
Subang, UPI
Kepemimpinan akademik tidak cukup dibangun melalui kecakapan intelektual dan kemampuan mengelola institusi, tetapi juga memerlukan keteladanan, keadilan, serta kepedulian terhadap orang yang dipimpin. Tiga nilai tersebut menjadi pokok pemikiran yang disampaikan Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A., Ph.D., dalam Leadership Retreat Senat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Dosen Program Studi S3 Linguistik Sekolah Pascasarjana UPI yang juga dikenal sebagai pendakwah nasional itu mengangkat tema “Kepemimpinan Akademik yang Amanah menurut Al-Qur’an: Membangun Integritas dan Keteladanan Menuju UPI Unggul”. Pemaparannya menggunakan perspektif Al-Qur’an dan hadis sebagai landasan untuk melihat karakter kepemimpinan yang dapat melahirkan keunggulan.
Menurut Adi Hidayat, terdapat tiga karakter penting yang perlu menjadi perhatian dalam kepemimpinan, yakni hikmah, keadilan, dan rahmat. Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi dalam membentuk pemimpin yang mampu mengambil keputusan sekaligus memahami kondisi orang yang dipimpinnya.
Ia menjelaskan, hikmah tidak semata-mata dimaknai sebagai kebijaksanaan. Hikmah juga mencerminkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan serta kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional.
“Karakter unggul itu di manapun ditempatkan untuk memimpin dia punya sifat keadilan,” ujar Adi Hidayat saat menjelaskan karakter kepemimpinan yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalam konteks kepemimpinan akademik, nilai tersebut berarti pemimpin tidak hanya menyampaikan standar atau nilai tertentu, tetapi juga menghadirkannya melalui perilaku. Keteladanan menjadi penting karena pendidikan, menurutnya, tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan harus menghasilkan karakter dan perilaku.
Kepemimpinan Berbasis Pengetahuan dan Nilai
Adi Hidayat juga menekankan pentingnya pengetahuan sebagai dasar setiap tindakan dan keputusan. Menurutnya, keunggulan tidak dapat hanya dibangun dengan membuat seseorang pintar secara intelektual, tetapi perlu memastikan pengetahuan tersebut membentuk karakter moral.
Ia mengibaratkan proses tersebut sebagai pendidikan yang mencakup tiga unsur manusia secara utuh, yaitu fisik, akal, dan jiwa. Pengetahuan yang kemudian dihayati dan diterapkan akan melahirkan hikmah, sementara penerapannya dalam kehidupan membentuk akhlak dan adab.
“Akal sehat itu penting, tapi jiwa yang sehat itu lebih penting,” katanya.
Dalam kaitannya dengan pendidikan tinggi, ia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan lulusan tidak sekadar memenuhi persyaratan akademik. Pendidikan perlu menghasilkan manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter dan kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab.

Keadilan Tidak Berarti Mengikuti Semua Opini
Nilai kedua yang disoroti adalah keadilan. Adi Hidayat menjelaskan bahwa keputusan yang adil tidak selalu identik dengan keputusan yang paling populer atau paling sesuai dengan opini publik.
Ia mengingatkan agar institusi tetap berpegang pada standar yang telah ditetapkan melalui proses yang matang. Aspirasi publik tetap dapat didengar dan dipertimbangkan, tetapi tidak seluruh opini harus menjadi dasar perubahan kebijakan.
“Kalau UPI sudah punya standar yang diukur berdasarkan riset-riset tertentu dengan tujuan-tujuan tertentu, jangan sampai karena hanya satu dua hal yang diinginkan oleh publik diramaikan menjadi berubah,” ujarnya.
Sementara itu, karakter ketiga adalah rahmat, yang menurutnya berkaitan dengan kemampuan pemimpin memahami kondisi orang yang dipimpinnya. Pemimpin perlu melihat siapa yang berada di hadapannya agar kebijakan dan keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan serta kondisi mereka.
Prinsip tersebut dicontohkan melalui kisah Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan seorang imam agar memperhatikan kondisi makmumnya. Dalam konteks pendidikan, prinsip yang sama dapat diterapkan dengan memahami kondisi dosen, mahasiswa, dan sivitas akademika sebelum menentukan kebijakan atau memberikan tuntutan.
Bagi Adi Hidayat, kepemimpinan yang memadukan hikmah, keadilan, dan rahmat dapat menjadi fondasi dalam membangun manusia unggul sekaligus institusi yang memiliki integritas. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk dikaji secara akademis dan diterjemahkan dalam konteks penyelenggaraan pendidikan tinggi di UPI. (RK)

