English
Indonesia

KOLABORAKSI Kelurahan Awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia UPI 3.0

13 Mar 2024 • Humas UPI

Bandung – Kelurahan BPI UPI resmi melantik kepengurusan 3.0 sebagai penerus Kelurahan BPI UPI tahun 2024/2025 pada Sabtu, 9 Maret 2024. Pelantikan ini dilaksanakan berdasarkan AD-ART Kelurahan BPI UPI Bab IV pasal 12 tentang Pengurus tertanggal 10 Februari 2024. Prosesi pelantikan berlangsung pukul 08.00 bertempat di Auditorium Pascasarjana UPI lantai 5, yang dihadiri oleh berbagai pihak termasuk Kepala Balai Pembiayaaan Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Republik Indonesia, Prof. Anton Rahmadi, S.T.P., M.Sc., Ph.D.,  Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI Prof. Dr. Suwatno, M.Si., Lurah BPI 2.0 Piki S. Pernantah, pengurus BPI UPI 2.0, dan awardee BPI UPI.

“Dengan mengucap Basmallah bersama-sama. Bismillahirrahmanirrahim… acara Pelantikan dan Rapat Kerja Kelurahan BPI UPI 3.0, saya mohon izin Prof. Suwatno, dengan resmi dibuka,” ucap Kepala Balai Pembiayaaan Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Republik Indonesia Prof. Anton Rahmadi, S.T.P., M.Sc., Ph.D. membuka acara tersebut.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan oleh Piki S. Pernantah selaku Lurah BPI UPI 2.0. “Insya Allah dengan banyaknya warga BPI UPI akan semakin besar kelurahan kita. Akan semakin banyak juga pikiran dan perbedaan, tapi jangan sampai itu memecah belah kebersamaan kita. Anggap itu sebagai dinamika komunitas untuk membangun kebersamaan dan kekeluargaan,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Suwatno, M.Si., mengapresiasi baik acara pelantikan ini. “Mudah-mudahan BPI tetap baik. Semua penerima BPI semuanya tetap baik. Sekali lagi terima kasih kepada Lurah 2.0 yang telah bekerja keras, bekerja cerdas, Insya Allah bekerja Ikhlas untuk kebaikan semuanya, kebaikan UPI, kebaikan awardee, kebaikan Kemendikbud. Sekali lagi, selamat kepada panitia, kepada Lurah BPI 3.0 yang baru terpilih. Mudah-mudahan bisa lebih baik karena belajar dari sebelumnya,” ucap Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI ini.

Kegiatan serah terima Lurah BPI UPI Bandung dilaksankan hybrid. Peserta luring dan daring berjumlah 100 awardee. Pelaksanaan pelantikan daring menggunakan aplikasi Zoom Meeting. Acara luring dihadiri oleh pengurus periode 2024—2025 dipimpin lurah terpilih, M. Adham Januar yang menggantikan lurah periode sebelumnya Piki S. Pernantah. Kelurahan 3.0 dengan jargon KolaborAKSI melantik Lurah berserta jajaranya, di antaranya:

  1. M. Adham Januar (Lurah BPI UPI 3.0)
  2. Jagad Aditya Dewantara (Wakil Lurah BPI UPI 3.0)
  3. Mutmainah (Sekretaris)
  4. Lia Zaradiva (Wakil Sekretaris)
  5. Ananda Putriani (Bendahara)
  6. Sri Wahyuni (Wakil Bendahara)
  7. Vicky Taniady (Kepala Departemen IPKTEK)
  8. Andika Triansyah (Kepala Departemen Kesehatan Mental & Jasmani)
  9. Rudi Hartono (Kepala Departemen Sosial & Agama)
  10. Putut Ary (Kepala Departemen Seni & Budaya)
  11. Sunarto Arif Sura (Kepala Departemen Informasi Dan Komunikasi)
  12. Serta seluruh jajaran Kelurahan BPI UPI 3.0

Lurah BPI UPI terpilih M. Adham Januar menekankan komitmen bersama-sama guna meningkatkan kemajuan BPI UPI. Selain itu, beliau mengingatkan bahwa kabinet ini juga bertujuan memfasilitasi keinginan dan cita-cita awardee. “Tanpa kebersamaan tidak akan tecipta hal tersebut. Arti dari Kolaboraksi yaitu kolab artinya kolabraksi dan aksi adalah aktualisasi dan sinergi. Tanpa itu tidak akan terwujud tujuan secara maksimal,” tuturnya menutup sambutan.

