English
Indonesia

Eksplorasi Ragam Nusantara melalui Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM)

17 Jun 2024 • Humas UPI

Bandung, UPI

Acara Pelepasan Mahasiswa Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 4 Inbound UPI telah dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Juni 2024, di Gedung Achmad Sanusi UPI, Kota Bandung. UPI menerima 474 mahasiswa yang berasal dari 88 perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Para mahasiswa tersebar di berbagai fakultas dengan rincian sebagai berikut:

Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)169 Mahasiswa
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA)99 Mahasiswa
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS)83 Mahasiswa
Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS)50 Mahasiswa
Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK)13 Mahasiswa
Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK)10 Mahasiswa
Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB)47 Mahasiswa
Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD)3 Mahasiswa

Program Pertukarana Mahasiswa Merdeka (PMM) merupakan program oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia bagi mahasiswa untuk eksplorasi budaya dan belajar di perguruan tinggi lain dalam negeri selama satu semester. Sesuai semboyan PMM “Bertukar sementara, bermakna selamanya,” terdapat kisah yang terkenang oleh mahasiswa PMM 4 selama di UPI, yakni kegiatan perkuliahan, kontribusi sosial di Pangandaran, serta berteman dengan mahasiswa dari berbagai daerah.

Aldi Pranoto, mahasiswa PMM 4 dari Universitas Lampung selaku Kepala Suku mengungkapkan bahwa melalui PMM ia dapat bertukar pikiran dengan para mahasiswa dan belajar tentang budaya masyarakat setempat, “Saya dapat belajar tentang budaya dan tradisi baru, meningkatkan toleransi, pemahaman, dan penghargaan terhadap perbedaan budaya.”

Dijelaskannya, memilih UPI karena sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di Indonesia. “Cita-cita saya juga ingin melanjutkan pendidikan setelah sarjana di UPI, maka dari itu saya sangat tertarik untuk menjadikan UPI sebagai kampus tujuan saat mendaftar PMM.”

Perbedaan budaya menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. “Perbedaan budaya menjadi salah satu tantangan selama menjalankan program ini, akan tetapi melalui program ini juga saya dapat belajar bagaimana cara mengatasi perbedaan tersebut,” ungkap Aldi.

Setelah satu semester, mahasiswa membuat buku terkait perjalanan mereka mengikuti PMM 4. Buku pertama dari Kelompok Angklung dan buku kedua dari Kelompok Merlawu, para mahasiswa menuliskan kisah pertemanan, perkuliahan, mengenal budaya setempat, serta suka duka selama di UPI.

(Safira Arum)

Generasi Ismail Abad 21

15 Jun 2024 • Humas UPI

Oleh Dinn Wahyudin

Idul Adha atau Idul Kurban merupakan pesan langit yang mendarat di Bumi. Pesan itu difirmankan Allah SWT belasan abad lalu kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS. Peristiwa tersebut merupakan pesan simbolik agama untuk mengajak umat Islam terus meneladani kesalehan pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketegaran jiwa Nabi Ismail. Idul Adha adalah satu dari dua hari Raya yang sangat Istimewa bagi umat Islam. Pertama, hari raya Idul Fitri yang dilaksanakan kaum muslimin pada setiap tanggal 1 Syawal tahun Hijriayah. Kedua, hari raya Idul Adha yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Idul Adha sering juga disebut Idul kurban dan disusul dengan hari tasyrik yaitu tanggal 10,11, dan 12 Dzulhijjah. Pada dua hari raya dan tiga hari Tasyrik ini, umat muslim tidak diperbolehkan berpuasa. Pada saat hari Idul kurban dan tiga hari Tasyrik, daging hewan kurban mulai dibagikan dan umat muslim ataupun non muslim dipersilahkan untuk menikmatinya.

