English
Indonesia

Mahasiswa FTV UPI Tampilkan 9 Film Dokumenter Fantastis

06 Feb 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI

Mahasiswa Program Studi Film dan Televisi FPSD UPI sukses menayangkan 9 Film Dokumenter pilihan dari berbagai Genre, penayangan film hasil para mahasiswa tersebut dikemas dalam kegiatan yang bertajuk DDOS Attack (Seen and Unseen Parts Of Life), 30-31 Januari 2023 di Bandung Creative Hub.

Screening DDOS Menayangkan 9 Film Dokumenter pilihan dari berbagai Genre, diantaranya Criminal, Eksploitasi, Sejarah, Budaya hingga Feminisme. Seolah menjadi penutup bulan Januari, Screening sukses dilaksanakan dengan banyaknya pastisipan yang turut serta hadir, menyaksikan serta diskusi bersama. Screening DDOS Attack juga dihadiri oleh berbagai pihak dalam dan luar Program Studi Film dan Televisi, diantaranya Wakil Dekan Fakultas Pendidikan Seni Dan Desain (FPSD UPI), Para Dosen Program Studi Film dan Televisi, MNC Media, Para Mahasiswa juga pihak luar lainnya yang ikut memeriahkan dan menyaksikan bersama screening Film Dokumenter DDOS Attack.

Adapun 9 film yang ditayangkan berjudul Nikaca’ah, Penjara Segara, Selepas Lapas, Setiap Manusia dan Tangan Tuhan yang Menyertainya, Dari Mata Perempuan Tua, Romansa Dibalik Pagar Akal, Membelah Benteng, Bebenjangan dan Mutiara Paradigma. Dimana ke 9 Film Dokumenter tersebut dipilih dengan pertimbangan juga kurasi dari berbagai pihak akademisi Program Studi Film dan Televisi FPSD UPI. Proses Dokumenter masing-masing film kurang lebih selama 3 bulan dengan berbagai topik menarik dan hangat di kalangan masyarakat melek informasi.

Film pertama berjudul Nikaca’ah, menceritakan tentang Banjir di salah satu daerah Bandung (Dayeuhkolot) yang mengkhawatirkan. Di dalamnya juga dibahas bagaimana perspektif masyarakat Dayeuhkolot, juga pakar menanggapi dan solusi apa yang akhirnya muncul dengan dibuatnya film tersebut. Dengan objek topik yang sama seperti Penjara Segara, rupanya film kedua membahas tentang eksploitasi ikan Lumba-lumba yang masih kerap terjadi di Indonesia, bagaimana hidup lumba-lumba diatur dan diperlakukan sangat tidak baik oleh manusia itu sendiri. Selain itu, Penjara Segara juga menampilkan highlight yang menjadi benang merah dalam film dimana jangan pernah membeli tiket menonton ikan Lumba-lumba dan cukup pergi ke alam bebas secara langsung bila ingin melihat ikan Lumba-lumba.

Selanjutnya terdapat 2 film dengan genre yang sama yaitu Criminalitas yang berjudul Selepas Lapas dan Setiap Manusia dan Tangan Tuhan yang menyertainnya sama-sama membahas tentang kehidupan penjara. Selepas Lapas membahas bagaimana subjek (Budi) menjalani kehidupan setelah bebas dari bui dan beradaptasi dengan lingkungannya. Berbeda dengan film Setiap Manusia dan Tangan Tuhan yang menyertainnya yang membahas Prada Mart menjalani kehidupan di bui sambil menunggu waktu ia dihukum Mati. Di dalam kedua film tersebut sama-sama membahas tentang peran seorang ibu yang menjadi tujuan pulang kedua subjek utama. Selain itu hukum juga dibahas cukup berat didalam film Setiap Manusia dan Tangan Tuhan yang Menyertainnya. Dimana hukuman mati yang dijatuhkan pada narapidana dengan perspektif berbagai pihak, dari mulai pihak lapas sampai aktivis hukum. Sisi emosionalitas juga sangat terasa didalam 2 film ini.

