FPMIPA-UPI Achieves Outstanding Success at the International S.E.E.D Indonesia 2025 Competition
28 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Faculty of Mathematics and Science Education (FPMIPA), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) showcased remarkable achievements at the international event Sustainability Ideas through Education, Engineering, and Design (S.E.E.D) Indonesia 2025, held at Sanata Dharma University (SDU), Yogyakarta, from July 16th to 18th, 2025 collaborate with Sogang University, Korea. The competition brought together 29 teams from various ASEAN Universities to co-create innovative and sustainable solutions to real-world environmental and social challenges through STEAM education, Maker practices, and design thinking. UPI was represented by three teams: LUMINOLYTIC, SINIMED, and HYDROMICA, accompanied by LUPIC representative from Chemistry and Chemistry Education.
Each UPI team presented distinctive projects: LUMINOLYTIC developed a low-cost and low-energy Arduino-based double-beam UV-Vis spectrophotometer to support quality education; SINIMED introduced an innovative 3D Periodic Table of Elements based on Arduino as a learning media to support the SDGs; and HYDROMICA created an interactive learning media of the biogeochemical hydrological cycle with Arduino microcontroller for global warming mitigation. Participants engaged in expert lectures, visited the KOICA STEAM Learning Center at SDU, and took part in the official opening ceremony attended by prominent figures from academia and international organizations.
During the second day, UPI teams participated in the project exhibition and competition phases. After the preliminary rounds, LUMINOLYTIC and SINIMED advanced to the final stage. The awarding ceremony recognized outstanding teams based on innovation, design, impact, and sustainability. UPI achieved significant recognition: SINIMED received the Grand Award, LUMINOLYTIC earned the Silver Award, and HYDROMICA won the Bronze Award. In addition, LUMINOLYTIC received the “Best Innovation by KOICA” special award, while SINIMED was honored with the “Best Friendship by LUPIC-ICCST” award under Triannisa Rahmawati, S.Pd., M.Si., as Supervisor from Chemistry Education Study Program, Prof Asep Kadarohman, Dr. Omay Sumarna, Prof Fitri Khoerunnisa from Science and Chemistry Study Program, and Qonita Muminah, M.Si.P. as co-supervisor.
The final day of the event included a series of lectures focusing on water purification, sustainable technology, and AI-based language learning. The competition concluded with meaningful insights and valuable experiences for all participants. UPI’s success at S.E.E.D Indonesia 2025 highlights its strong commitment to innovation, collaboration, and sustainability in higher education (TR).
Memperluas Pendidikan Bahasa Korea di Sekolah Menengah di Indonesia untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
28 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Seminar Nasional Bahasa Korea yang diselenggarakan selama dua hari ini berhasil menjadi ruang kolaboratif antara pengajar, sekolah, dan pemangku kepentingan pendidikan dalam rangka mendorong pengembangan pembelajaran Bahasa Korea di tingkat SMP dan SMA di Indonesia. Kegiatan berlangsung di Auditorium Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Gedung B Lt.4 Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Kota Bandung, Jawa Barat. Kamis (25/07/2025).
Acara ini diinisiasi sebagai upaya memperluas akses dan kualitas pengajaran Bahasa Korea, dengan dukungan dari Korea Education Center (KEC). Para peserta seminar terdiri dari guru-guru pengampu Bahasa Korea, kepala sekolah, serta perwakilan instansi pendidikan dari berbagai wilayah Indonesia.
Tema seminar tahun ini bukan sekadar menjadi ajang refleksi atas praktik-praktik pengajaran bahasa Korea yang telah kita lakukan, melainkan juga merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk merespons dinamika dan tantangan baru dalam dunia pendidikan bahasa asing, khususnya dalam konteks Indonesia.
Presiden AJARI Didin Samsudin, S.E., M.M., CHCM. CIT., mengungkapkan,“Kita memahami bahwa buku ajar, metode pembelajaran, dan asesmen bukanlah komponen yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan elemen yang saling terhubung dan secara bersama-sama menentukan arah serta kualitas pembelajaran. Dalam konteks kebijakan pendidikan nasional saat ini, semuanya dituntut untuk mendukung terwujudnya pembelajaran yang bermakna yang secara khusus disebut sebagai pembelajaran mendalam (Deep Learning).”
Dengan semangat kolaborasi dan keterbukaan, seminar ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Bahasa Korea sebagai bagian dari pilihan pendidikan multibahasa yang relevan dan prospektif di Indonesia.
