English
Indonesia

UPI Gelar Silaturahmi, Apresiasi Kepada Mahasiswa Berprestasi Nasional

22 Dec 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan Silaturahmi Peraih Prestasi Kegiatan Ditjen Belmawa pada Senin, 22 Desember 2025, berlokasi di Halaman Gedung Partere UPI. Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi sekaligus penguatan ekosistem prestasi mahasiswa yang telah mengharumkan nama UPI di berbagai kompetisi talenta tingkat nasional.

Dihadiri langsung oleh Rektor UPI, jajaran Wakil Rektor, para dekan, direktur, dosen pembimbing, serta ratusan mahasiswa peraih prestasi. Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi antara pimpinan universitas, dosen, dan mahasiswa berprestasi.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI, Prof. Dr. Hj. Siti Nurbayani Kusumaningsih, M.Si., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan pertama yang secara khusus dirancang untuk mengapresiasi capaian mahasiswa dan dosen pembimbing.

“Acara ini adalah silaturahmi sekaligus bentuk penghargaan atas kerja keras, proses, kesabaran, dan kemampuan mahasiswa dalam membagi waktu antara akademik dan prestasi. Kami juga ingin mengapresiasi para dosen pembimbing serta mendorong seluruh fakultas untuk lebih fokus memfasilitasi dan memotivasi mahasiswa,” ujarnya.

Lebih lanjut, ke depan Ditmawa UPI tengah merancang berbagai program lanjutan, termasuk konsep rumah prestasi dan wacana bantuan UKT bagi mahasiswa berprestasi sebagai bentuk dukungan konkret terhadap keberlanjutan prestasi dan apresiasi.

Dalam sambutannya, Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., mengungkapkan rasa bangga atas peningkatan capaian prestasi mahasiswa UPI di tahun ini.

“Kalau dibandingkan dengan universitas lain mungkin belum sepenuhnya memuaskan, tetapi dari sisi progres ini sangat menggembirakan. Jumlah dan kualitas prestasi kita meningkat, baik di LIDM, PIMNAS, KMI Expo, hingga Abdidaya,” ujar Rektor.

Puncak dari kegiatan ini dengan penyerahan penghargaan secara simbolis kepada perwakilan mahasiswa dari berbagai program seperti GEMASTIK, PIMNAS, POMNAS, Abdidaya Ormawa, MTQ, LIDM, dan KMI Expo. Terdapat lebih dari 100 mahasiswa UPI terlibat dalam berbagai kompetisi talenta Belawa di sepanjang tahun 2025.

Salah seorang mahasiswa, Ditka Pradana, yang merupakan peraih juara 1 pada ajang KMI Expo mengaku sangat terkesan dengan kegiatan ini.

“Kami merasa sangat dihargai. Benar-benar di luar ekspektasi kami. Selama proses kompetisi, UPI sangat memfasilitasi melalui pembinaan rutin, sehingga kami punya gambaran yang jelas untuk meraih prestasi,” ungkapnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis, Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., juga menyampaikan hal senada bahwa capaian tahun ini akan dijadikan sebagai modal penting untuk menyusun peta jalan pembinaan prestasi mahasiswa yang lebih berkelanjutan dan sistematis.

“Mahasiswa yang sudah berprestasi akan menjadi bagian dari pembinaan dan diharapkan mampu menularkan semangat serta pengalaman kepada mahasiswa lainnya,” ujarnya. (CS/Rz)

UPI Kirim Tim Ahli untuk Pemulihan Psikologis Korban Banjir di Langkat

22 Dec 2025 • Humas UPI
Tim ahli dari UPI melaksanakan pendampingan psikososial bagi anak-anak dan remaja korban banjir di Langkat, Sumatera Utara, Minggu (21/12).

Langkat, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengirimkan tim dosen lintas fakultas untuk melaksanakan pendampingan psikososial dan trauma healing bagi anak-anak dan remaja korban banjir di Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan ini dilaksanakan di lokasi pengungsian MAN 1 Langkat dan diikuti sekitar 100 anak dan remaja.

Program trauma healing tersebut merupakan bentuk kepedulian sivitas akademika UPI dalam membantu pemulihan kondisi psikologis kelompok rentan pascabencana. Tim pendamping terdiri atas dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) UPI, yang memiliki keahlian di bidang psikologi pendidikan, bimbingan konseling, dan kesehatan mental.

Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti berbagai permainan edukatif, aktivitas kelompok, serta konseling singkat dengan pendekatan psikososial. Kegiatan ini bertujuan membantu mengurangi kecemasan, rasa takut, serta tekanan emosional akibat peristiwa banjir yang melanda wilayah tersebut.