Lalu Film Dari Mata Perempuan Tua membahas tentang komparasi hidup para lansia di dalam dan luar panti di Gedebage. Selain itu, isu sosial juga dibangun dan menjadi perhatian di dalam film ini. Selanjutnya film Romansa dibalik Pagar Akal membahas tentang pasangan eks ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) yang hidup di panti rehabilitasi dan hidup dengan bahagia di sana, Juga banyaknya kata dan rasa yang membuat antusiasme penonton screening tertarik terhadap film dokumenter ini.

Tiga film terakhir diantaranya yang pertama Membelah Benteng, dimana menceritakan tentang kehidupan China Benteng ditengah gempuran “China Kaya” dan disini juga ditimbulkan banyaknya konflik juga lingkungan sebenarnya dari China Benteng. Lalu dilanjut dengan film Bebenjangan, bagaimana seni hadir bukan untuk dilestarikan, melainkan digunakan sebagai ajang pelecehan seksual terutama pada wanita. Dan yang terakhir film berjudul Mutiara Paradigma yang membahas tentang sejarah dan latar belakang serta saksi hidup pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang dipimpin oleh Kartosuwiryo pada tahun 1949 lalu.

Selain pembahasan dan alur cerita yang fantastis, visual dan teknis dan visual juga dipertimbangkan di dalam screening ini, mengingat 9 Film di atas mengalami banyak penyaringan dari berbagai pihak juga pertimbangan berat sebagai salah satu syarat memasuki Screening DDOS Attack (Seen and Unseen Parts Of Life).

Selain adanya Screening, DDOS Attack juga menghadirkan sesi diskusi bersama untuk kritik, saran dan pertanyaan mengenai film dokumenter terkait. Banyaknya partisipan dan antusias dari penonton membuat sesi ini cukup menarik perhatian publik.

Tujuan diadakannya Screening ini agar publik mengetahui perkembangan juga pentingnya konflik yang diangkat dalam masing-masing dokumenter dan juga diskusi bersama mengenai hal-hal yang berkaitan dengan 9 film dokumenter.

Dengan diadakannya kegiatan ini, membuat FTV kian disorot melalui karya hebat dan ciri khas tersendiri. Lantas, kejutan apa lagi yang akan diberikan Program Studi Film dan Televisi Universitas Pendidikan selanjutnya?. (Rendra Fatimah Azzahra)

Rieke Pitaloka : Program MBKM Kampus Mengajar meningkatkan kemampuan belajar dan mengajar, memahami dan mengenali lingkungan sekolah dengan nyata.

05 Feb 2023 • Humas UPI

Rieke Pitaloka merupakan mahasiswa Program Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia yang mengikuti program merdeka belajar kampus merdeka untuk program kampus mengajar gelombang pertama. Rieke Pitaloka, merupakan duta peserta terbaik putera-puteri Program Studi Pendidikan Akuntansi yang mewakili pada pemilihan putera-puteri Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia.

Rieke Pitaloka, menjelaskan bahwa program kampus mengajar memberikan manfaat dalam meningkatkan kempuan belajar dan mengajar, juga meningkatkan kemampuan dalam memahami materi pembelajaran, meningkatkan penguasaan program literasi dan numerasi untuk bisa membaca dan menghitung bagi siswa.

Lebih lanjut Rieke Pitaloka menjelaskan tahapan program yang sudah dilakukan diawali dengan mengikuti dua tahap seleksi dalam seleksi administrasi dan seleksi tentang pemahaman tentang kebinekaan. Kegiatan dilanjutkan pengumuman melalui laman resmi MBKM.

Kegiatan dilanjutkan dengan koordinasi dengan dinas pendidikan, pihak sekolah, pihak dosen dan peserta diselenggarakan dilakukan online serta pelaksanaan pembelajaran di sekolah
Kegiatan kampus mengajar pada kesempatan ini dalam bidang literasi dan numerasi. Selain itu juga membantu sekolah dalam penyusunan administras, pengembangan teknologi dalam pembelajaran disekolah, inshouse training media pembelajaran serta membantu untuk mengoperasi Learning Management System (LMS) sekolah.

Selama pelaksanaan program kampus mengajar, Rieke Pitaloka mendapatkan kemudahan dari pihak dinas serta pihak sekolah dalam menyukseskan kampus mengajar dan pelaksanaan pembelajaran.
Menurutnya, para mahasiswa hanya harus beradaptasi dalam pembelajaran di masa new normal yang harus menerapkan protkol kesehatan. Rieke Pitaloka menekankan bahwa program kampus mengajar memberikan manfaat dalam memahami dan mengenal lingkungan sekolah dengan nyata, menjadi seorag guru tidak mudah dan perlu berbagai hal untuk disiapkan.

