Bandung, UPI

Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Literasi Baca Naskah Kuno bagi Guru-Guru Bahasa Sunda SMP di Lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bandung”, Senin (6/7/2026). Kegiatan dilaksanakan di Ruang Rapat Lantai 1 Gedung A FPBS UPI sebagai bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Kepakaran Bidang Ilmu (PkM Bidang Ilmu).

Kegiatan diikuti oleh 20 guru Bahasa Sunda SMP di Kota Bandung, serta melibatkan sekitar 10 dosen dan sejumlah mahasiswa. Pelatihan ini menjadi salah satu upaya perguruan tinggi untuk memperkuat kompetensi guru sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan naskah kuno sebagai sumber pengetahuan dan kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran Bahasa Sunda.

Kegiatan dibuka secara langsung oleh Ketua Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Sunda dan S-2 Pendidikan Bahasa dan Budaya Sunda FPBS UPI, Dr. Haris Santosa Nugraha, M.Pd., mewakili pimpinan fakultas karena Dekan FPBS UPI berhalangan hadir. Dalam pembukaan kegiatan, disampaikan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan guru sebagai praktisi pendidikan dalam upaya pengembangan pembelajaran bahasa Sunda yang tetap berakar pada kekayaan budaya lokal.

Ketua Pelaksana kegiatan, Prof. Dr. Dedi Koswara, M.Hum., menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membaca dan memahami naskah kuno, tetapi juga untuk membuka wawasan mengenai potensi naskah sebagai sumber pembelajaran.

Menurutnya, naskah-naskah lama menyimpan beragam pengetahuan, pengalaman masyarakat, serta nilai-nilai kearifan lokal yang masih relevan untuk dikenalkan kepada peserta didik.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan para guru mengenai kearifan lokal yang tersimpan dalam naskah. Isi atau konten naskah tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan maupun media ajar bagi murid karena di dalamnya terdapat banyak nilai baik yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Prof. Dedi.

Pelatihan menghadirkan Dr. Ruhaliah, M.Hum. dan Dr. Danan Darajat, M.Pd. sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Temmy Widyastuti, M.Pd. sebagai moderator. Para peserta memperoleh penguatan pengetahuan mengenai naskah kuno, khususnya berkaitan dengan kemampuan membaca, memahami isi naskah, serta melihat peluang pemanfaatannya dalam konteks pendidikan.

Melalui pelatihan tersebut, guru tidak hanya diperkenalkan pada naskah sebagai benda atau dokumen peninggalan masa lalu, tetapi juga diajak melihat naskah sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikontekstualisasikan dalam pembelajaran. Berbagai nilai budaya, pendidikan, sosial, dan kehidupan yang terkandung di dalam naskah berpotensi menjadi materi yang dekat dengan pembentukan karakter dan penguatan identitas budaya peserta didik.

Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Ketua MGMP Bahasa Sunda SMP Kota Bandung, Nurani, S.Pd., guru SMPN 34 Kota Bandung, menilai pelatihan literasi naskah kuno menjadi kegiatan yang menarik dan bermanfaat bagi para guru.

“Kegiatan seperti ini sangat menarik dan perlu terus dikembangkan serta dilaksanakan. Bagi guru-guru, kegiatan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan, terutama mengenai kekayaan budaya yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran,” ungkap Nurani.

Menurutnya, pelatihan yang mempertemukan akademisi dan guru juga memberikan kesempatan bagi para pendidik untuk memperoleh perspektif baru mengenai sumber-sumber pembelajaran bahasa Sunda yang selama ini belum banyak dieksplorasi di sekolah.

Keterlibatan dosen, guru, dan mahasiswa dalam kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam pelestarian serta pemanfaatan warisan budaya Sunda. Naskah kuno tidak hanya penting untuk dilestarikan secara fisik, tetapi juga perlu terus dibaca, dipahami, dan direinterpretasikan agar kandungan pengetahuannya tetap hidup di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda FPBS UPI berharap literasi naskah kuno dapat semakin berkembang di lingkungan pendidikan. Guru diharapkan mampu menjadi penghubung antara kekayaan pengetahuan masa lalu dan generasi masa kini dengan mengembangkan materi pembelajaran yang kontekstual, menarik, serta tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal Sunda. (Danan)