Anak-anak terdampak bencana tampak antusias mengikuti permainan kreatif dan latihan konsentrasi yang dirancang untuk menstimulasi ekspresi emosi positif. Sementara itu, kelompok remaja dibimbing untuk memperkuat daya resiliensi, keterampilan pemecahan masalah, serta membangun kembali harapan dan rasa percaya diri.

Ketua tim, Prof. Dr. Nandang Rusmana, M.Pd., menegaskan pentingnya pendampingan psikologis segera setelah bencana terjadi.

“Trauma healing membantu anak-anak dan remaja memulihkan rasa aman dan percaya diri, sehingga mereka dapat kembali beraktivitas dan belajar secara normal,” ujarnya.

Kegiatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pemulihan kesehatan mental, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pendekatan pembelajaran psikososial, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan ketahanan sosial masyarakat terdampak bencana.

Melalui kegiatan ini, UPI berharap dapat berkontribusi dalam mempercepat pemulihan psikologis warga terdampak banjir, terutama anak-anak dan remaja yang rentan secara emosional, sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi dalam respons kemanusiaan berbasis keilmuan. (RK)

Prestasi UPI di Anugerah Diktisaintek 2025

20 Dec 2025 • Humas UPI

Bandung, UPI – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) turut serta memeriahkan ajang Anugerah Diktisaintek 2025 dengan menorehkan prestasi membanggakan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada 19 Desember 2025 di Jakarta. Sebuah ajang tahunan yang rutin digelar sebagai ruang apresiasi terharap perguruan tinggi atas kontribusi nyata dalam bidang tata kelola, riset, pendidikan, serta komunikasi publik.

UPI berhasil menorehkan penghargaan, yaitu:

  • Bronze Winner Pengelolaan Media Sosial oleh Kantor Komunikasi Informasi dan Pelayanan Publik (KKIPP) UPI,
  • Silver Winner Insan Humas atas nama Haydar Islami dari KKIPP UPI,
  • Bronze Winner Pengelolaan Laporan Kerja Sama oleh Direktorat Kerja Sama dan Urusan Internasional (DKUI) UPI.

Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi kinerja tim KKIPP serta Direktorat Kerja Sama dan Urusan Internasional. Saya juga sangat berharap ke depan unit-unit lain yang terkait dengan kategori yang dipertandingkan dapat turut serta untuk mengharumkan nama UPI,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala KKIPP UPI, Vidi Sukmayadi, S.S., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa penghargaan ini merupakan hasil dari kerja kolektif seluruh tim.

“Alhamdulillahirrahmanirrahim, ini merupakan suatu kebanggaan dan bukti dari hasil kerja keras bersama. Bukan hanya kerja satu atau dua orang, melainkan kerja kolektif yang Alhamdulillah membuahkan hasil,” ungkapnya.
Ia menambahkan, “Ini bukan waktunya untuk berpuas diri. Kami akan terus melakukan refleksi dan evaluasi. Insya Allah pada tahun 2026 kami akan lebih siap dan terus melesat.”

Dalam laporan yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D., Anugerah Diktisaintek di tahun 2025 memberikan sebanyak 547 penghargaan. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kinerja perguruan tinggi serta insan pendidikan dalam mendukung kebijakan kementerian di sepanjang tahun 2025.

Melalui torehan ini, UPI meneguhkan komitmennya untuk terus memperkuat fungsi kehumasan, kolaborasi strategis, serta tata kelola perguruan tinggi yang baik sebagai bagian dari pembangunan kepercayaan publik dan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan tinggi Indonesia. (CS)

Dua Mahasiswa UPI Diberangkatkan Bersama Relawan Medis ke Langkat Sumatera Utara

18 Dec 2025 • Humas UPI
Ogi Permana serta Mokh Rakhmad Abadi, dua Mahasiswa UPI yang ikut diberangkatkan bersama relawan medis ke Langkat, Sumatera Utara.

Bandung, UPI — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memberangkatkan dua mahasiswa sebagai bagian dari Tim Relawan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan menuju Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, untuk membantu penanganan kesehatan pascabencana banjir. Pelepasan tim dilakukan langsung oleh Rektor UPI Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A. di Gedung Rektorat UPI, Selasa (16/12).

Kedua mahasiswa tersebut adalah Ogi Permana, mahasiswa Program Profesi Ners Angkatan 2025, serta Mokh Rakhmad Abadi, mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Olahraga Angkatan 2025. Keduanya bergabung bersama sepuluh dosen dalam tim relawan lintas fakultas.

Ogi Permana menjelaskan bahwa keterlibatannya sebagai relawan merupakan bagian dari tugas pengabdian sekaligus penerapan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan.

“Keikutsertaan saya sebagai relawan merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi ilmu keperawatan yang telah saya pelajari. Saya ingin memberikan kontribusi nyata dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana,” ujar Ogi.

