Kerja Sama Internasional UPI dalam Peningkatan Keterampilan Digital dan Kepemimpinan Perempuan
02 Sep 2024 • Humas UPI
Bandung – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjalin implementasi kerja sama internasional dengan Sookmyung Women’s University dalam program “2024 Sookmyung UNESCO UNITWIN Women’s Empowerment through Digital & Leadership Education”. Program ini diselenggarakan dalam rangka peningkatan skills perempuan melalui pelatihan digital dan kepemimpinan menuju Sustainable Development Goals (SDGs).
Program berlangsung pada tanggal 19—23 Agustus 2024 ini diinisiasi oleh Asia Pacific Women’s Information Network Center (APWINC) dari Sookmyung Women’s University, serta didukung oleh Ministry of Education, Republic of Korea. Para pengajar dari Sookmyung Women’s University memberikan pelatihan intensif kepada mahasiswa UPI dalam dua kelas yang masing-masing berjumlah 30 mahasiswa.
Pelatihan yang terdapat dalam program ini:
1. Digital Training: Peserta membuat halaman pertama dari sebuah website.
2. Leadership Training: Peserta membuat proposal proyek.
Pada akhir program, peserta terbaik akan mendapatkan kesempatan untuk trip ke Korea Selatan.
Penghargaan Program Digital Training:
-Best Team: Team 2
– Jihan Salimah Muwahid
– Muthia Aisyah Rezano
– Amelia Dewi Mariyam
– Best Student: Salma Harun Basalmah
Penghargaan Program Leadership Training:
– Winning Team: Team 8
– Siti Sarah Helina Romli
– Sala Pebriani
– Hilwa Dhiyya Haibah Dzakiyyah
– Best Student: Hasna Hanafi
Dalam sambutan penutup, Wakil Rektor Bidang Riset, Usaha dan Kerja sama UPI, Prof. Dr, Bunyamin Maftuh, M.Pd., M.A., mengapresiasi program UNESCO UNITWIN Women’s Empowerment through Digital & Leadership Education sebagai salah peningkatan keterampilan mahasiswa khususnya pendidikan kepada perempuan. Beliau menegaskan pentingnya program ini dalam memberikan manfaat yang signifikan bidang digital dan kepemimpinan. Diharapkan, mahasiswa UPI siap menghadapi perubahan teknologi dan menjadi pemimpin di masa depan.
Tim Dosen Prodi Pendidikan IPS UPI Selenggarakan PkM Penguatan Program Pendidikan Profesi Guru Melalui Pengembangan Mentoring Skill dan Desain Thingking Bagi Guru
31 Aug 2024 • Humas UPI
Tim Dosen Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dalam bentuk penguatan atas program pendidikan profesi guru mengusung tema mengenai pengembangan mentoring skill dan desain thingking pada modul ajar IPS yang bekerjasama dengan MGMP IPS Rayon 2 Kabupaten Garut. Kegiatan Pk Mini dilaksanakan pada Jumat, 23 Agustus 2023 berlokasi di SMPN 4 Tarogong.
Rina Adiana, S.Pd., Gr yang merupakan MGMP IPS Rayon 2 Kabupaten Garut menyambut baik pelaksanaan kerjasama PkM ini yang sangat bermanfaat dalam rangka menjawab berbagai perkembangan keilmuan kependidikan serta mengelaborasi berbagai kebutuhan guru di lapangan.
Selaku Narasumber, Muhamad lqbal, M.Si menyejelaskan bahwa kegiatan ini sangat strategis terkait dengan Perkembangan mentoring skill yang mengalami proses perubahan tujuan. Menjurutnya, pada tahun 1980-an proses mentoring skill lebih pada pola satu arah antara guru (mentor) dengan mahasiswa praktik mengajar lapangan (mentee).
Lebih lanjut mengungkapkan bahwa Pada tahun 1990-an tujuan mentoring lebih kepada hubungan timbal balik, sedangakan pada tajun 2000-an relasi mentor dengan mentee lebih pada dimensi kolaboratif dan dinamis, seperti peran mentor lebih pada konselor, rekan pembelajar, dan penanya. Mentoring skill dibekali peran strategis sebagai resource persen, problem solvers, role models, evaluator, supporters, challengers, counselor, co-learners, dan co-inquiries.
