English
Indonesia

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Dorong PTN Forum Fakultas Bahasa dan Seni Indonesia Mewujudkan PTNBH dalam Upaya Menjadi LPTK Berkelas Dunia

18 Jul 2024 • Humas UPI

Forum Fakultas Bahasa dan Seni Indonesia kembali diadakan, dan kali ini Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan yang menjadi tuan rumah. Acara yang diselenggarakan di Hotel Niagara Parapat pada 11-13 Juli 2024 ini dihadiri oleh 14 pimpinan Fakultas Bahasa dan Seni, Fakultas Bahasa dan Sastra, serta Fakultas Seni dan Desain dari 12 lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) se-Indonesia, termasuk Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia.

Sebanyak 12 perguruan tinggi yang mengirimkan utusan untuk mengikuti Forum FBS Indonesia ini adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Medan (Unimed), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Universitas Negeri Manado (Unima), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Acara ini dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Negeri Medan, Prof. Dr. Baharuddin, M.Pd., dan kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan Forum Diskusi Terpumpun yang telah dilaksanakan secara daring pada tanggal 25 Juni 2024.

Pertemuan Forum FBSI ini menghadirkan dua pembicara kunci yang sangat berpengalaman dalam pengembangan institusi LPTK, yaitu Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, Ketua Senat Universitas Negeri Medan yang membahas tentang Pengembangan LPTK dan Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki pengalaman sebagai PTN-BH dan berhasil menjadikan Universitas Pendidikan Indonesia sebagai salah satu kampus bergengsi di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia menyampaikan materi yang mendorong agar PTN yang tergabung dalam forum ini segera menuju PTN-BH. Beliau menekankan bahwa perubahan ini akan memacu pimpinan PTN untuk lebih mengembangkan kreasi mandiri guna mendapatkan pendanaan yang maksimal. Dengan demikian, akan lebih mudah mengembangkan institusi, menyediakan sarana dan prasarana pendukung proses akademik, memberikan dana maksimal dalam penelitian dan pengabdian dosen, serta meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan.

Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Tri Indri Hardini, M.Pd. yang hadir saat itu bersama-sama dengan para Wakil Dekan, para Kaprodi, para Sekprodi, Ketua Satuan Kendali Mutu dan Kepala Laboratorium Bahasa dan Microteaching menyatakan bahwa pertemuan ini memberikan penguatan bagi prodi-prodi di FPBS terutama dalam upaya mengimplementasikan penguatan kerja sama bidang tridharma perguruan tinggi bidang bahasa menuju universitas berkelas dunia. Acara ini juga dilengkapi dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antarfakultas. Penandatanganan dokumen kerja sama ini sangat penting karena berpengaruh terhadap pemerolehan Indikator Kinerja Utama (IKU) bagi tiap Program Studi, Fakultas, dan Universitas yang hadir.  

Pertemuan ini juga membahas sejumlah program prioritas terkait pengembangan akademik, kerja sama, riset, peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa, hingga berbagai aspek yang dapat dijajaki untuk mengakselerasi pencapaian LPTK berkelas dunia. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, diharapkan forum ini mampu menjadi katalisator perubahan dan peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.

Menariknya, di sela-sela kegiatan yang begitu padat, para peserta tetap dapat menikmati indahnya Danau Toba dan Pulau Samosir. Pemandangan yang menakjubkan dapat terlihat dari Hotel Niagara atau secara langsung dinikmati dari atas kapal yang disediakan oleh panitia. Hal ini membuat para peserta sangat puas dan menikmati kegiatan tersebut. “Perjalanan ini sangat luar biasa, pemandangan yang sangat indah, menampilkan bukit dan hamparan Danau Toba yang sangat memesona,” ucap salah satu peserta dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Kegiatan ini akan kembali diadakan dua tahun mendatang, setelah disepakati bersama bahwa Forum Bahasa dan Seni Se-Indonesia selanjutnya akan diadakan pada tahun 2026 di Universitas Negeri Semarang. Sampai jumpa dan salam sejahtera untuk kita semua.

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat  UPI selenggarakan Pelatihan Open Journal System dalam Meningkatkan Kemampuan Pengelola Jurnal UPI

18 Jul 2024 • Humas UPI

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kegiatan pelatihan open journal system dalam meningkatkan kemampuan pengelola jurnal dilingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Kegiatan diselenggarakan pada Kamis, 18 Juli 2024 di gedung Auditorium Lantai 3 Gedung LPPM UPI. 

Lukman Hakim, S.Pd., M.Pd selaku Ketua Tim PkM, mengamati bahwa permasalahan utama dalam pengelolam jurnal ilmiah saat ini berkaitan dengan perlunya pengelola jurnal memahami tentang kualitas substansi artikel serta kualitas pengelolaan manajemen dan aplikasi open journal system bagi dosen dan mahasiswa.  

Lukman Hakim, S.Pd., M.Pd menjelaskan bahwa tujuan pengabdian kepada masyarakat ini yaitu untuk memberikan pemahaman tentang substansi artikel jurnal dan manajemen pengelolaan open journal system dalam rangka meningkatkan reputasi indeks jurnal pada level nasional dan internasional.  ‘’Adanya peningkatan reputasi jurnal akan berdampak pada peningkatan reputasi karya ilmiah pada dosen dan mahasiswa  sehingga akan tercapainya kualitas dan kuantitas publikasi karya ilmiah’’ujarnya. 

