Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mendorong transformasi bisnis di era kecerdasan artifisial (AI) tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan tanggung jawab manusia, inklusivitas, dan keberlanjutan. Pesan tersebut mengemuka dalam The 11th Global Conference on Business, Management, and Entrepreneurship (GCBME) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) UPI, Jumat (7/8/2026).

Mengangkat tema “Strategic Management and Business Transformation in the Era of Artificial Intelligence”, konferensi berlangsung di Auditorium FPEB, Gedung B Lantai 6, UPI, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung. Forum internasional tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan profesional untuk bertukar pengetahuan, mendiseminasikan hasil penelitian, serta mengembangkan kolaborasi di bidang manajemen bisnis dan kewirausahaan.

Wakil Rektor UPI Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kemitraan, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., mengatakan AI telah mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis secara cepat. Teknologi tersebut digunakan untuk memahami pelanggan, meningkatkan layanan, mengotomatisasi pekerjaan rutin, mengembangkan produk baru, hingga mempercepat pengambilan keputusan.

Menurutnya, perkembangan tersebut membawa organisasi pada persoalan yang lebih mendasar mengenai posisi teknologi dan manusia.

“Kita tidak lagi hanya mempertanyakan apa yang dapat dilakukan AI untuk pekerjaan kita, tetapi apa yang seharusnya dilakukan AI dan apa yang harus tetap menjadi tanggung jawab manusia,” ujar Prof. Agus saat membuka konferensi.

Ia menegaskan, organisasi perlu memahami bukan hanya bagaimana mengadopsi AI, melainkan juga bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab, inklusif, dan berkelanjutan. Karena itu, dibutuhkan pemimpin yang memahami teknologi sekaligus manusia, serta penelitian yang dapat membantu organisasi mengambil keputusan secara lebih baik di tengah perubahan yang berlangsung cepat.

Ketua GCBME 2026, Prof. Dr. Hj. Ratih Hurriyati, M.P., menyampaikan konferensi tahun ini diikuti sekitar 165 peserta dengan 170 abstrak yang berasal dari China, Uzbekistan, Tajikistan, Ghana, Thailand, Australia, serta berbagai wilayah Indonesia. Seluruh makalah yang masuk melalui proses double-blind peer review berdasarkan kontribusi akademik, ketepatan metodologi, dan relevansi praktis.

GCBME 2026 juga menghadirkan Prof. Badri Munir Sukoco, Ph.D., Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, sebagai keynote speaker. Pembicara dari The University of Western Australia, Tashkent State University of Economics, Rajamangala University of Technology Thanyaburi, dan UPI turut berbagi perspektif dalam konferensi.

Melalui GCBME 2026, UPI berharap pertukaran gagasan tidak berhenti pada forum konferensi, tetapi berkembang menjadi penelitian, publikasi, mobilitas akademik, serta kolaborasi lintas perguruan tinggi dan negara. Kolaborasi tersebut diharapkan turut menghasilkan solusi bagi berbagai tantangan organisasi dan masyarakat di tengah transformasi bisnis berbasis AI. (RK)