“Generasi Ismail”

Kisah Nabi Ismail sangat istimewa. Nabiullah Ismail diabadikan Allah SWT dalam Al Quran sebanyak 12 ayat. Sosok Nabi Ismail adalah buah dari doa Nabi Ibrahim yang meminta anak saleh kepada Allah Ta’ala. Doa beliau diabadikan dalam Al-Qur’an: “Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang saleh.” (QS. Al-Qashash: 110). Pesan simbolik agama atas pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan kepatuhan anaknya yaitu Nabi Ismail AS menjadikan Idul Kurban dan hari Tasrik merupakan momen istimewa bagi umat Muslim. Bagi umat Islam khususnya “Generasi muda Ismail” Abad 21 saat ini, minimal ada empat pelajaran yang bisa kita petik atas peristiwa Idul Kurban.

Pertama, refleksi ketaatan hamba kepada Sang Khalik. Firman Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS merupakan uji ketaatan dan keihklasan hamba kepada Sang Khalik. Bagi generasi muda Ismail Abad 21, semangat ketakwaan kepada Allah SWT dan kesetiaan kepada orangtua, seperti ditunjukkan Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim patut terus ditingkatkan. Dalam konteks kekinian, generasi muda dituntut menjadi pribadi yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa. Spirit Idul kurban bagi generasi muda yang sering disebut generasi milenial dan digital native, adalah sisi lain untuk lebih meningkatkan kompetensi spiritual (spiritual comperencies) kepada Sang Khalik.

Kedua, ekspresi peningkatan empati dan pengendalian diri. Pengelolaan diri dan peduli terhadap sesama adalah ciri utama seorang muslim. Ibadah kurban adalah pengejawantahan diri untuk berbuat kebaikan, memuliakan sesama, menghargai orang lain, dan berempati terhadap lingkungan sekitar. Ibadah penyembelihan kurban sebagai bentuk penghambaan dan ketakwaan kepada Sang Kholik, tak hanya berdimensi ibadah personal, namun juga memiliki makna ibadah sosial. Yaitu melalui distribusi daging hewan kurban kepada segenap kaum muslimin dan juga masyarakat non muslim untuk bersama sama mengkonsumsi dan menikmati masakan protein hewani yang berasal dari daging hewan kurban.

Ketiga, Idul kurban adalah ibadah sosial. Ritual kurban merefleksikan seorang hamba yang mampu menyiapkan hewan kurban. Hewan kurban tersebut disembelih dan dibagikan kepada yang berhak. Di hari Idul Adha dan hari Tasyrik, saatnya umat Islam bersyukur, bersukaria bersama dengan mengkonsumsi makanan, minuman, nutrisi hewani dari hewan kurban secara bersama. Spirit tolong menolong, saling menyantuni termasuk berbagi daging kurban merupakan ibadah sosial yang paling nyata. Manfaat kurban dirasakan banyak pihak, mulai dari para peternak, pedagang hewan, distributor hewan, jasa angkutan, jagal penyembelih, sampai pada lapisan masyarakat.

Keempat, ibadah kurban merupakan refleksi kesetiakawanan global. Perayaan Idul kurban dan hari Tasyrik, dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin di setiap negara di berbagai belahan dunia. Peduli sesama merupakan penciri Idul Adha, merupakan fondasi tumbuhnya kewargaan global (global citizenship) yang dilandasi oleh kepedulian sesama, saling hormat menghormati, dalam merawat warga dunia yang damai, sejahtera lahir batin.

Baznas (2023) melaporkan bahwa nilai potensi ekonomi kurban tahun 2022 mencapai 31,6 triliun rupiah atau meningkat 74% dari potensi tahun 2021. Potensi ekonomi tersebut berasal dari 2,61 juta shohibul kurban dan sekitar 2,1 juta hewan kurban yang disembelih yang terdiri atas 1,6 juta ekor domba/kambing dan 521 ribu ekor sapi. Pada tahun ini diproyeksikan terdapat 166 ribu ton daging kurban terdiri dari 124,5 ribu ton daging domba/kambing dan 41,9 ribu ton daging sapi yang dapat dibagikan kepada penerima manfaat.

Itulah hikmah Idul Adha sebagai bentuk penghambaan kepada Sang Khalik. Spirit Idul Kurban perlu terus dikumandangkan, agar umat Islam terus meneladani kesalehan pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketegaran jiwa Nabi Ismail.