Kegiatan pelatihan diikuti oleh para dosen dan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia selaku pengelola jurnal pada masing-masing unit kerja di UPI. Para peserta dosen dan mahasiswa dilatih untuk menguasasi dari sisi kualitas substansi artikel dan kualitas manajemen open journal system untuk menghasilkan publikasi artikel ilmiah yang beruptasi nasional dan internasional

Selama kegiatan, para peserta mendapatkan materi pelatihan membahas terkait dengan kebijakan, program dan sistem informasi jurnal dan iku, kebijakan penelitian dan pengabdian, pengelolaan naskah ilmiah, panduan teknis pengelolaan tampilan open journal system serta manajemen publikasi jurnal.

Kabar dari Perancis (40) Olimpiade 2024 dan Aturan-aturannya

18 Jul 2024 • Humas UPI

Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Bersamaan dengan ulang tahun bandara Paris Charles de Gaulle (bandara Paris- Charles de Gaulle diresmikan pada tahun 1974 dan tahun ini adalah peringatan ulang tahun ke-50), pertandingan Olimpiade dan Paralimpiade (JOP) Paris 2024 diadakan di kota Paris yang akan dibuka pada tanggal 26 Juli 2024. Seluruh staf ADP (Aeroport de Paris) mengerahkan sekitar 1,500 sukarelawan, Sejak tahun 2023, Badan ADP ini secara aktif mempersiapkan penyambutan sekitar 64,000 orang atlet dan delegasi serta sekitar manajemen logistik dengan 17,000 bagasi dan peralatan  sport lainnya yang berukuran besar.

Tahun ini, kota Paris yang menjadi tempat ajang pertarungan para atlet, seolah-olah menjadi stadium raksasa Olimpiade. Penyelenggaraan JOP ini terletak di jantung kota : tempat-tempat utama Paris 2024, dari Adidas Arena (Arena Porte de la Chapelle) hingga Saint-Denis Aquatic Center, melalui Concorde dan Grand Palais, menonjolkan warisan budaya kota  Paris. Bahkan penyelenggaraan beberapa pertandingan dilakukan di alam terbuka di Paris yang juga merupakan salah satu cara untuk membatasi jejak karbondioksida dengan memanfaatkan secara maksimal infrastruktur yang ada (total 95%).

Walikota Paris, Anne Hidalgo, memutuskan akan ada acara renang di sungai Seine yang menyeberangi kota Paris, meskipun biaya persiapan dan pembersihannya sangat besar (1,4 miliar Euro).

Paris, beberapa minggu belakang ini mulai didandani atribut Olimpiade. Di Place de la Concorde telah didirikan anjungan-anjungan agar masyarakat dapat menyaksikan pertandingan basket dan skateboard 3X3. Di Champ de Mars, yang akan menjadi tuan rumah pertandingan voli di stadion Menara Eiffel. Namun, sampai saat ini, di jembatan Alexandre III tidak ada dekorasi JO padahal dari sinilah para atlet harus terjun ke Sungai Seine untuk bertanding di nomor renang triathlon, serta lomba arung 10 km yang berganti nama menjadi “renang maraton”. Beberapa saat lalu orang mulai meragukan kalau kompetisi renang ini akan diselenggarakan di sungai Seine. Kemungkinan hal ini disebabkan karena dari awal tahun ini sampai bulan Juni, udara di Ile de france (Paris dan sekitarnya) dingin karena hujan terus-menerus dan tiupan angin yang kencang serta matahari yang jarang muncul.

Di sela-sela penyelenggaraan Olimpiade, ”Paris vous aime” (Paris love you) juga merayakan  musim semi dengan menyajikan beragam pilihan tempat untuk menikmati musim panas seperti menikmati kolam renang dan teras Paris yang indah, berjalan-jalan keliling ibu kota, mengunjungi tempat-tempat seniman, dan lain-lain. Selain itu, kekayaan warisan pepohonan di Paris  menonjolkan ekologi dan penghijauan, seperti pohon Platanes, pohon Marroniers, dan pohon pohon Tilleuls untuk membendung pemanasan global di kota ini dan juga mengurangi polusi.

Di Grand Palais, kompetisi pertandingan anggar, taekwondo, anggar kursi roda, dan taekwondo untuk orang cacat akan berlangsung. Perlu diketahui bahwa Le Grand Palais adalah bukan stadium olahraga tetapi merupakan tempat bersejarah dan menjadi destinasi wisatawan seperti tempat-tempat dan monumen bersejarah lainnya yang akan dijadikan sarana pertandingan JOP 2024.

Beberapa minggu sebelum upacara pembukaan acara olahraga terbesar di dunia dan tidak diragukan lagi yang terbesar yang pernah diselenggarakan di Perancis, ketidaksabaran warga kota ini semakin meningkat. Namun, selain itu, timbul juga kekhawatiran terjadinya huru-hara yang tak diinginkan. Di samping itu, ternyata para penyelenggara JO masih berada di bawah tekanan tentang kesuksesan penyelenggaraan. Mereka akan merasa tenang saat proyek-proyek terpenting untuk Olimpiade dan Paralimpiade ini selesai lebih awal atau setidaknya tepat waktu.

Saat ini, perkampungan Atlet JOP, Arena Porte de la Chapelle, dan Pusat Aquatica Saint-Denis – selesai tepat waktu dan beberapa lokasi penting lainnya seperti nef (bagian tengah) Le Grand Palais atau kolam renang Colombes, yang akan berfungsi sebagai tempat pelatihan renang.