Deep Learning mendorong kita untuk membangun proses belajar yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada penguatan proses berpikir kritis, kolaboratif, dan reflektif. Di sinilah relevansi seminar ini menjadi semakin nyata: bagaimana para pengajar bahasa Korea di Indonesia dapat merancang materi, strategi, dan pengalaman belajar yang tidak hanya menyampaikan isi, tetapi juga membentuk pemahaman yang utuh, sikap yang bijak, dan keterampilan abad ke-21.
Didin Samsudin juga berharap,“melalui seminar ini, akan terbangun ruang dialog yang terbuka, lintas perspektif, dan bersifat konstruktif. Kami percaya bahwa para guru yang hadir di ruangan ini memiliki peran penting dalam membangun jembatan antara sistem pendidikan Korea dan konteks lokal Indonesia, baik dari sisi kurikulum, sumber belajar, maupun pendekatan pedagogis.”
Sementara itu, Direktur KEC (Korea Education Center ) H.E. Mr. Kim Gyu Nyun dalam sambutannya menyampaikan,“Kami ingin lebih banyak sekolah yang membuka program Bahasa Korea dan semakin banyak guru serta siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran ini.”
Pihak Korea Education Center juga menyatakan komitmennya untuk terus memberikan dukungan, termasuk pelatihan guru, penyediaan materi ajar, dan bentuk-bentuk kerja sama lainnya guna memperkuat kualitas pengajaran Bahasa Korea di Indonesia.
“Kami ingin membangun jembatan yang lebih luas agar para pelajar Indonesia tidak hanya belajar Bahasa Korea, tetapi juga melanjutkan pendidikan tinggi di Korea. Ini bagian dari visi jangka panjang untuk mempererat hubungan pendidikan antara kedua negara,” tutup Direktur KEC.
Mari bersama-sama menjadikan seminar ini sebagai langkah nyata untuk memperkuat pendidikan bahasa Korea di Indonesia lebih kontekstual, lebih bermakna, dan lebih siap menjawab tantangan zaman. Lebih jauh, seminar ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan peluang pendidikan tinggi di Korea bagi pemuda Indonesia. (rizaibrahim/edit:dodiangga)
Dari Terapi ke Puisi: Kolaborasi Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Komunitas Sastra Dewi Sartika Galakkan Self-Healing lewat Sastra
28 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Menyadari kebutuhan ruang ekspresi bagi ibu rumah tangga, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi BSI) Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berkolaborasi dengan Komunitas Sastra Dewi Sartika (KSDS) menggelar pelatihan bertajuk “Pelatihan Apresiasi Sastra melalui Penulisan Kreatif sebagai Sarana Self-Healing bagi Ibu Rumah Tangga: Dari Terapi ke Puisi”. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini berlangsung meriah Jumat lalu (5/7/2025) di Ruang Smart Class Lantai 4 Gedung B FPBS UPI.
Pelatihan ini menjawab fenomena ibu rumah tangga yang sering kali terjebak dalam rutinitas harian sehingga minim ruang untuk berekspresi dan merawat kesehatan mental. Ketua pelaksana, Dr. Yostiani Noor Asmi Harini, M.Hum. menegaskan bahwa ibu rumah tangga itu cenderung harus menanggung bebannya sendiri. Dia berkorban demi keluarganya, tetapi sering dianggap lemah sehingga banyak terjadi KDRT. Melalui pendekatan sastra, khususnya penulisan puisi, peserta diajak untuk jujur mengungkapkan perasaan, pengalaman, dan harapan yang terpendam. Proses kreatif menulis ini difungsikan sebagai sarana self-healing atau penyembuhan emosional.
“Sastra, terutama puisi, bisa menjadi medium atau ruang aman bagi para ibu untuk menyuarakan isi hati dan merawat diri,” ujar Nenden Lilis Aisyah, dosen BSI yang menjadi narasumber. Acara ini diwarnai penampilan istimewa berupa musikalisasi puisi menggunakan alat-alat rumah tangga seperti piring, sendok, dan botol. Inovasi ini tidak hanya menambah unsur kreatif dan menyenangkan, tetapi juga secara simbolis mendekatkan sastra dengan realitas keseharian peserta. Suasana pun berubah semakin cair dan penuh kehangatan.
