
Bandung, UPI
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., mengingatkan mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) agar tidak menganggap kesempatan menempuh pendidikan tinggi sebagai sesuatu yang biasa. Di balik keberhasilan mereka menjadi mahasiswa, terdapat perjuangan orang tua yang sejak awal mendukung pendidikan hingga menyisihkan penghasilan untuk membiayai kuliah.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Brian saat memberikan kuliah umum dalam rangkaian Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026 di Gedung Gymnasium UPI, Rabu (19/8/2026). Kuliah umum bertema “Future Ready Generation: Berkarya, Berinovasi, dan Berdampak” tersebut diikuti 13.860 mahasiswa baru UPI dari seluruh provinsi di Indonesia, termasuk mahasiswa asing dari 15 negara.
Prof. Brian mengatakan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi masih belum dapat dirasakan oleh seluruh anak muda Indonesia. Ia menyebut angka partisipasi kasar pendidikan tinggi Indonesia baru sekitar 32 persen, sehingga mahasiswa yang dapat melanjutkan kuliah masih merupakan bagian yang lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak berkuliah.
“Jadi ketika Anda sudah diterima masuk sebagai mahasiswa UPI, janganlah Anda menganggap ini sesuatu yang biasa. Ini adalah suatu prestasi yang luar biasa,” ujar Prof. Brian.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga. Banyak orang tua yang menyisihkan sebagian penghasilan untuk membiayai pendidikan anak, bahkan menunda kebutuhan pribadi agar anak dapat melanjutkan kuliah.
“Di balik keberhasilan Anda, tentu ada orang tua Anda yang sejak kecil mendorong Anda, menyuruh Anda belajar, menyuruh adik-adik mahasiswa untuk rajin. Dan tidak sedikit orang tua yang menyisihkan uangnya, menyisihkan rezeki gaji orang tua untuk membiayai Anda supaya bisa kuliah di UPI ini.” katanya.
Prof. Brian menggambarkan bentuk pengorbanan tersebut melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan keluarga. Orang tua dapat menunda membeli pakaian atau kebutuhan pribadi agar biaya kuliah, tempat tinggal, dan kebutuhan bulanan anak tetap terpenuhi.
Karena itu, ia meminta mahasiswa baru menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Kedisiplinan menghadiri kuliah, belajar, menjaga integritas akademik, menghormati dosen dan teman, serta memanfaatkan fasilitas kampus menjadi bagian dari tanggung jawab mahasiswa atas kesempatan yang telah diperoleh.
Prof. Brian juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak menyia-nyiakan proses pendidikan dengan hanya mengejar nilai. Selain hard skill dan capaian akademik, mahasiswa perlu membangun kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kerja sama, serta keterlibatan dalam berbagai aktivitas kampus.

Menurutnya, pengalaman selama menjadi mahasiswa akan menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan setelah lulus. Karena itu, mahasiswa didorong aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan, KKN, organisasi, maupun berbagai ruang untuk menghasilkan karya.
Pesan tentang tanggung jawab tersebut kemudian ia kaitkan dengan hubungan mahasiswa dan orang tua. Prof. Brian mengajak mahasiswa yang tidak tinggal bersama orang tua untuk tetap berkomunikasi dan meminta doa selama menjalani pendidikan.
“Sering-sering minta doa kepada orang tua yang tidak tinggal sama orang tua. Telepon orang tua Anda, WA, kirim suara voice note ke orang tua Anda karena orang tua Anda di rumahnya sana terus mendoakan adik-adik sekalian.” tuturnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar keberhasilan mahasiswa kelak menjadi kebanggaan bagi keluarga. Prof. Brian mengajak mahasiswa baru membayangkan empat tahun mendatang ketika mereka menyelesaikan pendidikan dan dapat membawa orang tua menghadiri wisuda.
“Nanti sebisa mungkin, wisuda empat tahun lagi juga jumlahnya harus sama. Anda nanti dengan gagah Anda bawa orang tua Anda, Anda bawa saudara-saudara Anda, Anda tunjukkan bahwa Anda semua berhasil lulus membanggakan orang tua sebagai sarjana dari Universitas Pendidikan Indonesia.” katanya.
Prof. Brian berharap mahasiswa baru UPI dapat menjalani perjalanan pendidikan dengan sungguh-sungguh, menjaga hubungan dengan orang tua, serta menggunakan kesempatan belajar untuk membangun masa depan. Keberhasilan tersebut, menurutnya, bukan hanya menjadi pencapaian pribadi mahasiswa, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap perjuangan keluarga yang telah mengantarkan mereka sampai ke perguruan tinggi. (RK/CS/DN)

