
Bandung, UPI
Tim mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan fitur pengenalan nominal uang pada Netravest, rompi navigasi cerdas yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mengenali kondisi lingkungan. Fitur tersebut memanfaatkan kamera dan kecerdasan artifisial (AI) untuk mengidentifikasi nominal uang rupiah, kemudian menyampaikan hasilnya kepada pengguna melalui suara menggunakan teknologi bone conduction.
Netravest dikembangkan oleh lima mahasiswa UPI, yaitu Raden Farhan Rizki Septrian, Najwa Adistia Nisrina, Muhammad Fattan Al Farisi, Sulthan Ariq Haikal, dan Hanif Muzaffar Gunawan. Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026.
Fitur pengenalan nominal uang dikembangkan sebagai salah satu fungsi pendukung kemandirian pengguna. Tim menemukan bahwa kemampuan mengenali nominal uang secara mandiri masih menjadi tantangan bagi sebagian penyandang tunanetra, terutama ketika kondisi fisik uang membuat tanda pembeda nominal sulit dikenali.
Dalam proses pengujian, pengguna cukup menempatkan uang di depan kamera yang terdapat pada Netravest. Jarak pengujian yang digunakan sekitar 30 sentimeter. Setelah kamera menangkap gambar uang dan sistem mengenali nominalnya, informasi tersebut langsung disampaikan melalui suara.
“Pengguna tinggal menaruh uangnya di depan kamera, kemudian dijauhkan sekitar 30 sentimeter. Setelah terdeteksi oleh sistem, alat akan langsung mengeluarkan suara melalui bone conduction, misalnya menyebutkan ‘uang 50 ribu rupiah’,” ujar tim pengembang Netravest.
Berdasarkan pengujian tim, proses pengenalan nominal uang dapat berlangsung sekitar 200 milidetik. Selain memberikan informasi melalui suara, sistem Netravest juga dilengkapi umpan balik berupa getaran sebagai informasi tambahan.
Teknologi bone conduction digunakan agar pengguna tetap dapat mendengar suara dari lingkungan sekitar. Berbeda dengan earphone konvensional yang menutup saluran pendengaran, teknologi tersebut menyampaikan suara melalui getaran sehingga aspek pendengaran lingkungan tetap diperhatikan dalam penggunaan perangkat.
Fitur pengenalan uang menjadi salah satu pengembangan Netravest yang diarahkan untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Dalam pengujian, tim memberikan uang yang kondisinya masih relatif baru kepada pengguna tunanetra untuk dicoba secara langsung.
Tim menemukan bahwa meskipun uang rupiah memiliki sejumlah tanda pembeda nominal, pengguna tidak selalu dapat mengenalinya dengan mudah. Kondisi tersebut membuat sebagian pengguna masih membutuhkan bantuan orang lain ketika ingin mengetahui nominal uang yang sedang mereka pegang.
Melalui Netravest, pengguna dapat memperoleh informasi nominal secara langsung dari perangkat. Tim mencatat adanya respons positif ketika pengguna berhasil mengetahui nominal uang yang mereka pegang tanpa bantuan orang lain.
“Ketika mereka mencoba dan bisa tahu bahwa uang yang mereka pegang ternyata Rp10.000, mereka merasa senang karena tidak harus meminta bantuan orang lain,” ungkap tim pengembang.
Fitur tersebut menjadi bagian dari sistem computer vision Netravest. Secara keseluruhan, perangkat menggunakan algoritma pendeteksi objek YOLOv8n yang dikembangkan dengan lebih dari 30.000 dataset dan lebih dari 20 kelas objek rintangan.
Selain pengenalan uang, Netravest dikembangkan sebagai rompi navigasi untuk membantu pengguna mengenali objek di lingkungan sekitar. Sistem menggabungkan kamera dengan sensor Light Detection and Ranging (LiDAR) melalui pendekatan sensor fusion. Informasi dari sensor kemudian diterjemahkan menjadi umpan balik suara dan getaran.
Pengembangan fitur pengenalan nominal uang dilakukan bersamaan dengan pengujian keseluruhan prototipe Netravest yang berlangsung pada Agustus hingga September 2026. Prototipe fisik perangkat telah diselesaikan pada akhir Juli 2026.
Anggota tim Netravest, Hanif Muzaffar Gunawan, mengatakan perangkat tersebut masih berada dalam tahap pengembangan sehingga teknologi AI dan perangkat keras masih akan dioptimalkan.
“Masih banyak potensi yang bisa dioptimalisasi lagi, mulai dari AI sampai ke hardware. Harapannya, ke depan perangkat ini bisa lebih ringkas dan lebih optimal.”
Saat ini, Netravest memiliki bobot sekitar dua kilogram. Tim menargetkan bobot perangkat dapat dikurangi hingga sekitar satu kilogram melalui penggunaan komponen yang lebih kecil dan ringkas. Baterai yang digunakan saat ini dirancang untuk mendukung penggunaan hingga sekitar delapan jam.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Prof. Dr. Hj. Siti Nurbayani Kusumaningsih, M.Si., mengatakan pengembangan Netravest menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa dapat diarahkan untuk menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Netravest tidak hanya menghasilkan sebuah teknologi, tetapi menunjukkan bagaimana ilmu, kreativitas, dan kepedulian sosial mahasiswa dapat diubah menjadi sebuah solusi nyata bagi masyarakat, khususnya bagi penyandang tunanetra.”
Menurut Prof. Siti, capaian mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada penghargaan, tetapi menghasilkan karya yang memberikan manfaat dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Pengembangan Netravest selanjutnya diarahkan pada penyempurnaan teknologi AI, perangkat keras, ukuran, bobot, konsumsi daya, dan kenyamanan penggunaan. Tim juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut agar teknologi tersebut dapat digunakan secara lebih luas oleh penyandang tunanetra.
Dengan fitur pengenalan nominal uang, Netravest tidak hanya berfungsi sebagai perangkat pendeteksi rintangan, tetapi juga dikembangkan untuk mendukung aktivitas sehari-hari yang membutuhkan kemampuan mengenali informasi visual. Fitur tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya tim memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan kemandirian penyandang tunanetra dalam beraktivitas. (RK)