Pengembangan Kapasitas Masyarakat melalui Kolaborasi Merdeka Belajar: Program Pengabdian kepada Masyarakat oleh FIP UPI Tahun 2024

15 Jun 2024 • Humas UPI

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia melaksanakan kegiatan Pembukaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI Pada 12 Juni 2024. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Kantor Cabang Dinas V, dan PGRI Kabupaten Sukabumi. Ini merupakan kali ke tiga PkM bersama semua Prodi di FIP. FIP telah melaksanakan kegiatan PkM bersama semua Pordi yang pertama pada tahun 2022 di Kab. Pangandaran dan yang kedua pada tahun 2023 di Kab. Kuningan. 

Kegiatan pembukaan ini dimulai pada pukul 13.00 WIB melalui teleconference Zoom Meeting, dihadiri dan dibuka secara langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si., beserta pimpinan. Pada sesi ini disampaikan mengenai pelaksanaan PkM FIP tahun 2024 yang akan dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi dengan metode bauran (daring dan luring) yang dimulai dengan pembukaan secara daring pada tanggal 12 Juni 2024, pelathan daring pada Mingu ke 3 & Minggu ke 4 Juni serta kegiatan puncak secara luring di Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi pada tanggal 2-3 Juli 2024. Adapun untuk pelaksanaan kegiatan pelatihan untuk setiap kelompok disepakati oleh kelompok PkM dan kelompok sasaran masing-masing.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Asep Durachman, S.Pd., M.M. sebagai Sekretaris Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sukabumi. Pada sambutannya disampaikan bahwa kegiatan PkM ini diharapkan dapat berdampak terhadap peningkatan Sumber Daya Manusia khususnya para Guru dalam menjelaskan tugas, pokok, dan fungsi selaku tenaga kependidikan. Hal tersebut menjadi sangat penting karena selaras dengan fungsi jati diri PGRI sebagai organisasi PGRI. Selain itu disampaikan juga agar semua peserta khususnya para guru dapat mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh untuk pengembangan kompetensi. 

Pembukaan kegiatan PkM FIP 2024 ini juga dihadiri oleh Koordinator Pengawas Kantor Cabang Dinas (KCD) V Provinsi Jawa Barat, I. Setiawan, M.A. Pada kesempatan ini, beliau menyampaikan bahwa tema “Pengembangan Kapasitas Masyarakat melalui Kolaborasi Merdeka Belajar” menjadi hal yang menarik, diharapkan hasil kegiatan ini dapat mengakselerasi implementasi merdeka belajar di sekolah serta meningkatkan kualitas layanan  pendidikan kepada masyarakat. 

Pembukaan kegiatan PkM FIP 2024 ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan yang akan berlangsung sampai dengan tanggal 2-3 Juli 2024 nanti secara luring sebelum para peserta mengikuti kegiatan pelatihan secara daring dan luring. Hal tersebut disampaikan oleh Angga Hadiapurwa, M.I.Kom. selaku Ketua Pelaksana PkM FIP tahun 2024. Pada kesempatan tersebut dijelaskan mengenai teknis kegiatan dan pola pelaksanaan PkM FIP menggunakan metode bauran dengan 32 jam pelatihan. Selain itu disampaikan pula mengenai pembagian kelompok sasaran dan lokasi pelaksanaan secara luring ketika puncak kegiatan PkM FIP tahun 2024. Para ketua kelompok PkM FIP yang hadir pada sesi ini juga diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan kepada setiap penanggung jawab kelompok sasaran dan lokasi mengenai tenis pelaksanaan kegiatan secara lebih rinci.

Setelah informasi yang diberikan oleh setiap ketua kelompok dan penanggung jawab kelompok sasaran dirasa cukup, koordinasi dilanjutkan di kelompok masing-masing untuk persiapan mengikuti kegiatan secara daring di agenda selanjutnya. Semoga dengan terlaksananya kegiatan PkM FIP tahun 2024 ini dapat memberikan solusi konkret untuk peningkatan kapasitas masyarakat di Kabupaten Sukabumi, serta menjadi wadah bagi FIP untuk mengimplementasikan keilmuannya langsung dengan terjun di masyarakat. (Kontributor Humas UPI : Hafsah Nugraha dan Diemas Arya Komara; Editor: Angga Hadiapurwa)

Kabar dari Perancis (37) : Pendidikan Kaum Perempuan di Perancis (2)

15 Jun 2024 • Humas UPI

Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

Dalam tulisan kami sebelumnya dibahas tentang delapan tahun penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Perancis. Untuk mengetahui lebih jauh tempat perempuan dalam pendidikan di dunia, tulisan ini akan membahas laporan yang disampaikan oleh UNESCO.

