Kenali Penyebab Bedtime Procrastination, Temuan Tim PKM-RSH UPI tentang Begadang di Kalangan Mahasiswa
22 Oct 2023 • Humas UPI
Aktivitas mahasiswa dalam menunda waktu tidurnya (begadang) biasanya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, belajar untuk ujian esok hari, rapat, dan aktivitas lainnya. Namun, tahukah kamu bahwa rasa bosan di waktu menjelang tidur juga dapat menyebabkan penundaan waktu tidur lho! Mari kita simak pembahasannya!
Sekilas tentang Penyebab Bedtime Procrastination
Setelah selesai beraktivitas termasuk mengerjakan tugas-tugas, individu cenderung mengalami kebosanan di waktu menjelang tidurnya. Mereka mencari berbagai hiburan dengan bermain smartphone guna menghilangkan perasaan bosan tersebut. Tidak jarang individu baru sadar bahwa ia telah menggunakan smartphone selama berjam-jam lamanya. Penggunaan smartphone secara terus menerus ini terjadi lantaran individu merasakan sensasi kepuasaan saat mengakses smartphone yang secara tidak langsung dapat menunda waktu tidurnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah bedtime procrastination dengan kategori mindless procrastination, yaitu keadaan dimana individu menunda tidur karena kehilangan jejak waktu.
Dampak Bedtime Procrastination
Kurang tidur akibat bedtime procrastination dapat berdampak kepada aspek fisik, psikologis, dan sosial individu. Seperti kelelahan, perubahan mood, sulit fokus, sulit mengambil keputusan, serta menghindari interaksi sosial. Bedtime procrastination yang dilakukan secara terus menerus juga dapat menyebabkan kecemasan, peningkatan emosi negatif, depresi, bahkan individu dapat mengalami socially avoidant.
Melalui penelitiannya, tim Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang terdiri dari Camila Azzahra Nurrohman (Psikologi, 2021), Ruth Agestianti (Psikologi, 2021), Yulianti Ratna Dewi (Sosiologi 2019), dan Elisa Zakira (Sosiologi 2022) di bawah bimbingan dosen Prodi Psikologi UPI, Ismawati Kosasih, S.Pd.I., M.Si berharap bahwa masyarakat khususnya mahasiswa dapat mengetahui dan menyadari pentingnya mengenali fenomena serta dampak dari bedtime procrastination. Sebab fenomena ini dapat berpengaruh terhadap produktivitas mahasiswa dalam menjalankan aktivitasnya dan lebih jauh akan berdampak pada Indonesia Emas Tahun 2045. Dalam rangka menyebarkan awareness, tim melakukan edukasi melalui media sosial Instagram @tundatidur.id.
Peringati Dies Natalis ke-69, UPT Kebudayaan UPI Selenggarakan Bandung Isola Performing Art Festival (BIFAF) Intercultural Collaboration Tingkat Internasional Tahun 2023
20 Oct 2023 • Humas UPI
Universitas Pendidikan Indonesia melalui UPT Kebudayaan dibawah Koordinasi Wakil Rektor Bidang Inovasi, Kebudayaan dan Sistem Informasi, Prof. Dr. H. Agus Rahayu, M.P menyelenggarakan kegiatan Bandung Isola Performing Art Festival Intercultural Collaboration pada Hari Jum’at, 20 Oktober 2023. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-69 Universitas Pendidikan Indonesia.
Prof. Dr. H. Agus Rahayu, M.P mengungkapkan bahwa BIFAF merupakan festival tahunan yang mengusung konsep pasar seni pertunjukan menggunakan Villa Isola Park. Festival ini memfasilitasi seluruh insan kreatif, koreografer dan produser seni untuk bertemu dengann festival director, Kurator, Vanue Presenter, Pemangku kepentingan lainya dalam sesi showcase dan pitching.
Menurutnya tahun ini, BIFAF menampilkan live performance intercultural collaboration melibatkan 9 karya dari berbagai negara di Asia seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan dan negara antarbenua seperti Jerman, Belanda dan Amerika Serikat. Selain itu BIFAF menghadirkan Galih Mahara selaku Curator Festival, Saian Badaruddin, M.Pd selaku Chief Executive BIFAF
Prof. Dr. H. Agus Rahayu, M.P mengungkapkan bahwa dalam kegiatan ini melibatkan para seniman yang hadir diantaranya Rainy Light yang diinisiasi oleh Rithaudin Abdul Kadir dari Malaysia, Hominid Heart yang diinisasi oleh Ari Rudenko dari United State of America (USA), Somewhere in the Dust yang diinisasi oleh Dimar Dance Theatre/Dian Bokir Indonesia dan Martina Feiertag dari Jerman.