(Jagad Aditya Dewantara)

Ramadan ke-1443

12 Mar 2024 • Humas UPI

Dinn Wahyudin

Madinah titimangsa 1 Ramadan tahun ke-2 Hijriyyah. Hari itu bersamaan dengan tahun 624 Masehi, atau tepatnya lebih dari 1400 tahun yang lalu. Itulah ibadah shaum Ramadan pertama kali yang dilakukan Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersama para sahabatnya di Kota Madinah Al Munawarah. Perintah untuk melakukan shaum ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan Syaban tahun ke-2 Hijriah. Secara historis, pelaksanaan ibadah shaum ramadan tahun ini (1445 H) merupakan ibadah puasa ramadan ke 1443. Yaitu dihitung sejak pelaksanaan ibadah shaum ramadan pertama yang dilaksanakan pada tahun ke-2 H.

Perintah shaum diturunkan kepada Rosululloh melalui firman Allah SWT dalam Surah Al Baqarah ayat 183 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan (juga) kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Surat Al Baqarah ini diterima Rosululloh di Kota Madinah pada tahun kedua setelah Rosululloh SAW bersama sahabatnya melakukan hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah.

Takwa

Puasa merupakan suatu ibadah amaliah dan badaniah yang mempunyai banyak keistimewaan dan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan umat Islam. Hikmah puasa Ramadan pada hakikatnya dapat membentuk mukmin yang mencapai tingkat ketakwaan yang sebenarnya kepada Allah SWT. Puasa ramadhan dapat melatih umat Islam berjihad melawan hawa nafsu, menyucikan diri dari perbuatan keji dan mungkar dan menghiasi diri dengan akhlak mulia serta meningkatkan semangat kecintaan untuk senantiasa beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ibadah puasa memiliki keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan ibadah yang lain, menjaga kesucian iman dan takwa kepada Allah untuk memperoleh kebahagiaan dan keberkahan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Puasa yang bertujuan meningkatkan takwa seseorang, akan menumbuhkan ketahanan baik secara rohani ataupun jasmani.Pengaruh puasa yang dapat melatih manusia mencapai takwa berarti dapat menyiapkan diri untuk menerima karunia Allah menuju kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Ménurut Ibnu Mas’ud r.a. takwa berarti taat kepada Allah, menjauhi maksiat, ingat kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya dan tidak kufur.

Sedangkan Ibnu ‘Abbas r.a. memaknakan takwa bermaksud berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang, berani menegak kan hukum, kebenaran dan keadilan terhadap diri, orang tua, anak dan keluarga. Kesempurnaan, ketinggian dan keagungan Islam tercermin melalui ibadah puasa di samping ibadah fardhu yang lain seperti shalat, zakat dan haji. Puasa juga merupakan salah satu dari rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat Islam. Oleh karena itu, salah satu hikmah puasa Ramadhan adalah mengukuhkan Islam itu sendiri pada diri orang Islam.

Semangat Badar

Bulan ramadan pertama telah dipilih oleh Allah dengan terjadinya peristiwa penting : Perang Badar yang sangat heroik. Perang Badar antara kaum Muslimin dan kaum jahiliyah terjadi di pertengahan bulan Ramadan tahun 2 H. Perang badar inilah menjadi penciri bermulanya keruntuhan jahiliah dan tertegaknya syiar Islam melalui kalimah Allah.Tampaknya semangat Badar pada bulan suci ramadan ini masih relevan untuk terus dipompakan pada masa kini. Ada tiga hal utama mengapa semangat badar masih relevan untuk terus ditumbuh-kembangkan pada masa kini, ketika umat Islam sedang melaksanakan ibadah shaum.

Pertama, semangat badar merupakan komitmen diri umat Islam sebagai hamba Allah untuk terus berupaya kembali ke fitrah. Berhamba secara sungguh sungguh dan bertakwa kepada Sang Kholik guna melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi semua yang dilarangNya. Kedua, semangat badar adalah energi positip berjuang di jalan Allah. Oleh karenanya spirit badar yang dipadukan dengan semangat fiisabilillah (berkhidmat di jalan Allah) akan melahirkan prilaku mujahid yang tangguh. Mujahid untuk terus berjuang dan berkhidmat di jalan Allah. Dalam konteks shaum ramadan ini, semangat badar yang mujahid memberi makna untuk terus menebar kebaikan. Semangat untuk siap “berperang” melawan kebodohan dan keterbelakangan. Semangat untuk istiqamah dan berprilaku mujahid dan berupaya keras untuk mempertahankan panji tauhid, kebenaran dan senantiasa konsisten melawan kebathilan. Itulah makna takwa yan hakiki.

Ketiga, semangat badar adalah refleksi berserah diri kepada Sang Kholik disertai dengan bekerja keras dan belajar keras. Pribadi pembelajar sepanjang hayat (long life learners). Dalam konteks saat ini, diperlukan pribadi yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa. Semangat badar di saat shaum ini adalah komitmen untuk maju bersama demi terciptanya kesempatan & kemaslahatan bersama. Menuju cooperative society. Masyarakat gotong royong yang bertakwa dan bersendikan baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Sebuah negeri yang bercirikan kebaikan alam dan kebaikan prilaku penduduknya.

