
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang inklusif bagi seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa asing. Hingga tahun 2026, tercatat sebanyak 558 mahasiswa internasional aktif menempuh pendidikan di UPI, dan sekitar 100 hingga 150 mahasiswa tambahan khususnya dari Uzbekistan melalui program kerja sama dijadwalkan segera menyusul.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam acara Orientasi Mahasiswa Internasional UPI yang digelar oleh Direktorat Kemitraan dan Urusan Internasional (DKUI) di Ballroom Hotel Mercure Bandung, Selasa (22/9/2026). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah pengenalan serta pembekalan adaptasi sosial dan akademik bagi para mahasiswa asing.
Direktur DKUI UPI, Dr. Pupung Purnawarman, M.S.Ed., Ph.D., menyampaikan bahwa UPI menerapkan prinsip kesetaraan tanpa membeda-bedakan latar belakang mahasiswa.
“UPI itu menjunjung tinggi inklusivitas, tidak ada membedakan mahasiswa berdasarkan apa pun. Tidak ada pembedaan dari ras, agama, atau disabilitas dan lain sebagainya. Jadi, kita mendukung semua mahasiswa internasional itu sama,” ujar Pupung.

Guna menjamin keamanan dan kenyamanan mahasiswa asing, DKUI berkolaborasi secara lintas unit dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), Direktorat Kemahasiswaan, serta Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan (WD3) di tiap fakultas. Langkah ini ditempuh agar potensi kendala interaksi, baik di lingkungan kampus maupun dengan warga sekitar, dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Ratusan mahasiswa internasional tersebut menempuh studi di pelbagai jenjang mulai dari Sarjana (S1) hingga Doktoral (S3) yang tersebar di hampir seluruh fakultas. Selain mahasiswa reguler, UPI juga memfasilitasi skema double degree, salah satunya bermitra dengan sejumlah perguruan tinggi di Uzbekistan.
Dari segi akomodasi, sebagian mahasiswa tinggal di asrama kampus (dormitory), sementara mayoritas memilih tinggal di tempat indekos sekitar area kampus.
Untuk mempermudah proses adaptasi awal, DKUI menerjunkan program pendampingan bernama Sahabat DIA (buddy system). Mahasiswa lokal UPI yang tergabung dalam Sahabat DIA membantu kebutuhan awal mahasiswa asing, seperti penjemputan di bandara, pencarian tempat tinggal, pengenalan budaya, hingga pendampingan ke fasilitas kesehatan.
“Teman-teman ini mahasiswa UPI yang membantu memfasilitasi teman-teman yang baru datang, terutama yang baru datang dari luar negeri untuk kuliah di sini,” jelas Pupung.
Dalam kegiatan perkuliahan, prinsip kesetaraan tetap berlaku. Meski demikian, penggunaan bahasa pengantar disesuaikan dengan program studi yang diambil. UPI juga menyediakan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) untuk membantu mahasiswa internasional menguasai bahasa nasional demi menunjang kehidupan akademik dan bersosialisasi harian. (FauzanSp & Claudina, Caraka Muda)