Selanjutnya Tambului yang diinisiasi oleh Fairul Zahid Singapura, Trekking yang diinisasi oleh Park Na Hoon Korea Selatan, GONG yang diinisasi oleh Aafkeu De Jong Belanda, GARBHA yang diinisasi oleh Yana Endrayanto dengan kolaborasi 5 negara yaitu India, Belanda, Malaysia, Korea dan Amerika Serikat, Chassing The Eagle Shadow yang diinisasi oleh Noviyanti Maulani dari Indonesia Galuh Pakuan Subang, TABLE yang diinisasi Iing Sayuti dari Indonesia,
Lebih lanjut menjelaskan bahwa BIFAF menjadi sebuah wadah yang positif dimana BIFAF sebuah promosi karya seni pertunjukan inovatif terkurasi di Kota Bandung. Festival ini merupakan fasilitasi bagi para pencipta, penyaji seni dan tim pekerja kreatif untuk mementaskan karynya sehingga terjadinya kolaborasi dan transaksi dengan para direktur festival dan venue presenter tingkat nasional dan internasional.
Kepala UPT Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia, Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd menjelaskan bahwa, BIFAF ini bertujuan untuk mempertemukan para pelaku kreatif, koreografer, produser karya pertunjukan dengan stakholdernya melalu showcase, menjalin jejaring dan kolaborasi, serta memberikan kontribusi pada pengembangan industry kreatif seni pertunjukan di Indonesia. Semoga dengan adanya BIFAF ini dapat menciptakan iklim pertunjukan yang baik bagi para penikmat seni di Indonesia dan Mancanegara.
Menurutnya, bahwa BIFAF sudah dimulai sejak 2016 yang bermanfaat serta dapat dirasakan untuk memunculkan koreografer-koreografer muda yang akan meramikan dunia tari. Lebih lanjut menjelaskan bahwa BIFAF merupakan ruang luar kelas khususya subsector seni pertunjukan di Indonesia untuk memunculkan koregrafer-koreografer muda yang tampil pada even nasional dan internasional. Dr. Ayo Sunaryo, M.Pd menjelaskan bahwa pertunjukan utama tahu ini menampilkan kolaborasi antar budaya (intercultural collaboration antar negara yang dapat terlihat dari bentuk-bentuk koreografi yang dipertunjukan (Humas UPI/Yana Setiawan)
PUI TVET-RC UPI Gelar Seminar Nasional Pendidikan Vokasi dan Pameran Pusat Keunggulan
20 Oct 2023 • Humas UPI
Pusat Unggulan IPTEKs Technical and Vocational Education and Training Research Center (PUI TVET-RC) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bekerjasama dengan Dinas Pendidikan (DISDIK) Provinsi Jawa Barat, Komite Vokasi Provinsi Jawa Barat serta Kamar Dagang Industri (KADIN) Provinsi Jawa Barat pada hari Rabu 18 Oktober 2023 menggelar kegiatan Seminar Nasional Pendidikan Vokasional dan Pameran Pusat Keunggulan Vokasi bertajuk “Peran Guru Teknik dan Vokasi dalam Menjawab Tantangan Transformasi Digital di Era Merdeka Belajar”.
Seminar ini merupakan salah satu rangkaian menyambut Dies Natalis ke-69 Universitas Pendidikan Indonesia, dihadiri oleh Dr. Ir. Kiki Yuliati (Direktur Jendral Direktorat Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi/KEMENDIKBUDRISTEK) dan Putra Asga Elevri, S.Si., M.Si (Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus/Dikmen dan Diksus Direktorat Jendral Pendidikan Guru dan Tenaga Pendidikan/Dirjen GTK/KEMENDIKBUDRISTEK) sebagai pembicara kunci dalam kegiatan seminar ini.