Kabar dari Perancis (31) Menggodok Minat Baca Anak-anak di Perancis dan di Bagian Dunia Lainnya

12 Mar 2024 • Humas UPI

Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)

Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Merekalah putra-putri panggilan kehidupan pada dirinya sendiri. Mereka datang melaluimu namun bukan darimu, dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu. Kita dapat memberi mereka cinta, tetapi tidak dengan pikiran kita, karena mereka memiliki pemikirannya sendiri. 

Kita bisa menyambut tubuh mereka tapi tidak dengan jiwa mereka, karena jiwa mereka menghuni rumah masa depan, yang tidak bisa kamu kunjungi, bahkan dalam mimpimu sekalipun.

Kita bisa berusaha membuat mereka seperti kita, tapi jangan mencoba membuat mereka menyukai kita, sebab hidup tidak berjalan mundur, tidak pula berlama-lama mengikuti hari kemarin. Kita adalah busur yang menembakkan anak-anak kita, seperti anak panah hidup. Sang pemanah melihat tujuan di jalan yang tak terbatas, dan pemanah ini mengerahkan kekuatannya sehingga anak-anak panahnya dapat terbang cepat dan jauh. 

Mudah-mudahan ketegangan kita dipegang di tangan pemanah itu menjadi kegembiraan, karena selain pemanah ini menyukai anak panah yang terbang, tetapi juga dia menyukai busur yang stabil.”

(Khalil Gibran)

Seperti yang dicantumkan di artikel terdahulu, seni dan budaya bukanlah suatu  privilese yang hanya diperuntukkan di usia tertentu. Seni dan budaya  adalah hak asasi untuk semua orang bahkan dari usia sangat dini. Tanggung jawab kita yang berhubungannya dengan anak-anak muda ini sangat khusus karena  kehidupan budaya dan seni ini merupakan pengungkit emansipasi yang merupakan cara atau jalan dalam pengungkapan dan penikmatan hidup dalam perkembangannya dari usia ke usia, karena dari usia yang sangat dini kita bisa menentang melawan hambatan dan kekakuan yang mencegah dan mengerem akses pada kebudayaan kebanyakan penduduk.

Anak-anak dipersiapkan untuk menjadi orang  dewasa yang bertanggung jawab dan terutama yang bahagia. Misi pemerintah Perancis jauh-jauh hari adalah sedini mungkin menjadikan anak-anak yang menikmati hidup dan pada gilirannya akan membawa kebaikan pada bangsa dan negaranya. 

Mari kita susuri tahapan bagaimana bangsa Perancis ini mempersiapkan anak bangsanya supaya menjadi warga yang membawa kebaikan pada negara ini. Apakah ini upaya negara Perancis  untuk mencuci otak generasi muda supaya mereka menjalani kehidupan seperti leluhur-leluhur mereka?

Misi Sophie Marinopoulos, seorang psikolog-psikoanalis, spesialis masa kanak-kanak dan keluarga), setelah Pertemuan Nasional tentang Kesadaran Artistik Anak Muda (Rencontre nationale de l’eveil artistique du jeune enfant) yang pertama, bahwa tampaknya penting bagi kementerian untuk melakukan evaluasi kemajuan dengan semua profesional budaya dan profesional anak usia dini. Pada tahun 2018, Ia memperingatkan tentang memburuknya ikatan orang tua-anak dan menyampaikan laporan kepada Menteri Kebudayaan (la ministre de la Culture), Françoise Nyssen. Ia memaparkan konsep Kesehatan Budaya (la notion de Santé Culturelle), yang menetapkan rehabilitasi budaya universal, yang disebut dengan borderless culture (budaya tanpa batas), yang mengusung kebangkitan humanisasi / kemanusiaan balita.

Bagaimanakah cara menanggulangi masalah agar supaya anak dan orang tua ini kembali menjalin hubungan yang baik? Selain dengan perantaraan berbudaya dan transfer budaya dari orang tua ke anak sedini mungkin juga anak-anak ini disiapkan untuk akses pada bacaan sedini mungkin.

Untuk  penerapannya,  seorang dosen yang diberi wewenang untuk mengarahkan penelitian di Universitas Tours dan spesialis sastra anak-anak, Cécile Boulaire meluncurkan program untuk meningkatkan kesadaran membaca bagi anak-anak yang masih sangat kecil. 