Narasumber yang lain, Mina Holilah, M.Pd. menjelaskan bahwa pengembangan modul ajar IPS berbasis design thinking dilatarbelakangi oleh urgensi peningkatan profesionalisme guru IPS dalam mengembangkan perencanaan pembelajaran yang kontekstual, implementatif dan kreatif di kurikulum Merdeka. Rancangan yang bersifat user-centrered ini bertujuan ntuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sejauh mana pengalaman belajar berpusat pada peserta didik. Modul ajar disusun melalui 5 fase yaitu empathize – membangun empati, define – merumuskan tujuan, ideate – Ideasi/menciptakan solusi, prototype – mengembangkan prototipe, serta test / evaluate – menguji coba prototipe. Penyusunan modul ajar berdasarkan pada pendekatan integratif pemecahan masalah, berorientasi pada pengguna, menekankan empati, terdiri dari siklus-siklus iteratif, perlu memiliki keanekaragaman partisipan, menciptakan ruang kerja yang kolaboratif dan kreatif, dan menggabungkan analisis-sintesis (Kontributor Humas UPI)
Protokol Bumi Siliwangi (PROBUMSIL) UPI Sukses Laksanakan Candradimuka Tingkat Lanjut (CL) Angkatan XV & XVI
27 Aug 2024 • Humas UPI
Jakarta – Protokol Bumi Siliwangi (PROBUMSIL) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah sukses melaksanakan Candradimuka Tingkat Lanjut (CL) Angkatan XV & XVI. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada Selasa dan Rabu (20-21/08/2024), dengan mengunjungi berbagai lokasi penting di Jakarta. CL ini menjadi syarat penting bagi anggota angkatan XVI untuk naik tingkatan menjadi Protokol Utama Pratama, serta bagi angkatan XV yang masih berstatus Protokol Madya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kerja PROBUMSIL UPI Bidang Doktrin, dengan pelaksanaannya dipimpin oleh PUPt. Putri Andika. Acara dibuka secara resmi pada Senin, 19 Agustus 2024, dengan sebuah apel sore. Dalam amanatnya, Mitra Tama PROBUMSIL Tahun Bakti XVII, Rizki Farid Ramadan, menekankan pentingnya menjaga etika dan nama baik almamater serta PROBUMSIL selama mengikuti kegiatan ini. Ia mengingatkan para peserta bahwa CL adalah kegiatan pendidikan, bukan kesempatan untuk bersantai, sehingga peserta diminta untuk serius dalam mengikuti setiap materi yang disampaikan. Dalam kunjungan ini, PROBUMSIL juga didampingi oleh dosen pembimbing, yaitu Dr. Yana Setiawan, S.Pd., M.M., perwakilan dari Humas UPI, dan Ibu Zakiyah Tsauroh Islamiyah, M.Pd., salah satu pembina PROBUMSIL.
Pada hari pertama, peserta PROBUMSIL mengunjungi beberapa institusi penting, seperti Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (KEMENDIKBUDRISTEK), Bank Indonesia, dan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (MABES POLRI). Di Bank Indonesia, peserta mendapat pemaparan tentang “Sistem Mekanisme Kerja Bank Indonesia dan Bentuk Pelayanan Keprotokolan di Lingkup Bank Indonesia,” serta kesempatan untuk berkunjung ke perpustakaan Bank Indonesia. Kunjungan ke KEMENDIKBUDRISTEK diisi dengan materi mengenai “Standarisasi dan Sistem Pelayanan Keprotokolan di Lingkungan KEMENDIKBUDRISTEK.” Sedangkan di MABES POLRI, materi disampaikan oleh perwakilan dari Kaurops Subbagpamkol Yanma POLRI mengenai “Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam Pengawalan dan Pengamanan Pejabat VVIP dan VIP.”