Ambisi pemerintah Perancis ini dalam rangka JO 2024 ini adalah untuk dapat menunjukkan  bahwa pada akhir Olimpiade akan terjadi pengurangan karbon dioksida jika dibandingkan dengan penyelenggaraan JO  sebelumnya (baik di London pada tahun 2012 maupun di Rio pada tahun 2016). Keinginan untuk Olimpiade yang lebih bertanggung jawab telah memandu penyelenggara menentukan pilihannya. Faktanya, Olimpiade ini diselenggarakan dengan 95% infrastruktur yang ada atau sementara. Jadi dengan demikian, tidak akan ada limbah setelah Olimpiade berakhir.

Di Colombes (92), stadion Yves-du-Manoir, yang dijadikan tempat upacara pembukaan Olimpiade pada tahun 1924, telah direnovasi dengan stan baru, dengan menambah dua gedung, dua halaman lapangan hoki Olimpiade, serta arena atletik, dan beberapa lapangan sepak bola dan rugbi. Di samping itu, Stade de France juga memiliki arena atletik baru. Sedangkan untuk Roland-Garros, dibangun atap yang bisa dibuka dibangun di atas lapangan Suzanne-Lenglen yang akan mampu menampung turnamen tinju selama kompetisi.

Keinginan yang dinyatakan untuk JOP yang lebih bertanggung jawab secara ekologi ditunjukkan di mana-mana, dengan memperjuangkan penyelenggara melawan plastik sekali pakai (para atlet akan makan dari peralatan makan yang dapat digunakan kembali). Dalam pendistribusian makanan, semua makanan dan sayuran, berasal dari lokal dan segar (100% makanan bersertifikat, sebagian diproduksi di Perancis dan/atau diberi label yang bertanggung jawab, dan bahan makanan yang didapat tanpa menggunakan bahan kimia yang menghancurkan ekosistem). Bahkan penyelenggara mengembangkan jaringan bersepeda Olimpiade sepanjang 415 km di Île-de-France. Untuk hal ini, jalur baru  untuk bersepeda sepanjang 30 km dibuat di Paris dan 25 km di Seine-Saint-Denis 

Di balik kegiatan dan pertandingan olahraga ini, penyelenggara berharap juga dapat membuat para tamu atlet dari segala penjuru dunia bisa hidup dengan nyaman, Direktur Perkampungan Atlet Olimpiade dan Paralimpiade Paris 2024 Laurent MICHAUD menetapkan pedoman bagi tim yang mengerjakan pembangunan Village des Atlets (perkampungan atlet). 

Instalasi sementara di perkampungan atlet ini dibangun dengan kualitas yang sangat baik. Selain itu pembiayaannya juga sangat mahal dan memakan energi. Perkampungan ini dibangun berdasarkan infrastruktur yang ada dan berkelanjutan. Tempat-tempat tinggal yang direnovasi dan baru dibangun sedemikian rupa agar tempat tersebut sempurna dengan menunjukkan keseimbangan antara penghormatan terhadap warisan budaya (dengan tetap melestarikan arsitek kota Paris yang indah) dengan tuntutan olahraga, serta kepuasan masyarakat. Arsitek bangunan  Bâtiments  de France dan Kota Paris menjajak pendapat dari para atlet agar pengalaman para atlet ini menjadi masukan sehingga mereka memperoleh kenyamanan selama masa Olimpiade ini dan  berada dalam kondisi fit.

Lebih dari 345.000 apartemen  untuk atlet ini dilengkapi selimut, meja, 14.250 tempat tidur, 8.200 kipas angin, dan 5.535 sofa. Peralatan ini akan disewa dan/atau digunakan kembali setelah pertandingan. Satu apartemen seluas 12 m². disiapkan untuk dua atlet per ruangan, dan kamar mandi untuk empat orang.

Akomodasi konsumsi para atlet ini diurus oleh Chef eksekutif Sodexo Charles Guilloy yang menyiapkan 40 000 hidangan untuk 15 000 atlet.  200 orang koki menjadi anak buahnya untuk mempersiapkan menu dan mencoba 550 resep baru sebagai partisipasi mereka untuk penampilan para atlet dan menghormati kebutuhan nutrisi mereka agar makanan buatan mereka dapat memenuhi keinginan dan selera para atlet.

Di samping itu,  Nathalie Greff- Penerjemah dan manajer layanan linguistik untuk penerjemah  di JO Paris 2024 dan Kepala Layanan Bahasa Paris 2024, menyusun perencanaan untuk mengkoordinasikan jadwal 65 juru bahasa yang hadir selama Paris 2024 untuk menerjemahkan konferensi pers para atlet dan juga pertemuan badan eksekutif.

Tim penejermah ini tentu saja perlu istirahat dan memiliki kondisi fisik yang baik. Selain itu, disiapkan juga penerjemah  jarak jauh. Para penerjemah ini berlokasi di Porte Maillot dan akan terhubung dengan lokasi kompetisi. Penerjemah trilingual (bahasa Perancis, Spanyol, dan Inggris), adalah penerjemah yang paling banyak digunakan pada olimpiade ini.

Bagaimana mobilisasi para atlet ini?

Sepeda atau antar-jemput bus elektrik yang beroperasi 24 jam sehari tersedia untuk para atlet melakukan perjalanan ke tempat pertandingan, dan 80% jarak terjangkau kurang dari 30 menit.

Arena Olimpiade 2024 ini terdapat lebih dari 8 arena tetapi yang dianggap paling indah terdapat 8 arena yaitu sebagai berikut.