Pada tahun 1989, program Reach Out and Read diluncurkan di Boston atas prakarsa sekelompok dokter anak, seperti antara lain Barry Zuckerman yang menilai tentang hubungan antara anak-anak dari keluarga kurang mampu yang ia rawat dengan fenomena reproduksi sosial yang menyebabkan anak-anak ini menghadapi  kesulitan ekonomi dan budaya  seperti orang tuanya. Dari sini, muncul gagasan untuk menerapkan sistem mendistribusikan buku selama konsultasi dokter dan dokter anak dan tentu saja  menerapkan pemberian saran pada orang tua dari anak-anak ini. 

Pada garis besarnya, dengan membaca,  nasib seorang anak bisa berubah, tidak terus-terusan dari generasi ke generasi tetap miskin. Membaca memberi wawasan dan akan membuat anak-anak ini terbuka pikirannya dan memberi jalan pada mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik karena dengan membaca bukan saja imajinasi mereka berkembang tetapi juga jiwa kritis dan kecerdasan serta kepercayaan diri juga akan terpupuk.

Program ini kini meluas ke seluruh Amerika Serikat dan dengan cepat diterapkan di seluruh dunia. Pada tahun 1992, program Bookstart didirikan di Inggris. Inisiatif ini kemudian menyebar ke seluruh Eropa: Nati per leggere di Italia (1999), Nascuts per Legir di Catalonia (2002), Boekstart.be di Flanders (2005), Buchstart di Hamburg (2007), BoekStartdi Belanda, dan Né pour lire / Buchstart/ Nati per Leggere di Swiss (2008), Bogstart di Denmark, BokStart di Norwegia, atau Premières Pages di Perancis (2009).

Setiap program beradaptasi dengan struktur kelembagaan negara dan kekhasan lokalnya. Nati per leggere dan Buchstart menawarkan contoh program yang bertujuan untuk mencapai tujuan yang sama seperti Premieres Pages namun menerapkan logika tindakannya secara berbeda.

 Nati per leggere (lahir untuk membaca) fokus pada pengalaman Italia (Zoom sur Nati per leggere (Né pour lire) et l’expérience italienne). Program ini dibuat pada tahun 1999 atas inisiatif Pusat Kesehatan Anak (Centro per la Salute del Bambino), dari The Association of Pediatricians (ACP) ) dan Asosiasi Perpustakaan Italia (AIB), yang semuanya yakin akan pentingnya membaca sejak dini dan bersama sebagai sebuah keluarga. Program ini berjalan secara bersamaan dengan program Nati per la musica (Lahir untuk Musik). Tujuannya adalah untuk menggalang para ahli (profesional) anak usia dini dan menyadarkan orang tua akan pentingnya manfaat buku, membaca, dan mendengarkan musik bagi anak-anak mereka.

Program Buchstart di kota Hamburg dibagi menjadi dua bagian yang terdiri dari pembagian tas buku dua kali dalam kehidupan anak-anak: Buchstart 1 dan Buchstart 4½. Hamburg adalah kota dengan kesenjangan sosial yang besar: meskipun terdapat rumah 42.000 jutawan dari satu setengah juta penduduknya, 20% anak-anak di bawah 15 tahun hidup dalam kemiskinan dan 15% penduduk Hamburg buta huruf. Program Buchstart 1diluncurkan pada tahun 2007 setelah dua tahun diskusi dan meja bundar, proyek ini terdiri dari pendistribusian kepada keluarga berupa sebuah tas berisi dua buku, dengan judul yang berubah setiap tahun, brosur untuk orang tua dan voucer akses gratis ke perpustakaan umum kota. 

Bagaimana dengan di Perancis? Apakah yang dimaksud dengan program Premières Pages (Halaman-halaman pertama)? Program ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2009. Program Premières Pages yang diprakarsai oleh Kementerian Kebudayaan (Le ministère de la Culture), bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di kalangan keluarga, khususnya kelompok yang paling rentan secara ekonomi dan paling jauh dari buku akan pentingnya membaca sejak usia sangat muda.

Pada empat tahun pertama kegiatan program ini mencakup penawaran pada setiap kelahiran atau adopsi seorang anak berupa sebuah paket yang berisi panduan untuk orang tua dan nasihat membaca. Program pada masa percobaan ini didukung penuh oleh Dana National Tunjangan Keluarga (La Caisse Nationale d’Allocations Familiales/CAF) dan diterapkan  di 7 departemen: Ain, Lot, Puy-de-Dôme, Pyrénées-Orientales, Réunion, Savoie, Seine-et-Marne yang  melibatkan sekitar 60.000 kelahiran per tahunnya.

Setelah evaluasi yang dilakukan pada tahun 2012, Direktorat Jenderal Industri Media dan Budaya (Layanan Buku dan Bacaan) Kementerian Kebudayaan mengusulkan penggarisbawahan operasi baru ini dengan penerapannya yang lebih kuat di wilayah tersebut dengan melanjurkan program musim kedua. 