Pada hari kedua, peserta berkunjung ke kawasan bersejarah Kota Tua dan Museum Bank Indonesia. Di Museum Bank Indonesia, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah moneter di Indonesia dan peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi negara. Kunjungan dilanjutkan dengan pemaparan dari Kementerian Luar Negeri RI tentang “Standarisasi dan Sistem Pelayanan Keprotokolan di Lingkungan Kementerian Luar Negeri RI,” yang disampaikan oleh Pak Charles Miduk Somara, Kasubdit Upacara Diplomatik dan Tanda Jasa Kehormatan. Kegiatan CL diakhiri dengan kunjungan ke Kementerian Dalam Negeri, di mana materi disampaikan oleh Pak Firman Rasyid, Kepala Sub Bagian Acara Protokol Kemendagri, mengenai peran protokol di lingkungan pemerintahan
Rizki Farid Ramadan menjelaskan bahwa lembaga-lembaga yang dipilih untuk dikunjungi memiliki peran penting dalam dunia keprotokolan dan memberikan wawasan-wawasan keprotokolan yang beragam. “Misalnya, di KEMENDIKBUDRISTEK, kita mempelajari standar protokol dalam lingkup pendidikan, yang relevan dengan aktivitas kita di universitas. Di Kemendagri dan Kemenlu, kita mempelajari protokol dari perspektif dalam negeri dan hubungan luar negeri.”
Secara keseluruhan, kegiatan CL ini berjalan dengan lancar dan sukses. Peserta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman praktis, yang akan membantu mereka dalam menjalankan tugas-tugas keprotokolan di Universitas. Harapannya, dengan terselenggaranya kegiatan ini, PROBUMSIL dapat semakin meningkatkan kompetensi anggotanya, serta menjalin kerjasama yang lebih erat dengan berbagai instansi terkait. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan program-program keprotokolan yang lebih berkualitas di kepengurusan selanjutnya. (Dimas Saputra, Kontributor Humas UPI, Ed HN)
Jakarta – Protokol Bumi Siliwangi (PROBUMSIL) Universitas Pendidikan Indonesia pada (21/08/2024) melaksanakan kunjungan ke Museum Bank Indonesia sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Candradimuka Tingkat Lanjut (CL). Kegiatan ini diikuti oleh 35 anggota PROBUMSIL dari berbagai satuan atau kampus daerah. Kunjungan ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan wawasan sejarah dan ekonomi, tetapi juga untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya keprotokolan dalam berbagai aspek.
Museum Bank Indonesia terletak di gedung bersejarah yang sebelumnya digunakan oleh De Javasche Bank di kawasan Kota Tua Jakarta. Gedung ini, merupakan salah satu contoh arsitektur kolonial yang tetap terjaga keasliannya. Sebagai salah satu pelopor revitalisasi gedung-gedung bersejarah di Kota Tua, Bank Indonesia mendirikan Museum BI untuk menyajikan pengetahuan tentang peran penting Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa. Museum ini tidak hanya menampilkan sejarah moneter dan kebijakan Bank Indonesia, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan rekreasi literasi yang menghibur atau dikenal dengan konsep edutainment.
Kunjungan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada anggota PROBUMSIL tentang bagaimana sejarah ekonomi nasional, khususnya peran Bank Indonesia, dalam membentuk kebijakan ekonomi negara. Dengan memahami konteks historis dan kebijakan yang disajikan di museum, anggota diharapkan dapat mengaitkannya dengan tugas-tugas keprotokolan yang mereka emban di masa mendatang.
Selain itu, kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan anggota tentang pentingnya pelestarian sejarah dan budaya. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk menjelajahi berbagai galeri yang ada di museum, di antaranya Ruang Emas Moneter, Ruang Numismatik dan Immersive Cinema.
Rizki Farid Ramadhan, Mitra Tama PROBUMSIL TB XVII, menilai bahwa kunjungan ini sangat bermanfaat bagi anggota. Kegiatan ini memberikan wawasan luas mengenai peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi negara. Selain itu, anggota juga mempelajari pentingnya protokol dalam acara-acara kenegaraan dan bagaimana hal tersebut terkait dengan kebijakan ekonomi dan moneter.
Menurut Rizki, kunjungan ke Museum Bank Indonesia memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa yang terlibat dalam keprotokolan.
Para peserta merasa bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka. Salah satu peserta dari Satuan Sumedang Darul Larang merasa bahwa museum tersebut menyajikan informasi yang sangat kaya mengenai sejarah moneter di Indonesia. Kunjungan ini dianggap membuka wawasan tentang bagaimana kebijakan ekonomi dan moneter mempengaruhi stabilitas negara serta peran protokol dalam mendukung stabilitas tersebut.
