Bandung Barat, UPI

Persoalan yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi titik awal untuk menghasilkan penelitian. Perspektif tersebut disampaikan Dr. Siti Aisyah, M.Si., dosen Departemen Pendidikan Kimia, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), saat membekali siswa mengenai penyusunan proposal penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Materi “Proposal Penelitian OPSI” disampaikan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Kimia FPMIPA UPI di SMA Negeri 2 Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Program Studi Kimia FPMIPA UPI, SMA Negeri 2 Padalarang, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kimia Kabupaten Bandung Barat serta diikuti ratusan siswa dan guru dari berbagai SMA di wilayah Bandung Barat.

Dalam pemaparannya, Dr. Siti Aisyah mengarahkan siswa untuk memulai penelitian dari observasi, bukan dari judul. Siswa perlu terlebih dahulu melihat persoalan, kebutuhan, anomali, atau potensi yang terdapat di lingkungan sekitar sebelum menentukan topik penelitian.

Pendekatan tersebut dirangkum dalam prinsip “Start with Observation, Not with a Title”. Lingkungan sekolah, rumah, masyarakat, lingkungan alam, potensi sumber daya lokal, kehidupan digital, hingga persoalan yang dihadapi kelompok tertentu dapat menjadi sumber untuk menemukan ide penelitian.

Untuk membantu siswa mengenali persoalan secara lebih sistematis, materi juga memperkenalkan pendekatan problem hunting. Siswa diarahkan mencatat masalah yang ditemukan, pihak yang terdampak, serta bukti awal yang dapat mendukung keberadaan masalah tersebut.

Persoalan yang masih luas kemudian perlu dipersempit agar dapat diteliti. Salah satu cara yang diperkenalkan adalah metode Five Whys, yaitu menelusuri suatu persoalan melalui pertanyaan “mengapa” secara berulang untuk menemukan penyebab yang lebih mendasar.

Contohnya, persoalan makanan yang banyak terbuang di sekolah dapat ditelusuri dari makanan yang tidak dihabiskan, ukuran porsi yang tidak sesuai, hingga belum tersedianya data mengenai kebutuhan dan preferensi siswa. Dari proses tersebut, siswa dapat merumuskan berbagai kemungkinan penelitian yang lebih spesifik.

Setelah masalah ditentukan, siswa diarahkan menelusuri penelitian terdahulu. Tahap ini diperlukan untuk mengetahui pengetahuan yang telah tersedia, solusi yang pernah dilakukan, variabel yang telah diuji, serta bagian yang masih belum terjawab atau research gap.

Dr. Siti Aisyah menjelaskan bahwa research gap dalam penelitian siswa tidak selalu berarti menemukan teori yang sepenuhnya baru. Kebaruan dapat diperoleh melalui penggunaan bahan lokal, penerapan pada konteks tertentu, pengujian variabel yang berbeda, perbandingan metode, kombinasi teknologi, maupun penerapan solusi pada kondisi nyata.

Dari research gap tersebut, siswa kemudian diarahkan merumuskan pertanyaan penelitian, menentukan variabel, menyusun hipotesis apabila diperlukan, serta merancang metode yang memungkinkan pertanyaan penelitian dijawab melalui data.

Materi juga membahas struktur proposal penelitian yang meliputi pendahuluan, tinjauan pustaka, bahan dan metode penelitian, serta daftar pustaka. Latar belakang perlu menunjukkan persoalan dan dasar teori yang mendukung penelitian, sementara tinjauan pustaka membantu menempatkan penelitian terhadap penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Dalam penyusunan proposal, siswa juga diperkenalkan dengan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), antara lain untuk membantu brainstorming topik, menyusun kerangka proposal, memperbaiki bahasa ilmiah, dan mempersiapkan presentasi atau poster. Pemanfaatannya ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses persiapan penelitian.

Materi turut memberikan gambaran mengenai tema penelitian yang memperoleh penghargaan pada OPSI 2025, mulai dari kesehatan dan biomedis, nanoteknologi dan material, lingkungan dan ekonomi sirkular, AI dan IoT, pangan dan pertanian, hingga teknologi asistif dan keselamatan.

Melalui pembekalan tersebut, siswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan proposal bagi kebutuhan kompetisi. Mereka juga diperkenalkan pada tahapan berpikir ilmiah yang dimulai dari kepekaan terhadap persoalan, pencarian bukti, penelusuran penelitian terdahulu, penemuan research gap, hingga penyusunan rancangan penelitian yang dapat diuji.

Bagi kegiatan PKM Program Studi Kimia FPMIPA UPI, pembekalan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman penelitian ke lingkungan sekolah. Dengan kemampuan mengenali dan merumuskan persoalan secara ilmiah, siswa diharapkan memiliki dasar untuk mengembangkan penelitian yang relevan dengan lingkungan dan kebutuhan di sekitarnya. (RK/DN)