Bandung, UPI

Membayangkan seorang ibu berlari menembus hujan ke desa tetangga hanya demi mencari sambungan sinyal internet mungkin terdengar seperti sebuah adegan dalam film. Namun, itulah realitas nyata sekaligus bukti kegigihan luar biasa yang harus dilalui demi sebuah impian gelar sarjana. Perjuangan berat itu berbuah manis ketika tiga srikandi pendidik asal Ambon, Maluku, akhirnya berdiri dengan senyum haru mengenakan toga di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.

Ketiga perempuan tangguh tersebut adalah Charlota Janeta Lahatu, Rachel Yetti Tahapary, dan Hetna Sapulete. Jarak ribuan kilometer yang membentang antara Maluku dan Jawa Barat tidak menyurutkan semangat mereka. Selama satu tahun penuh, ketiganya mengikuti proses pendidikan jarak jauh secara daring melalui aplikasi Zoom, yang hanya diakses berbekal layar telepon pintar (HP).

Tantangan terbesar mereka bukanlah materi perkuliahan, melainkan infrastruktur. Keterbatasan media dan kondisi jaringan internet di daerah mereka yang kerap terganggu sering kali membuat pengumpulan tugas menjadi terhambat. Kendala sinyal ini bahkan sempat membawa mereka pada titik frustrasi dan hampir menyerah.

Rahel Yetti Tahapary mengisahkan berlikunya perjuangan tersebut karena ia tinggal di area perkampungan dengan akses internet yang minim. “Saya mesti lari ke kampung sebelah untuk mencari sinyal,” ungkapnya. Bahkan ketika hujan turun, ia menolak untuk menyerah dan tetap menerjang cuaca demi bisa mengikuti kuliah, mengerjakan tugas dosen, dan bertukar informasi dengan rekan-rekannya.

Selain menaklukkan kendala teknis, ketiga perempuan ini juga harus cerdik membagi waktu. Berstatus sebagai ibu rumah tangga, mereka dituntut menyeimbangkan kewajiban mengurus keluarga, bahkan diantaranya sembari menjalankan tugas pelayanan di gereja, hingga menyelesaikan tumpukan tugas akademik. Beruntung, dukungan penuh dan pengertian dari suami serta anak-anak menjadi energi yang tak terhingga bagi mereka. Di samping itu, impian ini dapat terwujud berkat bantuan program pemerintah yang memberikan kesempatan emas untuk mengatasi keterbatasan biaya yang selama ini menjadi penghalang.

Demi bisa merayakan hari kelulusan secara langsung di Bandung, mereka rela menyisihkan uang untuk menabung sedikit demi sedikit sejak jauh hari. Mereka menempuh perjalanan panjang menyeberangi lautan menggunakan transportasi laut. Pengorbanan meninggalkan keluarga sejenak di Ambon terbayar lunas saat mereka menginjakkan kaki di Bumi Siliwangi.

Rasa haru sudah tak terbendung sejak momen gladi resik wisuda. Air mata kebahagiaan menetes ketika mereka akhirnya bisa bertatap muka langsung dengan Bapak/Ibu dosen serta rekan-rekan mahasiswa sejawat dari Jawa Barat yang selama ini hanya dijumpai di layar kaca.

Kini, setelah berhasil membuktikan bahwa gelar sarjana bukanlah hal yang mustahil untuk diraih, mereka menitipkan pesan inspiratif bagi rekan-rekan guru lainnya. Mereka berpesan agar para pendidik yang belum bergelar sarjana tidak mudah patah semangat meski terhalang biaya atau jarak. Berdoa, berserah kepada Tuhan, dan tetap melayani anak-anak didik dengan penuh sukacita adalah kunci yang mereka yakini akan selalu membukakan jalan. Mereka membuktikan bahwa ketekunan sering kali membawa keberhasilan yang datang tanpa disangka-sangka.  (Naufal/Claudy – Caraka Muda)