Kesetaraan gender adalah prioritas UNESCO. Di  seluruh dunia terdapat 122 juta anak perempuan dan 128 juta anak laki-laki yang putus sekolah. Perempuan mewakili hampir 2/3 orang dewasa yang tidak bisa membaca.

UNESCO menampilkan kesetaraan gender dalam semua sistem pendidikannya, baik dalam penerimaan, isi, konteks dan praktik pengajaran dan cara belajar serta hasil belajarnya. Peluang untuk hidup dan bekerja juga disoroti. 

Strategi UNESCO untuk kesetaraan gender disalurkan melalui Pendidikan (2019-2025) yang bertujuan untuk melakukan transformasi sistemik yaitu manfaat yang sama dirasakan oleh semua siswa (perempuan dan lelaki) dalam tiga bidang utama: pengumpulan data yang lebih baik untuk menjadi dasar tindakan atau keputusan yang harus diambil, menetapkan kerangka hukum dan kebijakan yang lebih baik untuk memajukan penerimaan hak-hak , dan menerapkan kebijakan yang lebih baik dalam praktik belajar  dan mengajar untuk membudaya.

Tindakan UNESCO dalam mendukung pendidikan dan kesetaraan gender menghadapi situasi pendidikan dan kepincangan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki di dunia.

Meskipun ada kemajuan yang dicapai, Institut Statistik UNESCO melaporkan bahwa hampir 250 juta anak-anak dan remaja putus sekolah, atau 122 juta anak perempuan dan 128 juta anak laki-laki. Selain itu, perempuan masih mewakili hampir dua pertiga dari 763 juta orang dewasa yang tidak memiliki keterampilan dasar membaca. Kemiskinan, isolasi geografis, status minoritas, kecacatan, pernikahan dini dan kehamilan, kekerasan berbasis gender dan sikap tradisional mengenai status dan peran perempuan dan laki-laki adalah merupakan beberapa hambatan yang menghalangi anak-anak dan remaja untuk mendapatkan hak mereka dalam berpartisipasi dalam pembangunan, menyelesaikan dan mendapatkan manfaat dari pendidikan.

Kesetaraan gender menjadi prioritas 

Kesetaraan gender adalah prioritas  UNESCO. Mandat utamanya adalah mendorong Agenda Pendidikan 2030, yang menyadari bahwa kesetaraan gender memerlukan pendekatan yang “menjamin bahwa  perempuan dan laki-laki, (anak dan dewasa) tidak hanya memiliki akses terhadap siklus pendidikan dan menyelesaikannya, namun juga menjadi mandiri dalam pendidikan dan melalui pendidikan”. 

Menurut  UNESCO kekuatan transformatif pendidikan adalah mewujudkan dunia yang lebih adil, sejahtera, dan merengkuh  semua orang tak terkecuali. 

Pendidikan yang transformatif dalam kesetaraan gender membuka potensi pelajar dalam segala keberagamannya, membantu mengakhiri norma-norma ”aneh”(misalnya istilah tempat perempuan adalah di dapur, dll), sikap dan praktik gender yang berbahaya (lelaki yang merasa berhak memukul perempuan, misalnya, ) serta mentransformasi institusi-institusi untuk membuat masyarakat yang adil, setara, dan merengkuh semua orang (inclusives). 

Pendidikan kaum perempuan ( anak dan dewasa)  memberi kekuatan pada perempuan yang berkat pendidikan bisa  menyelamatkan nyawa karena pendidikan membuat pikiran jalan dan merangsang efek berganda dalam mengurangi kemiskinan, angka kematian ibu dan anak, serta menghindari pernikahan di bawah umur atau pernikahan dini.

