English
Indonesia

Deklarasi ZI WBK WBBM di Lingkungan FIP UPI

30 Jan 2024 • Humas UPI

Dalam rangka meningkatkan integritas, transparansi, dan pelayanan yang berkualitas, di Lingkungan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (FIP UPI) dengan bangga FIP UPI mengumumkan deklarasi Zona Integritas (ZI) Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) pada hari Jumat, 26 Januari 2024. Bertempat di Auditorium Lt. 10 Gedung. Deklarasi ini merupakan bukti komitmen FIP UPI untuk memperkuat tata kelola organisasi yang baik dan melayani publik dengan integritas tinggi.

Deklarasi ZI WBK WBBM di Lingkungan FIP UPI dilaksanakan secara Hybrid (Luring dan Daring), dihadiri seluruh Pimpinan Fakultas, Pimpinan Program Studi, Perwakilan Dosen, Perwakilan Tendik, Ketua Himpunan/BEM Prodi dan Fakultas, Perwakilan Petugas Keamanan dan Kebersihan di Lingkungan FIP UPI. Selain deklarasi dilaksanakan juga penandatanganan pakta integritas, yang ditandatangi oleh Para Wakil Dekan, Para Kepala Seksi, Para Ketua dan Sekretaris Program Studi di Lingkungan FIP UPI yang langsung di Saksikan oleh Dekan FIP UPI dan para tamu undangan.

ZI WBK dan WBBM merupakan upaya kolaboratif dari seluruh elemen di Lingkungan FIP UPI, yang melibatkan pimpinan, pegawai, dan seluruh stakeholders terkait. Proses perjalanan menuju ZI WBK dan WBBM telah melibatkan kerja keras, dedikasi, dan komitmen dari semua pihak yang terlibat.

Deklarasi ZI WBK dan WBBM mencerminkan komitmen FIP UPI untuk: 1) Peningkatan Kualitas Pelayanan; 2) Keterbukaan dan Transparansi; 3) Pencegahan Korupsi dan Praktik Kotor; 4) Peningkatan Budaya Organisasi. Serta dengan deklarasi ZI WBK dan WBBM ini, FIP UPI menegaskan komitmen untuk menjadi agen perubahan positif dalam membangun tata kelola Unit Kerja di Perguruan Tinggi yang lebih baik dan melayani publik.

(Insan Salman Mutaqin/Fakultas Ilmu Pendidikan)

“Merangkai Insan Cemerlang” – KSR PMI Unit UPI Mencetak 24 Anggota Muda XXXVIII

29 Jan 2024 • Humas UPI

Korps Sukarela Palang Merah Indonesia Unit Universitas Pendidikan Indonesia merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang kerelawanan, kemanusiaan, dan donor darah. KSR PMI Unit UPI telah berdiri sejak tahun 1985 dengan sejarah yang cukup panjang penuh lika-liku perjuangan. Pendidikan dan Pelatihan Dasar (DIKLATSAR) XXXVIII KSR PMI Unit UPI merupakan program yang diselenggarakan dengan tujuan pengkaderan anggota baru untuk melanjutkan dan meneruskan perjuangan kerelawanan.

DIKLATSAR XXXVIII KSR PMI Unit UPI diketuai oleh Arsila Khoirunnisa dengan tema kegiatan “Mencetak Generasi yang Beretika, Komunikatif, Terampil, dan Loyal serta Memiliki Rasa Kekeluargaan Berdasarkan Prinsip-Prinsip Kepalangmerahan”. Kegiatan ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan, yaitu Pembukaan, Ruangan, Pembekalan dan Lapangan. Diklatsar Ruangan dimulai pada tanggal 30 September 2023 dengan rangkaian Diklatsar Ruangan. Sebanyak 142 pendaftar mahasiswa/i angkatan 2023 dan 2022 yang siap mengikuti rangkaian ini. Diklatsar Ruangan berlangsung selama 8 pertemuan yang telah disesuaikan oleh kurikulum yang ada, pemberian pematerian mengenai organisasi dan pertolongan pertama, serta diadakannya simulasi sebagai penutup rangkaian diklatsar ruangan. Selanjutnya, pada tanggal 5—7 Januari 2024, peserta Diklatsar melanjutkan perjuangan dalam rangkaian pembekalan. Pembekalan merupakan rangkaian untuk menunjang keberlangsungan peserta dalam rangkaian Diklatsar Lapangan. Rangkaian Akhir adalah Diklatsar Lapangan, sebanyak 24 Calon Anggota siap mengikuti rangkaian ini. Selama 5 hari perjalanan yang dimulai pada tanggal 22—26 Januari 2024 di Jayagiri dan Subang.