Selama bertugas di Langkat, kedua mahasiswa akan membantu tim dosen dalam pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya pemeriksaan kesehatan dasar dan dukungan kegiatan medis di wilayah terdampak banjir.

Menurut Ogi, kondisi lapangan pascabencana diperkirakan menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan akses menuju lokasi hingga risiko meningkatnya penyakit akibat lingkungan yang kurang higienis.

“Akses ke lokasi kemungkinan terbatas karena dampak banjir. Selain itu, kondisi lingkungan pascabencana bisa meningkatkan risiko penyakit infeksi seperti diare dan penyakit kulit,” katanya.

Meski demikian, Ogi mengaku telah mempersiapkan diri secara akademik dan mental. Ia menyebut mata kuliah keperawatan bencana dan kegawatdaruratan menjadi bekal utama dalam menghadapi situasi lapangan.

“Selain bekal ilmu, saya juga mempersiapkan kondisi fisik, mental, serta doa,” tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh Mokh Rakhmad Abadi, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Olahraga. Ia menilai keterlibatannya dalam tim relawan menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa lintas disiplin dalam mendukung pemulihan pascabencana.

Kedua mahasiswa memastikan bahwa keikutsertaan mereka sebagai relawan telah mendapatkan izin dari orang tua. Ogi menyampaikan bahwa orang tuanya sempat merasa khawatir, namun akhirnya memberikan dukungan penuh setelah mendapat penjelasan.

“Orang tua awalnya khawatir, tetapi setelah dijelaskan tujuan kegiatan, sistem pendampingan, dan pengawasan dari institusi, mereka mendukung penuh,” ujarnya.

Terkait mekanisme keberangkatan, Ogi menyebut bahwa dirinya ditunjuk secara institusional untuk menjadi bagian dari tim relawan.

“Kesempatan ini merupakan amanah. Saya merasa ini menjadi pengalaman berharga untuk menumbuhkan empati, kepedulian sosial, dan profesionalisme sebagai calon perawat,” katanya.

Pelepasan tim relawan ini menandai komitmen UPI dalam menghadirkan peran nyata sivitas akademika—termasuk mahasiswa—dalam aksi kemanusiaan dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya bagi warga terdampak bencana alam.

Dua mahasiswa tersebut tergabung bersama tim relawan yang terdiri dari 12 orang, yakni 10 dosen dan 2 mahasiswa yang terdiri dari tiga fakultas di lingkungan UPI, yaitu Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK). (RK)

Resbob dan Krisis Komunikasi Digital

18 Dec 2025 • Humas UPI
Suwatno, Guru Besar Komunikasi Organisasi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

Kasus viral “Resbob” baru-baru ini yang memicu kemarahan publik, khususnya masyarakat Sunda, kerap dipahami hanya sebagai persoalan ujaran kebencian individual. Pelaku dikecam, konten diturunkan, aparat bergerak, dan publik menuntut hukuman. Respons ini memang penting sebagai mekanisme koreksi sosial. Namun, jika berhenti pada individu semata, kita justru kehilangan gambaran yang lebih besar. Peristiwa ini sesungguhnya membuka krisis yang jauh lebih mendasar: krisis komunikasi digital dan kegagalan etika publik dalam menghadapi logika media baru.

Dalam tradisi pemikiran klasik, komunikasi tidak pernah dipahami sebagai aktivitas netral. Aristoteles melihat komunikasi sebagai seni persuasi rasional yang mengandaikan ethos, logos, dan pathos: karakter moral pembicara, kualitas argumen, serta pengelolaan emosi secara bertanggung jawab. Berabad-abad kemudian, Jürgen Habermas (1984) menempatkan komunikasi sebagai fondasi ruang publik demokratis, yakni arena di mana warga berargumentasi secara setara demi mencapai saling pengertian (mutual understanding). Bahasa, dalam kerangka ini, adalah medium etis yang menuntut tanggung jawab moral atas setiap ujaran dan konsekuensi sosialnya.

Namun, lanskap komunikasi digital kontemporer, terutama melalui media sosial dan siaran langsung, menggeser fondasi tersebut secara radikal. Komunikasi tidak lagi diarahkan pada pencarian makna bersama, melainkan pada produksi sensasi. Kebenaran dikalahkan oleh keterlihatan. Yang menentukan bukan kedalaman gagasan, melainkan intensitas reaksi. Semakin provokatif sebuah pernyataan, semakin tinggi nilainya dalam logika algoritmik. Bahasa kehilangan fungsi reflektifnya dan berubah menjadi pemicu instan emosi kolektif.

