
Purwakarta, UPI
Jajaran dosen Program Studi Pendidikan Seni Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) menghadiri dan mengapresiasi pementasan karya seni pertunjukan bertajuk “Tirta Raksa: Rekonstruksi Seni Domyak dari Ritual ke Pertunjukan” di Bale Sawala Yudistira, Kabupaten Purwakarta, Jumat (14/8/2026).
Karya berbasis riset inovatif tersebut diciptakan oleh Rizqi Maulana, S.Sn., M.Pd., alumni Program Magister Pendidikan Seni SPs UPI lulusan 2025, dengan dukungan pendanaan Hibah Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia 2025.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, Dr. Aep Durahman, M.Pd. Dalam sambutannya, Aep menyampaikan apresiasi tinggi terhadap karya pertunjukan tari tersebut yang dinilai sarat keindahan serta nilai budaya lokal tanpa merusak akar tradisi.
Yang membuat karya ini istimewa adalah caranya menyatukan dua kekuatan sekaligus: penciptaan artistik dan penulisan akademik. Tirta Raksa tidak sekadar dipentaskan sebagai karya tari, tetapi juga dibukukan sebagai karya ilmiah yang mendokumentasikan proses penciptaannya secara utuh. Melalui pendekatan riset berbasis praktik (practice-based research) dan metode Recreation, sang alumnus berhasil mentransformasikan Seni Domyak — tradisi ritual masyarakat Purwakarta dalam konteks upacara memohon hujan— menjadi bentuk seni pertunjukan baru yang tetap berpijak pada akar filosofis tradisi, yaitu konsep Ngaruat, Ngarawat, dan Ngarumat: menyadari, menjaga, dan merawat kehidupan. Buku Tirta Raksa dilaunching dan didiskusikan setelah pertunjukan usai. Gelar karya inovatif ini mendapat dukungan pendanaan dari Hibah Dana Indonesiana, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia 2025.

Acara juga dihadiri oleh guru-guru Seni Budaya, yang kebanyakan alumni UPI, sehingga para dosen UPI terdiri atas Prof. Juju Masunah, S.Sen., M.Hum., Ph.D., Prof. Dr. Hj. Tati Narawati, S.Sen., M.Hum., Dr. Yanti Heriyawati, S.Pd., M.Hum., Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd., Dr. Reni Haerani, S.Pd., M.Pd., serta sejumlah mahasiswa UPI menjadi reuni yang hangat. Diskusi interaktif bersama DISPORAPARBUD dan para guru seni budaya dalam kegiatan ini turut membuka peluang tindak lanjut, di antaranya kemungkinan pengintegrasian materi Seni Domyak dan Tirta Raksa ke dalam pembelajaran seni budaya di sekolah, serta penjajakan kerja sama lebih lanjut antara SPs UPI dengan Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang promosi dan sosialisasi Program Studi Pendidikan Seni SPs UPI kepada masyarakat dan instansi pemerintah daerah.
Pencapaian kreatif Alumni ini menjadi bukti konkret keunggulan Program Magister Pendidikan Seni SPs UPI dalam mencetak lulusan yang tidak berhenti pada kompetensi menulis akademik semata. Alumni program ini terbukti mampu menembus dua dunia sekaligus: dunia keilmuan lewat karya tulis yang terstruktur dan reflektif, serta dunia penciptaan lewat karya seni pertunjukan yang hidup dan dapat dinikmati publik. Lebih dari itu, karya Tirta Raksa turut memberi sumbangsih nyata bagi penguatan identitas budaya Purwakarta, mengangkat kembali kekayaan tradisi lokal yang sempat kurang dikenal luas menjadi aset seni budaya yang relevan untuk dunia pendidikan sekaligus pariwisata daerah.
Dalam Kata Pengantar buku Tirta Raksa tersebut, Prof. Juju Masunah menegaskan bahwa karya ini “tidak sekadar mereproduksi bentuk, tetapi mengolah nilai-nilai budaya menjadi bahasa artistik baru yang relevan dengan konteks kekinian”. Ia juga menggarisbawahi bahwa karya semacam ini menunjukkan bagaimana tubuh dapat menjadi medium pembelajaran yang utuh, menyimpan pengalaman budaya, ekologis, dan sosial sekaligus — sebuah paradigma penting dalam pendidikan seni kontemporer yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga pada kemampuan menafsir dan mentransformasi nilai budaya.

Melalui capaian alumninya, Program Magister Pendidikan Seni SPs UPI menunjukkan bahwa pendidikan seni tingkat pascasarjana mampu melahirkan lulusan yang unggul secara ganda: sebagai akademisi yang produktif menulis karya ilmiah dan buku, sekaligus sebagai seniman-pencipta yang berkontribusi nyata membangun dan menguatkan identitas budaya daerah. Model pendidikan seni berbasis riset penciptaan semacam ini diharapkan terus direplikasi, sejalan dengan visi pengembangan keilmuan pendidikan seni yang kontekstual, berbasis budaya lokal, dan responsif terhadap tantangan zaman. (DN)