Alhamdulillah, sebanyak 24 Anggota Muda resmi dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua Umum, Nur Cipta Mustikasari dalam upacara pelantikan anggota muda. Acara ini dihadiri oleh Prof. Dr. Suwatno, M.Si., selaku Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan berbagai apresiasi “Saya bangga dengan semua peserta Diklatsar KSR PMI Unit UPI. Pada prinsipnya saya selaku Direktur Direktorat Kemahasiswaan memberikan penghargaan yang setinggi tingginya, kepada Ketua Umum KSR PMI Unit UPI, Ketua Pelaksana, dan semua yang pihak berkontribusi. Kita patut bersyukur ke hadirat Allah, apa yang kita lakukan akan sangat bermanfaat untuk kemanusiaan, untuk agama, untuk bangsa, dan untuk UPI. Sekali lagi selamat.”

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Terkhusus Sivitas Akademika Universitas Pendidikan Indonesia, PMI Kota Bandung, dan Maxwin Deospray sebagai sponsor utama. Terima kasih kepada seluruh Orang tua/Wali Peserta Diklatsar yang telah memberikan do’a serta dukungan moril kepada Peserta Diklatsar XXXVIII hingga selesai seluruh perjuangannya. Tidak lupa, terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh Panitia Pendidikan dan Pelatihan Dasar XXXVIII KSR PMI Unit UPI atas segala kerja keras, kerja sama, dedikasi waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menyukseskan pengkaderan ini.

(KSR PMI UNIT UPI)

Belajar dari Pangeran Kornel

28 Jan 2024 • Humas UPI

Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.A

Cinta Segitiga. Atau The Triangle of Love. Itu salah satu kata kunci yang diucapkan Pj.Bupati Sumedang Herman Suryatman dalam suatu acara Pisah Sambut PTMGRMD (Perguruan Tinggi Mandiri Gotong Royong Membangun Desa) tahun 2024 pekan lalu. Menurutnya kegiatan pengabdian pada Masyarakat di puluhan desa di kabupaten Sumedang bisa terlaksana karena adanya “cinta segitiga” antara Pemda dan masyarakat Sumedang, Perguruan Tinggi yag ada di Jabar Banten, dan LLDIKTI4 Wilayah Jabar dan Banten. Bila cinta telah bersemi, maka semua program akan terasa indah dan bermanfaat. Semua pihak berbahagia. Semua bekerja dengan tulus. Masyarakatpun menerima dengan tangan terbuka kehadiran mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN Terpadu ini.

Tulisan ringan ini, mencoba mendeskripsikan betapa kuatnya rasa cinta dengan derap pembangunan yang sedang dilaksanakan. Dalam konteks lokal Sumedang, the power of love atau kekuatan cinta telah ditorehkan dalam sejarah kelam yang panjang oleh seorang figur Bupati Sumedang pada masanya.
Al kisah. Suatu hari di tahun 1809. Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau dikenal juga sebagai Pangeran Kornel (The Prince of Kornel) mendapat kabar bahwa Gubernur Jenderal HW Daendels akan melakukan inspeksi mendadak ke wilayah Sumedang. Daendels merasa berang atas belum selesainya megaproyek ambisinya yaitu Pembanagunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang membentang sepanjang 1000 km dari Anyer sampai Panarukan. Daedels berniat berkunjung dan menegur langsung Bupati Sumedang atas keterlambatan pembangunan jalan tersebut.

Itulah peristiwa Cadas Pangeran yang heroik. Daendels merasa kesal karena ambisi pembangunan mega proyek jalan pos Anyer-Panarukan terganjal dengan belum tuntasnya jalan di area perbukitan berbatu sekitar Cadas Pangeran. Di sisi lain, sang Bupati Pangeran Kornel juga merasa masgul dan terusik harga dirinya karena melihat rakyatnya yang diperlakukan semena mena. Ribuan rakyatnya telah meninggal dunia karena kelelahan kerja paksa, kelaparan, dan menderita sakit selama pembangunan jalan di Cadas Pangeran berlangsung.

Ketika pertemuan Gubernur Jenderal Daendels dengan Pangeran Kornel berlangsung. Suasana sangat mencekam. Pertemuan tidak kondusif. Kedua belah pihak merasa tidak nyaman Ketika kunjungan kerja Sang Gubernur ke wilayah Sumedang ini. Dan ketika Gubernur Dandels mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Respon Pangeran Kornel sangat mengagetkan Gubernur Dandels. Pangeran Kornel melakukan jabatan tangan dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan Sang Pangeran ini siap memegang erat Keris pusaka yang dibawanya. Tindakan ini membuat Daendels terkejut dan merasa diremehkan.