Tindakan UNESCO memajukan kesetaraan jenis kelamin melalui pendidikan

Terlalu banyak perempuan (anak dan juga dewasa) yang masih terkekang oleh norma sosial dan praktik sekolah tradisional yang berdampak menjegal hak dan peluang kaum perempuan pada pendidikan. Padahal diketahui bahwa pendidikan yang merata untuk semua orang (laki dan Perempuan) merupakan investasi yang sangat kuat di masa depan kita bersama.

UNESCO mempromosikan kesetaraan gender di seluruh sistem pendidikan, termasuk partisipasi dalam penerimaan masuk, juga dalam praktik pendidikan itu sendiri (isi, konteks dan praktik belajar mengajar) dan melalui pendidikan (hasil belajar, peluang setelah lulus untuk hidup dan bekerja). 

Tindakan ini dipandu oleh Strategi UNESCO untuk Kesetaraan Gender dalam dan melalui Pendidikan (2019-2025) dan Rencana Aksi Kesetaraan Gender ((https://unesdoc.unesco.org/). 

Fokus UNESCO adalah transformasi pendidikan  ini menjadi sistemik (tidak lagi dianggap keganjalan). Pendidikan memberikan manfaat yang sama bagi semua peserta didik, dalam tiga bidang prioritas: pengumpulan data yang lebih baik untuk dijadikan masukan dalam tindakan, penerapan kerangka hukum dan kebijakan yang lebih baik untuk memajukan hak-hak peserta didik, dan penerapan praktik mengajar dan belajar yang lebih baik dan mandiri  (l’autonomisation). 

Fokus khusus UNESCO dalam bidang  pendidikan perempuan (anak  dan dewasa) melalui inisiatif pendidikan mereka adalah masa depan kita (son éducation, notre avenir). 

UNESCO merancang program  untuk mempercepat tindakan dan leadership dalam bidang ini. UNESCO mendukung negara-negara melalui platform seperti Platform Global untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan anak Perempuan dan Perempuan( Plateforme mondiale pour l’égalité des genres et l’autonomisation des filles et des femmes), serta kemitraan seperti Kemitraan Strategis Pendidikan Anak Perempuan UNESCO-CJ.

Selain itu, UNESCO juga menerbitkan laporan pemantauan mendunia mengenai kesetaraan gender dalam pendidikan dan melacak perkembangan seluruh indikator pendidikan di berbagai negara dan kelompok masyarakat melalui Database on Global Inequalities in Education (WIDE).

Mengapa pendidikan STEM penting bagi anak perempuan dan perempuan?

UNESCO berfokus pada pendidikan sains, teknologi, enginering, dan matematika (STEM: Science, Technology, Engineering & Mathematics) untuk mengatasi rendahnya jumlah anak perempuan dan perempuan yang bergulat di bidang ini, baik di sekolah maupun di dunia kerja. 

Terlalu banyak kaum perempuan (anak dan dewasa) yang terkekang oleh prasangka, norma-norma sosial dan tuntutan sosial yang mempengaruhi pendidikan yang mereka terima dan mata pelajaran yang mereka pelajari. 

Kesenjangan yang paling besar terdapat dalam bidang teknik dan TIC /Information and communication technologiesICT , perempuan muda hanya mencakup 25% pelajar di 2/3 negara yang mengelola  data. 

Menurut UNESCO, Cracking the Code: STEM ( Education for Girls and Women), merupakan laporan pertama yang menyoroti hambatan yang mencegah keterlibatan anak perempuan dan perempuan menekuni disiplin ilmu ini, dan memberikan solusi praktis untuk mengatasi hambatan tersebut. 

UNESCO mendukung negara-negara untuk menyelenggarakan mata pelajaran STEM yang transformatif dan menjawab untuk kepincangan gender mengenai jumlah peminat untuk memicu minat dan partisipasi anak perempuan dan perempuan di bidang-bidang yang dianggap penting bagi masa depan kita bersama.