PROBUMSIL berharap dapat terus mengadakan kegiatan serupa. Di masa mendatang, diharapkan pengurus PROBUMSIL dapat melakukan kunjungan ke lokasi-lokasi lain yang memiliki nilai sejarah dan edukatif tinggi. Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya terbatas pada teori, tetapi juga mencakup pengalaman praktis yang dapat diterapkan dalam tugas keprotokolan.(Dimas Saputra, Kontributor Humas UPI .Ed HN)
Kabar dari Perancis (42) : Pembukaan JOP 2024 dan Nilai-nilai Kemanusiaan
26 Aug 2024 • Humas UPI
Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)
Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)
Olahraga adalah mencari rasa takut untuk didominasi, kelelahan untuk diatasi, kesulitan untuk dikalahkan .” (Pierre de Coubertin, pendiri Olimpiade modern)
“Le sport va chercher la peur pour la dominer, la fatigue pour en triompher, la difficulté pour la vaincre.” (Pierre de Coubertin, fondateur des Jeux Olympiques modernes)
Walaupun Olimpiade telah berakhir, namun pembicaraan media baik di Perancis maupun media asing lainnya tetap antusias dengan mengabarkan baik upacara pembukaan Olimpiade Paris yang berlangsung pada tanggal 26 Juli 2024 maupun upacara penutupan yang berlangsung pada tanggal 11 Agustus 2024 kemarin.
Artikel ini akan membahas upacara pembukaan terlebih dahulu.
Mata dunia tak lepas dari kota Paris dan upacara pembukaan Olimpiade. Seperti sebagian besar masyarakat Perancis, media asing tampaknya jatuh dalam pesona keindahan kota Paris dan pertunjukan-pertunjukan yang disajikan. Walau hujan tak henti mengguyur kota ini tapi hal ini tidak mempengaruhi antusias dan kebahagiaan penonton pembukaan Olimpiade ke-33 ini yang di perkirakan lebih dari 300 000 orang penonton di tempat.
Kehadiran Céline Dion, Lady Gaga, Aya Nakamura dan atlet terbaik dari seluruh dunia telah menggerakkan massa untuk menonton acara ini. Poster upacara pembukaan Olimpiade Paris di Sungai Seine telah menakjubkan orang Perancis dan menarik sekitar 22 juta penonton di TV France 2, atau lebih dari 80% dari pemirsa TV di seluruh Perancis. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan upacara-upacara pembukaan Olimpiade sebelumnya, dengan 8,8 juta penonton di London pada tahun 2012, 5 juta di Beijing pada tahun 2008, dan bahkan hanya 4 juta pemirsa di Tokyo pada tahun 2021.
Pembukaan Olimpiade ini dianggap sebagai sebuah keajaiban yang disiarkan secara internasional. Hari Jumat 26 Juli, waktu terhenti antara pukul 19.30 hingga 23.30 waktu setempat, saat upacara pembukaan Olimpiade karena semua perhatian seluruh dunia terpusat pada acara ini. Sebuah peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya acara tersebut berlangsung di luar stadion. Kota Paris di sepanjang sungai Seine menjadi arena parade perahu para delegasi yang lewat satu persatu disaksikan monumen-monumen kota Paris yang merupakan pelengkap atau lebih tepatnya menjadi latar kemegahan dan kebesaran kota Paris atau merupakan bagian dari arena atau lebih tepatnya stadion raksasa Olimpiade ini.
Jika sebagian besar masyarakat Perancis tampaknya terpikat oleh tayangan yang ditampilkan, media asing memberi komentar yang beragam. Ada yang antusias dengan memberi banyak pujian dalam peluncuran besar kompetisi olahraga tersebut, namun ada juga yang meragukan dan berkomentar sinis atas keberhasilan acara pembukaan, bahkan ada juga orang Perancis, walaupun pada akhirnya mereka bertepuk tangan. Dengan demikian, dari tayangan media negara-negara lain kita bisa tahu bahwa acara pembukaan JOP 2024 ini sangat berhasil tanpa ada gangguan yang ditakutkan sebelumnya.