Kegiatan ini berhasil membuktikan bahwa sastra mampu hadir secara relevan di tengah kehidupan sehari-hari. “Bukan hanya untuk diapresiasi, sastra ternyata bisa menjadi alat self healing yang sederhana namun penuh makna. Kami berharap semangat dan keterampilan yang didapat bisa terus diterapkan para peserta di rumah,” pungkas perwakilan Komunitas Sastra Dewi Sartika. Tak hanya belajar menulis kreatif, para ibu rumah tangga yang hadir juga merasakan kebersamaan dan semangat baru dalam menjalani peran sehari-hari. (kontributor)
Rektor UPI resmi membuka GREAT Summer Program 2025: Kolaborasi Global untuk Greening TVET dan Pencapaian SDGs
28 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Didi Sukyadi, secara resmi membuka GREAT Summer Programme 2025 (Greening TVET for Resilience, Empowerment, and AI Transformation)yang diselenggarakan secara hibrida, dimana peserta bergabung daring melalui platform zoom dan acara disiarkan langsung melalui youtube (https://www.youtube.com/watch?v=N_4Fl-nCbus) pada Kamis 24 Juli 2025 dari kampus FPTI UPI oleh panitia dan pembicara yang hadir secara luring.
Program ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat transformasi pendidikan kejuruan dan pelatihan teknis (TVET – Technical and Vocational Education and Training) yang inklusif, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan. Seluruh rangkaian kegiatan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Ketua Panitia GREAT Summer Program 2025, Dr. Mustika Nuramalia Handayani (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FPTI UPI), menyampaikan dalam laporannya bahwa acara pembukaan GREAT, dihadiri sekitar 200 mahasiswa dari berbagai program studi (pendidikan guru kejuruan, sains, teknik, teknologi informasi dan komunikasi, hingga ilmu sosial). Para peserta tersebut berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Filipina, Brunei Darussalam, Ghana, Nigeria. Program ini akan berlangsung hingga pertengahan Agustus 2025, dimana sesi daring diselenggarakan setiap hari Kamis dan sesi luring dijadwalkan pada 18-20 Agustus 2025 di UPI Bandung yang ditutup dengan pameran hasil proyek inovasi hijau dari para peserta dalam GREAT Conference.
“Kami mengundang para pembicara ahli dari berbagai institusi, seperti UNESCO-UNEVOC, TU Dresden Germany, University of Melbourne, Universiti Teknologi Malaysia, Universiti Tunn Hussein on Malaysia, UPI, Unpad, UNS yang relevan dengan tema green skills dan transformasi pendidikan vokasi (Greening TVET). GREAT Summer Program ini didukung oleh UNESCO UNEVOC, dan asosiasi vokasi regional dan nasional seperti RAVTE dan PAPTEKINDO.”
Salah satu sorotan utama adalah paparan dari Dekan Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri Universitas Pendidikan Indonesia, Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si., yang juga merupakan coordinator UNEVOC Centre dalam pidato pembuka bertajuk “Greening TVET in Action: Stories of Change from Educators and Changemakers”. Inisiatif Greening TVET ini mengusung pendekatan kelembagaan yang mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan, praktik berkelanjutan, dan pemikiran kritis ke dalam kurikulum serta aktivitas kampus.
Greening TVET juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan komunitas dan industri, serta pelibatan dosen dan mahasiswa sebagai penggerak transisi hijau yang adil dan inovatif. FPTI UPI, sebagai salah satu pusat UNESCO-UNEVOC di Indonesia, memainkan peran kunci dalam mendorong riset dan pengembangan inovasi hijau di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi.
Melalui Great Summer Programme 2025 dan inisiatif Greening TVET, UPI menegaskan komitmennya dalam memperkuat kapasitas mahasiswa sebagai aktor perubahan global. Program ini tidak hanya menumbuhkan wawasan internasional, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan dalam proses pembelajaran dan aksi nyata. Dengan semangat kolaboratif, inovatif, dan berkelanjutan, GREAT Summer Program 2025 menjadi langkah konkret dalam mewujudkan pendidikan yang relevan di era transformasi hijau dan digital. (kontributor)
Semarak Kebersamaan dalam “Choir Visit 2025”: Empat Paduan Suara Mahasiswa di Bandung Bertemu dalam Ajang Studi Banding
28 Jul 2025 • Humas UPI
Bandung, UPI
Suasana semarak dan penuh semangat menyelimuti area kampus Politeknik Negeri Bandung (POLBAN) pada Sabtu pagi (19/7), saat empat kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) dari berbagai perguruan tinggi di Bandung berkumpul dalam kegiatan Choir Visit 2025. Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 15.30 WIB ini tidak hanya menjadi ajang penampilan, tetapi juga ruang dialog dan penguatan jejaring antar paduan suara mahasiswa.
