English
Indonesia

“Gotong Royong”

19 Apr 2023 • Humas UPI

Printmaking as an art culture in Indonesia is a form of culture that has been carried on since colonial times. Printing technology, which was all used as a mass media technology, was eventually developed into an artistic medium. Along with the development of the era of modern art in Indonesia, printmaking also developed towards applied art until it eventually became a visual communication design. This concept tries to combine the conventional printmaking process with the need for mass information delivery. However, in practice, there are still many artists who choose the conventional printmaking process as a medium for their work to this day.

The printmaking studio at Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tries to represent the idea of the theme “error” as a work process. This refers to the empirical experience that students go through during the learning process in class. This process does not escape failure, but it also builds the character of each student who experiences the process in the printmaking studio at UPI. The Faculty of Art and Design Education at UPI is located in Bandung City, Indonesia. This university has 6 study programs with an interest in art, one of which is Fine Arts Education, in which there is a printmaking studio.

Involvement in the XIII Biennale Graphic Poznan 2023 is a collaboration between students, professors and alumni in a printmaking studio, most of whom have also become professional artists. The process of creating this work raises the idea of participatory, where every individual involved in it becomes an inseparable part of the ideas and works that appear. The term “Gotong Royong” which means working together. This term comes from the Javanese words gotong which means “to lift” and royong which means “together”.

Everyone is required to have a sense of mutual cooperation, and this is ingrained in all elements and levels of society in Indonesia. Because, by having that awareness, all levels of society will find it easier to carry out all activities in a mutual cooperation way. With this pattern, the work will feel easier because it is done together. This idea becomes the basic foundation of our work to represent the idea of working together to reduce “Error” rates.

GOTONG ROYONG

accompanying exhibition by Faculty of Art and Design of the Indonesia University of Education

International Cooperation within the frames of the XIII Biennale of Graphic Arts “Error”

Gallery Curators’LAB, 12 Nowowiejskiego Str.

Poznan – Poland

Opening: 25.04, 18:00

Duration: 25.04 – 10.05

Artists:

Nala Nandana

Dadang Sulaeman

Sigit Ramadhan

Zaenal Abidin

Zakarias S. Soeteja

Wisesa Weninggalih

This project is “Hi-Grapher” collaboration initiated by Zainal Abidin, Sigit

Ramadhan, Nala Nandana and Wisesa Weninggalih in 2009. The first Artist Proof prints

were exhibited at the Yogyakarta National Museum, Yogyakarta – Indonesia in 2010. In

2022 , Nala Nandana carried out the restoration of the Gotong Royong work together

with Dadang Sulaeman and Zakarias S. Soeteja (as responsible for the graphic studio at

UPI). Restoration works in 2022 will be included in the 13th Graphic Biennale in Poznan,

Poland.

https://en.uap.edu.pl/2023/04/13th-biennale-of-graphic-arts/
https://www.instagram.com/uap_international/
https://www.instagram.com/uap_uczelnia/
https://www.facebook.com/UAP.International/
https://www.facebook.com/UAP.Poznan

IDULFITRI MUNGGARAN

15 Apr 2023 • Humas UPI

Dinn Wahyudin

Madinah titimangsa 1 Syawal tahun ke-2 Hijriyah. Atau bersamaan dengan tahun 624 Masehi, lebih dari 1399 tahun yang lalu. Itulah perayaan Hari Idul Fitri munggaran (pertama kali) yang dilakukan Rasululloh SAW beserta para sahabat kaum muslimin di Masjid Nabawi Kota Madinah.

Allahhu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La illaha illallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu. Lafal takbir bergema diucapkan segenap kaum muslimin yang untuk pertama kalinya mengawali Perayaan hari Besar Idul Fitri pada tahun ke 2 Hijriyah.


Perayaan Idul Fitri munggaran ini, merupakan momentum penting bagi perkembangan Islam selanjutnya. Awal mula dilaksanakan hari Raya Idul Fitri 2 Syawal tahun ke- 2 Hijriyah bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar. Kemenangan ini menjadi tonggak sejarah awal kebangkitan kaum Muslimin untuk terus menjayakan Islam. Perayaan Idul Fitri pertama ini dilaksanakan hanya berselang sebelas hari setelah Perang Badar usai. Perang besar yang berlangsung tanggal 17 Ramadan tahun ke 2 Hijriyah itu dimenangkan secara telak oleh Kaum muslimin dalam melawan kaum jahiliyah. Dalam konteks perayaan Idul Fitri pertama ini, umat Islam merayakan hari kemenangan dengan penuh rasa syukur.