Acara pembukaan Olimpiade ini menonjolkan nilai-nilai jiwa Perancis yang menjadi sorotan dunia. Ada 12 lukisan yang diperagakan oleh model yang memberikan pesan-pesan bagi dunia tentang perdamaian (la paix), kebebasan (la liberté),persaudaraan (la fraternité), persamaan (l’égalité) – dan yang terpenting, kesetaraan dalam pertandingan bersejarah ini (tidak pilih kasih).
Di acara pembukaan JOP ini, interpretasi suara piano yang indah dari lagu ”Imagine”, yang dinyanyikan dengan megahnya oleh Juliette Armanet, yang diiringi oleh melodi harmonis oleh Sofiane Pamart. Keduanya menumpangi perahu rakit yang bersinar — sebuah pemandangan hidup yang mengharukan dengan. cahaya di kegelapan, yang mengandung pesan moral tentang peperangan yang berlangsung dan perubahan cuaca dunia. Di pembukaan olimpiade ini diserukan pesan moral untuk peningkatan kesadaran dan juga mencoba menampilkan sebersit cahaya di tengah konflik dunia. Hal ini menunjukkan masih ada harapan adanya tindakan dalam menanggulangi masalah di dunia ini.
Melalui Olimpiade ini dan upacara pembukaannya yang ambisius di jantung kota Paris 2024 ini juga telah berhasil mengatasi tantangan untuk mengubah sedikit warisan abadi dan penting dalam olimpiade ini yaitu tentang cara pandang masyarakat terhadap orang cacat dan juga untuk membangun masyarakat untuk menghapus perbedaan (kulit, ras, suku, agama, dll). Acara ini tidak segan-segan menonjolkan kebanggaan bangsa Perancis yaitu sebuah bangsa yang memadukan masa kini dan masa lalu, juga kesetaraan dan persaudaraan : para pekerja seni, mulai dari penari hingga penyanyi dan musisi yang mewakili planet bumi yang kaya dan multikultural, dengan berbagai agama dan multiras, perempuan dan laki-laki (bahkan ditampilan juga kaum ”queer” (homosexuel), tua dan muda, klasik dan modern, yang saling bergandengan tangan.
Bagi BBC, upacara pembukaan menyinari Paris dengan “gaya yang unik”. Media Inggris mengukuhkan bahwa “Paris sukses dalam programnya dengan gemilang” dengan sebuah upacara yang “banyaknya menghebohkan tetapi juga mengharukan”.
Bagi majalah Amerika LA Times, ibu kota Perancis ini menjadi bersinar meskipun diliputi hujan deras saat upacara pembukaan Olimpiade yang spektakuler. Seluruh media di seluruh dunia menayangkan upacara pembukaan dengan hujan deras sedemikian rupa namun hal seperti tidak terjadi halangan apa-apa dan bahkan tidak mencegah Paris menjadi kota yang bersinar dan menyilaukan.
Di Spanyol, harian Marca menggambarkan upacara tersebut sebagai “yang terbaik dalam sejarah Olimpiade”. “Paris mempersembahkan upacara pembukaan paling revolusioner yang pernah ada. Yang luar biasa adalah penggabungan yang nyata, yang sedang terjadi dengan yang virtual dalam jalur cerita pembukaannya,” tambah media Spanyol.
Pidato resmi yang disampaikan oleh Tony Estanguet, Presiden Panitia Penyelenggara Olimpiade Paris 2024 pada upacara pembukaan Olimpiade Paris 2024, Jumat 26 Juli terkesan ringan dan agak kocak namun berisi dan cukup berbobot untuk merangkum nilai moral Olimpiade sebagai ajang persatuan bangsa-bangsa, ras dan kemanusiaan yang beradab. Berikut ini adalah pidato yang disampaikan oleh Tony Estanguet.
”Para atlet yang terhormat,
Para pecinta permainan olahraga yang terhormat di Perancis dan seluruh dunia,
Selamat datang di Paris ! Saya sangat merindukan kalian, setelah 100 tahun penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas terakhir dilaksanakan di sini dan kali ini merupakan suatu kehormatan besar bagi kami.
