
Bandung, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sudah lama concern dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila melalui mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. UPI, Saya pikir sajian sejarah dalam sebuah novel ini sangat bagus karena sekarang kan kita ketahui bahwa buku-buku sejarah itu sangat textbook gitu ya. Sehingga untuk generasi milenial ini nampaknya kurang menarik gitu ya..
Sosialisasi Novel Irian Barat ini sekaligus membahas tentang pembunuhan Kennedy, Bedah Buku Irian Barat ini merupakan acara yang sangat bagus untuk memperkuat bagaimana sejarah itu terjadi pada mahasiswa, khususnya UPI.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Senat Akademik sekaligus sebagai Ketua PUPPWK UPI Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Si., dalam sebuah wawancara pada kegiatan bedahbukunovel Irian Barat di Gedung Auditorium lt.6 FPIPS UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Kamis (20/3/2025).
Dr. Amb. H. Yusron Ihza menyampaikan kita bicara Iran Barat dan sekaligus juga Kennedy. Tentu saja berarti antara Iran Barat dan Kennedy itu merupakan dua hal yang berhubungan. Jadi novel ini memang berbicara tentang pembunuhan Kennedy, tetapi juga sekaligus berbicara tentang negeri kita, tentang Indonesia.
“Pentas novel ini terbagi dua yaitu di Dallas dan Jakarta sebagai pentas utamanya. Sebenarnya kalau kita tarik ke kepentingan kita atau relevansinya dengan kita Indonesia, Maka dapat dikatakan bahwa apa yang terjadi di Dallas tahun 1963 yaitu pembunuhan Kennedy tersebut Itu berkaitan erat dengan apa yang terjadi di Indonesia pada bulan September tahun 1965 Jadi peristiwa pembunuhan Kini di Dallas itu Berkaitan dengan peristiwa PKI Pada Tahun 65 tersebut”. Tambahnya.
H. Yusron Ihza pun mengatakan “Relevansinya novel ini jika kita bertanya apa makna atau apa artinya novel ini. Dalam kaitan untuk mahasiswa itu fokusnya untuk mahasiswa. Jadi, begini tentu sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa sebagai pendidik di UPI ini tentulah mereka ideal apabila mempunyai pemahaman yang baik yang cukup tentang sejarah bangsanya sendiri.”
Dengan membaca novel ini kita bukan saja pengetahuan kita tentang dunia internasional, tentang Amerika, tentang pembunuh Kennedy yang merupakan periswa besar di abad ke-20, tapi sekaligus juga kita dapat melihat apa sejarah kita terkait periswa G30S tahun 65 itu.
Jadi, bagi mahasiswa, dengan dia membaca novel ini, dia sekaligus tahu antara lain misalnya versi lain dari G30S itu kalau dulu pada tahun 1965 dan seterusnya pada zaman Pak Harto itu ada semacam monopoli, penapsiran tentang peristiwa G30S itu sedangkan pada masa-masa setelah reformasi itu kan ada tujuh versi tentang apa sesungguhnya peristiwa G30S itu saya mengatakan G30S saya tidak mengatakan G30S PKI karena itu Sebenarnya kata PKI itu sejauh yang saya kaji, itu kata yang didomplengkan oleh Raditya Soeharto II terhadap peristiwa gerakan 30 September itu.
Yang notabene peristiwa gerakan 30 September itu pun sebenarnya berbeda dari apa yang diceritakan menurut posisi Soeharto. Jadi dengan membaca novel ini, mungkin kawan-kawan mahasiswa akan mendapat satu perspektif baru di dalam memandang masalah sejarah yang amat besar di negeri kita, yaitu peristiwa G30S itu.
Yusron pun berharap “bahwa Novel ini sekaligus juga akan mengerjakan kita, terutama generasi-generasi sekarang dan akan datang, untuk coba belajar lebih dalam tentang sejarah bangsa kita ini.
Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Si nah walaupun di dalam kurikulum merdeka namanya sekarang ini barangkali tidak secara khusus lagi ilmu-ilmu semacam ini diajarkan tetapi saya tetap mengatakan bahwa sejarah itu merupakan hal yang amat penting, bahwa tidak akan ada hari ini, kalau tidak ada hari kemarin, dan juga sesungguhnya hari esok pun dibentuk oleh hari ini jadi bagilah kita belajar sejarah dengan itu insya Allah kita lebih tahu tentang diri kita tahu tentang orang lain bahkan kalau kita tarik ke Sun Tzu ahli strategi perang katanya apabila engkau tahu tentang dirimu dan tahu tentang musuh-musuhmu maka dalam seribu perang pun engkau tak akan terkalahkan, itu Sun Tzu yang mengatakan berarti goal dari Bapak itu mahasiswa itu disuruh lebih open lagi kan iya dalami itu, belajarlah sendiri jadi ini saya menteri gerah, dan saya berharap akan ada juga orang-orang lain yang muncul, menjadi penulis atau apa lagi yang justru lebih baik bagi saya terima kasih silahkan.“
Yadi Ruyadi menyampaikan beberapa hal Bahwa dari makna ini itu mengangkatnya tentang kegiatan yang rutin yang kita lakukan oleh Pusat Unggulan Pendidikan Pancasila dan Awasan Kebangsaan, UPI Dan pada kesempatan sekarang itu menghadirkan narasumber Dr. Yusron Ihza Beliau menulis buku tentang sejarah Irian Barat yang dikemas ke dalam sebuah novel.
“Saya pikir sajian sejarah dalam sebuah novel ini sangat bagus karena sekarang kan kita ketahui bahwa buku-buku sejarah itu sangat textbook gitu ya. Sehingga untuk generasi milenial ini nampaknya kurang menarik gitu ya. Tapi kalau dikemas ke dalam novel sejarah ini akan punya daya tarik yang bagus untuk generasi milenial,” tambahnya.
“Perlu kita terus dorong supaya generasi sekarang itu memahami dan punya kesadaran tentang sejarah bangsanya, Karena kan ada ungkapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya Ini terutama untuk para generasi milenial. Kemudian kita ketahui bahwa sejarah Irian Barat ini adalah sejarah yang juga sering dilupakan,” lanjutnya.
Irian Barat adalah salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia terus berjuang dan bisa berhasil Sehingga ketika proklamasi tahun 1945 itu wilayah Indonesia itu minus Irian Barat. Kemudian pada tahun 1962 setelah merdeka baru ada upaya untuk menyatukan Irian Barat ke dalam wilayah NKRI dan itu perjuangan sangat luar biasa bagaimana Presiden Soekarno berjuang habis-habisan baik di dalam negeri maupun di luar negeri dengan dulu istilahnya membebaskan Irian Barat.
Perjuangan dari para pejuang bangsa kita ini harus diketahui oleh generasi muda karena hadirnya NKRI hari ini itu bukan turun dari langit tapi adalah hasil dari perjuangan para pahlawan kita.
Ketua Senat Akademik UPI beharap “Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus mendorong bagaimana para mahasiswa itu bisa memiliki pemahaman yang luas tentang sejarah dan tentu saja diharapkan punya kesadaran atas sejarah bangsa. Dan atas dasar itulah bagaimana generasi muda melakukan bekerja keras, melahirkan menjadi calon-calon pemimpin yang berwawasan kebangsaan untuk makin jayanya NKRI di masa yang akan datang.”. (Riza Ibrahim)





