. Kita membutuhkan bisnis yang inovatif, tetapi juga responsif,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya penelitian yang dapat membantu organisasi membuat keputusan lebih baik dalam lingkungan yang berubah dengan cepat.

Persoalan AI tersebut juga tercermin dalam agenda akademik GCBME 2026. Sejumlah penelitian yang dipresentasikan membahas adopsi AI di tempat kerja, inovasi layanan berbasis AI dalam perdagangan elektronik, personalisasi berbasis AI, kesiapan generative AI pada pelaku usaha mikro, hingga tata kelola AI yang bertanggung jawab dan regulasi AI dalam pendidikan tinggi.

Topik-topik itu tersebar dalam enam kelompok sesi paralel yang meliputi keuangan dan akuntansi; green business dan pemasaran; inovasi, teknologi informasi, operasi dan rantai pasok; manajemen pemasaran; perilaku organisasi, kepemimpinan dan sumber daya manusia; serta manajemen strategis, kewirausahaan, dan isu kontemporer.

Memasuki penyelenggaraan ke-11, GCBME terus dikembangkan sebagai ruang pertemuan peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan negara untuk bertukar gagasan dan membangun kolaborasi. UPI berharap diskusi dalam konferensi dapat melahirkan pertanyaan penelitian, gagasan bisnis, kolaborasi, serta solusi baru terhadap persoalan nyata yang dihadapi organisasi dan masyarakat di era AI. (RK)