
Bandung, UPI
Mengakhiri kemeriahan rangkaian Dies Natalis ke-72, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar aksi lingkungan dan kebugaran bertajuk “UPI Asih, UPI Bersih” di halaman Gedung Gymnasium Kampus UPI, Bandung, Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian seluruh civitas akademika mulai dari mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan terhadap lingkungan kampus dan sekitarnya.
Aksi yang dimulai sejak pagi hari tersebut diawali dengan senam aerobik bersama, aksi bersih-bersih lingkungan kerja di setiap unit, penanaman pohon, serta penyaluran bantuan ribuan bibit pohon kepada masyarakat sekitar.
Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan bahwa agenda ini merupakan puncak apresiasi civitas akademika untuk menjaga kampus agar tetap sehat, asri, dan nyaman dipandang.
“Ini sepertinya rangkaian kegiatan yang terakhir dari Dies Natalis ke-72 UPI. Jadi kegiatan ini adalah bentuk kasih sayang civitas akademika UPI, termasuk mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan terhadap kampus yang kita cintai,” ujar Prof. Didi di lokasi acara, Rabu (28/10/2026).
Dalam aksi hijau kali ini, UPI turut mendistribusikan ribuan bibit tanaman penghijauan yang dihimpun dari mahasiswa baru. Bagi fakultas yang memiliki keterbatasan lahan, penanaman disiasati menggunakan pot maupun didonasikan melalui kerja sama dengan pihak luar.
Tidak hanya di area internal kampus, UPI juga menyalurkan sekitar 2.000 sisa bibit pohon kepada warga di dua kelurahan sekitar, yakni Kelurahan Isola dan Kelurahan Gegerkalong.
“Mudah-mudahan dengan donasi pohon ini, lahan-lahan yang masih kosong di kedua kelurahan bisa ditanami. Pohon yang tumbuh nantinya bisa mencegah banjir dan menghasilkan oksigen sehingga udara lebih segar. Kawasan Gegerkalong dan Isola tempat kampus kita berada bisa lebih hijau dan nyaman untuk beraktivitas,” jelas Prof. Didi.
Selain penghijauan, Rektor UPI menaruh perhatian serius pada pembenahan sistem pengelolaan sampah. Ia mengimbau seluruh warga kampus untuk membiasakan pemilahan sampah langsung dari sumbernya (hulu), seperti memisahkan botol plastik serta mengolah sampah organik menjadi kompos menggunakan fasilitas yang telah disiagakan di masing-masing fakultas.

“Mari kita kelola sampah di tempat masing-masing. Sampah plastik seperti botol mohon dipisahkan di tempat khusus. Untuk sampah organik, mohon diproses menjadi kompos dan jangan sampai menumpuk di tempat pembuangan sementara. Kita minta pimpinan di tiap unit terus memantau dan melakukan perbaikan,” tegasnya.
Prof. Didi menggarisbawahi bahwa penggunaan alat pengolah sampah seperti insinerator kampus sejatinya merupakan langkah pemusnahan paling akhir yang sebisa mungkin diminimalisasi.
“Kita saat ini sudah memperbaiki insinerator menjadi lebih baik, tetapi itu jalan terakhir. Sebaiknya hindari pembakaran sampah, karena bagaimanapun meski tidak tampak asapnya, resiko bahan berbahaya terbang ke udara dan terisap oleh kita tetap ada. Kuncinya ada pada pemilahan dan pengolahan sejak awal,” pungkasnya. (DN/Velia)