Kegiatan Seminar dan pameran ini bertujuan untuk menginisiasi forum komunikasi berbasis riset bagi para guru Teknik dan vokasi (Guru SMK), peneliti maupun penggiat Pendidikan Teknik dan vokasi untuk berdiskusi mengenai tantangan bagi guru Teknik dan vokasi di masa mendatang. Pembicara kunci pertama menyampaikan materi dengan tema “Peran Guru Teknik dan Vokasi (Guru SMK) dalam Menjawab Tantangan Transformasi Digital. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan bahwa paradigma guru dan insan pendidikan harus menjadikan teknologi sebagai enabler, tidak cukup menjadi pengguna/operator teknologi.
Lulusan Pendidikan Teknik dan Vokasi harus minimal menjadi pemelihara teknologi dan lebih unggul jika menjadi pengembang dan pencipta teknologi, Kemampuan guru kreatif dan inovatif menjadi kunci. Materi kedua yang disampaikan Direktur Guru Dikmen dan Diksus Dirjen GTK focus dalam menyampaikan kebijakan-kebijakan dan gambaran isu permasalahan Guru SMK di Indonesia. Guru SMK harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi dan memanfaatkan teknologi sebagai sarana penunjang pembelajaran.
Selain itu terdapat sesi panel yang dipimpin langsung diskusinya oleh moderator Dr. Lilis Widaningsih, M.T., selaku Sekertaris PUI-TVET RC UPI. Sesi panel ini menghadirkan Drs. Wahyu Mijaya, S.H., M.Si selaku KADISDIK JABAR yang menyampaikan gambaran peningkatan kualitas guru SMK di Jawa Barat, yang bersambut gembira dengan tanggapan Dirjen Vokasi bahwa Jawa Barat masuk pada kategori baik untuk penyelenggaraan Pendidikan Teknik dan vokasi. Dr. Hadi Cokrodimedjo mewakili KADIN JABAR dan Komite Vokasi Jabar menjadi panelis kedua dengan topik link and match SMK dan Dunia Industri, telah memberikan gambaran perlunya peningkatan integrasi dunia industry dan SMK untuk menyiapkan kemajuan industry di Jawa Barat dan juga Nasional. Panelis ketiga merupakan Dr. Eng. Agus Setiawan selaku Executive Board of RAVTE (Regional Association for Vocational and Technical Education) in Asia, memberikan gambaran mengenai standar kualitas guru Pendidikan Teknik dan vokasi.
Acara Seminar ini juga dimeriahkan dengan pameran Pusat Keunggulan dari PUI-TVET RC UPI, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) UPI, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) UPI, Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) UPI, beserta 11 SMK Pusat Keunggulan di Jawa Barat. Perwakilan SMK terdiri dari SMKN 3 Sukabumi, SMKN1 Cimahi, SMKN4 Bandung, SMKN 1 Mundu, SMKN 1 Cipatujah, SMKN1 Gunung Guruh, SMKN2 Sumedang, SMKN 1 Kawali, SMKN 1 Cirebon, SMKN 8 Bandung dan SMKN 10 Bandung.
Keterlibatan SMK tidak hanya dalam pameran saja, terdapat Best Practice Sharing Session yang diwakili oleh SMKN 3 Sukabumi, SMKN1 Cimahi, SMKN4 Bandung, SMKN 1 Mundu dan SMKN 1 Cipatujah. Pada Best Practice Sharing Session ini, perwakilan SMK membagikan pengalaman dalam suksesnya implementasi Pusat keunggulan di sekolah masing-masing.