Pada kegiatan kampus mengajar pada kesempatan ini, Rieke Pitaloka membantu pengajaran disekolah dalam bidang literasi dan numerasi. Selain itu juga membantu sekolah dalam penyusunan administrasi, pengembangan teknologi dalam pembelajaran disekolah, inshouse training media pembelajaran serta membantu untuk mengoperasi Learning Management System (LMS) sekolah.

Selama pelaksanaan program kampus mengajar, Rieke Pitaloka mendapatkan kemudahan dari pihak dinas serta pihak sekolah dalam menyukseskan kampus mengajar dan pelaksanaan pembelajaran.
Menurutnya, para mahasiswa hanya harus beradaptasi dalam pembelajaran di masa new normal yang harus menerapkan protkol kesehatan. Rieke Pitaloka menekankan bahwa program kampus mengajar memberikan manfaat dalam memahami dan mengenal lingkungan sekolah dengan nyata, menjadi seorag guru tidak mudah dan perlu berbagai hal untuk disiapkan.

Merujuk pada panduan Program MBKM Kampus Mengajar, tujuan program kampus mengajar di satuan pendidikan dalam rangka memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang memiliki minat dalam bidang pendidikan untuk turut serta mengajarkan dan memperdalam ilmunya dengan cara menjadi guru di satuan pendidikan, membantu meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan, serta penguatan terhadap relevansi pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi dan perkembangan zaman.
Pada angkatan pertama peluncuran program MBKM Kampus Mengajar oleh Kemdikbudristek, jumlah mahasiswa program studi Pendidikan Akuntansi yang lolos seleksi sebanyak 68 mahasiswa (Yana Setiawan)

Kamis Senja, Pesta Sentosa Ikatan Mahasiswa Manajemen FPEB UPI: Festival Musik Berkelas dan Membanggakan  

05 Feb 2023 • Humas UPI

Ikatan Mahasiswa Manajemen (Image) Program Studi Manajemen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia berhasil dan sukses menyelenggarakan Festival Musik Kamis Senja yang berkelas dan membanggakan civitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia pada hari Sabtu, 4 Februari 2023 di Lapangan Yonkav Jl. Salak Nomor 2 Lingkar Selatan Kecamatan Lengkong Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.  

Festival Musik Kamis Senja Ikatan Mahasiswa Manajemen Program Studi Manajemen FPEB UPI secara resmi di buka oleh Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA serta dihadiri Dekan FPEB Prof. Dr. Eeng Ahman, MS, Direktur Direktorat Kemahasiswaan Prof. Dr. Suwatno, M.Si, Ketua Program Studi Manajemen Dr. Heny Hendrayati, S.IP., MM, para dosen dan serta orang tua mahasiswa Program Studi Manajemen FPEB UPI.  

Ketua Panitia, Rafy Rayhan menjelaskan bahwa Festival Musik Tahunan ini juga berhasil menjadi daya tarik bagi masyarakat Kota Bandung yang memiliki minat yang tinggi terhadap perkembangan industri musik. Festival Musik Kamis Senja telah dilaksanakan sejak 2015 dan terus berkembang sebagai wadah penampilan bakat musik bagi mahasiswa Program Studi Manajemen FPEB UPI maupun dari berbagai kalangan masyarakat. Tujuan Festival Musik Kamis Senja diselenggarakan dalam rangka meningkatkan promosi dan branding ikatan mahasiswa manajemen dan program studi manajemen FPEB UPI dalam penyelenggaraan festival musik.  

Pada Festival Musik Kamis Senja Tahun 2023 ini, mengambil tema Pesta Sentosa dan telah sukses menampilkan band mahasiswa manajemen, menampilkan band-band lokal untuk mencari bakat bakat baru serta menampilkan artis dan musisi nasional. Kami Senja menjadi media penyaluran dan pengembangan minat dan bakat mahasiswa manajemen serta masyarakat terhadap musik.  