Aktivitas di musim kedua adalah melibatkan perluasan operasi ke departemen baru dan komunitas baru untuk menjangkau lebih banyak bayi. Proyek yang lebih beragam kini diprakarsai oleh Badan masyarakat (des collectivités/badan pemerintah daerah) setempat yang dikaitkan dengan konteks wilayahnya.

Acara ini sekarang menjadi bagian dari proyek pendidikan seni dan budaya nasional (EAC/ L’éducation artistique et culturelle). Hubungan dini dengan buku dan membaca dalam segala bentuknya, sebelum memasuki taman kanak-kanak atau selama masa prasekolah akan mendorong akses terhadap seni dan budaya.

Kegiatan ini merupakan acara dari berbagai kemitraan di skala nasional dengan pemangku kepentingan di bidang perbukuan dan anak usia dini, seperti : komisi pemuda dari Persatuan Penerbitan Nasional, Persatuan Asosiasi Keluarga Nasional (UNAF/ La commission jeunesse du Syndicat national de l’édition, l’Union nationale de associations familiales), Pusat Sastra Nasional untuk Remaja (CNLJ/BnF/le Centre national de littérature pour la jeunesse ) , asosiasi A.C.C.E.S, (agensi Saat buku terhubung dengan Masa Kecil dan musik : l’agence Quand les livres relient, Enfance et musique). Dengan demikian, tujuan program ini adalah untuk :

  • mengurangi kesenjangan akses terhadap buku dan budaya tulis;
  • memperkenalkan, mendidik bayi dan anak kecil tentang buku;
  • mendorong kerja sama antara pemangku kepentingan buku dan anak usia dini; dan
  • mempromosikan nilai sastra anak-anak.

Bagaimana cara berpartisipasi dalam program ini?

Komunitas atau kelompok komunitas mana pun dapat meminta untuk berpartisipasi dalam operasi “Halaman-halaman Pertama” dengan mengajukan proyek ke Kementerian Kebudayaan. Dipimpin oleh perpustakaan-perpustakaan, proyek ini harus bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di antara anak-anak berusia 0-3 tahun dan keluarga mereka untuk membaca dengan disediakan kemungkinan fasilitas dalam bentuk kursus yang diselenggarakan sepanjang waktu untuk membiasakan anak-anak dan keluarga akan pentingnya buku dan membaca.

Kualitas proposal proyek ini dinilai berdasarkan:

  • sifat kegiatannya, misalnya: pendaftaran gratis di perpustakaan, peminjaman buku perpustakaan mini (buku, majalah, DVD, CD, dll), kegiatan membaca untuk bayi dan anak kecil dengan didampingi orang tua atau rombongan, pengiriman buku, pelatihan profesional, dll;
  • mitra yang terlibat dengan kegiatan ini, seperti taman kanak-kanak, pusat perawatan ibu dan anak, perpustakaan, toko buku, sekolah taman kanak-kanak, dan lain-lain, atau setiap badan yang menerima anak-anak yang masih sangat kecil;
  • rencana evaluasi yang dirancang. Selama  periode berlangsungnya program yang dijanjikan dalam proposal ini diterapkan, akan diselenggarakan penilaian / evaluasi dari PREMIERES PAGES.

Beberapa kriteria penerimaan proposal ini juga harus dipenuhi oleh proyek. Proyek ini harus memasukkan setidaknya anak berusia 0-3 tahun, mengkaji buku dan membacakan (keterbukaan terhadap bentuk budaya lain dianjurkan), melibatkan profesional buku dan anak usia dini, dan mencakup anggaran sementara yang disetujui Kementerian Kebudayaan  sebesar 8.000 euros. Subsidi yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan ini tidak boleh melebihi 50% dari perkiraan anggaran ini.

Negara akan memastikan pelabelan (copy right) “Halaman-halaman Pertama” pada proyek-proyek yang dipilih, menggalang kerja sama secara nasional dan, jika memungkinkan, ikut serta dalam pembiayaan proyek-proyek tersebut. 

Untuk mengajukan permohonan pada kegiatan ini, badan yang dihubungi di daerah adalah Penasihat  Aksi Daerah (conseillers action territoriale) atau ( bagian buku dan membaca di DRACs (des directions régionales des affaires culturelles) .

Pada kesimpulannya, untuk meningkatkan dan membiasakan membaca anak-anak dari usia dini, badan-badan daerah bebas (non-institusi)  dapat  didirikan dan diberi subsidi oleh pemerintah dengan syarat badan-badan ini mengikuti tahap-tahap pendiriannya seperti yang ditetapkan pemerintah.  

Perancis seperti negara-negara lainnya yang menerapkan sistem ini percaya bahwa untuk membuka pikiran dan jiwa masyarakat atau seseorang itu bisa diraih dengan memiliki kemampuan dan kemauan membaca banyak buku dan karya dari berbagai sumber. 

