Bandung, UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membawa hasil riset Bionut dari lingkungan akademik ke lahan pertanian melalui penerapan langsung bersama petani. Langkah tersebut menjadi bagian dari proses hilirisasi riset, dengan menempatkan kondisi dan pengalaman petani sebagai bagian dari pengujian sekaligus pengembangan inovasi.

Penerapan Bionut dilakukan di Sindangpalay, Desa Cugugur, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Inovasi yang dikembangkan UPI tersebut telah digunakan pada sejumlah komoditas hortikultura, di antaranya cabai, tomat, buncis, selada, dan kailan.

Bionut merupakan produk berbasis hayati yang memanfaatkan ekstrak tumbuhan tropis. Produk tersebut dikembangkan sebagai suplemen tanaman yang mengandung komponen bioorganik, mikronutrien, alkalinity builder, dan biopestisida.

Proses membawa Bionut ke lahan petani tidak dilakukan dalam satu tahap. Setelah penerapan awal pada satu petani dan beberapa demplot atau metode penyuluhan pertanian dengan cara membuat lahan percontohan agar petani bisa melihat dan membuktikan langsung hasil dari penerapan teknologi, varietas baru, atau pemupukan berimbang, pengembangan selanjutnya diperluas dengan melibatkan sekitar 10 petani untuk melihat penerapannya dari sisi produktivitas pada berbagai komoditas.

Drs. Yaya Sonjaya, M.Si., inovator Bionut, mengatakan penerapan di lapangan merupakan bagian penting dari upaya memastikan hasil penelitian perguruan tinggi dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Tujuannya yang utama bagaimana petani bisa merasakan hasil riset, hasil inovasi dari perguruan tinggi agar mereka dapat memperoleh manfaatnya. Hasil-hasil riset perguruan tinggi jangan jadi menara gading, tetapi harus terasa oleh masyarakat luas,” ujar Yaya.

Menurut Yaya, penerapan langsung bersama petani juga memberikan ruang bagi peneliti untuk melihat bagaimana inovasi bekerja dalam kondisi pertanian yang sebenarnya. Pengalaman pengguna menjadi masukan untuk mengevaluasi dan mengembangkan produk pada tahap berikutnya.

Hal tersebut terlihat dari pengalaman Iib, salah seorang petani yang menggunakan Bionut di Sindangpalay. Saat ditemui di lahan pertaniannya pada Kamis (27/8/2026), Iib mengatakan Bionut telah digunakan pada beberapa tanaman dan memberikan perubahan yang diamatinya terhadap pertumbuhan tanaman.

Ia juga mengaku penggunaan Bionut membantu mengurangi biaya produksi. Berdasarkan pengalamannya, biaya produksi dapat berkurang sekitar 30 persen.

“Biaya produksi bisa berkurang sekitar tiga puluh persen,” kata Iib.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari informasi lapangan dalam proses pengembangan Bionut. Angka tersebut merupakan pengalaman Iib sebagai pengguna dan belum dapat digeneralisasi sebagai tingkat penghematan seluruh petani pengguna Bionut.

Petani sebagai Bagian dari Proses Riset

Hilirisasi Bionut tidak berhenti pada penerapan produk. Tim peneliti juga menggunakan temuan di lapangan untuk mengidentifikasi persoalan yang masih perlu diselesaikan.

Prof. Dr. Hendrawan, M.Si., Ketua Pengabdian kepada Masyarakat sekaligus Guru Besar Departemen Pendidikan Kimia FPMIPA UPI, mengatakan pertumbuhan vegetatif tanaman menjadi salah satu aspek yang menunjukkan potensi. Namun, persoalan hama dan penyakit masih menjadi tantangan dalam pengembangan berikutnya.

“Kalau dari sisi vegetatif saya kira ini punya keunggulan yang luar biasa, cuma kita masih ada PR utamanya itu masalah hama dan penyakit,” ujar Hendrawan.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti bersama mahasiswa sedang mengembangkan formulasi biopestisida yang dapat dikombinasikan dengan Bionut. Saat ini terdapat lima seri percobaan yang masih berada dalam tahap penelitian dan dipersiapkan untuk pengujian lebih lanjut.

Perjalanan Bionut juga menunjukkan bahwa hilirisasi riset berlangsung melalui proses bertahap. Inovasi yang dikembangkan melalui penelitian kemudian diterapkan, diamati oleh pengguna, dievaluasi, dan kembali dikembangkan berdasarkan persoalan yang ditemukan di lapangan.

Pengembangan bionutrien di UPI sendiri telah berlangsung sejak 2006 dan telah melalui pengujian pada berbagai komoditas pertanian. Penerapan bersama petani menjadi fase lanjutan untuk mempertemukan pengalaman akademik dengan kebutuhan praktis di tingkat usaha tani.

Bagi UPI, proses tersebut menempatkan petani bukan hanya sebagai penerima hasil riset, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan inovasi. Masukan dari lapangan menjadi bahan untuk melihat relevansi, keterbatasan, serta arah pengembangan teknologi selanjutnya.

Dengan pendekatan tersebut, hilirisasi riset tidak berhenti ketika sebuah inovasi dihasilkan di kampus. Prosesnya berlanjut hingga inovasi bertemu pengguna, diuji dalam kondisi nyata, mendapatkan umpan balik, dan dikembangkan kembali agar semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (RK)