Target penonton Festival Musik Kamis Senja sebanyak 6000 sampai 8000 penonton dari kalangan mahasiswa manajemen, mahasiswa UPI, pelajar serta masyarakat Kota Bandung yang memiliki ketertarikan terhadap musik. Sejumlah artis dan musisi nasional berbakat dan menginspirasi bagi anak muda Indonesia hadir dan tampil menjadi guestart memeriahkan Festival Musik Tahun ini seperti Aldi Taher, Oomleo, Hivi, Fourtwenty, Fiersa Besari, serta Dmasiv yang membawakan lagu menginspirasi dengan judul jangan menyerah.  

Melalui Festival Musik Kamis Senja ini, Ikatan Mahasiswa Manajemen (Image) selain berhasil menampilkan minat dan bakat dalam bidang musik bagi mahasiswa manajemen dan masyarakat, juga telah berhasil mendapatkan pengalaman terbaik di lapangan secara nyata serta telah berhasil mengembangkan best practice atau praktik terbaik manajemen event khususnya yang berkaitan dengan praktik perkuliahan pada bidang manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen operasional,  menajemen sumber daya manusia serta manajemen stratejik (Yana Setiawan)

Berrety, Sang Flamboyan

05 Feb 2023 • Humas UPI

Koran Sipatahoenan edisi 22 Desember 1934 mewartakan berita duka. Dalam berita Headline nya, koran terbesar di Tatar Sunda pada waktu itu menulis In memorial atas meninggalnya DW Berretty, sang Raja media di Bumi Putra yang juga pemilik Villa Isola di kota Bandung. DW Berretty tewas bersama seluruh penumpang lainnya dalam suatu kecelakaan pesawat terbang DC 2 Uiver yang ditumpanginnya dalam perjalanan reguler Amsterdam – Batavia, tiga hari sebelumnya.

Sosok DW Berretty juga disebutkan dalam media tersebut sebagai selebriti dan socialita yang dermawan. Wartawan koran Sipatahoenan mengungkap profil tuan Berretty sebagai berikut. “Kawentar koe hiroepna noe sesa seubeuh. Kawentar koe mere mawehna. Kawentar koe …affairena”. Tuan Berretty terkenal karena tak kekurangan pangan. Terkenal karena kedermawanannya. Dan ia terkenal lantaran banyak skandal asmaranya.

Disebutkan juga oleh Koran Sipatahoenan yang terbit 22 Desember 1934 tersebut, dalam kecelakaan pesawat tersebut bahwa “Noe ngamoedina, tiloe penoempang djeung 51.000 soerat2 keur ka Indonesia leboer jadi leboe”. Pilot berikut tiga penumpang dan 51.000 surat surat untuk dengan tujuan orang di Indonesia, hancur menjadi abu. (Asyik, 2018).

Itulah kilas balik, dari perjalanan hidup sang pemilik nama lengkap Dominique Willem Berretty di akhir hidupnya yang tragis. Ia tewas dalam kecelakaan pesawat terbang di Timur Tengah.
Berretty merupakan anak blasteran dari ayah warga Itali dan ibu asal Jawa toelen. Berkat statusnya sebagai anak keturunan boele dan sinyo blasteran, pemuda tampan ini berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi karyawan Post Telecom En Telegraaf (PTT) serta bekerja nyambi sebagai reporter Koran Java Bode yang berlokasi di Batavia atau Jakarta sekarang.

Unrequited Love

Dengan berbekal pengalaman sebagai reporter media, pada tahun 1917, Berretty mendirikan kantor berita yang diberi nama Algemeen Niews en Telegraaf Agentshap (ANITA) dengan motto keren Altijd nummer Een Trots Alles. “Menjadi nomor satu. Berapapun biayanya.”

Dari kiprah bisnis media ini lah, menjadikan Berrety sebagai Bos media tajir melintir dan berpenampilan flamboyan dan playboy, yang dikelilingi banyak wanita cantik. Berawal dari sini, kisah love storynya dan affair nya bergulir. Berbagai rendevous moments sang raja Koran tersebut sering terendus. Ia menjadi kaya raya dan dikelilingi banyak wanita. Konon, semasa hidupnya, ia tercatat telah menikah sebanyak 6 kali.