Dengan membaca diharapkan generasi muda yang kemudian bakal menggantikan generasi sekarang dibekali oleh kekuatan jiwa dan pikiran mereka dalam menanggulangi dan menghadapi kehidupan yang akan datang.

Membaca buku yang beragam bukan merupakan pencucian otak karena membaca ini bukan merupakan aksi menutup diri ke suatu gagasan atau ideologi. Sebaliknya kegiatan membaca dapat  membuka dan melebarkan wawasan. Sekali lagi, kita tak akan berhenti mendengar dan membaca bahwa anak yang membaca kelak akan menjadi orang dewasa yang berpikir cerdas.

Sumber: 

https://lesprosdelapetiteenfance.fr/vie-professionnelle/paroles-de-pro/chroniques/les-chroniques-de-sophie-marinopoulos

https://www.culture.gouv.fr/

https://www.premierespages.fr/

https://www.culture.gouv.fr/Thematiques/Education-artistique-et-culturelle

Aktif Berkiprah Membangun Pendidikan Bangsa : Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA Raih Anugrah Vidya Caryena 2024

07 Mar 2024 • Humas UPI

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA, tak pernah lelah dan terus menerus aktif berkiprah dalam membangun sistem dan sumber daya manusia pendidikan di Indonesia baik pada tingkat wilayah, nasional dan international. Peranya dalam bidang pendidikan sudah dikenal sejak ia menjadi mahasiswa dan dosen yang aktif dalam berbagai kegiatan melalui komunitas akademik dan riset internasional, peran dalam struktural kelembagaan, asosiasi profesi dań media massa.

Berkat kiprah dan berbagai pemikirannya dalam bidang pendidikan, Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA menerima penghargaan Anugrah Vidya Caryena 2024 dari Pemerintah Kabupaten Sumedang. Sebagai putra terbaik dari Kabupaten Sumedang dan salahsatu dosen terbaik Universitas Pendidikan Indonesia, ia menerima penghargaan terkait dengan kepeloporannya dalam praktik dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pengabdian, serta keprofesian pendidikan guru di Kabupaten Sumedang.

Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA merupakan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus dosen Program Studi Teknologi Pendidikan dan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Selama perjalanan karir struktural kelembagaan dan pendidikan, ia memiliki sejumlah pengalaman diantaranya sebagai Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengembangan Program Pendidikan (P3) IKIP Bandung Tahun 1998-2001, Kepala Hubungan Masyarakat Humas IKIP Bandung Tahun 1994-1998 serta sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Melalui berbagai prestasinya dalam bidang pengembangan ilmu pendidikan, Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA banyak terlibat sebagai konsultan peningkatan pendidikan dasar di Departement Pendidikan Nasional Sekarang Kemdikbudristek sejak Tahun 1999. Pada bidang pengembangan profesi, Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.A tercatat berkiprah sebagai Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN) Periode 2022-2026.

Selain pada tingkat nasional, Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA sangat aktif dalam berbagai komunitas akademik dan riset International. Ia pernah menjadi Educational Reseacher UNESCO Paris Perancis (2009-2010) serta puluhan artikel/paper telah disajikan di berbagai forum nasional dan internasinal dalam bidang pendidikan.

Hal lain, Prof. Dr. Dinn Wahyudin, MA tercatat sebagai penulis opini aktif di HU Pikiran Rakyat. Ia juga secara konsisten menulis coretan dengan heading: tulisan ringan setiap akhir pekan yang dibagikan pada kolega dan rekan guru yang dipublikasikan di media sosial dan media massa. Berbagai kumpulan tulisannya yang menginspirasi telah dicetak dan dipublikasikan dalam tiga buku oleh Penerbit UPI Press.

Semoga berkah dan menjadi inspirasi bagi kita semua. Aamiin.

Meninjau Pusat Sumber Belajar di University of Manchester

06 Mar 2024 • Humas UPI

Oleh Zainuddin Abuhamid Muhammad Ghozali, S.Pd., M.A.

Lulusan Sarjana Teknologi Pendidikan UPI Angkatan 2016 dan Magister Digital Technologies, Communication and Education the University of Manchester Angkatan 2022.

Waktu menunjukan pukul tiga dini hari. Perutku berbunyi kencang tanda lapar sudah menyerang. Mataku yang sudah 5 watt-pun tidak kuasa menahan rasa kantuk. Akhirnya kukemasi laptop ke dalam tas mungilku. Lalu aku bergegas keluar menembus dinginnya cuaca malam di musim dingin untuk memenuhi panggilan jam biologisku. Ya, sedari pukul sebelas malam tadi aku berkutat dengan tugas akhir semesterku di gedung Alan Gilbert Learning Commons (AGLC). Gedung itu merupakan tempat paling favorit anak-anak the University of Manchester untuk berproduktif ria.

