Bandung, UPI

Mahasiswa Program Studi Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil menciptakan alat deteksi warna kulit dan rekomendasi alas bedak (foundation) otomatis yang presisi dan portabel. Inovasi berbasis prinsip fisika dan instrumentasi sensor ini resmi meraih Sertifikat Paten Sederhana dari Ditjen Kekayaan Intelektual (DJKI).

Paten sederhana ini lahir dari hasil pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) pada mata kuliah Listrik Magnet. Proses pendaftarannya tergolong sangat cepat, yakni hanya membutuhkan waktu kurang dari satu tahun sejak diajukan pada 24 Juli 2025 hingga resmi diberikan (granted) 27 Juli 2026.

Tim inventor alat ini terdiri atas dosen pengampu mata kuliah sekaligus Ketua Grup Riset Instrumentasi Lingkungan UPI, Dr. Selly Feranie, S.Pd., M.Si., bersama tim mahasiswa Fisika, yaitu Ichwan Syarifudin, Rayi Rabani, Azzahra Dhiya Ul Haq, Farrah Fatihatunnisa, dan Nisa Setiawati.

Inovasi ini dirancang untuk menjawab tantangan industri kecantikan yang saat ini masih didominasi oleh perangkat pendeteksi kulit berbiaya tinggi yang umumnya hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu.

Dosen pengampu sekaligus Ketua Tim Inventor, Dr. Selly Feranie, M.Si., menjelaskan bahwa inovasi ini membuktikan ilmu fisika murni memiliki penerapannya yang sangat luas di dunia industri.

“Invensi ini membuktikan bahwa prinsip fisika dapat diterapkan langsung dalam bidang kecantikan. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi ini sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan industri kosmetik agar inovasi ini dapat berkembang lebih luas,” ujar Selly.

Keunggulan dari Alat Deteksi Warna Kulit UPI diantaranya Sensor RGB Presisi: Mampu membaca intensitas warna kulit secara akurat. Pengolahan Mikrokontroler: Menganalisis data dan mencocokkannya secara otomatis dengan basis data kosmetik. Layar LCD dan Notifikasi Suara: Menampilkan serta menyuarakan rekomendasi alas bedak yang cocok bagi pengguna. Portabel dan Mandiri: Dapat digunakan tanpa memerlukan koneksi internet maupun perangkat tambahan.

Ke depan, basis data alat ini dapat disesuaikan dengan katalog produk dari berbagai merek kosmetik tertentu. Sistemnya juga dapat dikembangkan untuk mendeteksi tingkat kelembapan kulit (berminyak atau kering) guna merekomendasikan produk perawatan seperti serum, pelembap, hingga sunscreen.

Melalui kepemilikan paten sederhana ini, UPI tidak hanya memperkuat posisi akademiknya, tetapi juga membuka peluang kemitraan dengan industri kosmetik nasional untuk mengkomersialisasi teknologi tepat guna yang lebih inklusif dan terjangkau bagi masyarakat luas. (DN)