Ada cerita menarik dari Mang Ucup (2015). Ia seorang netizen yang berdomisili di Belanda dan masih ada ikatan famili dengan keluarga Barretty. Love story dan love affair mendiang DW Berretty terhadap banyak wanita sering diceritakan keturunannya secara turun temurun.

Begini penuturannya. “Sekitar 1932, Barretty yang flamboyan menjalin asmara dengan salah satu putri dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Cornelis de Jonge di Batavia. Tetapi malang, perjalanan cintanya tak mulus. Cintanya ditolak atau bahasa kerennya unrevitated love. Hubungan asmaranya tak disetujui sang ayah.

Perjalanan cinta Berretty dengan putri Sang Gubernur Jenderal kandas di tengah jalan. Berretty tersinggung berat. Ia murka dan merasa dilecehkan. Oleh sebab itu, untuk membuktikan bahwa ia pria terhormat dan layak meminang putri Sang Gubernur Jenderal, ia merencanakan membangun sebuah Istana megah di Bandung. Kemudian, ia menghubungi seorang arsitek kondang CP Wolff Schoemaker. Ia meminta Schoemaker untuk membangun gedung bak Istana nan megah, berapapun harganya. Dalam tempo kurang dari dua tahun, gedung megah tersebut selesai dibangun. Gedung megah dengan fasilitas taman artistik dan kolam luas kemudian dikenal dengan nama Villa Isola.

M’Isolo E Vivo

Seperti dituturkan Mang Ucup, “Jadi sebenarnya Villa Isola itu dibangun atas permintaan khusus Berretty sebagai balas dendam atas cintanya yang ditolak oleh calon mertuanya – Sang Gubernur Jenderal”.
Berretty merasa tersinggung berat dan patah hati.Untuk mengenang cinta kasih yang tak berbalas (unrevitated love) itu, ia memasang plakat di ruang masuk pintu utama Villa Isola dengan tulisan menyolok: M’ISOLO E VIVO. Artinya, Saya mengucilkan diri, untuk bertahan hidup.

Suatu pernyataan mendalam yang memunculkan misteri. Apakah betul Berretty patah hati ? Kemudian berupaya tampak tegar dengan membangun gedung megah untuk membuktikan bahwa dia sangat mencintai putri sang Gubernur Jenderal ?

Atau dia sedang berobsesi seperti kisah Taj Mahal di India. Kisah kasih yang melegenda ke seluruh penjuru dunia. Cinta tulus Raja Mughal, Syah Jehan yang memerintah tahun 1628 -1658 terhadap istri tersayangnya. Kisah cinta sang raja kepada pramesurinya, Mumtaz Mahal, yang diabadikan dalam arsitektur gedung dan menjadi salah satu keajaiban dunia. Wallahu alam.

Itulah sekilas tulisan M’Isolo E Vivo, yang melekat di atas pintu masuk Villa Isola. Suatu Misteri, dan hanya Berretty yang tahu apa makna yang tersirat dari ungkapan M’Isolo E Vivo tersebut.

Bumi Siliwangi

Putaran jarum jam terus bergulir. Waktu terus bergerak. Pada periode pendudukan Jepang (1942 -1945), gedung Villa Isola beralih fungsi sebagai kediaman sementara Jenderal Hitoshi Imamura. Pada fase perjuangan nasional mempertahankan kemerdekaan, kawasan Bandung Utara dan juga area Vila Isola, menjadi saksi betapa para pahlawan bangsa berjuang untuk mempertahankan agresi kolonial Belanda. Pertempuran sengit terjadi antara agresor Belanda dan para pejuang Bangsa. Puluhan pejuang menjadi syuhada.

Pada 20 Oktober 1954, Mr.Mohammad Yamin sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP&K) berkenan meresmikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Bandung. Pada kesempatan tersebut Vila Isola berganti nama menjadi Bumi Siliwangi. Seperti ditegaskan Mohammad Yamin (1954), “nama Bumi Siliwangi menyiratkan cahaya kerohanian dan rasa kepahlawanan. Nama Bumi Siliwangi membawa jiwa pendidik ke alam Pasundan dan memperingatkan kita pada bakti dan jasa para pemuda pejuang pada zaman revolusi kemerdekaan”.