Peristiwa heroik ini telah diabadikan secara visual di wilayah Cadas Pangeran perlintasan jalan lama Bandung – Sumedang. Itulah kisah heroik. Ungkapan protes simbolik sang Pangeran yang siap berhadapan langsung secara head to head, dengan Gubernur Jenderal Daendels. Apapun resikonya. Termasuk kemungkinkan pertumpahan darah, telah dipikirkan secara matang oleh sang Bupati. Dalam sebuah versi, disebutkan akhirnya Daendels tak jadi marah. Ia merubah siasat dan berjanji kepada Sang pangeran akan membawa tentara Zeni Belanda untuk menuntaskan jalan sekitar Cadas Pangeran yang berbukit terjal, berbatu dan curam.

Spirit Cinta

Peristiwa Cadas Pangeran yersebut sangat heroik. Dan boleh jadi akan menjadi inspirasi bagi Kepemimpinan Masyarakat Sumedang sampai sekarang. Peristiwa heroik lebih dari dua abad lalu (tahun 1809) dapat ditarik beberapa catatan penting betapa kuatnya aura sang pemimpin dilandasi kecintaan pada rakyatnya.

Pertama, peristiwa Cadas Pangeran adalah prilaku mulia. Prilaku pimpinan untuk siap membela rakyat. Cinta kepada rakyat dengan sebenar benarnya cinta. Nyaah jeung deudeuh ka rahayat telah divisualisaikan secara simbolik oleh Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau juga dikenal Pangeran Kornel. Sebutan Kornel itu sendiri berasal dari kata Colonel yang artinya pemimpin.

Kedua, ekspresi Paangeran Kornel yang siap berjabat tangan dengan tangan kiri adalah keberanian bersikap untuk melawan kedzoliman. Ini penting dimiliki oleh semua orang termasuk para pemimpin bangsa. Bagi pemimpin (umaro) ini harus menjadi karakter kepemimpinan atau leadership style yang berpihak pada rakyat. Kepemimpinan yang memberikan solusi dan alternatif, bukan kepemimpinan yang hanya piawai dalam memberikan perintah dengan mengorbankan rakyat. Be a leader with a ladder, not a Boss with an Order. (Mridha,2018). Jadilah pemimpin yang memiliki tangga untuk solusi, dan bukan sekadar Pemimpin yang hanya bisa memerintah. Jangan jadi pemimpin yang hanya bentik curuk balas nunjuk. Apa yang ditampilkan Pangeran Kornel ini juga sisi lain dari pemimpin yang berani mengambil resiko untuk kemaslahatan masyarakat luas.

Ketiga, persitiwa heroik dua abad silam adalah ekspresi kecerdikan (smart thinking) seorang pemimpin. Apa yang dilakukan Pangeran Kornel juga ekspresi seorang pemimpin/Bupati yang cerdik dan berani dalam menyikapi fenomena yang terjadi pada saat itu. Seorang pemimpin kabupaten (regent) yang berani melawan pemimpin nasional/Penjajah Belanda. Dalam sejarah pembangunan Jalan pos Anyer-Panarukan, bisa jadi ada puluhan wilayah kabupaten yang dilewati. Semua bupati yang kena mega proyekt tersebut, nyaris bersepakat dan hanya “nurut” saja dengan Penjajah Belanda dan tak melakukan perlawanan. Namun di Sumedang, bupatinya melawan. Dia cerdik. Ia pemberani. Ia sendiri datang menyambut Gubernur Jenderal Dandels. Ia hadir untuk berargumen dengan penampilan yang unik yang bernada melawan. Dengan segala argumen yang dikemukakan, Daendels yang kejam dan bengis tersebut bisa luluh. Sang Giubernur memahami argumen yang dikemukakan Sang Pangeran. Apa yang bisa petik dari peristiwa ini, berprilakulah dengan cerdik, gunakan strategi yang tepat untuk kemaslahatan rakyat banyak. Semua didasari karena rasa deudeuh. Rasa cinta yang tulus dari seorang bupati bagi rakyatnya.

Itulah peristiwa Cadas Pangeran yang melegenda. Lesson learnt yang bisa kita petik adalah jadilah pemimpin yang mencintai rakyat atau masyarakatnya. Pemimpin yang segala tindakan dan programnya untuk kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang memberi maslahat bagi masyarakatnya. Dalam kontek pendidikan, hal ini antara lain diekspresikan pada kebijakan sekolah/universitas yang dibangun atas rasa cinta, rasa deudeuh, melalui pedagogi kasih sayang kepada siswa/mahasiswanya dan masyarakat luas

Rektor UPI Menandatangani MoU Kerja Sama dengan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath

26 Jan 2024 • Humas UPI

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan sumber daya. Tanda tangan MoU ini dilaksanakan pada hari Kamis (25/1/2024) di Ruang Rapat DSTI Lt.1 Gedung PPG UPI, Kota Bandung.

Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath memiliki banyak karya terutama kesenian tradisi. Sebagai akademisi, adanya potensi ini penting bagi sivitas akademika UPI untuk berkolaborasi melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian, ditegaskannya, “Sebagai akademisi sangat diharapkan untuk memiliki pengalaman-pengalaman praktis di lapangan.”

Hal serupa disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath sekaligus pendiri Museum Prabu Siliwangi,  Prof. Dr. KH. M. Fajar Laksana, SE., CQM., MM., Ph.D., beliau menjelaskan bahwa di Ponpes Modern Dzikir Al-Fath terdapat jenjang pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, serta terdapat 29 lembaga bisnis. 

Selain memiliki keunggulan dalam bidang pendidikan dan bisnis, juga bidang seni budaya terutama pencak silat, ada pula Seni Pertunjukan Ngagotong Lisung yang resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Jawa Barat sejak tanggal 1 Februari 2021.  “Salah satu syarat untuk diangkat menjadi Warisan Budaya Tak Benda harus ada penelitiannya,” ungkap Prof. Dr. KH. M. Fajar Laksana, SE., CQM., MM., Ph.D. Sehingga melalui kerja sama ini, sivitas akademika UPI dapat melakukan penelitian warisan budaya bukan hanya sebagai pengakuan hingga tingkat daerah saja. 

Selain itu, Rektor UPI dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath sepakat pentingnya intervensi akademisi untuk mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum.

“Dalam pengembangan pendidikan juga tadi dikatakan oleh Beliau, perlu intervensi akademisi bagaimana mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum sehingga ini menjadi sesuatu yang terintegrasi bukan hanya kompilasi,” ungkap Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A.

Kunjungan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath ke Museum Pendidikan Nasional UPI

Lebih lanjut, Rektor UPI menyampaikan harapan kerja sama dengan Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath dapat dilakukan secara nyata. “Pesantren ini lab-nya apa yang kita miliki ini kita praktikan di sana, sehingga kita punya karya-karya nyata, membuat kita tidak hanya berteori tapi betul-betul nanti punya pengalaman praktik di dalam memecahkan persoalan-persoalan di lapangan,” tegasnya.

(Safira Arum Nisa/Foto: Abdul Syahid)

Ari Putra Lulus Doktor Prodi Penmas FIP UPI Tercepat dengan Yudisium 4

25 Jan 2024 • Humas UPI

Bumi Siliwangi (Rajab/25 Januari 2024)

Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan kembali melahirkan doktor baru setelah melalui proses ujian sidang promosi doktor atas nama promovendus Ari Putra, M.Pd dengan judul “Model Parenting Education Responsif Gender Untuk Meningkatkan Pemahaman Pengasuhan Anak” (Studi Pada Satuan Pendidikan Nonformal Kabupaten Bengkulu Tengah).

Penelitian yang dilakukan oleh Promovendus dilatarbelakangi oleh ketidaksetaraan gender di Indonesia yang mencakup isu-isu seperti fatherless country, kekerasan berbasis gender, ketidaksetaraan dalam pekerjaan, dan kurangnya kesempatan bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam perekonomian. Hal tersebut mendorong promovendus melakukan penelitian yang bertujuan menciptakan inovasi pembelajaran bagi orangtua melalui model parenting education responsif gender untuk meningkatkan pemahaman pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan pendekatan penelitian dan pengembangan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan pemahaman orang tua akan pola pengasuhan yang dianalisis melalui profil keluarga, interaksi dan komunikasi dalam keluarga, pola pengasuhan, dan perilaku kesetaraan gender masih belum seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil temuan tersebut dilakukan upaya peningkatan pemahaman orang tua dengan kegiatan pembelajaran yang responsif gender. Inovasi pembelajaran ini dikonstruksi berdasarkan kebutuhan orang tua sehingga menghasilkan model yang menggunakan prinsip pendampingan orang dewasa dengan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share. Implementasi dari pemodelan ini bertahap di mulai dari input, proses, output, dan dampak yang dilaksanakan sesuai dengan tahapan eksplorasi pengalaman, refleksi kritis, dan tindak lanjut. Evaluasi pembelajaran yang ada pada model ini menggunakan lembar kerja dan tes. Pengujian model dilakukan dengan beberapa tahapan mulai dari validasi, pengujian terbatas dan pengujian lebih luas. Efektivitas model menggunakan desain eksperimen dengan mengukur pengaruh dari model terhadap peningkatan pemahaman pengasuhan anak responsif gender. Setelah dilakukan beberapa kegiatan pengujian, model parenting education responsif gender ditetapkan efektif dalam meningkatkan pemahaman tentang pengasuhan anak berbasis nilai-nilai kesetaraan gender, yang ditunjukkan dengan adanya pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pola asuh dan menciptakan kesetaraan gender dalam konteks kehidupan berkeluarga di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah Propinsi Bengkulu.

