Bandung, UPI – Menjawab tantangan disrupsi digital dan kesenjangan mutu, dunia pendidikan dituntut bergerak cepat dan adaptif. Semangat ini menjadi latar belakang penyelenggaraan Seminar Pendidikan bertajuk “Meneropong Masa Depan Pendidikan Jawa Barat” yang berlangsung di Auditorium FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Sabtu (11/8/2025).

Kegiatan ini merupakan inisiatif Ikatan Alumni UPI Komisariat PKn bekerja sama dengan Program Studi (Prodi) PKn UPI dan FPIPS UPI. Forum ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, guru, hingga mahasiswa.

Ketua Panitia, Deni Kurniawan As’ari, menyatakan bahwa seminar ini digelar untuk membuka ruang dialog dan menyatukan pemangku kepentingan dalam membangun arah baru pendidikan di Jawa Barat. Tantangan yang dihadapi semakin kompleks, mencakup ketimpangan akses dan mutu, digitalisasi, hingga penguatan karakter siswa.

Guru Besar Ilmu Politik sekaligus Dekan FPIPS UPI, Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.I.P., S.A.P., S.Pd., M.Si., M.H., CPM., menyoroti kondisi pemerataan layanan pendidikan. Dalam paparannya, ia mengungkapkan bahwa Indeks Pendidikan Jawa Barat masih relatif rendah dibandingkan beberapa provinsi lain.

“Jawa Barat masih menghadapi persoalan mendasar, seperti belum meratanya sarana dan prasarana, kesenjangan antara wilayah kota dan desa, serta distribusi guru yang belum ideal. Selain itu, masalah literasi dan kesiapan digital juga masih menjadi pekerjaan rumah besar,” ungkap Prof. Cecep.

Ia juga menyebutkan, berdasarkan RPJMD Provinsi Jawa Barat 2025–2029, masih terdapat 127 kecamatan yang belum memiliki SMA/SMK negeri, dan 14 kecamatan bahkan sama sekali tidak memiliki sekolah menengah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerataan akses pendidikan menjadi kunci penting dalam membangun SDM unggul.

Sementara itu, Dr. Drs. H.R. Iip Hidajat, M.Pd., Ketua Umum IKA UPI Komisariat PKn, mengajak peserta melihat masa depan pendidikan Jawa Barat tidak hanya melalui kacamata teknologi, tetapi juga melalui penguatan akar budaya lokal.

Dalam paparannya yang bertajuk “Enkulturasi Budaya Sunda dan Integrasi Teknologi dengan Karakter Pancawaluya,” Iip menegaskan pentingnya membangun karakter siswa dengan landasan budaya Sunda yang luhur.

“Kita berada di persimpangan antara warisan budaya dan gelombang teknologi. Pertanyaannya bukan memilih salah satunya, tetapi bagaimana kita meramunya. Teknologi harus menjadi pakarang—alat untuk mencapai tujuan, bukan guguron yang mengendalikan manusia,” tegas Iip.

Ia menekankan bahwa generasi masa depan Jawa Barat idealnya memiliki lima karakter utama Pancawaluya: cageur (sehat jasmani dan rohani), bageur (berakhlak baik), bener (jujur dan berintegritas), pinter (cerdas), dan singer (terampil dan kreatif). Nilai-nilai ini harus menjadi kompas moral dalam menghadapi era digital.

Narasumber lain, Amich Alhumami, Ph.D., Anggota Dewan Pendidikan Tinggi 2025–2029 Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi, mengupas urgensi kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun.

“Partisipasi pendidikan memang terus meningkat, tetapi kesenjangan antarwilayah dan antarstatus sosial ekonomi masih tinggi. Pemerataan akses PAUD, SD hingga SMA/SMK, serta penguatan kualitas guru harus menjadi prioritas,” ujarnya.

Amich juga mengungkap data bahwa masih ada lebih dari 29 ribu desa/kelurahan yang belum memiliki satuan pendidikan PAUD. Menurutnya, kebijakan PAUD-SD satu atap, distribusi guru ASN, dan intervensi anggaran berbasis keadilan menjadi kunci memperluas akses layanan pendidikan.

Ketua Prodi PKn UPI Dr. Syaifullah menyampaikan apresiasi terhadap semangat kolaboratif yang tercermin dalam kegiatan ini. “Dunia pendidikan tidak bisa bergerak sendiri—kita butuh sinergi antara pemerintah, kampus, praktisi, dan masyarakat,” ujarnya saat penutupan acara.

Melalui seminar ini, para narasumber sepakat bahwa masa depan pendidikan Jawa Barat harus dibangun di atas tiga pilar utama: pemerataan akses dan mutu pendidikan, penguatan karakter dan budaya lokal, serta transformasi digital yang inklusif.

Langkah strategis yang direkomendasikan antara lain:

  • Percepatan pembangunan dan pemerataan infrastruktur pendidikan
  • Integrasi nilai-nilai budaya Sunda dalam kurikulum
  • Penguatan literasi digital dan karakter peserta didik
  • Revisi Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan Jawa Barat
  • Peningkatan kesejahteraan dan kompetensi guru
  • Kolaborasi lintas sektor antara kampus, pemerintah, dan masyarakat

Seminar ini menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah strategis dalam menyiapkan SDM Jawa Barat yang unggul dan berdaya saing global, namun tetap berpijak pada nilai-nilai budaya lokal.

Kontributor: MI