Turut hadir dalam kegiatan ini yaitu PSM Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), PSM Universitas Islam Bandung (UNISBA), PSM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ekuitas (STIE Ekuitas), serta PSM POLBAN selaku tuan rumah. Masing-masing delegasi hadir dengan kostum bertema “Hogwarts House” dari dunia fiksi Harry Potter: PSM UPI dengan tema Gryffindor, PSM UNISBA Slytherin, PSM Ekuitas Ravenclaw, dan PSM POLBAN Hufflepuff. Kreativitas dan identitas kampus terlihat dari kekompakan kostum dan properti yang dikenakan setiap peserta.
Konsep kostum ini bukan sekadar hiasan, melainkan menjadi bagian dari pendekatan kreatif untuk menumbuhkan identitas kelompok sekaligus nuansa tematik yang menyenangkan dan membangun atmosfer akrab. Dalam kegiatan ini, nuansa kekeluargaan sangat terasa sejak awal para peserta datang ke lokasi. PSM POLBAN sebagai tuan rumah menyambut para peserta dengan keramahan, dan seluruh rangkaian acara tersusun dengan rapi, mencerminkan persiapan matang dari panitia.
Acara dibuka oleh MC, menyapa seluruh hadirin dengan penuh semangat dan antusias. Setelah pembukaan oleh MC, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan dari perwakilan setiap kampus. MC memberikan waktu bagi pimpinan PSM untuk memberikan sambutan, sebagai bentuk penghormatan sekaligus pembuka komunikasi lintas institusi. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua pelaksana Choir Visit 2025, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengenalan dan penampilan masing-masing PSM.
Usai sesi sambutan, MC memandu sesi pengenalan setiap PSM secara bergiliran. Dalam sesi ini, masing-masing perwakilan diberi waktu untuk memperkenalkan sejarah singkat, struktur organisasi, visi-misi, serta program unggulan dari kelompok mereka.
Dalam sesi ini pula, MC mempersilakan Q&A interaktif, di mana audiens dari masing-masing kampus bisa mengajukan pertanyaan atau memberikan tanggapan. Pertanyaan yang muncul mencakup metode latihan vokal, sistem open recruitment, serta cara membangun kekompakan internal kelompok.
Sesi pengenalan ini tidak hanya membuka wawasan peserta, tetapi juga menjadi ajang refleksi dan perbandingan inspiratif antar PSM. Setiap kelompok memiliki pendekatan unik yang patut diapresiasi dan ditiru sesuai konteks masing-masing kampus.
Penampilan dari tiap PSM menjadi puncak perhatian di sesi awal karena masing-masing kelompok memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan warna khas dan kualitas mereka. Selain kekuatan teknis dan musikal, tiap grup juga menampilkan gestur tubuh dan ekspresi wajah yang mendalam menandakan bahwa mereka memahami benar pesan yang dibawa setiap lagu. Setiap kampus menampilkan satu karya unggulan yang mencerminkan karakter dan kemampuan teknis vokal masing-masing kelompok: PSM POLBAN membawakan “Gala Bunga Matahari” karya Sal Priadi, yang dikemas dengan nuansa ekspresif dan puitis; PSM UPI menampilkan “Father Thunder” karya Laura Jekabsone, dengan warna harmoni yang kompleks dan teknik vokal dinamis; PSM UNISBA menghadirkan lagu daerah “Cicilalang” yang diaransemen oleh Dudi Yudharma, menampilkan sentuhan tradisional dengan artikulasi yang khas; PSM Ekuitas mempersembahkan “Selalu Ada di Nadimu” karya Laleilmanino, sebuah lagu populer yang dibalut dalam gaya pop choir yang ringan namun menyentuh. Keempat penampilan menunjukkan tidak hanya kualitas musikal, tetapi juga keberagaman pendekatan artistik. Ada yang menonjolkan teknik, ada pula yang mengedepankan ekspresi emosional dan kedekatan dengan audiens.