  1. Grand Palais, dengan kaca raksasa dan baja.
  2. Concorde, suasana antara Perancis dan Mesir.
  3. Trocadéro, balkon terindah di Paris.
  4. Jembatan Alexandre III, bagaikan permata warisan tahun 1900 yang memesona.
  5. Hôtel de Ville (Balai Kota), dengan tampilan burung Phoenix.
  6. Invalides, jejak Raja Matahari.
  7.  Menara Eiffel, bagaikan ratu kecantikan di Paris selama 135 tahun.
  8.  Istana Versailles, dengan bangunan bangsawannya.

Perimeter Keamanan  Selama Pertandingan JO 2024

Perimeter (Batasan) keamanan berbeda di sekitar lokasi digunakan untuk acara Olimpiade yang akan diadakan mulai 26 Juli hingga 11 Agustus 2024. Berikut adalah bagaimana perimeter ini disusun. Perimeter (Batasan) merupakan ekspresi kebutuhan akan keamanan ruang, untuk menjamin kelancaran perayaan dan kompetisi, dan untuk memungkinkan kegiatan sosial, ekonomi dan budaya terus berlanjut dalam kondisi yang paling memuaskan. Oleh karena itu, langkah-langkah keamanan telah dikembangkan dengan tujuan untuk melestarikan aktivitas-aktivitas ini, dan melindungi arus pejalan kaki dan pengendara sepeda, dengan mempertimbangkan kemungkinan risiko teroris.

Untuk setiap lokasi, empat jenis perimeter diberi kode warna (abu-abu, hitam, merah, dan biru) yang memiliki prinsip : semakin jauh kita pergi dari lokasi yang dibatasi warna, semakin bebas kita bergerak. Perimeter akan diaktifkan mulai dari pembangunan situs hingga pembongkarannya, dan setiap perimeter memiliki aturan khusus.

Perimeter Abu-Abu 

Perimeter abu-abu adalah perimeter pengorganisasian. Perimeter ini hanya diperuntukkan untuk atlet, penonton yang memiliki tiket, orang yang punya izin JO Paris 2024, serta warga lokal yang bertempat tinggal di situ yang terlewati oleh suatu pertandingan, yang terkadang  diperbolehkan untuk menonton. Tidak ada kendaraan yang boleh lewat kecuali kendaraan yang punya izin COJOP  (Comité d’organisation des Jeux olympiques et paralympiques) Paris 2024.

Perimeter Hitam  

Perimeter hitam adalah perimeter perlindungan. Di wilayah perimeter ini diadakan penggeledahan dan pemeriksaan tas dan koper semua orang yang memasuki perimeter abu-abu, dan yang memasuki zona kompetisi. Perimeter hitam juga disebut perimeter “SILT” ( Sécurité insécurité et lutte contre le terrorisme) (Keamanan, Ketidakamanan, dan Perang Melawan Terorisme).

Perimeter Merah

Perimeter merah adalah berupa garis keliling berwarna merah seperti peraturan lalu lintas kendaraan bermotor. Pengendara sepeda dan pejalan kaki diperbolehkan untuk beredar dalam batas ini. Hanya orang yang memiliki izin masuk di platform digital (yang akan diaktifkan pada musim semi 2024) yang diizinkan masuk dengan kendaraan bermotor. Perimeter merah mempunyai dua tujuan khusus: mengurangi risiko teroris dan menjamin keamanan arus masyarakat yang punya akses ke daerah ini  atau yang meninggalkan lokasi pertandingan ini serta penduduk setempat yang berseliweran.

Perimeter Biru

Garis keliling berwarna biru menunjukkan garis keliling pengalihan untuk lalu lintas kendaraan bermotor. Pemeriksaan dapat dilakukan di titik persimpangan oleh penegak hukum, dengan verifikasi keabsahan lintasan tersebut. Pejalan kaki dan pengendara sepeda tetap diperbolehkan beredar dalam batas tersebut, sedangkan hanya orang yang memiliki alasan yang sah (bukti bebas) untuk menuju ke alamat yang terletak di zona biru yang diperbolehkan masuk dengan kendaraan bermotor.

Pertandingan di jalan raya umum harus tunduk juga pada peraturan khusus dan hal ini tentu saja akan merupakan kendala yang walau sementara akan membuat orang-orang susah melakukan perjalanan terutama pada musim panas di mana biasanya orang-orang Paris berlibur ke luar kota.. Pertandingan tersebut adalah pertandingan maraton, para-maraton, maraton untuk semua, pertandingan sepeda, dan para-bersepeda.

Jauh-jauh hari, terutama masyarakat Perancis terutama yang tinggal di  Ile de France (Paris dan sekitarnya)  telah diberi informasi tentang jalan-jalan yang tak bisa dilalui atau perubahan jurusan angkutan umum (bus, dll).

Referensi :

-https://actu.fr/societe/jeux-olympiques-dans-les-yvelines-les-restrictions-sur-les-routes-commencent-lundi_61334498.html?#lyg52s6pkdf28e74n2

-https://www.iledefrance-mobilites.fr/actualites/locales/detail/modification-bus-grand-versailles-jeux-olympiques-2024

Kabar dari Perancis (39) Olimpiade, Sejarah dan Perkembangannya

16 Jul 2024 • Humas UPI

Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Seperti yang ditayangkan dalam artikel terdahulu tentang sejarah Olimpiade, Athèna Yunani adalah tempat di mana diselenggarakan Olimpiade Modern pertama pada tahun 1896 sebagai rasa hormat pada negara ini sebagai negara Olimpiade berasal.

