
Subang, UPI
Grup Riset Instrumentasi Lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memimpin riset kolaborasi antarperguruan tinggi bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Negeri Malang (UM) untuk mengatasi permasalahan lahan pertanian di Desa Sukamelang, Kabupaten Subang.
Program Riset Kolaborasi Indonesia 2026 ini dipimpin oleh Dr. Selly Feranie (UPI) sebagai host, bersama Amsor dan Dedi Sasmita dari UPI, serta menggandeng Co-Host Dr. Fourier Dzar El Jabbar Latief (ITB) dan Dr. Cahyo Aji Hapsoro (UM). Fokus utama konsorsium riset ini adalah mentransformasi lahan tanah merah yang rentan mengeras menjadi area pertanian yang stabil, produktif, dan berkelanjutan.
Tahap awal penelitian diawali dengan studi diagnostik lapangan mendalam. Tim mengumpulkan data Electrical Resistivity Tomography (ERT) sepanjang 500 meter, mengukur kelembapan, pH, dan unsur hara tanah, menganalisis pola vegetasi serta histori curah hujan dua tahun terakhir, hingga melakukan observasi partisipatif bersama petani lokal.
Berdasarkan temuan di lapangan, kendala utama yang dihadapi para petani Sukamelang adalah karakteristik tanah merah yang mengeras saat musim kemarau, yang menyebabkan lahan tidak dapat ditanami hingga enam bulan setiap tahunnya.

Guna mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti merancang solusi pengairan terintegrasi berbasis pendekatan Nature-based Solutions (NbS). Sistem ini mencakup penarikan air menggunakan pompa dari sungai berjarak ±800 meter di hilir, pipa distribusi, penampungan air, hingga teknik penyiraman dan perlakukan tanah (soil treatment) yang disesuaikan dengan topografi setempat.
Dr. Selly Feranie menegaskan bahwa pengairan merupakan bagian dari strategi perlakuan tanah yang lebih luas.
“Goal utama riset ini adalah menjadikan lahan Sukamelang stabil sekaligus produktif, baik saat kemarau melalui penerapan irigasi yang tepat, maupun saat terjadi cuaca dan hujan ekstrem,” ujar Dr. Selly.
Inovasi ini disambut positif oleh masyarakat setempat. Usep, salah seorang petani Desa Sukamelang, mengapresiasi langkah konkret tim akademisi tersebut.
“Inovasi pengairan ini memberi semangat baru bagi kami. Selama ini saat kemarau kami hanya bisa menunggu hujan turun untuk menanam. Dengan adanya sistem ini, kami berharap lahan bisa produktif sepanjang tahun,” ungkap Usep.
Melalui sinergi riset UPI, ITB, dan UM, model pengelolaan lahan ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi bagi petani di Desa Sukamelang, tetapi juga dapat menjadi acuan nasional dalam penanganan dan perlakuan lahan tanah merah di berbagai wilayah Indonesia. (DN)