Misalnya, PSM UPI yang membawakan Father Thunder dengan penuh energi dan kontras dinamis yang tajam, memperlihatkan kepekaan mereka dalam menginterpretasikan karya kontemporer bernafaskan kekuatan alam. Lagu ini ditampilkan dengan nuansa megah dan atmosferik, menuntut presisi harmoni dan artikulasi antar suara, yang berhasil dieksekusi dengan baik. Sementara itu, PSM UNISBA menghadirkan Cicilalang, sebuah lagu rakyat yang membangkitkan rasa nostalgia dan kebanggaan budaya lokal. Aransemen karya Dudi Yudharma ini menuntut kontrol warna suara dan pemahaman terhadap elemen tradisional dalam pembawaan vokal, yang berhasil ditampilkan dengan apik oleh kelompok tersebut.
Tidak kalah menarik, PSM STIE Ekuitas yang membawakan lagu Selalu Ada di Nadimu menghadirkan kesan segar dan hangat. Lagu bergenre pop tersebut diperkaya dengan harmoni sederhana namun efektif, cocok untuk membangun kedekatan emosional dengan audiens. PSM POLBAN sebagai tuan rumah juga tampil percaya diri lewat lagu Gala Bunga Matahari, membawakan suasana puitis yang menyentuh lewat warna vokal yang lembut namun kuat.
Lebih dari sekadar ajang pertunjukan, Choir Visit 2025 menjadi ruang kolaboratif yang inklusif dan edukatif. Setelah penampilan musikal, MC memandu sesi Q&A singkat dengan masing-masing perwakilan PSM. Pertanyaan-pertanyaan seputar struktur organisasi, proses latihan, hingga strategi rekruitmen menjadi bahan diskusi ringan yang mempererat hubungan antar kampus.
Acara kemudian berlanjut dengan games interaktif, di mana seluruh peserta berbaur tanpa sekat almamater. Setelah semua penampilan selesai, peserta mendapatkan waktu untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dalam sesi Focus Group Discussion (FGD), yang dilaksanakan setelah waktu ISHOMA. Tema diskusi berkisar pada pengembangan organisasi, strategi pementasan, dan manajemen latihan vokal, yang dibahas dalam kelompok-kelompok kecil lintas kampus.
Antusiasme terlihat jelas dari semangat peserta dalam menyampaikan ide dan mendengarkan pengalaman kampus lain. Moderator dari panitia membantu agar diskusi tetap berjalan terarah dan semua peserta mendapat kesempatan menyampaikan pendapat.
Setelah diskusi, peserta kembali dihangatkan oleh sesi ice breaking, dan dilanjutkan dengan pemaparan hasil FGD, serta game kedua yang semakin mempererat suasana kebersamaan. Pada sesi ice breaking dan permainan kedua, suasana berubah lebih santai dan cair. Peserta tertawa bersama dan saling mengenal lebih dalam.
Choir Visit 2025 berhasil menghadirkan satu kegiatan yang menyatukan semangat musikal, nilai kolaboratif, dan semangat kekeluargaan. Penampilan musik menjadi pintu pembuka apresiasi, tetapi diskusi dan interaksi menjadi inti pembelajaran bersama.
Acara ditutup dengan pemberian sertifikat, dokumentasi, dan sesi foto bersama, menandai berakhirnya kegiatan yang padat namun bermakna ini. Senyum peserta yang terpancar saat sesi foto menandakan keberhasilan acara secara emosional dan sosial. Keberhasilan Choir Visit tahun ini menunjukkan bahwa kegiatan studi banding tidak harus selalu formal, tetapi bisa dibalut dalam format kreatif yang menyenangkan dan membangun jaringan.
Kegiatan ini patut diapresiasi sebagai contoh kolaborasi antar institusi dalam bidang seni, khususnya paduan suara mahasiswa, yang semakin menunjukkan identitasnya sebagai media pembinaan karakter, kerja sama tim, dan ekspresi budaya kampus.
Secara keseluruhan, Choir Visit 2025 berhasil menjadi wadah pembelajaran bersama yang santai namun bermakna. Kegiatan ini tidak hanya mencerminkan kualitas musikal masing-masing kelompok, tetapi juga menunjukkan bahwa PSM memiliki peran strategis dalam mempererat relasi antar kampus, menumbuhkan solidaritas, dan menyemai semangat berkesenian yang sehat.
Harapannya, kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa depan dengan melibatkan lebih banyak PSM dari berbagai daerah, membentuk jejaring nasional yang solid, dan memperkaya khazanah paduan suara mahasiswa Indonesia(Leila A’ida Fitria mahasiswa Pendidikan Seni Musik UPI angkatan 2023)