Kegiatan Seminar dan Pameran Pusat Keunggulan ini berakhir pada pukul 16.00 WIB, ditutupnya seminar dan pameran ini dengan kegiatan pemberian apresiasi dan pengharagaan kepada seluruh perwakilan SMK Pusat Keunggulan. Kegiatan Seminar dan Pameran ini merupakan awal kolaborasi PUI-TVET RC UPI dengan instansi pemerintah daerah dan nasional bersama para peneliti, penggiat pendidikan dan industri di bidang Teknik dan vokasi serta guru-guru SMK dalam rangka berkolaborasi mewujdukan Pendidikan Teknik dan Vokasi yang Unggul dan berdaya saing global melalui penyiapan guru Teknik dan vokasi yang inovatif serta kreatif di era transformasi digital. Permasalahan yang dihadapi Indonesia dalam Pendidikan Teknik dan Vokasi akan dapat diselesaikan oleh kolaborasi dan sinergitas berbagai stakeholder, PUI-TVET RC UPI hadir menjadi jembatan mewujudkan Pendidikan Teknik dan Vokasi yang unggul dan berkelanjutan melalui kolaborasi para peneliti, penggiat pendidikan dan industri di bidang Teknik dan vokasi serta guru-guru SMK (Kontributor Humas UPI/Vina Dwiyanti)
Tingkatkan Capaian IKU, UPI Jajaki Kerjasama dengan Mitra Luar Negeri Pada Konferensi Internasional Global Citizenships Education APCEIU UNESCO
20 Oct 2023 • Humas UPI
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A telah menetapkan keputusan nomor 210/M/2023 tentang Indikator Kinerja Utama bagi Perguruan Tinggi dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Melalui keputusan ini, Universitas Pendidikan Indonesia menetapkan dan menyusun rencana kinerja, serta evaluasi pencapaian kinerjanya dengan berpedoman pada indikator kinerja utama dalam penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pada bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Merespon kebijakan ini, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswan Prof. Dr. Didi Sukyadi, MA bersama Kepala Kantor Staf Ahli Prof. Dr. H. Dasim Budimansyah, M. Si, serta Anggota Kantor Staf Ahli Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D berupaya keras meningkatkan capaian indikator kinerja utama (IKU) dengan menjajaki kerjasama salahsatunya dengan berbagai mitra luar negeri pada kegiatan internasional The 8th International Conference on Global Citizenships Education (GCED) di Seoul Korea Selatan.
Melalui konferensi internasional ini, UPI berhasil mendorong peningkatan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) pada indikator sasaran dosen berkegiatan diluar kampus pada kriteria kegiatan tridharma diperguruan tinggi lain diluar negeri, penerapan karya dosen pada kategori luaran yang mendapatkan rekognisi internasional, kemitraan program studi bertaraf internasional, serta pembelajaran dikelas (Humas UPI/Yana Setiawan)
Kabar dari Perancis (15)Adakah kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam bidangolahraga?
19 Oct 2023 • Humas UPI
Oleh : Nenden Nurhayati Issartel (Koresponden, Perancis)
Tri Indri Hardini (Dosen, Universitas Pendidikan Indonesia)
Tahukah Anda bahwa struktur DNA pertama-tama ditemukan oleh Roslind Franklin, seorang ahli biofisika dan saintis perempuan asal Inggris. Namun pada tahun 1962 yang diberi penghargaan hadiah Nobel adalah Francis Crick, James Watson dan Maurice Wilkins. Ketiga saintis laki-laki inilah yang mengakui sebagai penemu struktur DNA, dan akhirnya Roslind Franklin dilupakan…
Tahukah Anda bahwa pembuat mesin cuci piring (Perancis : lave vaisselle) yang modern dan praktis adalah seorang perempuan? Pada tahun 1886, Josephine Cochrane, seorang perempuan Amerika yang berasal dari kelas sosial yang tinggi di l’Illinois, telah menciptakan mesin cuci yang praktis dan efisien.
Dari dulu sampai sekarang di belahan dunia mana pun juga, banyak perempuan yang menderita karena tidak adanya pengakuan akan keterampilan dan kepandaian mereka dalam segala bidang di segala lapisan masyarakat yang berbeda.
Bagaimana dengan dunia olahraga?
Di Arab Saudi kaum perempuan diperbolehkan menyaksikan pertandingan olahraga baru sejak tahun 2018. Bagaimanakah keadaan di belahan dunia yang lain berkaitan dengan kesetaraan gender dalam berolahraga?
Stereotip yang muncul di masyarakat adalah menari dan senam hanya untuk anak perempuan dan sepak bola dan judo hanya untuk anak laki-laki. Perbedaan jenis kelamin dalam olahraga ini ternyata tidak terbatas pada anak usia dini saja. Apakah alasannya mengapa perbedaan-perbedaan ini masih ada dan bagaimana kita bertindak untuk bisa menyetarakan secara nyata antara perempuan dan laki-laki dalam berolahraga? Padahal olahraga adalah dunia yang dianggap diberkahi karena menebarkan kebaikan dan nilai-nilai tinggi kemanusiaan dan olahraga digambarkan sebagai pemersatu, memasyarakat, universal, yang membuat semua orang memiliki derajat yang sama (metafora yang menyatakan bahwa kita lahir setara). Kesamaan ini tentu saja bukan hanya menyangkut jenis kelamin, namun juga kesamaan atau paritas keterwakilan dua pihak dalam suatu kelompok, suatu organisasi, atau suatu badan sosial. Jika Olimpiade 2024 sekarang dikatakan setara, hal itu karena atlet perempuan dan laki-laki akan terwakili secara seimbang. Jumlah atlet lelaki sama jumlahnya dengan atlet perempuan.