Sering dikatakan bahwa Perancis adalah negara yang penuh dengan cinta. Yang saya tahu tentang ini, di sini, ketika kita mencintai, kita sungguh-sunggih mencintai. Antara Perancis dan Olimpiade, terdapat kisah cinta yang luar biasa. Kisah cinta ini lahir 130 tahun yang lalu, beberapa kilometer dari sini, di amfiteater besar Sorbonne, ketika Pierre de Coubertin mengusulkan untuk menghidupkan kembali Olimpiade kuno. Kisah cinta ini tumbuh dengan adanya Olimpiade di Paris, Chamonix, Grenoble dan Albertville. Tentu saja hal ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar untuk menjaga warisan ini tetap hidup. Jadi, kami mencurahkan segenap hati kami demi Olimpiade ini.
Jika Anda menyukai Olimpiade ini, pertama-tama jangan biarkan diri Anda ditakutkan oleh beberapa tetes hujan dan terima kasih kepada semua pecinta permainan olahraga ini. Terima kasih untuk semua pecinta permainan olahraga ini, walaupun malam ini kita basah, sangat basah namun kalian tetap hadir di sini. TERIMA KASIH.
Jika Anda menyukai Olimpiade, Anda siap mengikuti Olimpiade yang terjadi 100 tahun yang lalu sebelum melihat permainan olahraga ini kembali ke Paris. Saat kami sangat menyukai Olimpiade, kami menawarkan kepada mereka apa yang paling berharga bagi kami. Bagian dari Menara Eiffel, akan menjadi inti untuk setiap atlet. Dari Champ de Mars hingga Invalides, dari Grand Palais hingga Istana Versailles, dari Place de la Concorde hingga ombak Teahupoo yang legendaris: harta terindah dari warisan negeri kami akan menjadi taman bermain Anda.
Saat Anda sangat menyukai Olimpiade, Anda merasa seperti memiliki sayap yang sedang berkembang. Kami memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, seperti upacara pembukaan di kota ini, yang pertama dalam sejarah Olimpiade.
Seperti negara tuan rumah lainnya, ambisi kami adalah menjadikan Olimpiade ini berkembang.
Faktanya, Olimpiade itulah yang membuat kami berkembang.
Olimpiade hadir untuk mengingatkan kami bahwa, meskipun di Perancis kami tidak pernah sepakat dalam hal apa pun, pada saat-saat penting, kami tahu bagaimana bersatu dan menyatukan kekuatan kami.
Jadi terima kasih…
Terima kasih kepada para Pemerintah Perancis, kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat, kepada semua pihak yang bekerja di belakang layar untuk membuat perayaan ini indah: di Paris, di Seine-Saint-Denis, di Ile de-Prancis dan di seluruh Perancis, dari Marseille hingga Lille, Châteauroux , Nantes, Bordeaux, Bagus, Lyon, Saint-Etienne dan Tahiti! Saya menyadari betapa kami berhutang budi pada kalian semua.
Terima kasih kepada tim Paris 2024 yang telah menghadapi semua tantangan dengan penuh semangat selama hampir 10 tahun. Terima kasih kepada 45.000 sukarelawan yang berasal dari 155 negara, yang di kehidupan sehari-harinya kalian adalah seorang guru, pensiunan, perawat, pelajar… dan antusiasme kalian akan menerangi permainan ini! Terima kasih dari lubuk hati saya yang terdalam kepada Komite Olimpiade Internasional dan Presidennya, Thomas Bach yang tersayang, terima kasih telah memberikan Perancis kesempatan unik ini dan selalu berada di pihak kami. Malam ini saya juga secara khusus mengingat pada pengurus Paris 2024, Bernard Lapasset, seorang pemimpin besar rugbi. Dia berkata: “Rugbi bukan untuk menguasai bola, tetapi untuk mengopernya.” Berbagi adalah visi yang beliau berikan untuk Paris 2024. Malam ini, kita semua bisa bangga dengan apa yang telah kita lakukan bersama, dan saya tentu saja ingin mengucapkan terima kasih pada para atlet terkasih.