Olympiade ke-2  di Paris pada tahun 1900  & 1924

Paris pernah dua kali menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas. Sayangnya, pada tahun 1900, selama enam bulan penyelenggaraan, Olimpiade  terfokus pada kegiatan pameran universal yang juga sedang diselenggarakan di Paris. Paris menjadi tuan rumah Olimpiade kedua yang mempersembahkan arena “kompetisi internasional latihan fisik dan olahraga” sebagai bagian dari Pameran/ Exposition Universal. Acara olahraga tersebut mendapat sedikit liputan di media karena secara bersamaan Paris juga tuan rumah Exposition Universal.

Pada Olimpiade tahun 1924 situasinya mulai berbeda. Hal ini menandai kebangkitan penonton olahraga dengan meningkatnya minat media yang terpusat pada Olimpiade yang sedang berlangsung, baik pers tertulis dan radio, dan juga ketenaran atlet dan munculnya produk yang berhubungan atau terkait dengan Olimpiade. Mulai tahun ini, mulai diperkenalkan vas (sebagai piala) dari Olimpiade Paris 1924. Vas-vas ini dirancang oleh pabrik Sèvres yang terkenal dan dihadiahkan oleh kota Paris kepada para pemenang.

Peristiwa  yang Mendunia

Sejak lama, pada awalnya, Olimpiade ini diperuntukkan bagi para atlet dari negara-negara Barat yang kuat. Olimpiade mulai terbuka untuk seluruh belahan dunia lain pada akhir tahun 1960an. Peristiwa Olimpiade ini juga berkembang dengan peningkatan jumlah atlet perempuan dan mengurangi pertandingan khusus laki-laki. Munculnya media, khususnya televisi, memberikan gempuran yang menyebar ke seluruh dunia tentang persaingan dan pertarungan para olahragawan.

Pada Olimpiade di Roma pada tahun 1960, pelari maraton asal Ethiopia Abebe Bikila meraih medali Olimpiade pertamanya dengan menempuh jarak maraton tanpa alas kaki. Empat tahun kemudian, di Tokyo, ia meraih gelar ganda pertama dalam sejarah maraton Olimpiade. Rekan senegaranya Mamo Wolde menggantikannya pada tahun 1968.

Pada Olimpiade di Beijing tahun 2008, Usain Boit dari Jamaika menjadi atlet pertama yang memecahkan tiga rekor dunia di Olimpiade yang sama. Penampilannya dalam lari 100m, 200m, dan 4X100m diikuti oleh lebih dari 2 miliar penonton.

Olimpiade sebagai Lahan Bisnis yang Berfungsi dengan Baik

Sejak Olimpiade Los Angeles tahun 1984, keuntungan komersial dari Olimpiade ini sangat besar. Acara yang pertama kali dibiayai berkat mitra swasta ini telah menghasilkan keuntungan sebesar 150 juta US dolar. Penjualan produk yang berkaitan dengan olimpiade seperti pakaian, gelas, maskot, dll, berkontribusi terhadap kesuksesan. Pemulihan hubungan dengan perusahaan multinasional (Coca-Cola, McDonald’s, Omega) dan pendapatan yang dihasilkan oleh hak siar televisi memperkuat keadaan keuangan  Comité International Olympique – CIO ( ing: The International Olympic Committee).

Pada tahun 1896, Kodak menjadi perusahaan pertama yang mensponsori Olimpiade. Sejak tahun 1928, Coca-Cola adalah mitra dari CIO sejak Olimpiade di Amsterdam. Pada tahun 1968, 230 juta jumlah kotak korek api berlogo Grenoble didistribusikan di Perancis dan luar negeri. Pada 1972 mulai penampilan maskot pertama di Olimpiade resmi Munich: Waldi si le teckel. Pada tahun 2016 terdapat 40.000 jumlah tempat penjualan resmi (di bawah lisensi resmi IOC) untuk memasarkan produk Olimpiade di Rio de Jainero, Brazil. Pada tahun 1988, 21 juta USD adalah jumlah yang dibayarkan oleh sembilan perusahaan untuk operasi komersial di Olimpiade Seoul.

Tahun 2032 adalah tahun berakhirnya kontrak yang menghubungkan merek Omega dengan Olimpiade dan Paralimpiade.

Trofi / Piala & Penghargaan

Pemberian piala dan penghargaan adalah cara untuk menghormati para atlet. Pada tahun 1896, pemenang pertama mendapat medali perak, lengkap dengan ranting zaitun (un rameau d’olivier)  dan piagam penghargaan. Pemenang  kedua memperoleh medali tembaga, cabang pohon salam (un rameau de lauriets) dan piagam penghargaan. Pada tahun 2016, medali emas, perak, atau perunggu masing-masing memiliki berat 500 gram dan terbuat dari 30% perak dan perunggu  yang di daur ulang.

Eugène-Henri Gravelotte (1876-1939), yang menang dalam pertandingan Olimpiade pertama di Athena pada tahun 1896, menjadi juara Olimpiade dari Perancis pertama pada usia dua puluh. Selain medali pemenang, ia juga menerima piala dari tangan Raja Yunani George I.

Sejak Olimpiade di London tahun 2012, setiap atlet Perancis peraih medali menerima bonus: 50.000 Euro untuk peraih medali emas, 20.000 Euro untuk peraih medali perak, dan 13.000 Euro untuk peraih medali perunggu.