Kesetaraan, istilah yang muncul di artikel ini, adalah fakta bahwa mereka diperlakukan sama karena hukum menyatakan bahwa syarat-syarat kesetaraan dan juga hal itu harus dipertimbangkan. Perbedaan dan kesetaraan tidak bertentangan sebagaimana seorang pemikiran seorang pelatih: “kaum perempuan tidak bisa bermain rugbi karena kita tidak sama!”. Hasil yang baik dari tim nasional perempuan, dan keunggulan atlet-atlet tingkat tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini membuat kita yakin bahwa kaum perempuan/anak gadis sepenuhnya terintegrasi di dalam bidang olahraga. Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki saat ini tampaknya telah tercapai. Secara teoretis, saat ini mereka dapat melakukan segalanya. Namun apa kenyataannya? Dunia olahraga nampak seperti “laboratorium khusus” untuk menganalisis kesenjangan yang tak henti terdapat antara perempuan dan laki-laki.
Bagaimana dengan kondisi di Perancis?
Di Perancis, selama lebih dari 50 tahun, semakin banyak perempuan yang melakukan aktivitas fisik atau olahraga (APS : activité physique et sportive), walaupun tidak seluruh kaum perempuan melakukan aktivitas ini. Olahraga, secara budaya, hanya dianggap sebagai aktivitas yang wajar bagi laki-laki tetapi tidak untuk perempuan.
Kesenjangan antara kaum perempuan yang tidak membudayakan olahraga dan tidak memiliki cukup uang untuk beraktivitas olahraga masih tetap ada. Jarak penghasilan antara kaum manajer perempuan, profesi liberal (seperti dokter, pengacara, dan lain-lain) dengan pekerja buruh perempuan serta petani masih sangat jauh pada awal abad ke-21. Tiga perempat dari kaum perempuan di Perancis yang tidak melakukan aktivitas fisik apa pun adalah pegawai atau pekerja buruh.
Keberadaan para ‘olahragawati’ ini pun tidak merata dalam melakukan semua cabang olahraga. Secara teoretis, kaum perempuan dapat masuk ke semua cabang olahraga di Perancis hingga saat ini. Namun kenyataannya, mereka lebih memilih aktivitas olahraga untuk menjaga stamina, kebugaran, dan rekreasi; masih sedikit peminat untuk olahraga yang kompetitif atau bertanding. Berdasarkan data yang diambil dari Institut national de la statistiqueet des études économiques (INSEE : Institut Statistik Nasional dan studi ekonomi) hanya ada 38% perempuan di antara pemegang ijazah di semua federasi olahraga. Di antara perempuan berusia 16-24 tahun yang terdaftar di sebuah klub, 35% berkompetisi. Bandingkan dengan 69% laki-laki yang berlatih olahraga di sebuah klub.
Perbedaan lainnya menyangkut disiplin olahraga yang dipilih. Olahraga tetap dikategorikan menurut jenis kelamin : ada yang disebut olahraga “feminin”, dan ada pula yang disebut “maskulin”. Saat ini, di antara sekitar 85 federasi Olimpiade dan non-Olimpiade, sekitar empat puluh federasi tersebut memiliki kurang dari 20% perempuan. Beberapa cabang olahraga Olimpiade yang diikuti oleh 80% atau lebih perempuan adalah olahraga es, berkuda, dan senam.
Di samping itu, olahraga menembak, rugbi atau bahkan sepak bola adalah salah satu jenis olahraga yang paling kurang diminati perempuan dan kegiatan olahraga ini didominasi oleh kaum lelaki yang secara historis sangat maskulin dan baru terbuka untuk perempuan setelah tahun 1970. Di Perancis, perempuan hanya dapat berkompetisi secara resmi dalam lompat galah, lempar palu, dan lari halang rintang 3.000 pada tahun 1987. dalam Federasi Atletik.
Piala Dunia Sepakbola tahun 2019 banyak diminati kaum perempuan dan anak perempuan. Pada tahun 2022, perempuan, yang berjumlah hampir 164.000 pemain, mewakili 9% dari pemegang ijazah Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) (Statista, “Sports and Leisure”, 2023). Bidang olahraga terakhir yang terbuka bagi perempuan adalah lompat ski, pada tahun 2013 yang dilombakan di Sochi.