Sungguh suatu getaran di wajah melihat kalian semua berbaris bersama! Anda memberi kami saat langka dan berharga. Dan meskipun Olimpiade tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikan semua masalah dunia, walaupun jika diskriminasi dan konflik di dunia tidak akan hilang, malam ini Anda mengingatkan kami betapa indahnya kemanusiaan ketika bersatu. Dan ketika Anda kembali ke Perkampungan Olimpiade, Anda akan mengirimkan pesan harapan ke seluruh dunia bahwa ada tempat di mana semua bangsa, semua budaya dan semua agama hidup bersama. Anda akan mengingatkan kami bahwa hal itu mungkin. Selama 16 hari ke depan, Anda akan menjadi versi umat manusia yang paling cantik. Anda akan mengingatkan kami bahwa emosi dalam olahraga adalah bahasa universal yang kita semua miliki. Hingga 11 Agustus, kami akan menjalani setiap detik bersama Anda.
Kekalahan Anda akan menjadi kekalahan kami.Kemenangan Anda akan menjadi kemenangan kami.Emosi Anda… akan menjadi emosi kami.”
Pidato yang disampaikan Tony Estanguet cukup panjang, namun pidato ini membuat orang yang mendengarnya terpana. Setelah Ketua Penyelenggara, Thomas Bach sebagai Ketua Komite Olimpiade Internasional (IOC) juga menyampaikan pidato dan diakhiri pidato Presiden Emmanuel Macron yang sesuai tradisi ritual membuka acara Olimpiade ini secara resmi di penghujung upacara pembukaan yang megah. Presiden Perancis berbicara di lapangan Trocadéro, di depan 85 orang kepala negara asing dan pemerintahan yang dengan sabar menanggung derasnya hujan yang mengguyur ibu kota. Dengan demikian, pertandingan 32 jenis olahraga secara resmi dibuka dan ditayangkan di bawah sorotan mata dari seluruh dunia.
Untuk mengenal lebih detail tentang pertandingan-pertandingan di Olimpiade ini, mungkin ada baiknya kita mengenal juga pertandingan olah raga yang ditampilkan.
Perlu diketahui bahwa tidak setiap olahraga dijamin dipertandingkan di Olimpiade.
Olahraga jenisnya bermacam-macam. Setiap negara, suku dan bangsa memiliki olahraganya sendiri yang sesuai dengan budaya dan juga ditinjau dari sudut ketenarannya, misalnya seperti : Soccer (Football), Basketball, American Football, Tennis, Cricket, Baseball, Rugby, Golf, Athletics (Track and Field), dan renang. Setiap jenis olahraga ini memiliki seperangkap peralatan dan ruangan masing-masing dan memiliki penggemar serta sejumlah atlet yang mempraktikkannya di seluruh dunia.
Jumlah pasti jenis olahraga di dunia sulit ditentukan karena keragaman dan variasi aktivitas fisik yang dikenal sebagai olahraga. Namun, beberapa perkiraan menunjukkan bahwa ada ribuan olahraga berbeda. Olahraga tersebut dapat digolongkan menjadi beberapa kategori sebagai berikut.
Olahraga tradisional dan regional (Sports traditionnels et régionaux)- Dimainkan terutama di wilayah tertentu di dunia dan sering kali berakar pada budaya lokal, seperti kabad di di India atau lucha libre di Meksiko.
Olahraga Olimpiade (Sports olympiques)- Olahraga yang merupakan bagian dari Olimpiade, saat ini ada sekitar 32 olahraga musim panas dan 15 olahraga musim dingin.
Olahraga Tim (Sports d’équipe*)- Termasuk sepak bola, bola basket, kriket, rugbi, hoki, dll.
Olahraga Ekstrim dan Petualangan (Sports extrêmes et d’aventure*)- seperti seluncur salju, skateboard, terjun payung, selancar, dll.
Olahraga Pertarungan (Sports de combat*)- termasuk judo, karate, tinju, taekwondo, gulat, dll.
Olahraga air (Sports nautiques)- Seperti berlayar, mendayung, menyelam, selancar layang, dll.
Olahraga motor (Sports motorisés) – Termasuk Formula 1, motorcross, balap mobil reli, dll.
Selain kategori tersebut, masih banyak olahraga special/ khusus/ tertentu, modern, dan menyebar lainnya yang terus berkembang. Singkatnya, dunia olahraga sangatlah luas dan terus berkembang.
