
Bandung, UPI
Penguasaan Bahasa Inggris pada peserta didik sekolah dasar tidak hanya dapat diarahkan untuk kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa internasional. Bahasa Inggris juga dapat menjadi sarana bagi anak-anak Indonesia untuk memperkenalkan budaya dan identitas daerahnya kepada masyarakat global.
Gagasan tersebut disampaikan Kepala Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Ika Lestari Damayanti, S.Pd., M.A., Ph.D., dalam rangkaian The 19th International Conference on Applied Linguistics (CONAPLIN) and The 4th Primary English Language Teachers Indonesia (PELTIN) Conference, Senin (10/8/2026), di Gedung Pascasarjana ADB UPI.
Prof. Ika mengatakan pembelajaran Bahasa Inggris perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan keragaman budaya Indonesia. Anak-anak dapat belajar Bahasa Inggris melalui lingkungan dan aktivitas yang mereka kenal, kemudian menggunakan kemampuan tersebut untuk menceritakan kebudayaan mereka kepada dunia.
“Anak-anak itu dibantu untuk bisa mengembangkan Bahasa Inggris supaya dia bisa menceritakan budaya ke dunia global,” ujar Prof. Ika.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan menyesuaikan materi pembelajaran dengan karakteristik daerah. Anak-anak di wilayah pantai dapat belajar dari aktivitas yang mereka lakukan di lingkungan pantai. Sementara anak-anak di daerah pegunungan dapat belajar melalui aktivitas sehari-hari di lingkungan mereka.
Dengan cara tersebut, Bahasa Inggris tidak hanya menjadi kumpulan kosakata atau materi pembelajaran, tetapi menjadi alat untuk mengungkapkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak.
Prof. Ika menekankan bahwa anak tetap dapat mempertahankan identitasnya sebagai orang Indonesia maupun sebagai bagian dari daerah asalnya. Pada saat yang sama, mereka memiliki kemampuan untuk memperkenalkan identitas dan budaya tersebut menggunakan Bahasa Inggris.
Perspektif tersebut sejalan dengan gagasan Rektor UPI mengenai hubungan antara bahasa, budaya, identitas, dan partisipasi global.
Dalam sambutan pembukaan CONAPLIN dan PELTIN 2026, Rektor menyampaikan bahwa peserta didik Indonesia memiliki repertoar kebahasaan yang kaya. Bahasa daerah, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan bahasa lainnya berinteraksi dengan budaya, identitas, komunitas, pendidikan, serta perkembangan teknologi digital.

Menurut Rektor, multilingualisme tidak hanya merupakan kondisi yang perlu dikelola, tetapi juga sumber daya intelektual, budaya, dan pendidikan.
Rektor juga menyampaikan bahwa bahasa menciptakan jalur antara identitas lokal dan partisipasi global. Karena itu, pendidikan bahasa perlu memastikan jalur tersebut tetap terbuka, inklusif, dan memberdayakan.
Gagasan tersebut menjadi relevan dengan tema CONAPLIN dan PELTIN 2026, “Multilingual Pathways: Acquisition, Pedagogy, and Policy Beyond Additional Language Learning”.
Konferensi tersebut mempertemukan akademisi, pendidik, peneliti, dan pemangku kebijakan untuk membahas multilingualisme sebagai realitas kehidupan, termasuk pemerolehan bahasa, pedagogi, dan kebijakan bahasa.
Bagi UPI, Bahasa Inggris dapat ditempatkan bukan sebagai pengganti identitas lokal, melainkan sebagai jembatan yang memungkinkan generasi muda Indonesia membawa cerita tentang daerah, budaya, dan identitasnya dari lingkungan lokal ke ruang global. (RK/RI/DN)