Bagaimana kondisi saat masih usia dini?
Dari masa kanak-kanak hingga usia sekolah menengah dan setelahnya, anak laki-laki selalu lebih sering berolahraga dibandingkan anak perempuan, dan lebih banyak di klub dan kompetisi. Mengenai kegiatan yang dipilih, perbedaan yang diamati tetap ada seiring berjalannya waktu. Tari dan senam mendominasi masa kanak-kanak perempuan dan sepak bola dan judo mendominasi masa kanak-kanak anak laki-laki.
Olahraga yang digemari anak lelaki meliputi pertarungan, permainan kolektif di lapangan luas, di luar ruangan, atau bermain bola. Sedangkan olahraga yang disukai oleh anak perempuan adalah aktivitas individu di dalam ruangan, yang melibatkan pembelajaran untuk mengendalikan dan menjaga estetika tubuh dan pakaian. Sebuah fakta yang diketahui oleh banyak federasi adalah banyak anak perempuan yang berhenti berolahraga di masa remaja, dan kasus ini tidak terjadi pada anak laki-laki.
Masa puber atau remaja adalah masa pengenalan ”jenis kelamin” dengan kondisi tubuh yang mulai memainkan peranan dalam “rayuan” seksualitas. Pertanyaan tentang feminitas mulai muncul di benak remaja perempuan. Sebaliknya, olahraga merupakan komponen yang bermanfaat dalam pembentukan dan penegasan kejantanan selama masa remaja pada anak laki-laki.
Penggunaan sarana olahraga membuktikan bahwa olahraga dalam ruangan dan jalanan, bahkan di ruang khusus untuk aktivitas olahraga yang baru dibangun di kota-kota hampir seluruhnya dipakai oleh anak laki-laki, seperti taman papan luncur, stadion kota dan tempat bermain streetball lainnya (bahkan lapangan basket sering digunakan sebagai tempat bermain sepak bola).
Oleh karena itu, persoalan yang ada di sini bukanlah mengenai keberadaan infrastruktur atau peralatan, namun mengenai rasa percaya diri. Tindakan yang dilakukan harus bertujuan agar anak perempuan “berani” melakukan olahraga yang didominasi oleh anak laki-laki (baik di luar ataupun di dalam ruangan).
Ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dalam olahraga juga terus terjadi berkaitan dengan posisi manajemen. Saat ini terdapat 19 presiden dari 115 federasi (termasuk 2 untuk olahraga Olimpiade) dan terdapat 37% perempuan di antara mereka yang terpilih menjadi ketua komite. Penerapan Undang-undang tahun 2014 “Untuk kesetaraan nyata antara perempuan dan laki-laki” telah membuahkan hasil meskipun banyak terjadi pelanggaran, dan hal ini dianggap sebagai sebuah kemajuan.
Keterlibatan dalam posisi manajemen/profesi olahraga juga sangat minim di kalangan perempuan. Hanya 11 perempuan dari 70 direktur teknik nasional (DTN: Directeur Techniques Nationaux) yang bekerja di tingkat manajemen teknis tertinggi dan terdapat 5% wasit perempuan untuk sepak bola, rugbi, dan hoki es (rata-rata 26%). Perlu diketahui, untuk Piala Dunia Sepak Bola Putra tahun 2022, terdapat 3 wasit perempuan di antara 105 wasit yang dipilih, dan di bidang ilmu tehnik fisik dan olahraga (STAPS: sciences et techniques des activités physiques et sportives), rata-rata proporsi perempuan di sektor universitas ini kurang dari 30%, yang walaupun di fakultas ini mengalami peningkatan dilihat dari jumlah calon mahasiswa. Bahkan di Perancis, ada sebuah website bernama EGAL sport yang berkomitmen untuk kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam olahraga
Sorotan media terhadap olahragawan perempuan merupakan indikator yang kuat mengenai keadaan aktivitas olahraga feminin. Dari ribuan jam yang dicurahkan untuk olahraga setiap tahunnya di semua saluran, hanya terlihat olahraga laki-laki 74% dari keseluruhan waktu; 4,8% dari waktu media ini dikhususkan untuk olahraga bagi perempuan, dan 21% untuk kompetisi “campuran” (data diambil pada tahun 2021) (ARCOM, Analisis Bobot Siaran Kompetisi Olahraga Perempuan di Televisi antara 2018 dan 2021, 26 Januari 2023).
