
Bandung, UPI
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., mengingatkan mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bahwa keberhasilan selama menempuh pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik. Keteguhan mengejar tujuan (grit), kegigihan untuk terus mencoba (persistence), kemampuan bertahan menghadapi kesulitan (perseverance), serta sikap rendah hati menjadi karakter yang perlu dibangun mahasiswa sejak awal perkuliahan.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Brian dalam kuliah umum Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026 hari kedua di Gedung Gymnasium UPI, Rabu (19/8/2026). Kegiatan bertema “Future Ready Generation: Berkarya, Berinovasi, dan Berdampak” tersebut diikuti 13.860 mahasiswa baru UPI dari seluruh provinsi di Indonesia, termasuk mahasiswa asing dari 15 negara.
Menurut Prof. Brian, memasuki perguruan tinggi berarti mahasiswa mulai memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab terhadap keputusan mereka. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki tujuan yang jelas mengenai pribadi seperti apa yang ingin dibentuk selama berada di kampus.
“Yang pertama adalah grit. Grit itu adalah teguh pada pendirian. Kalau pengen kejar, saya mau ngerasain sekolah di luar negeri misalnya, saya pengen S2 di luar negeri supaya ilmu saya tambah, pengalaman saya banyak. Kejar terus, jangan menyerah.” ujar Prof. Brian.
Selain keteguhan terhadap tujuan, Prof. Brian menekankan pentingnya persistence, yaitu kemauan untuk terus mencoba ketika menghadapi kegagalan. Mahasiswa, menurutnya, tidak seharusnya menjadikan satu kegagalan sebagai alasan untuk menghentikan langkah.
“Jadi, jangan sekali gagal berhenti. Coba terus tujuh kali gagal, coba lagi. Sepuluh kali gagal, coba terus.” katanya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa keberhasilan sering kali membutuhkan proses panjang dan percobaan berulang. Karena itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan untuk mengevaluasi kegagalan dan kembali mencoba hingga menemukan cara yang tepat.
Karakter berikutnya adalah perseverance, yakni kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi masa sulit. Prof. Brian mengingatkan mahasiswa bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berlangsung mudah, termasuk selama menjalani pendidikan tinggi.
“Jadi, jangan berharap menjadi orang sukses kalau tidak mau susah. Pasti ada masa susahnya, pasti ada masa sulitnya. Nah, yang Anda butuhkan adalah Anda harus bertahan dengan kesulitan itu.” ujarnya.
Prof. Brian juga mengingatkan mahasiswa agar tidak melihat kegagalan sebagai akhir dari proses. Nilai yang tidak sesuai harapan maupun persoalan selama kuliah dapat menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan berikutnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa setiap orang yang berhasil memiliki pengalaman menghadapi kesulitan. Karena itu, mahasiswa tidak perlu kehilangan arah ketika menghadapi persoalan selama menjalani pendidikan.
“Gagal boleh. Manusia hidup itu bukannya nggak boleh gagal. Gagal itu boleh, ya.” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan. Tantangan selama pendidikan dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan menghadapi kondisi yang lebih sulit di masa depan.
Di samping ketangguhan, Prof. Brian menekankan pentingnya menjaga sikap rendah hati. Menurutnya, pencapaian akademik maupun keberhasilan lainnya tidak seharusnya membuat mahasiswa merasa lebih tinggi daripada orang lain.
“Yang penting juga berikutnya adalah Anda semua harus rendah hati dalam semua proses kehidupan Anda. Jangan pernah Anda menyombongkan diri.” ujarnya.
Sikap rendah hati juga perlu disertai kemauan untuk terus belajar. Prof. Brian mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti mencari pengetahuan hanya karena telah merasa menguasai suatu bidang.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung cepat. Prof. Brian sebelumnya juga mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI), tetapi tetap menguasai fundamental keilmuan agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.
“AI harus kita gunakan, harus kita manfaatkan, tetapi tetap yang akan menang dengan AI adalah mereka yang menguasai fundamental dasar-dasar keilmuannya.” katanya.
Prof. Brian kemudian mengajak mahasiswa baru UPI menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh dan saling mendukung. Ia berharap seluruh mahasiswa yang memulai pendidikan bersama dapat menyelesaikan perjalanan akademiknya.
“Dan kalau ternyata perjalanan Anda berat, ujiannya banyak, Anda silakan untuk capek, silakan lelah, tetapi Anda jangan sampai menyerah.” ujar Prof. Brian.
Ia juga mengajak mahasiswa menjaga kebersamaan dan memastikan tidak ada teman yang tertinggal selama menjalani pendidikan. Harapannya, mahasiswa yang memulai perjalanan sebagai bagian dari 13.386 mahasiswa baru UPI dapat menyelesaikan studi dan kembali berkumpul dalam momentum wisuda.
“Jangan tinggalkan teman Anda, no one left behind. Jangan sampai ada yang tertinggal.” katanya.
Pesan Prof. Brian menempatkan pendidikan tinggi sebagai proses pembentukan karakter sekaligus pengembangan kompetensi. Mahasiswa diharapkan memiliki tujuan yang tinggi, tekun mengejarnya, mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan, tetap terbuka untuk belajar, serta rendah hati ketika mencapai keberhasilan. Dengan bekal tersebut, mahasiswa baru UPI diharapkan mampu menjalani perjalanan akademiknya hingga lulus dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta bangsa. (RK/CS/DN)