Penampilan Pertandingan

Poster resmi Olimpiade adalah cara untuk mengumumkan Olimpiade tersebut. Poster ini dipilih oleh Panitia Penyelenggara Olimpiade (COJOP : Le comité d’organisation des Jeux olympiques et paralympiques), dan tahun ini desain yang dipilih adalah karya Ugo Gattoni yang  mengidentifikasikan tema dan pertandingan yang diselenggarakan dengan ide yang di luar nalar. Tema yang tampil di poster Ugo Gattoni ini (seperti yang ditulis di artikel sebelumnya pada tanggal 16 Maret 2024) adalah memperlihatkan kota Paris sebagai arena stadium tempat pertandingan ini. Pada poster itu terlihat sungai Seine dipakai sebagai lahan pertandingan renang di air alami.

Pada tahun 1912, pada penyelenggaraan Olimpiade di Stockholm, poster resmi pertama diproduksi. Jika saat ini, walaupun promosi Olimpiade dilakukan secara efektif melalui radio, televisi, dan internet, poster tetap dibuat karena merupakan bagian dari tradisi Olimpiade.

Poster resmi dipilih melalui kompetisi yang diselenggarakan oleh COJOP, yang mengeluarkan dengan pedoman ketat untuk pembuatannya. Kompetisi ini terbuka untuk semua orang (orang asing atau dari negara tuan rumah), dan tentu saja kompetisi ini menawarkan bagi para seniman untuk mendapatkan keuntungan dari distribusi penjualannya di seluruh dunia.

Poster Olimpiade pertama diselenggarakan di Asia, di Tokyo Jepang pada tahun 1964 merupakan suatu kebaruan grafis yang menghadirkan simbol negara dalam bentuknya yang paling jelas yaitu matahari terbit.

Pada tahun 1972 banyak pelukis terkenal pada masa itu yang merancang poster untuk Olimpiade ke XX  di Munich, di antaranya: Otmar Alt, Victor Vasarely, Pierre Soulages, David Hockney, Valerio Adami, Eduardo Chillida,Shusaku Arakawa.

Penghormatan Olimpiade juga menggunakan salut Joinville yang merupakan salah satu ritual upacara pembukaan. Hal ini dilakukan dengan tangan kanan dilipat dan kemudian direntangkan ke samping. Sejak Olimpiade Antwerpen tahun 1920, sikap hormat ini ditinggalkan pada tahun 1946 untuk menghindari kebingungan dengan penghormatan Nazi.

Komite Olimpiade Internasional

Le CIO (Comité International Olympique/ Komite Olimpiade Internasional) adalah badan utama gerakan Olimpiade yang sebagian besar bergantung pada Komite Negara penyelenggara Olimpiade, Federasi Internasional, atlet dan Komite Penyelenggara Olimpiade. Misinya adalah untuk berkontribusi dalam membangun dunia yang damai dan lebih baik, dengan mendidik generasi muda untuk berbagi olahraga tanpa diskriminasi, dalam semangat solidaritas, persahabatan dan fair play.

Pada tanggal 23 Juni 1894, di Palais de la Sorbonne (Paris), pada malam penutupan Kongres CIO yang dihadiri oleh dua ribu orang termasuk 79 perwakilan dari dua belas negara, Pierre de Coubertin yang saat itu berusia 33 tahun,  mengukuhkan proyek  untuk dibuka kembali Olimpiade modern dan membentuk komisi yang bertanggung jawab untuk mempelajari proyek tersebut. Peristiwa ini selanjutnya dianggap sebagai hari lahir Komite Olimpiade Internasional (Comité International Olympique).

Organisasi Olimpiade tahun 2024 (Comité d’organisation des Jeux olympiques et paralympiques) dibentuk pada tanggal 20 Januari 2018 dan sekretariatnya di 46, rue Proudhon 93300 Aubervilliers. Organisasi ini memiliki anggaran sebesar 4, 38 milliards Euros. Kursi Presiden diduduki oleh Tony Estanguet, dan direkturnya adalah Etienne Thobois.

Warisan Kuno Bangsa Yunani

Seperti sudah kami sampaikan sebelumnya, pada tahun 716 SM, Olimpiade pertama dimulai di Yunani dan diselenggarakan untuk menghormati Raja para Dewa Zeus. Untuk informasi tambahan,  pada tahun 1766, seorang  arkeolog Inggris Richard Chandler menemukan site Olympia, tempat pertama kali Olimpiade kuno dilaksanakan. Pertandingan olahraga ini dilaksanakan  untuk menghormati para dewa yang salah satu cabang olahraganya adalah lomba Panhellenic yang memiliki karakter keagamaan yang sangat penting. Setiap lomba dirayakan untuk menghormati dewa tertentu, seperti Dewa Zeus, raja para dewa, di Olympia dan Nemea, Dewa Apollo, dewa cahaya dan masuk akal di Delphi, Dewa Poseidon, dewa laut dan kuda di dataran Corinthe, tetapi dari semua pertandingan ini yang paling bergengsi adalah pertandingan Olympia.

Pentathlon (5 pertandingan)

Pertandingan Olimpiade memunculkan kualitas atlet ideal, yaitu kekuatan, kelincahan, kecepatan dan daya tahan. Adapaun Pentathlon yang dimaksud mencakup 5 olahraga: lari cepat, lempar cakram, lempar lembing, lompat jauh, dan gulat.

Pierre de Coubertin

Seperti yang telah dikemukakan di artikel sebelumnya, Pendiri Olimpiade modern adalah orang Perancis yang bernama Baron Pierre de Coubertin, seorang pemikir sosial, penulis esai dan pemimpin olahraga. Pierre de Coubertin (1863-1937) dikenal sebagai penggagas sosok Olimpiade Modern. Pesta Olahraga ini yang  pertama diselenggarakan pada tahun 1896 di Athena. Coubertin terinspirasi oleh praktik olahraga Yunani kuno (balapan atletik, permainan kekuatan dan keterampilan, duel) serta terinspirasi oleh praktik olahraga di Inggris (krikel. dayung, rugbi).