Bangunannya yang berfasad kaca tampak mentereng di tengah barisan gedung-gedung bergaya Victoria di sekitarannya. Fasilitas di dalamnyapun sangat lengkap. Terdapat ratusan pasang meja dan kursi yang dapat digunakan untuk belajar dengan berbagai jenis, ada yang berbentuk bilik untuk belajar mandiri, ada pula meja yang diapit dua sofa untuk belajar secara berkelompok. Puluhan komputer terpasang berderetan di atas meja yang dapat digunakan oleh siapa saja. Yang paling unik, ada belasan unit ruangan yang dapat digunakan untuk dipinjam untuk berdiskusi kelompok atau sekedar membutuhkan ruangan untuk berfokus. Berbagai fasilitas tersebut sangat memanjakan siapa saja yang membutuhkan ruang untuk belajar.

Namun, di luar fasilitasnya yang lengkap, ada satu hal yang menjadi alasan mengapa gedung ini digemari mahasiswa, yaitu ia dapat diakses kapan saja. Tempat ini beroperasi nonstop selama 24 jam dalam tujuh hari alias tidak pernah tutup. Artinya, kita bisa saja datang kapanpun sesuka hati kita untuk mengerjakan tugas, mau itu pagi, siang, atau bahkan malam. Bahkan beberapa temanku pernah menginap di gedung yang akrab disapa Ali-G ini. Terdapat petugas yang gantian berjaga di lobi gedung untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa selama belajar di gedung tersebut. Namun, pada waktu tertentu seperti di musim panas, jam operasional gedung ini berkurang atau bahkan tutup sepenuhnya seperti pada hari libur natal dan bank holiday. Namun, pelayanannya yang nyaris tidak pernah tutup tetap saja membuatku takjub, sebuah hal yang belum pernah kutemui sebelumnya di Indonesia.

Perpustakaan dan pusat belajar yang selalu beroperasi merupakan salah satu ‘privilise’ yang aku dapatkan ketika aku menjalankan satu tahun studi program master di Inggris. Masih banyak lagi kenikmatan akademik yang mahasiswa dapatkan untuk menunjang pembelajaran. Di antaranya adalah koleksi buku yang lengkap yang dimiliki oleh perpustakaan, mengingat the University of Manchester merupakan salah satu perpustakaan universitas terbesar seantero Inggris raya. Selain itu, akses terhadap ribuan jurnal mudah didapatkan hanya melalui SSO (single sign on) akun kampus. Tidak jarang aku dititipi teman dari Indonesia untuk mengunduh artikel tertentu.

Di luar itu, materi perkuliahan berupa e-book, salindia presentasi atau bahkan rekaman perkuliahan sudah tersedia dalam Blackboard, learning management system yang digunakan oleh kampus, lengkap dengan silabus serta informasi mengenai asesmen yang harus dikerjakan oleh mahasiswa dalam satu semester. Dengan berbagai sumber belajar yang tersedia, mahasiswa nyaris tidak pernah ‘linglung’ untuk melakukan kegiatan pembelajarannya secara mandiri. Kalaupun mahasiswa merasa perlu ada yang ditanyakan, maka dosen pengampu sudah siap bersiaga merespon pertanyaannya melalui platform Piazza atau melalui emailnya.

The Learner-Centric Ecology of Resource Model: Bagaimana Mendesain Sebuah Pusat Sumber Belajar yang Berpusat Pada Peserta Didik

Learner-centric ecology of resource merupakan sebuah model yang memvisualisasikan relasi antara pebelajar dengan objek-objek yang mendukung terjadinya pembelajaran, seperti knowledgeresource, dan environmentKnowledge mengacu pada pengetahuan atau kemampuan yang ingin dicapai oleh pebelajar. Resource mengacu pada berbagai sumber maupun peralatan yang mampu membantu pembelajar untuk belajar. Sedangkan environment mengacu pada lingkungan dan konteks yang memungkinkan terjadinya pembelajaran. Ketiga elemen tersebut tersedia secara luas, sehingga diperlukan suatu upaya filtrasi untuk membatasi sumber belajar apa saja yang harus disediakan kepada pebelajar agar terjadinya proses pembelajaran. Maka dari proses penyaringan tersebut dihasilkan kurikulum, administrasi, dan organisasi. Selain itu, model ini juga menekankan peran guru atau tutor sebagai the more able yang membimbing pebelajar untuk belajar melewati zone proximal development (ZPD) (Luckin, 2008).

