
Bandung, UPI
Dosen dan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan JAPATI (Jalan Penyeberangan Pintar Terintegrasi AI), sistem penyeberangan jalan cerdas yang dirancang untuk menyesuaikan durasi menyeberang berdasarkan karakteristik pengguna dan memberikan peringatan dini terhadap potensi bahaya kendaraan. Inovasi ini ditujukan untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki, termasuk anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
JAPATI diperkenalkan dalam rangkaian UPI Sustainable Development Expo & Seminar bertajuk “Empowering Innovation for Sustainable Development: Connecting Research to Industry and Society” di Gedung Achmad Sanusi UPI, Bandung, Kamis (22/10/2026), hari kedua penyelenggaraan kegiatan.
Ketua tim pengembang, Muhammad Taufik Dwi Putra, S.Tr.Kom., M.T.I., dosen Program Studi Teknik Komputer UPI dengan bidang ilmu jaringan komputer dan pengolahan citra (image processing), menjelaskan bahwa pengembangan JAPATI dimulai pada 2024. Sistem ini mengintegrasikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), computer vision, dan sensor untuk merespons kondisi penyeberangan.
“Harapan saya, alat ini benar-benar bisa dipakai, benar-benar bisa diaplikasikan di banyak titik,” ujar Taufik.
JAPATI bekerja melalui beberapa tahapan, mulai dari mendeteksi kondisi area penyeberangan, mengenali karakteristik pengguna, menyesuaikan durasi penyeberangan, hingga memberikan peringatan terhadap potensi bahaya. Kamera dan algoritma AI digunakan untuk mengidentifikasi kategori pejalan kaki, sedangkan sensor membantu mengukur lebar lintasan dan memantau kecepatan kendaraan.
Dalam rancangan sistemnya, kelompok rentan dapat memperoleh tambahan waktu menyeberang sekitar 5–10 detik. Sistem juga dapat menambahkan waktu ketika pejalan kaki masih terdeteksi di area penyeberangan, dengan batas maksimum yang telah ditentukan.

JAPATI dilengkapi early warning system berbasis radar yang dirancang untuk mendeteksi kendaraan yang mendekati area penyeberangan dengan kecepatan di atas ambang yang ditetapkan. Ketika kondisi memenuhi kriteria bahaya, sistem dapat mengaktifkan peringatan melalui pengeras suara dan lampu strobo. Perangkat ini juga menggunakan pencahayaan otomatis dan panel surya sebagai sumber energi.
Pengembangan JAPATI melibatkan dosen lintas bidang, yaitu Anugrah Adiwilaga, Munawir, Deden Pradeka, Triana Lestari, dan M. Hilmil Muchtar Aditya P., serta empat mahasiswa: Rhyno Fairuz Melin, Nur Adi Supriyantomo, Muhammad Zaki Fadilah, dan Raden Farhan Rizki Septrian.
Dari sisi biaya, tim memperkirakan produksi JAPATI membutuhkan sekitar Rp. 40 juta untuk satu titik penyeberangan. Angka tersebut masih berupa estimasi pengembang dan perlu dibandingkan lebih lanjut dengan sistem lain yang memiliki spesifikasi serta kebutuhan pemasangan setara.
Setelah melalui pengembangan dan uji coba, tim menargetkan pemenuhan sertifikasi pada 2026 sebagai tahapan menuju komersialisasi yang direncanakan pada 2027. Tim juga menjajaki kerja sama dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung untuk peluang penerapan lebih lanjut. Efektivitas sistem dalam meningkatkan keselamatan masih perlu dinilai melalui pengujian lapangan yang terukur sebelum JAPATI diterapkan secara lebih luas. (RK)