Setelah menunggu 20 tahun sejak Piala Dunia Sepak Bola Perempuan yang pertama (dan lebih dari 40 tahun sejak masuknya perempuan ke dalam FFF), Liputan media televisi mengenai olahraga yang dimainkan oleh perempuan ini dapat terlihat di Perancis selama Piala Dunia Sepak Bola Perempuan untuk Piala Dunia 2011 (Kampanye diluncurkan oleh “Women in Solidarity”: “On TV, no girls offside”).
Liputan media dengan melibatkan wartawan perempuan terhadap olahraga masih minim karena hanya ada 20% perempuan di kalangan wartawan untuk media audio dan TV yang meliput olahraga, dan mereka hanya berbicara selama 12% yang menempatkan kalangan ini pada peringkat terendah dari semua sektor berita (ARCOM, The Representation of Women on Television and Radio – Laporan Tahun Anggaran 2022, 6 Maret 2023).
Padahal, perempuan tetap diperlukan untuk liputan media terhadap olahragawan. Semuanya terjadi seolah-olah perempuan hanya memiliki kewajiban untuk membuktikan “feminitas” mereka dibebankan pada mereka. Pemain sepakbola, seperti atlet lainnya, mengikuti protokol sebagai berikut. Hampir semuanya berambut panjang, banyak yang memakai riasan, memakai cat kuku, memakai cincin, gelang, kalung, dll. Banyak atlet perempuan yang mengalah pada “aturan klasik feminitas” Atlet perempuan identic dengan pakaian ketat yang memperlihatkan tubuh dan kondisi ini diminta untuk mereka kenakan dalam kompetisi tingkat tinggi. Banyak foto dari mereka saat berolahraga yang bersifat iklan atau “sporty”, yang menunjukkan peningkatan seksualitas dalam penampilan mereka. Jadi mereka harus tetap tampil cantik dan berdandan saat berolahraga karena mereka disorot oleh media.
Jenis atlet yang tidak banyak diliput dan tidak terlalu diekspos di media adalah atlet pelempar palu, atlet angkat besi, dan olahraga bertarung. Mereka tidak mengenal banyak model yang bisa dijadikan teladan atau panutan bagi mereka. Segala sesuatu yang terjadi dalam kompetisi olahragawan perempuan seolah-olah tidak terlihat, tidak diperlihatkan dan tidak diucapkan oleh karena itu dianggap tidak ada. Dengan demikian, fakta yang ada mengenai ketidaksetaraan gender dalam dunia olahraga sangatlah keras.
Bagaimana kita bisa menjelaskan ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam olahraga?
para politisi perempuan sering mencari-cari alasan untuk tidak melatih fisik melalui olah raga. Salah satu alasannya adalah lokasi yang jauh ke tempat olaraga atau jumlah akses peralatan yang kurang. Bahkan jika mereka memiliki kolam renang di depan rumah, hal ini tidak berarti keberadaannya. Padahal walaupun peralatan olah raga disediakan, hal ini tidak menyebabkan perempuan lebih tertarik untuk berolahraga.
“Alasan” lain yang sering diberikan adalah para perempuan ini adalah kurangnya waktu. Namun, sedikitnya waktu yang tersedia bukanlah suatu alasan yang terpercaya karena para pekerja dan karyawan (yang bekerja 35 jam/ minggu) dibandingkan dengan para pekerja mandiri, manajer, profesi liberal yang bekerja lebih dari 40 jam seminggu dan bekerja dalam waktu yang sangat lama dan merekalah yang paling sering berolahraga dan jalan-jalan selain kegiatan olahraga (Menurut INSEE).
Anehnya lagi, perempuan yang “mengurus rumah tangga” – yang secara statistik memiliki lebih banyak waktu luang dibandingkan perempuan pekerja – memiliki tingkat partisipasi yang jauh lebih rendah dalam aktivitas fisik dan olahraga dibandingkan dengan perempuan karir. Alasan sebenarnya adalah konsentrasi mereka dipusatkan untuk mengurus diri mereka sendiri sebagai kepala keluarga suami, anak, dan tugas-tugas rumah tangga sebagai orang tua. (Bersambung).