Kasus Alan Gilbert Common Spaces yang telah dijabarkan sebelumnya merupakan salah satu contoh bagaimana model ecology of resource diimplementasikan dalam mendesain lingkungan pembelajaran. Melalui berbagai fasilitas yang tersedia, the University of Manchester mampu mengintegrasikan peserta didik dengan berbagai sumber belajar yang diperlukan sehingga peserta didik mampu melaksanakan pembelajaran secara mandiri. Kurikulum disusun dengan struktur yang jelas melalui pemanfaatan LMS, sehingga mahasiswa mengetahui kemampuan apa yang perlu ia capai di dalam setiap mata kuliahnya. Berbagai sumber belajar yang tersedia baik berupa fisik ataupun maya adalah salah satu bagian dari ‘administrasi’ yang memudahkan mahasiswa menavigasi sumber belajar apa saja yang mereka perlukan. Sementara jam operasi perpustakaan yang tidak pernah berhenti merupakan salah satu bentuk pihak universitas ‘mengorganisasikan’ lingkungan belajarnya sehingga menghadirkan kenyamanan bagi mahasiswanya. Sedangkan kehadiran dosen yang selalu responsif menjawab pertanyaan mahasiswa merupakan manifestasi dari perannya sebagai the more able yang menuntunnya menuju proses pembelajaran. Kasus ini membuktikan bagaimana the University of Manchester mampu menempatkan peserta didik sebagai sentral dalam mendesain pusat sumber belajarnya.

Perpustakaan di Indonesia: Sudahkan Berpihak Pada Pelajar?

Sepulang dari Inggris, aku disibukkan dengan beberapa pekerjaan yang menuntut sebuah tempat kerja yang nyaman. Setelah aku riset melalui Google, akhirnya kuputuskan pilihanku di gedung Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung. Berdasarkan informasi yang sudah aku himpun dari internet, tempat tersebut menyediakan perpustakaan serta working space yang terbuka bagi umum, khususnya warga kota Bandung. Akhirnya aku meluncur ke sana dengan sepeda motorku, dengan ekspektasi aku akan menghabiskan beberapa jam di sana untuk merampungkan pekerjaanku.

Setibanya di sana pada tengah hari, aku harus gigit jari saat mengetahui bahwa perpustakaan tersebut sedang tutup karena petugasnya sedang istirahat. Akhirnya kuputuskan untuk menunaikan shalat dan mengerjakan beberapa pekerjaan di sekitar perpustakaan sambil menunggu perpustakaan tersebut buka. Setelah perpustakaan tersebut buka, aku masuk ke gedung tersebut. Tidak jauh dari pintu masuk, terdapat beberapa belasan kursi serta meja bersekat yang dapat digunakan untuk membaca atau mengerjakan tugas. Sayangnya, saat aku masuk, kudapati seluruh kursi tersebut penuh terisi. Belum lagi, perpustakaan tersebut akan tutup dalam waktu dua jam ke depan. Terpaksa aku urungkan niatku untuk belajar di sana dan hanya membawa pulang dua buku pinjaman untuk dibaca di rumah. Pada akhirnya, au mencari kafe terdekat agar lebih leluasa mengerjakan pekerjaan yang kubawa dari rumah.

Kejadian pada hari itu membawaku kembali pada ingatan kenyamanan perpustakaan di Inggris sana. Di sana, aku lebih leluasa untuk memanfaatkan fasilitasnya tanpa terbatasi oleh jam operasional. Banyaknya pusat sumber belajar yang tersedia juga membuatku tidak perlu repot-repot berebut kursi. Kalaupun tengah lapar di tengah mengerjakan tugas, aku tidak perlu khawatir karena dapat makan dan minum di lounge yang lengkap dengan microwave dan kran air minum. Bahkan pada momen tertentu perpustakaan juga menyediakan biskuit dan minuman hangat gratis bagi pengunjungnya. Maka tidak heran jika perpustakaan menjadi tempat favorit bagi warga Britania Raya untuk menghabiskan waktunya. Ah, andai saja perpustakaan di Bandung seperti itu.

Mungkin memang tidak fair jika kita membandingkan fasilitas perpustakaan di sini dengan perpustakaan yang ada di sana. Namun, aku lebih menaruh perhatianku pada kesenjangan dalam hal pengorganisasi perpustakaan di sini. Jika jam operasi perpustakaan bertepatan dengan jam pelajar bersekolah, bagaimana bisa perpustakaan tersebut dipenuhi oleh pelajar? Kapan pelajar sekolah dapat mengunjungi perpustakaan tersebut jika saat mereka pulang dari sekolah perpustakaan tersebut sudah tutup? Sudahkah perpustakaan berpihak pada pelajar? Maka hal ini perlu kita pikirkan bersama. Sudah sepatutnya pusat sumber belajar di Indonesia menempatkan pembelajar pada posisi sentral, karena perpustakaan merupakan gerbang dari suatu peradaban.

Referensi

Luckin, R. (2008). The learner centric ecology of resources: A framework for using technology to scaffold learning. Computers & Education, 50(2), 449–462.

Pencarian