Kasus Resbob memperlihatkan komunikasi yang sepenuhnya performatif. Bahasa tidak digunakan untuk menjelaskan, berdialog, atau membuka ruang pemahaman lintas budaya, melainkan untuk menciptakan kegaduhan. Dalam istilah Jean Baudrillard (1981), kita memasuki wilayah simulacra: ujaran tidak lagi merepresentasikan realitas sosial, tetapi justru memproduksi realitasnya sendiri. Dalam hal ini realitas dibangun dari kontroversi, konflik simbolik, dan kemarahan yang terus direproduksi. Yang viral dianggap nyata, sementara yang tenang dianggap tidak relevan.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari logika attention economy. Dalam ekonomi perhatian, sumber daya paling langka bukan lagi informasi, melainkan atensi manusia. Emosi ekstrem seperti marah, tersinggung, terhina, menjadi mata uang paling efektif. Algoritma platform digital bertindak sebagai kurator moral baru, bukan berdasarkan nilai etika atau kepentingan publik, melainkan pada potensi keterlibatan, durasi tontonan, dan peluang monetisasi. Apa yang memancing reaksi paling keras akan diprioritaskan, tanpa mempertimbangkan dampak sosial jangka panjangnya.

Dalam kerangka ini, ujaran kebencian bukanlah anomali, melainkan produk yang fungsional secara ekonomi. Menghina memancing emosi, emosi meningkatkan engagement, dan engagement berujung pada popularitas, donasi, atau keuntungan finansial. Bahasa direduksi menjadi alat produksi nilai. Habermas (1984) menyebut kondisi ini sebagai kolonisasi dunia kehidupan, ketika rasionalitas komunikasi dikalahkan oleh rasionalitas system: uang, popularitas, dan logika algoritmik.

Lebih jauh, ujaran Resbob dapat dibaca sebagai bentuk kekerasan simbolik sebagaimana dikemukakan Pierre Bourdieu (1991). Kekerasan ini tidak bekerja melalui pemaksaan fisik, melainkan melalui bahasa yang merendahkan martabat kolektif. Penghinaan terhadap identitas Sunda bukan sekadar persoalan perasaan tersinggung, melainkan serangan terhadap pengakuan sosial. Ia melukai pada level simbol, harga diri kolektif, dan rasa dihargai sebagai bagian dari komunitas budaya yang sah dalam ruang publik nasional.

Yang membuat kekerasan simbolik ini begitu efektif adalah penyamarannya sebagai “candaan”, “hiburan”, atau “konten biasa”. Dalam ruang digital, batas antara kritik, satire, dan penghinaan menjadi kabur. Tanggung jawab etis terfragmentasi: kreator merasa hanya bercanda, penonton merasa hanya menikmati tontonan, sementara platform berlindung di balik netralitas algoritma. Semua terlibat, tetapi tak satu pun merasa sepenuhnya bertanggung jawab.

Akibatnya, etika diskursus nyaris mati. Komunikasi tidak lagi setara karena satu identitas ditundukkan secara simbolik. Ada paksaan emosional melalui provokasi, dan tidak ada orientasi untuk saling memahami. Ruang publik digital berubah menjadi arena konflik simbolik, bukan ruang dialog rasional. Byung-Chul Han (2017) menyebut kondisi ini sebagai shitstorm society, yakni masyarakat yang ruang publiknya hidup dari kemarahan, bukan dari pertukaran argumen yang bermakna.

Reaksi keras masyarakat Sunda menunjukkan bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar harga diri individu, melainkan luka kolektif. Dalam perspektif politik pengakuan, identitas budaya merupakan basis martabat sosial. Ketika identitas itu dilecehkan, respons yang muncul bukan semata ledakan emosi, melainkan tuntutan akan pengakuan yang adil dan setara sebagai warga budaya dalam ruang publik demokratis.

Kasus Resbob, dengan demikian, memberi pelajaran penting bahwa persoalan utamanya bukan hanya pelaku, melainkan sistem komunikasi digital yang memberi insentif pada kebencian. Selama bahasa terus dimonetisasi, ruang publik kehilangan fungsi deliberatifnya, dan identitas dijadikan komoditas konflik, kasus serupa akan terus berulang dalam bentuk dan aktor yang berbeda.

Tanpa literasi komunikasi kritis, regulasi platform berbasis etika, serta pendidikan etika digital yang serius dan berkelanjutan, kita akan terus menyaksikan bahasa kehilangan martabatnya. Bukan lagi sebagai jembatan makna, melainkan sebagai pemicu sensasi. Dan ketika bahasa runtuh, yang ikut runtuh bukan hanya etika komunikasi, tetapi fondasi kebersamaan kita sebagai masyarakat majemuk dan demokratis.

Pencarian