Promovendus berasal dari Propinsi Bengkulu tepatnya di Kota Bengkulu. Ari Putra merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Promovendus menempuh pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi (S1) di Kota Bengkulu. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA, pada tahun 2010. Pada tahun 2014 menyelesaikan Pendidikan S-1 di Universitas Bengkulu pada Program Studi Pendidikan Luar Sekolah yang saat ini berganti nama menjadi Pendidikan Nonfomal Lulus dengan IPK 3.95 (Lulusan Terbaik Universitas Bengkulu dan memperoleh yudisium Cumlaude pada tahun 2014). Setelah menyelesaikan S-1 mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di program studi Pendidikan Masyarakat di UPI pada tahun (2017-2019) melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP RI Lulus dengan IPK 3,96 (Cumlaude/Pujian).

Saat ini, penulis merupakan Dosen Tetap (PNS) di Universitas Bengkulu, mengajar di Program Studi S-1 Pendidikan Nonformal. Di samping tugas mengajar, menjalankan tugas tambahan sebagai penjamin mutu (asesor) Pendidikan Nonformal di BAN PAUD DASMEN Kemendikbudristek RI. Tidak hanya itu, penulis juga terlibat sebagai Fasilitator Sekolah Penggerak/Pelatih Ahli Nasional di Kemdikbudristek RI. Penulis bertugas sebagai Sekretaris di Pusat Studi Gender dan Keluarga LPPM Universitas Bengkulu periode 2023-2025. Selain itu, penulis merupakan Koordinator Gugus Kendali Mutu Program Studi Pendidikan Nonformal FKIP Universitas Bengkulu periode 2023-2025.

Beberapa karya buku yang telah diterbitkan diantaranya :

  1. Bunga Rampai: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal Studi Komparasi Pembelajaran dan Pengembangan Masyarakat
  2. Parenting Education: Memberikan Perlindungan Responsif Gender Kepada Anak
  3. Kepemimpinan Pendidikan: Responsif Gender dalam Perspektif Pendidikan Nonformal

Promovendus tidak hanya produktif dalam menulis buku, beberapa produk yang berkaitan dengan luaran disertasi adalah sebagai berikut :

  1. A Hypothetical Model of Gender-Responsif Parenting Education to Improve Parents’ Competence in Children Care
  2. Praktik Pengasuhan: Responsif Genderkah Orangtua Kepada Anak di Dalam Keluarga?
  3. Pendampingan Orang Tua Melalui Posko Mitra Keluarga Responsif Gender di SPNF-SKB Bengkulu Tengah
  4. Gender Phenomenology: Interaction and Parenting Style for Early Children In The Family
  5. Buku Model Parenting Education Responsif Gender
  6. Buku Saku Pengasuhan Anak Responsif Gender

Semasa menjalankan pendidikan mulai dari S-1 pada Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, penulis pada tahun 2012 pernah mendapatkan kesempatan untuk menjadi peserta Student and Cultural Exchange kerjasama Universitas Bengkulu dan Thaksin University, di Thailand. Selama menjalankan studi di Universitas Pendidikan Indonesia (S-2) Penulis memperoleh kesempatan dari Direktorat Kebudayaan Kemendikbud RI menjadi Peserta Bidang Kajian Kebudayaan Kemah Budaya Kaum Muda (2019) dan di Universitas Pendidikan Indonesia (S-2). Selama menjalani studi di Universitas Pendidikan Indonesia (S-3) penulis memperoleh kesempatan Beasiswa Microcredential Non Gelar di Western Sidney University, Australia, Program Literacy for Teachers Educator.

Selamat kami sampaikan kepada promovendus yang telah berhasil mempertahankan dan mempromosikan karya disertasi yang telah disusun semoga gelar doktor yang telah dicapai bernilai manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Selamat sekali lagi untuk Doktor Ari Putra, M.Pd….Barokallohu fiik. (Dadang Yunus/Kontributor Humas UPI).

Pencarian