Bukan hanya karena kemenangan dalam perang Badar yang baru saja dilalui. Tetapi juga kemenangan kaum muslimin telah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadan yang baru saja dilalui.
Dalam suatu hadist shahih, Rasululloh merayakan hari Idul Fitri yang pertama ini dalam kondisi letih dan kelelahan luar biasa. Begitu letih dan kondisi fisiknya belum pulih, Kanjeng Rasululloh SAW menyampaikan khutbahnya sambil bersandar pada Bilal bin Rabah. Sahabat Nabi kepercayaan Rosululloh yang menyandang Muadzin ar Rasul.

Dalam khutbahnya, Rosululloh SAW bersabda bahwa Idul Fitri adalah hari Kemenangan. Kemenangan kaum muslimin setelah berpuasa sebulan penuh. Melawan godaan yang bisa menggoyahkan iman. Rasululloh bersabda bahwa umat Islam baru saja kembali dari perang kecil yaitu melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadan. Umat Islam harus bersiap menghadapi perang besar yang lebih dahsyat. Yaitu perang melawan hawa nafsu, di luar waktu bulan Ramadan.

Dua Hari Raya

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat jahiliyah Arab telah memiliki dua hari Raya. Yaitu hari Raya Nairuz dan Mahrajan. Pada kedua hari Raya tersebut, masyarakat Jahiliyah merayakannya dengan minum minum, bermabuk- mabukan dan bermain.

Dari Anas bin Malik, Rasululloh SAW bersabda, Kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari untuk bermain. Sesungguhnya Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik. Yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Pengertian Idul Fitri sejatinya bermakna kembali ke fitrah. Yaitu kembali ke kondisi awal penciptaan manusia oleh Sang Kholik. Dalam Al Quran surah Ar Ruum ayat 30, Allah SWT berfirman yang artinya, Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Berbagai amal ibadah di bulan suci Ramadan, semuanya mengarahkan dan mengantarkan mereka yang beriman untuk kembali ke kondisi fitrah ini.

Spirit Badar

Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang pertama kali dilaksanakan pada tahun ke-2 Hijriyah, sampai sekarang Idul Fitri 1444 Hijriyah, in sya Allah akan terus berlangsung dilaksanakan oleh umat Islam di berbagai belahan Dunia. Secara matematis, sampai saat ini Hari Raya Idul Fitri telah dilaksanakan sebanyak 1442 kali.
Spirit Badar yang menjadi penciri Idul Fitri pertama lebih dari 14 abad lalu, tampaknya masih relevan untuk terus dipompakan pada masa kini. Ada tiga hal penting mengapa spirit Badar masih relevan untuk terus ditumbuhkembangkan.
Pertama, spirit Badar merupakan komitmen diri sebagai hamba Allah untuk terus berupaya kembali ke fitrah. Berhamba secara sungguh sungguh kepada Sang Kholik guna melaksanakan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi semua yang dilarangNya.
Kedua, spirit Badar _ adalah makna untuk terus meningkatkan semangat _fiisabilillah (berkhidmat di jalan Allah) dan menguatkan prilaku mujahid. (berjuang di jalan Allah). Dalam konteks saat ini, bermakna menebar semangat untuk siap “berperang” melawan kebodohan dan keterbelakangan. Berprilaku mujahid dengan berupaya keras mempertahankan tauhid, kebenaran dan konsisten melawan kebathilan.
Ketiga, spirit Badar adalah refleksi berserah diri kepada Sang Kholik disertai dengan bekerja keras dan belajar keras (hard learners). Dalam konteks kekinian, diperlukan pribadi yang beriman, bertakwa dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa. Spirit badar kekinian merupakan komitmen untuk maju bersama dan memberi kemaslahatan bersama.
Spirit Badar adalah komitmen diri menjadi pembelajar sejati. A long live learner yang memberi maslahat untuk umat.


