Bandung, UPI

Hasil penelitian perguruan tinggi perlu diarahkan tidak hanya menjadi publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan produk konkret yang dapat dimanfaatkan masyarakat melalui proses hilirisasi dan komersialisasi. Keterhubungan antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri menjadi salah satu aspek yang dinilai penting untuk mewujudkan hal tersebut.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi LPPM PTN-BH, Prof. Dr. R. Benny Riyanto, S.H., M.Hum., CN., dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kemajuan Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) dan Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) Tahun 2026 di Auditorium FPEB Lantai 6 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (17/9/2026).

Benny mengatakan, riset pada akhirnya diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional. Kolaborasi antarperguruan tinggi melalui Asosiasi LPPM, DRPM, dan DPPM PTN-BH menjadi salah satu cara untuk mempertemukan karakteristik dan keunggulan keilmuan masing-masing perguruan tinggi sehingga hasil penelitian dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut Benny, tantangan berikutnya adalah memastikan hasil penelitian dapat masuk ke tahap hilirisasi dan komersialisasi. Untuk mencapai tahap tersebut, diperlukan sinergi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri, termasuk keterhubungan antara kebutuhan riset industri dan kapasitas penelitian di perguruan tinggi.

“Hasil riset itu tidak hanya cukup dengan luaran jurnal, tapi harus ada produk konkret yang bisa dilakukan hilirisasi maupun komersialisasi,” ujar Benny.

Ia menilai, hubungan perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri masih perlu difasilitasi agar kebutuhan industri terhadap riset dapat lebih terhubung dengan kapasitas peneliti di perguruan tinggi. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya memberikan manfaat akademik, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi perguruan tinggi sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan negara.

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UPI, Prof. Dr. Hj. Ida Hamidah, M.Si., mengatakan Monev RKI dan PMKI menjadi bagian dari proses untuk memastikan pelaksanaan program tetap sesuai proposal dan target luaran dapat tercapai. Masukan dari reviewer akan ditindaklanjuti oleh para peneliti karena masih terdapat waktu sekitar dua bulan untuk menyelesaikan program.

Ida menambahkan, pengembangan RKI dan PMKI selanjutnya diarahkan pada perluasan jejaring kolaborasi. Kerja sama tidak hanya dilakukan dengan perguruan tinggi yang telah menjadi mitra, tetapi juga dengan pihak eksternal, industri, dan mitra luar negeri agar luaran riset dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.

Bagi Asosiasi LPPM PTN-BH, pengembangan model penelitian yang menghasilkan luaran yang dapat dihilirisasi dan dikomersialisasikan diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, industri, pemerintah, hingga masyarakat sebagai pengguna hasil riset. (RK/RI)