
Bandung, UPI
Program Studi Fisika dan Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar rangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Semester Genap 2025/2026 secara daring via Zoom. Agenda yang berlangsung selama dua pertemuan pada Sabtu (25/7/2026) dan Sabtu (1/8/2026) ini menghadirkan enam topik inovatif untuk memperkuat kompetensi pendidik dan literasi sains masyarakat.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 120 peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang terdiri dari guru, dosen, mahasiswa, hingga pengawas sekolah. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan besarnya perhatian pendidik terhadap pengembangan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan peserta didik saat ini.
Pada pertemuan pertama, 25 Juli 2026, peserta memperoleh tiga materi yang mengangkat aspek asesmen, pemahaman konsep, dan kebencanaan. Materi pertama bertajuk Pendampingan Perancangan Asesmen Berbasis Proyek. Materi ini memberikan penguatan mengenai perancangan asesmen berbasis proyek sebagai salah satu pendekatan untuk mengevaluasi proses dan hasil belajar peserta didik secara lebih komprehensif. Sesi berikutnya membahas Pendampingan Guru dalam Identifikasi Miskonsepsi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Achmad Samsudin, M.Pd. Dalam sesi ini, Prof. Achmad menekankan pentingnya kemampuan guru dalam mengenali berbagai bentuk miskonsepsi yang dialami peserta didik. Identifikasi miskonsepsi menjadi langkah penting agar guru dapat merancang strategi pembelajaran yang membantu peserta didik membangun pemahaman konsep yang lebih tepat.
Pertemuan pertama kemudian dilanjutkan dengan materi Penguatan Resiliensi Masyarakat terhadap Bencana Hidrometeorologi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Endi Suhendi, M.Si. Dalam paparannya, Prof. Endi mengangkat pentingnya peningkatan literasi mengenai fenomena hidrometeorologi serta penguatan kesiapsiagaan dan resiliensi masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Peserta memperoleh wawasan mengenai keterkaitan antara fenomena alam, potensi bencana hidrometeorologi, dan upaya mitigasi yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat maupun diintegrasikan dalam konteks pembelajaran sains. Pembahasan ini menjadi relevan mengingat Indonesia menghadapi beragam potensi bencana sehingga pemahaman dan kesadaran terhadap risiko bencana perlu terus diperkuat.
Rangkaian PkM dilanjutkan pada pertemuan kedua, 1 Agustus 2026, dengan tiga materi yang menyoroti perkembangan pembelajaran kontemporer, khususnya integrasi STEM, kemampuan berpikir komputasional, pemanfaatan teknologi digital, serta pembelajaran yang inklusif dan adaptif. Tiga topik yang dihadirkan pada pertemuan kedua adalah STEM-Space Rover Mars Arduino dalam Pembelajaran Koding dan Berpikir Komputasional, Transformasi Pembelajaran Sains melalui Pembelajaran Multimodal Berbantuan NotebookLM, serta Pembelajaran yang Inklusif dan Adaptif.
Ketiga materi tersebut memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai pembelajaran sains masa kini. Topik STEM dan Space Rover Mars Arduino memperkenalkan integrasi sains, teknologi, rekayasa, matematika, koding, dan kemampuan berpikir komputasional sebagai alternatif untuk menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual. Topik pembelajaran multimodal berbantuan NotebookLM memperlihatkan peluang pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan sumber belajar dan penyajian informasi dalam berbagai bentuk representasi. Sementara itu, topik pembelajaran inklusif dan adaptif menekankan pentingnya proses pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik.

Meskipun seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara daring, interaksi antara narasumber dan peserta berlangsung aktif. Setiap penyampaian materi dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menggali materi lebih jauh. Peserta tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi juga berbagi pengalaman dan berbagai persoalan yang mereka temui dalam praktik pembelajaran di sekolah. Keaktifan tersebut menjadikan kegiatan PkM tidak sekadar sebagai forum penyampaian materi satu arah. Diskusi antara narasumber dan peserta berkembang menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara akademisi dengan praktisi pendidikan. Keberagaman latar belakang peserta turut memperkaya pembahasan karena menghadirkan berbagai perspektif mengenai tantangan pembelajaran yang dihadapi di lapangan.
Enam topik yang dihadirkan dalam dua hari pelaksanaan menunjukkan luasnya cakupan kegiatan PkM, mulai dari asesmen berbasis proyek, identifikasi miskonsepsi, resiliensi terhadap bencana hidrometeorologi, STEM dan berpikir komputasional, pembelajaran multimodal berbantuan teknologi, hingga pembelajaran yang inklusif dan adaptif. Keseluruhan topik tersebut memiliki keterkaitan dengan kebutuhan guru dalam merespons perkembangan pendidikan, teknologi, serta berbagai tantangan pembelajaran saat ini.
Melalui rangkaian PkM ini, Program Studi Fisika dan Pendidikan Fisika UPI terus memperkuat keterhubungan antara keilmuan dan inovasi yang dikembangkan di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata para pendidik di lapangan. Materi, pengalaman, dan hasil diskusi selama kegiatan diharapkan dapat menjadi referensi bagi peserta dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih inovatif, kontekstual, adaptif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan para pendidik dari berbagai daerah. Dengan tingginya partisipasi peserta serta diskusi yang berlangsung aktif selama dua pertemuan, rangkaian PkM diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran sains serta penguatan kompetensi pendidik. (DN)