Lalu bagaimana Olahraga Olimpiade dipilih untuk dipertandingkan? Misalnya breakdance, atletik, panjat tebing atau kriket? Bagaimana suatu cabang olahraga dipilih untuk dimasukkan ke program Olimpiade setiap empat tahun ini?
Sejak ditetapkannya agenda Olimpiade 2020 yang disetujui pada akhir tahun 2014, jenis olahraga dibatasi 28 jenis yang dibagi dalam 310 cabang olahraga. Untuk mempromosikan olahraga baru, IOC lebih cenderung mempertahankan jumlah cabang olahraga, namun dengan membatasi jumlah atlet (total 10.500).
Komisi Program Olimpiade IOC secara berkala meninjau setiap cabang olahraga yang diajukan untuk menjadi “Olahraga Olimpiade”. Untuk mendapatkan persetujuan ini, olahraga ini harus memenuhi beberapa kriteria yang tidak selalu dapat diukur, seperti penebaran praktiknya (jumlah negara yang mempraktikkannya di beberapa benua), popularitasnya di dunia (siaran televisi, jumlah penonton selama kompetisi, dll.), karakteristik teknisnya (infrastruktur yang sesuai), citranya (federasi tidak boleh diselidiki karena korupsi atau doping misalnya), serta potensi pertumbuhan dan perkembangannya di masa yang akan datang.
Mengikuti kriteria-kriteria tersebut, sejumlah “gelar” olahraga dipilih untuk setiap Olimpiade. Jika suatu jenis olahraga tidak terjamin masuk dalam daftar olimpiade, beberapa olahraga tetap penting, seperti atletik. Untuk Olimpiade Paris 2024, misalnya, olahraga yang dipertandingkan adalah atletik, dayung, bulu tangkis, bola basket, tinju, kano, bersepeda lintasan, bersepeda jalan raya, gaya bebas BMX, balap BMX, bersepeda gunung lintas alam, anggar, sepak bola, golf, senam artistik, senam ritmik, trampolin, angkat besi, bola tangan, hoki, judo, gulat, pentathlon modern, ragbi, balap renang, renang artistik, terbuka air berenang, Menyelam, olahraga berkuda, Taekwondo, tenis, tenis meja, penembakan, panahan, triathlon , berlayar, bola voli, voli pantai, dan polo air.
Ke-28 disiplin / jenis olahraga ini juga dipilih untuk tiga disiplin baru yang telah muncul pada Olimpiade sebelumnya di Tokyo: panjat tebing, skateboard, dan surf. Terakhir, atas saran panitia penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade (Cojop) Paris 2024, olahraga breakdance masuk Olimpiade musim panas sekarang, menjadi Jenis olahraga ke-32 di Olimpiade ini (dalam dua pertandingan baru: satu untuk wanita dan satu untuk pria.) dimana 16 atlet akan bertanding duel dengan kombinasi gerakan kedua jenis kelamin, perempuan dan laki-laki.
Pada hari Senin tanggal 16 Oktober, COJOP mempelajari daftar jenis olahraga untuk Olimpiade yang ke-34 yang akan berlangsung pada tahun 2028 di Los Angeles. Di Olimpiade Los Angeles 28 ini akan terdapat 35 atau 36 cabang olahraga, termasuk lima disiplin baru: kriket, baseball-softball, squash, flag football, dan lacrosse, olahraga tim yang berasal dari budaya penduduk asli Amerika.
Dua disiplin olahraga yang tadinya akan ditarik dari JO akhirnya dipertahankan: pentathlon modern dan angkat besi. Terakhir, IOC masih belum memutuskan untuk olahraga tinju. Federasi Internasional (IBA, Asosiasi Tinju Internasional) telah kehilangan pengakuan Olimpiade dan IOC sedang menunggu untuk melihat apakah Organisasi Tinju Dunia yang baru cukup kuat untuk mengambil alih. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada olahraga yang terjamin dapat dipertahankan tempatnya di Olimpiade.
Bagaimanapun juga olahraga adalah budaya positif pemersatu bangsa-bangsa. ”Mens sana in corpore sano” adalah moto yang merangkum kebenaran sepanjang masa. Vive le sport!