Pada pidato yang disampaikan oleh Pierre de Coubertin pada malam tanggal 23 Juni 1894 di kongres Atletik di Sorbonne, dengan gagasan melahirkan kembali Olimpiade. Pierre de Coubertin pada malam tanggal 23 Juni 1894 di kongres Atletik di Sorbonne, dengan gagasan melahirkan kembali Olimpiade : Setiap empat tahun sekali, Olimpiade yang dipulihkan harus memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengalami pertemuan yang menyenangkan  dan penuh persaudaraan.

Obor Olimpiade

Setelah apinya menyala, api tersebut diberikan kepada pembawa obor pertama yang meneruskannya kepada orang lain hingga sampai ke kota yang menyelenggarakan Olimpiade. Perjalanannya berakhir ketika pembawa terakhir menyalakan kuali pada upacara pembukaan yang berlangsung di stadion Olimpiade untuk menandai dimulainya Olimpiade secara resmi.

Terkait dengan keinginan untuk melestarikan warisan Yunani tetapi sambil memodernisasi Olimpiade melalui kegiatan spektakuler, perlu diketahui bahwa tradisi menyalakan obor terdapat di Olimpiade kuno di Athena, namun  tidak ada perlombaan estafet yang pernah merupakan bagian dari Olimpiade kuno. Upacara obor dan estafet dimulai pada Olimpiade Berlin tahun 1936. Tampilan obor (bahan, bentuk, desain) mencerminkan cara setiap negara yang menyelenggarakan Olimpiade ingin membedakan dirinya dan memberikan contoh kekhususan budayanya. Sementara seekor merpati perdamaian muncul di obor Mexico 68. Obor Sydney 2000 mengambil lekuk Opera House yang spesial di kota itu. Obor Beijing tahun 2008 mengenang pengetahuan leluhur tentang perkamen (parchemin/ parchment/ tulisan di atas kulit binatang). Saat ini obor Olimpiade 2024 di Paris didesain oleh Mathieu Lehanneur.

Obor pertama Olimpiade Paris 2024 telah dinyalakan pada tanggal 16 April 2024. Dari Peloponnese, yang diserahkan oleh penari yang memerankan Dewi Yunani Hera, diserahkan pada Stefanus Douskos, pemenang medali emas mendayung di Tokyo tahun 2020. Api Olimpiade lalu diserahkan pada Laure Manaudou yang bergabung dengan Athena untuk menaiki kapal laut dan menyeberangi Laut Mediterania. Pada tanggal 8 Mei 2024 di Marseille api ini diterima oleh Florent Manaudou.

Florent Manaudou, juara Olimpiade gaya bebas 50m dari London pada tahun 2012, adalah pembawa api Olimpiade pertama di Perancis. Dia adalah orang pertama yang turun dari kapal laut, dengan obor Olimpiade di tangan, di Marseille. Keluarga Manaudou adalah keluarga atlet. Adik Florent, Laure Manaudou, adalah juara renang Olimpiade di Athena 2004, sebelum kakaknya menjadi juara Olimpiade di London pada tahun 2012. Dengan demikian, sejarah terulang kembali pada hari Rabu tanggal 8 Mei, karena setelah Laure Manaudou menjadi pembawa obor Perancis pertama di Yunani dalam estafet obor Olimpiade, lalu Florent Manaudou-lah yang menjadi pembawa obor pertama di wilayah Perancis.

Api Olimpiade telah memulai perjalanannya di Perancis. 11.000 pembawa obor akan bergantian dalam estafet hingga upacara pembukaan Olimpiade Paris  pada tanggal 26 Juli 2024.

Ritual dan Simbol

Didirikan lebih dari satu abad yang lalu, Olimpiade modern secara bertahap menjadi penting dan diikuti di seluruh dunia. Kesuksesan pertandingan ini terletak pada prestasi para atlet dan juga pertunjukan yang ditampilkan oleh negara penyelenggara. Struktur olahraga di Olimpiade mengikuti proses upacara yang tepat, diiringi oleh ritual, simbol, dan tradisi dengan Penuh kecermatan.

 Bendera Olimpiade dirancang oleh Pierre de Coubertin, dan  dikibarkan pertama kali pada upacara pembukaan Olimpiade Antwerpen pada tahun 1920. Gambar di bendera ini berbentuk cincin yang melambangkan lima belahan dunia.

Ritual yang selalu dilakukan oleh setiap delegasi negara-negara adalah berbaris berseragam di belakang bendera nasional masing-masing pada upacara pembukaan Olimpiade, dan ritual ini dimulai pada tahun 1908 di London. Pada tahun 1928, aturan yang berlaku diresmikan: delegasi negara Yunani memimpin di depan barisan di parade ini sedangkan negara tuan rumah menutup parade di belakang.

Lahirnya Paralimpiade

Pada tahun 1960, atas gagasan dari Ludwig Guttmann,  seorang dokter Inggris asal Jerman, yang disampaikan pada tahun 1948 setelah  melihat banyaknya tentara korban perang PD-II, Paralimpiade pertama diselenggarakan di Roma (yang menjadi Paralimpiade pada tahun 1988). 