Mengapa STEM diperlukan

Bukan hanya pendidikan menengah yang menawarkan orientasi STEM : Sains, Teknologi, Engineering dan Matematika  populer di universitas, perguruan tinggi dan sekolah malam hari (kursus atau sekolah yang diperuntukkan orang-orang yang bekerja pada siang hari, dan bisa belajar pada malam hari). Sarjana muda dan master sekarang dapat dilengkapi dengan tambahan ilmu di bidang matematika, ilmu eksakta, teknologi atau TIC.

Tujuan STEM adalah untuk memungkinkan lulusan (segala jurusan) mendapatkan pekerjaan ilmiah atau teknis. Dengan pelatihan tradisional, lebih sedikit pencari kerja yang mempunyai kesempatan karena pengetahuan ilmiah mereka terlalu rendah. Misalnya, seorang ahli sejarah, yang bekerja di siang hari, mengikuti kuliah malam untuk mendapatkan gelar insinyur. Hal ini mungkin dilakukan.

Tindakan UNESCO untuk memulihkan kesetaraan Setelah penutupan sekolah akibat COVID-19.

Penutupan sekolah secara nasional telah berdampak pada lebih dari 1,5 miliar pelajar, mulai dari pendidikan pra-sekolah dasar hingga pendidikan menengah. Sebuah program utama mengenai kesetaraan gender, di bawah naungan badan Koalisi Pendidikan Dunia (Coalition mondiale pour l’éducation) yang membantu negara-negara memulihkan kesetaraan dan mempertahankan kemajuan yang telah dicapai selama 25 tahun terakhir di bidang pendidikan dan kesetaraan gender.

UNESCO dan pengurus dari program utama ini berada mengibarkan kampanye bertajuk “Anak Perempuan di Garis Depan” (https://www.unesco.org/en/covid-19/education-response/keeping-girls-picture) yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberlangsungan pendidikan bagi anak perempuan dalam konteks COVID-19 dan kembalinya anak perempuan ke sekolah dengan aman.

Laporan yang terkumpul dari seluruh dunia ” When schools shut/ Saat sekolah ditutup” (https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000379270) memberikan informasi penting tentang mengakui adanya kepincangan jenis kelamin berhubungan dengan penutupan sekolah terkait COVID, dan ”Membangun kembali kesetaraan/ Reconstruire l’égalité: le guide de rescolarisation des filles”https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000379270): panduan untuk mengembalikan anak perempuan ke sekolah membantu pembuat kebijakan dan praktisi di Kementerian Pendidikan dan mitra mereka untuk memastikan kesinambungan pendidikan bagi anak perempuan dan menetapkan rencana yang berdasarkan bukti agar mereka dapat kembali ke sekolah dengan aman.

Meskipun UNESCO banyak mencari tahu tentang keadaan pendidikan  kaum perempuan di suatu negara, dan melakukan kebijakan atas dasar informasi yang didapat.  Bagaimana kita bisa mengukur keadaan dunia dalam kaitannya dengan ketidaksetaraan gender dan pendidikan anak perempuan, di Afghanistan atau di Perancis, di Meksiko, atau di Liberia? Apakah hal ini hanya mungkin terjadi mengingat adanya perbedaan antar wilayah, negara, dan masyarakat?

Jika kita mencermati kemajuan dari laporan UNESCO dan badan-badan asosiasi lainnya,  kita melihat gambaran dunia yang sebenarnya. Anak-anak perempuan, remaja atau perempuan ini dilarang bersekolah di negara-negara tertentu di wilayah  Asia tenggara, dan juga mereka  yang dipaksa bekerja di ladang yang bukan milik mereka  di Afrika, pekerja tekstil di Bangladesh, pengurangan jumlah pembantu rumah tangga di negara-negara tersebut. 

Di Indonesia, kaum perempuan banyak bekerja di negara-negara arab seperti Saudi, Dubai, bahkan di Singapura dan Malaysia. Kehidupan mereka terkadang  tidak jauh dari korban perbudakan modern.  Perempuan-perempuan dari negara berkembang atau miskin, dijadikan budak  di Asia Tenggara atau Timur Tengah, pelacuran di Eropa atau Amerika, dll.. Apakah orang-orang ini mengatakan bahwa mereka memilih profesi mereka? Tahukah mereka apa itu feminisme? Apakah mereka membayangkan bahwa mereka bisa menjadi orang lain selain anak-istri-ibu?