Selamat merayakan Idul Fitri 1444 H. Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Panitia Ramadan 1444 H UPI Selenggarakan Talkshow Peradaban Islam “Penguatan Karakter Religius di Era Digital: Tantangan dan Peluang”

15 Apr 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI. Talkshow (gelar wicara) peradaban Islam bertemakan “Penguatan Karakter Religius di Era Digital: Tantangan dan Peluang” telah usai dilaksanakan Panitia Ramadhan 1444 H Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di ruang utama masjid Al-Furqon dengan menghadirkan Rektor UIN Sunan Gunung Djati, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si., CSEE dan Ketua Dewan Guru Besar UPI, Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si. sebagai narasumber. (13/04/23)

Kegiatan ini dipandu oleh pembawa acara, Risa Alawiyah. Acara diawali dengan pembacaan tilawah Al-Quran oleh Muhammad Ramdan Mubarok, S.Pd. Kemudian dilanjutkan penyampaian laporan Dr. Rusman, M.Pd. selaku penyelenggara kegiatan Ramadan. Selanjutnya sambutan Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M. PD., M.A sekaligus membuka acara talkshow peradaban Islam.

Talkshow ini dipandu oleh moderator Dr. Rusman, M.Pd. dan Dr. Ihsan Abdul Fatah, M.Pd. Dalam talkshow tersebut Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si. menyampaikan pandangannya mengenai peradaban Islam tentang media digital yang memancing munculnya lisan yang tidak terjaga. Mengutip dari kitab Nasoihul Ibad diuraikan pangkal obat ialah sedikit makan, pangkal adab adalah bicara, pangkal ibadah sedikit dosa, dan pangkal harapan adalah sabar. Namun dengan adanya media digital mendorong kita memiliki sikap konsumtif, hedon, dan memancing amarah. “Pendidikan harus fokus kepada bagaimana bisa melahirkan ahli di bidang ilmu tertentu tapi juga mempunyai basis Islam”. Ujar Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si., CSEE ketika ditanya pendapatnya mengenai peradaban Islam di era digital. Beliau juga menyampaikan bahwasanya nilai moral seharusnya bukan hanya disampaikan melalui Al-Quran dan hadis melainkan diperlukan inovasi menarik terkait hal tersebut untuk mencetak insan moral dengan cepat dan tepat.

Antusiasme jamaah terhadap talkshow ini terlihat dengan terlontarnya berbagai pertanyaan pada sesi tanya jawab terlebih narasumber yang dihadirkan merupakan seseorang yang ahli di bidangnya. Kebanyakan dari mereka menanyakan perihal pemberdayaan media digital yang dikaitkan dengan pembentukan karakter religius. Talkshow pun ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada narasumber.

“Menerapkan etika dalam berdigitalisasi di antaranya: menahan diri untuk tidak menyebarkan berita bohong dalam media sosial, memeriksa fakta dalam artian memvalidasi fakta dari medsos sebelum diterima, dan membagikan atau menyebarkan informasi yang layak dikonsumsi khalayak umum”. Respons Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si. ketika ditanyai cara terbaik untuk menghadapi tantangan dan peluang di era digitalisasi.

(Ismi Asri Ramdani)

Universitas Pendidikan Indonesia Gelar Pelatihan Dakwah Mahasiswa untuk Memperkuat Kampus Religius

15 Apr 2023 • Humas UPI

Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan Pelatihan Dakwah Mahasiswa sebagai upaya memberikan bekal kemampuan dakwah yang efektif dan efisien dalam  mewujudkan misi UPI sebagai kampus ilmiah, edukatif dan religius, kegiatan ini diselenggarakan oleh Panitia Ramadhan 1444 H di Masjid Al-Furqon Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Jumat (14/04/2023).

Pelatihan Dakwah Mahasiswa ini bertujuan untuk mencetak dai dan daiah muda yang siap mengemban tugas dakwah serta mendidik generasi Islam dalam menyebarluaskan dakwah, selain itu menghadirkan standar kompetensi dai dan daiah muda sebagai acuan dalam mengembangkan kualitas dakwah dan mentranformasikan masyarakat yang berkemajuan, serta berpendidikan yang baik.

Prof. Dr. Deni Darmawan, S.Pd., M.Si., MCE., Koordinator Pelatihan Dakwah Mahasiswa dan Ketua Humas UPI menyampaikan, “diadakannya pelatihan dakwah ini dapat memberikan pengalaman bagaimana menjadi dai dan daiah muda yang berkompenten dalam mewujudkan kampus yang edukatif, ilmiah dan religius sehingga apa yang menjadi kebutuhan di dalam syiar nilai-nilai Islam di seluruh pelosok nusantara baik secara personal ataupun kelembagaan tidak hanya itu program ini juga dapat diikuti oleh sivitas akademik UPI,  bahkan terbuka untuk masyarakat umum”, ungkap Deni. 

