
Dinn Wahyudin
Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia
Di antara ratusan pejuang yang mempertahankan Bandung Utara pada akhir 1945, tiga nama selalu disebut bersama: Sersan Surip, Sersan Bajuri, dan Sersan Sodik.
Kawan-kawan mereka menyebutnya Trio Sersan.
Mereka adalah dulur salembur—tiga sahabat dari kampung yang sama. Sejak kecil mereka berjalan di pematang sawah, bermain di jalan desa, dan berenang di sungai yang sama.
Ketika Republik memanggil, mereka meninggalkan kampung dan berdiri bersama di garis perjuangan.
Di markas pertahanan Bandung Utara, orang sering bergurau:
“Mun rék néangan Surip, moal jauh ti Bajuri jeung Sodik.”
Kalau mencari Surip, Bajuri dan Sodik pasti ada di dekatnya.
Surip dikenal tenang. Bajuri hangat dan penuh semangat. Sodik teliti dan disiplin. Tiga watak berbeda, tetapi satu tekad: mempertahankan kemerdekaan.
Malam Terakhir
Malam menyelimuti Gedung Isola. Kabut turun dari pegunungan. Udara dingin menusuk ruang persembunyian para pejuang. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan berat.
Di sudut ruangan, Trio Sersan masih terjaga.
“Rip, tidurlah. Besok kita mendapat tugas penting,” kata Bajuri.
Surip menggeleng.
“Sakerejep gé teu tiasa mondok, Kang.” Aku tidak bisa tidur.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Republik. Senjata yang kita rebut dari Jepang jangan sampai jatuh lagi ke tangan Belanda.”
Sodik menghentikan tangannya.
“Selama kita masih berdiri, itu tidak akan terjadi.”
Bajuri tersenyum.
“Kita sudah meninggalkan kampung jauh-jauh. Masa pulang membawa malu?”
Mereka tertawa kecil.
Lalu sunyi kembali.
Mereka bicara tentang kampung. Tentang sungai. Tentang masa ketika mereka belum mengenal perang.
“Kalau republik sudah aman, kita pulang,” kata Surip.
“Bersama,” jawab Bajuri.
Sodik mengangguk.
Kemudian Surip berkata pelan,
“Kalau besok salah satu dari kita gugur…”
“…yang lain jangan berhenti,” sambung Bajuri.
Sodik menatap kedua sahabatnya.
“Da pejuang mah bisa waé gugur, tapi perjuangan ulah tepi ka pareum.”
Seorang pejuang boleh gugur, tetapi perjuangan tidak boleh padam.
Surip mengulurkan tangan, dan berkata lirih.
“Mun urang hirup…”
“…urang mulang babarengan,” sambung Bajuri dengan suara pelan.
Sodik menumpangkan tangannya.
“Mun urang gugur…”
Mereka bertiga melanjutkan:
“…mugi Alloh nampi perjuangan urang.”
Tiga tangan bertaut. Mereka berpelukan.
Air mata jatuh tanpa suara.
Tidak ada sumpah panjang. Tidak ada pidato.
Hanya tiga sahabat yang menyerahkan hidupnya kepada tanah air.
Di luar, kabut semakin pekat.
Fajar semakin dekat.
Gugur Bersama
Pagi itu pertempuran pecah.
Di bawah komando Kapten Abdul Hamid, para pejuang TKR mempertahankan Bandung Utara.
Peluru berdesing. Meriam menggelegar. Asap dan debu menutup pandangan.
Di garis depan, Trio Sersan tetap berdampingan.
Surip memberi aba-aba.
Bajuri membangkitkan keberanian.
Sodik menjaga posisi.
Mereka saling melindungi hingga tidak ada ruang bagi rasa takut.
Pasukan Sekutu dan Belanda memiliki persenjataan yang jauh lebih kuat. Namun ketiganya tidak mundur.
Mereka tahu, mungkin mereka tidak akan melihat matahari esok.
Tetapi mereka juga tahu: kemerdekaan tidak boleh dipertahankan dengan keraguan.
Hari itu, janji mereka menjadi kenyataan.
Sersan Surip.
Sersan Bajuri.
Sersan Sodik.
Mereka gugur bersama.
Bukan sebagai orang-orang yang kalah.
Mereka gugur sebagai pejuang yang menolak menyerah.
Pesan dari Gedung Isola
Kini lebih dari delapan puluh tahun telah berlalu.
Dentuman meriam telah berganti dengan suara langkah mahasiswa. Bau mesiu telah berganti dengan aroma buku dan ruang-ruang pembelajaran.
Gedung Isola menjadi bagian dari dunia pendidikan.
Tetapi tanah ini pernah menjadi saksi.
Di sinilah keberanian pernah diuji.
Di sinilah darah para pejuang mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak datang sebagai hadiah.
Ia diperjuangkan.
Ia dipertahankan.
Ia dibayar dengan pengorbanan.
Karena itu, mengenang Trio Sersan bukan sekadar mengingat tiga nama.
Tugas generasi hari ini adalah meneruskan nilai yang mereka wariskan: persatuan, keberanian, kejujuran, ilmu, kerja keras, dan pengabdian kepada bangsa.
Dahulu mereka menjaga Republik dengan senapan.
Hari ini kita menjaganya dengan pendidikan dan karya.
Dahulu mereka berdiri di garis depan dengan senjata.
Hari ini kita harus berdiri di garis depan dengan ilmu dan karakter.
Mungkin pada 24 November 1945, tubuh Surip, Bajuri, dan Sodik telah jatuh di lereng Gedung Isola.
Tetapi kepahlawanan tidak pernah mati bersama mereka.
Mereka telah pergi dari dunia.
Namun nama mereka tinggal di tanah yang mereka pertahankan.
Tiga sahabat dari satu kampung.
Tiga sersan.
Satu janji.
Satu perjuangan.
Dan satu pesan yang tak pernah usang:
”Kemerdekaan bukan warisan untuk dinikmati, melainkan amanat untuk dijaga sepanjang zaman”.