Terkadang para perempuan tidak cukup puas berperan hanya sebagai anak, istri dan ibu, bahkan terkadang juga  perempuan Indonesia terpaksa harus bekerja keras menjadi Tenaga Kerja Wanita atau bahkan mencari nafkah di belahan dunia lain untuk menghidupi keluarganya yang miskin di negaranya.

Sumber:

https://www.unesco.org
https://globaleducationcoalition.unesco.org/home
https://www.jobat.be
https://www.letudiant.fr
https://www.insee.fr/fr/statistiques/6047727?sommaire=6047805#consulter

Peserta Presentasikan Proyek dan Temuan Strategi Pendidikan Kewarganegaraan Global Pada Pelatihan Developing Global Diversity Character

12 Jun 2024 • Humas UPI

Pelatihan “Developing Global Diversity Character” yang diselenggarakan pada hari kedua, 8 Juni 2024, para peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam menjalankan proyek pendidikan kewarganegaraan global. Pelatihan ini kembali diadakan secara hybrid, dengan peserta yang hadir secara langsung di Hotel Santika Cirebon dan peserta lainnya mengikuti secara daring melalui Zoom Meeting.

Setelah menerima materi mengenai cara mengidentifikasi permasalahan global dan memilih masalah untuk kajian kelas dari dari para narasumber, para peserta melanjutkan serangkaian langkah praktis untuk mendalami proyek kewarganegaraan global. Kegiatan dimulai dengan tahap memilih masalah untuk kajian kelas sebagai tindak lanjut dari sesi sebelumnya. Peserta berdiskusi dan menentukan isu-isu global yang relevan dan signifikan untuk diangkat dalam proyek mereka.

Langkah berikutnya adalah mengumpulkan data dan melakukan tindak lanjut. Peserta diajak untuk mengumpulkan informasi yang mendalam mengenai isu yang telah dipilih, baik melalui wawancara, sumber informasi media cetak/online, dan observasi melalui internet. Aktivitas ini bertujuan untuk memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan proyek kewarganegaraan global yang akan mereka kerjakan.

Setelah data terkumpul, peserta diajak untuk mengembangkan portofolio kelas menggunakan aplikasi Prezi. Dalam sesi ini, mereka menyusun dokumen yang memuat hasil penelitian dan rencana tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi isu global yang dipilih. Portofolio yang dikembangkan dengan aplikasi Prezi ini berfungsi sebagai portofolio bahan tayangan dalam mengimplementasikan proyek kewarganegaraan global, dengan visualisasi yang menarik dan interaktif.

Pada puncak pelatihan hari kedua, para peserta melakukan presentasi showcase proyek. Peserta mempresentasikan proyeknya di depan dewan juri dan peserta pelatihan lainnya. Juri untuk proyek ini terdiri dari Prof. Dr. Danny Meirawan, M.Pd., Dr. Ridwan Purnama, M.Si., dan Ade Cahyaningsih, M.Pd. Pada sesi ini, para peserta diberikan kesempatan untuk berbagi temuan dan rencana tindakannya. 

Pelatihan hari kedua ditutup dengan sesi refleksi dan tindak lanjut proyek sekolah. Peserta diajak untuk merenungkan pengalaman dan pembelajaran yang telah mereka peroleh selama dua hari pelatihan. Diskusi mengenai langkah-langkah selanjutnya untuk mengimplementasikan proyek kewarganegaraan global di sekolah masing-masing juga menjadi bagian penting dari sesi penutup ini.

Pelatihan pada hari kedua ini diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis yang berharga bagi para peserta, mempersiapkan mereka untuk menerapkan pendidikan kewarganegaraan global di lingkungan sekolah. Dengan kombinasi teori dan praktik yang seimbang, diharapkan peserta dapat membawa perubahan positif dan signifikan dalam pendidikan karakter di Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan pelatihan ini dan berharap inisiatif ini terus berkembang untuk kebaikan pendidikan di masa depan.

Pencarian