Penampilan para atlet cacat yang luar biasa, memungkinkan kompetisi mendapat tempat dalam kalender olahraga di antara acara-acara  pertandingan besar olahraga.  Kesuksesan Paralimpiade di London pada tahun 2012 ditandai dengan banyaknya pengunjung selama acara dan liputan media yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal ini menandai titik balik dalam sejarah Olimpiade. Ludwig Guttmann mempromosikan olahraga ini untuk membantu orang cacat berintegrasi  dalam kehidupan sosial dan profesional. Pada awalnya, di tahun 1960, Paralimpiade hanya terbuka untuk pengguna kursi roda, dan diikuti oleh 23 negara, 400 peserta, dengan 8 cabang olahraga.

Beatrice Hess, perenang asal Perancis pada Paralimpiade di Athena tahun 2004 berhasil meraih lima medali, termasuk tiga emas. Perenang disabilitas perempuan yang  berasal dari Alsace  menjadi salah satu figur yang paling menonjol dalam dunia renang.

Olimpiade adalah Cerminan Masyarakat

Selain karakter sportifnya, setiap Olimpiade melambangkan sebuah era. Kompetisi ini dijadikan wadah penyampaian pesan yang bersifat sosial dan politik. Olimpiade ini juga dijadikan kesempatan bagi CIO  untuk mempromosikan kesetaraan dan keseimbangan dalam Olimpiade. 

 Pada Olimpiade di Rio tahun 2016, dari 11.444 atlet yang hadir, 5.176 di antaranya adalah perempuan (lebih dari 45%), dan ini merupakan kejadian pertama dalam sejarah Olimpiade.

Olimpiade di Paris Tahun  2024

Pada bulan September 2017, di Lima (Peru), Paris ditunjuk sebagai tempat menyelenggarakan Olimpiade dan Paralimpiade 2024. Setelah 100 tahun menunggu, Olimpiade akhirnya kembali digelar di ibu kota Perancis. Presiden COJOP, Tony Estanguet menyatakan bahwa Olimpiade Paris 2024 adalah upaya menyatukan Paris dan sekitarnya, menyatukan Paris dan Marseille, menyatukan seluruh Perancis dalam proyek bersama, ambisi kolektif.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang organisasi penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade di Paris, serta  keputusan-keputusan yang akan ditetapkan agar Olimpiade dan paralimpiade ini dapat berlangsung dengan baik dan aman, maka artikel selanjutnya akan membahas tentang Olympiade  2024 di kota Paris.

Sumber:

https://olympics.com/cio

Musée National du sport

CALOHEA Regional Subject-Specific Reference Frameworks: Tools for Promoting Recognition and Internationalization

16 Jul 2024 • Humas UPI

With other universities in Indonesia, Thailand, Malaysia, the Philippines, and Vietnam, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) received an Erasmus+ grant for Capacity Building in Higher Education for 2020-2024, focusing on teacher education and civil engineering. This project aims to contribute to the internationalization of higher education institutions in Southeast Asia by developing a series of interrelated measures in three fundamental recognition mechanisms. The team members for teacher education include Prof. Dinn Wahyudin (Faculty of Educational Sciences), Prof. Ahmad Bukhori Muslim and Dr. Yanty Wirza (Faculty of Languages and Literature Education), Prof. Vanessa Gaffar and Dr. Heny Mulyani (Faculty of Economics and Business Education). Meanwhile, the civil engineering team members are Dr. Juang Akbardin, Dr. Nanang Dalil Herman, Dr. Rakhmat Yusuf, Dr. Dadang M. Ma’soem, Mrs. Mardiyani, Mrs. Istiqomah, Mrs. Siti Nur Asyiah and Mr. Odih Supratman (Faculty of Vocational and Technology Education). 

CALOHEA First General Meeting in Bangkok, Thailand in 2022

The CALOHEA Erasmus+ project has developed Regional Subject-Specific Reference Frameworks to facilitate the recognition of degrees and study periods within the ASEAN region and between ASEAN and other world regions.

A Qualifications Framework is a structure that classifies different qualifications within a geographical area and establishes broad equivalence of qualifications (e.g., undergraduate levels) across the region. This framework describes the knowledge, skills, attitudes, and competences a learner will have developed upon completing a particular level of studies.

Regional Qualifications Reference Frameworks aim to establish broad equivalence among qualifications offered in multiple countries. These frameworks are intended to be used as reference documents to facilitate recognition without overruling national regulations or national qualifications frameworks. Examples include the ASEAN Qualifications Reference Framework (AQRF) and the European Qualifications Framework (EQF).

CALOHEA 8th General Meeting in Bangkok, Thailand

The CALOHEA Subject-Specific Qualifications Reference Frameworks facilitate recognition by:

  1. Identifying key dimensions each program in a subject area must address.
  2. Establishing equivalence between qualifications offered in different countries, regardless of local terminology.
  3. Expressing the specialization of particular programs regarding the sub-dimensions addressed.
  4. Comparing the level of achievement for each sub-dimension, in terms of knowledge, skills, or responsibilities.
  5. Comparing shorter study periods where only specific types of knowledge, skills, or responsibilities are developed.

The CALOHEA Regional Subject-Specific Qualifications Reference Frameworks detail the expected knowledge, skills, attitudes, and competencies of graduates from ARQF Level 6 degrees in Civil Engineering, Medicine, and Teacher Education. These frameworks allow for recognition across all participating countries.

CALOHEA Final General Meeting in Porto, Portugal in 2024

The CALOHEA Erasmus+ project is coordinated by the Tuning Academy of the University of Groningen (the Netherlands) and the ASEAN University Network and is co-funded by the European Commission.

For more information, visit CALOHEA Reference Frameworks at https://calohea.org/

Pencarian