Kini, Bumi Siliwangi menjadi ikon perjuangan. Penyemangat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk tetap terdepan sebagai kampus perjuangan untuk melawan kebodohan dan keterbelakangan. The leading university in Education. Itulah perjalanan panjang dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi (Dinn Wahyudin)

Amanah Rektor UPI untuk Guru Besar Baru

03 Feb 2023 • Humas UPI

Bandung, UPI

Ubahlah mindset, ciptakan pemikiran yang logis, ciptakan kultur kerja yang baik dan bekerjalah secara proporsional agar bisa berlari dan menjadi spirit bagi universitas.

Peryataan tersebut ditegaskan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., sesaat sebelum menyerahkan SK Pengangkatan dalam Jabatan Fungsional Profesor/Guru Besar kepada Dr. Prayoga Bestari, S.Pd., M.Si., Dosen Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) dan Dr. Florentina Maria Titin Supriyanti, M.S., Dosen Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), di Ruang Rapat Gedung Partere Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Kamis (2/2/2023).

Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dengan NOMOR 5782/M/07/2023, diberikan kepada Dr. Prayoga Bestari, S.Pd., M.Si., yang diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Kebijakan Publik. Sementara itu, Dr. Florentina Maria Titin Supriyanti, M.S., diangkat dalam jabatan akademik/fungsional dosen sebagai Profesor/Guru Besar dalam bidang ilmu Bio Kimia Pangan dengan SK NOMOR 5783/M/ 07/2023.

Rektor menekankan,”Dengan diperolehnya Jabatan Guru Besar, ini adalah tantangan baru, muncul tanggung jawab baru dan sudah saatnya untuk tidak lagi memikirkan diri sendiri, tapi justru kehadirannya dapat memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap pembinaan generasi selanjutnya khususnya dalam pembinaan SDM.”

Tentu saja bukan lagi kemandirian yang diperoleh, ujar Rektor, namun apa yang ada dalam diri para guru besar bisa memberikan kontribusi banyak. Sekarang begitu banyak program yang harus kita galakkan untuk membangun UPI ke depan.

“Berbicara masalah SDM, bagi dosen-dosen yang belum Doktor diharapkan segera menyelesaikan dan mempercepat masa studinya. Pimpinan universitas sudah mengeluarkan program dan kebijakan termasuk anggarannya. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan usaha bersama, diperlukan pembinaan dari para guru besar jangan sampai mereka terlena dengan kesibukannya,” pungkas Rektor.

Sementar itu dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Senat Akademik UPI Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si., yang hadir mewakili Ketua Senat Akademik, mengharapkan bahwa pencapaian atas diraihnya Jabatan Guru Besar ini tidak selesai disini, tetapi teruslah untuk mengabdikan diri demi kebaikan dan kebesaran lembaga.

Dikatakan Prof. Elly,”Jika tidak bekerja di UPI, belum tentu kita bisa meraih Jabatan Guru Besar. Sangat disayangkan jika ada orang yang banyak mengeluh. Dengan diraihnya Jabatan Guru Besar ini, diharapkan untuk lebih arif dan bijak dalam bersikap.”

Hal serupa juga ditegaskan oleh Ketua Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si., dikatakannya,”Dengan bertambahnya 2 orang guru besar hari ini, telah mencatatkan jumlah guru besar terbanyak dalam sejarah UPI. Tercatat ada 143 orang guru besar yang dimiliki UPI.”

Dihimbau, lanjut Prof. Karim, kepada para doktor yang ada di lingkungan UPI untuk dapat segera mengajukan Jabatan Fungsional Profesor/Guru Besar. Mengutip perkataan seorang filsuf S. James, dikatakannya bahwa yang harus kita lakukan adalah bekerja dengan data, bekerja dengan fakta, tapi ketika data dan fakta itu kurang, kita tidak boleh diam tapi tetap harus bekerja dengan data yang ada. Kehadiran guru besar menjadikannya sarana untuk saling mengingatkan dan saling menginspirasi.

Hadir dalam kesempatan tersebut, jajaran pimpinan universitas seperti Para Wakil Rektor, Ketua Senat Akademik, Ketua Dewan Guru Besar, Dekan FPIPS dan Dekan FPMIPA, serta Kepala Biro SDM. (dodiangga/foto:ravi)

Pencarian