Selain itu Selamet Nur Anom, M.Pd. selaku pemateri memberikan apresiasi bahwa “Mahasiswa UPI dalam mengikuti kegiatan Pelatihan Dakwah ini sangat antusias dengan penuh semangat sesuai dengan materi yang Saya sampaikan dapat diserap oleh para Mahasiswa Adapun harapan Saya kepada Mahasiswa UPI ke depannya dapat menjadi para juru dakwah yang dapat mengajak masyarakat dalam kebaikan, dapat mencegah dari keburukan sebagai agen perubahan mudah-mudahan dapat menjadi manusia yang bermanfaat untuk kehidupannya”, papar Selamet.

Pelatihan ini dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi para peserta. Manfaat di antaranya dapat memahami dasar-dasar Rasulullah saw. dalam berdakwah dengan meningkatkan kepedulian terhadap keadaan sekitar, berakhlak yang baik, hidup berjamaah dalam berdakwah dan mempunyai sandaran kepada Allah Swt. Adapun harapannya Mahasiswa dapat merealisasikan dan konsisten dalam berdakwah yang menjadi kewajiban umat Muslim. Ke depannya semoga semakin banyak mahasiswa yang berpartisipasi mengikuti pelatihan dakwah ini sehingga dapat terwujudnya UPI sebagai universitas yang religius.

(Lies Diana Luthfiah)

UPI Sosialisasikan Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka: “Perluas Zona Nyamanmu dengan Mengikuti PMM”

12 Apr 2023 • Humas UPI

Universitas Pendidikan Indonesia mengadakan sosialisasi Program Pertukaran Mahasiswa (PMM) Angkatan Tiga tahun 2023 yang diselenggarakan oleh Kemendikbud sebagai program mobilitas mahasiswa selama satu semester, program ini diadakan untuk mendapatkan pengalaman mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia dalam memperkuat persatuan. Sosialisasi ini diselenggarakan di Auditorium Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Rabu (13/04/2023).

Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengaplikasikan wawasan kebangsaan, meningkatkan pemahaman pada keberagaman SARA, mengembangkan keberagaman sikap saling memahami, memperluas pengetahuan akademik sehingga terciptanya penguatan persatuan bangsa. Program ini dilaksanakan secara bertahap dimulai pendaftaran pada 29 Maret – 2 Juni 2023 tersedia 204 Perguruan Tinggi penerima dengan target 15.184 Mahasiswa Peserta. Rektor UPI, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A. menyampaikan bahwa “Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka merupakan program yang bermanfaat dalam pembinaan mahasiswa untuk memperoleh pengalaman tidak hanya pengalaman belajar di UPI, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar di tempat lain, selain itu program ini dapat mempererat tali persaudaraan antar saudara sebangsa, memperkaya wawasan mahasiswa dalam mengenal wilayah di Indonesia. Oleh karena itu saya sangat menghimbau kepada mahasiswa untuk mengikuti program ini dengan sebaik-baiknya”  ungkap Solehuddin.

“Dalam mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi Mahasiswa yang akan mengikuti program ini yaitu Mahasiswa yang sudah berada di Semester 3,5,7 dengan IPK minimal 2,8 adapun dokumen pelengkap di antaranya surat keterangan sehat, sudah melakukan vaksin, dan membuat surat SKTM dengan template yang sudah disediakan” ungkap Priska Eriani selaku tim PMM.

                 Selain itu, hadir para alumni Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan dua secara langsung, mereka menceritakan berbagi pengalaman selama mengikuti program  Pertukaran Mahasiswa Merdeka. “Mengikuti program ini mendapatkan pengalaman tidak hanya itu mendapatkan ilmu yang lebih, memperluas relasi pertemanan, selain itu kami juga mengadakan kegiatan sosial seperti melaksanakan bakti sosial dengan mengunjungi panti asuhan, melaksanakan program kebinekaan dengan bereksplorasi lingkungan sekitar pada tempat-tempat bersejarah” ungkap Doni Rafriyana selaku alumni Pertukaran Mahasiswa Angkatan 2.

                 Adapun tips-tips yang bisa di terapkan untuk mahasiswa yang akan mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ini dengan mengecek secara teliti terkait administrasi yang diperlukan dalam pendaftaran, serta berusaha secara maksimal, sambung Raudhatul Jannah juga sebagai alumni Pertukaran Mahasiswa angkatan dua.

Adapun pesan-pesan yang bisa diterapkan untuk peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang akan mengikuti program tersebut adalah menghormati budaya, adat dan orang-orang tempat kita melaksanakan program Pertukaran Mahasiswa Merdeka tersebut.

(Lies Diana Luthfiah)

Pencarian