Bandung, UPI

Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) gelar pertunjukan kolaborasi antara prodi Seni Musik dan Pendidikan Seni Rupa pada Kamis, (19/6/2025). Acara ini berlangsung di lantai 1 Gedung Fakultas Pendidikan Seni dan Desain. 

Acara kolaborasi dengan ide kreatif ini digelar sebagai bahan penilaian di Ujian Akhir Semester mahasiswa Seni Musik dan Pendidikan Seni Rupa. Dengan menampilkan berbagai karya seni rupa yang diambil dari empiris dan media yang berbeda, Pendidikan Seni Rupa berhasil menyajikan media lukis yang indah dan membuat mata semua orang tertuju pada karya yang disajikan. Media ini mampu mengkolaborasikan  beberapa elemen emosi yang menjadi satu, dipadukan dengan seni suara yang dilantunkan oleh Seni Musik.

Pertunjukan yang dipersembahkan oleh Seni Musik adalah Monolog Cahaya yang dapat mengekspresikan emosi melalui musik dengan cahaya sebagai media sebuah ruang. Seni Musik memberikan berbagai macam penampilan yang indah, dan lantunan yang meresap dalam jiwa.

Proses yang dilakukan untuk melaksanakan pertunjukan ini melalui tahapan yang panjang. Setiap orang yang tampil adalah mahasiswa terbaik yang terpilih berdasarkan hasil kurasi dosen. Persiapan yang dilakukan sangat matang sehingga menghasilkan tepuk tangan yang meriah dari setiap penonton yang datang.

Seni musik tampil memukau dengan beberapa penampilan hasil dari berbagai macam studio. Ada 6 studio yang tampil di acara tersebut yaitu Studio Gitar, Piano, Violin, String, Vokal Sunda, Vokal Barat serta Woodwind. Proses latihan yang dilakukan cukup panjang sehingga menghasilkan penampilan yang menarik dan spektakuler. Penampilan ini juga merupakan kolaborasi antara Seni Musik dari angkatan 22, 23 dan 24. 

Sebagai media dan background untuk pertunjukan yang memukau, tentunya diperlukan proses yang panjang untuk membuat sebuah karya lukis yang indah. Sebagai ruang dan media penyaji penampilan, karya yang dipamerkan oleh Pendidikan Seni Rupa memiliki nilai dan emosi yang cukup dalam.

Hal ini terjadi karena karya yang dipamerkan oleh Pendidikan Seni Rupa memiliki analisis yang sangat mendalam. Ini dikembangkan karena anak seni rupa yang membedah suatu buku filsafat serta menyajikannya sesuai empiris dan dalam bentuk media yang berbeda-beda. Mulai dari media pensil, pulpen, arang, bahkan sampai kecap. 

Daya tariknya sendiri dilihat dari bagaimana penganalisisan dari detail lukisan seperti garis, titik, bahkan warna pun dipelajari juga sejarah siapa pembuatnya, pengembangnya, dan bagaimana itu bisa disajikan dengan baik pada suatu karya.

Terdapat lima submateri yang nantinya akan dijadikan acuan oleh mahasiswa dalam pembuatan karya yang ada dalam karya seni tersebut. Diantaranya yaitu Landscape, artinya foto pemandang baik hutan, gunung, luat dan kota. Ada Potrait FPSD di mana seniman membuat langsung menggambarkan berbagai pemandangan FPSD secara on the spot. Ada Still Life, perpaduan antara berbagai macam komposisi dari sebuah benda, ataupun makhluk yang akan digambar.

Kemudian ada Human Figure, menggambar manusia, terutama yang menjadi acuan mahasiswa seni rupa adalah menggambar orang terdekat dengan pengalaman dan posisi orang tersebut dalam hidup, dan yang terakhir adalah Animal Figure, yaitu penggambaran hewan yang dibuat.

“Seni itu pasti sebagian besar kaitannya dengan manusia, dengan manusia dan momen. Maka dari itu balik lagi, di sini kita menyatukan elemen itu ini saatnya untuk orang orang tampil dan disorot oleh cahaya,” Ujar Ryan Rizki Ketua Pelaksana Monolog Cahaya Seni Musik 23. 

“Media dan gambar ini merupakan renungan dari seniman atas karya yang akan dibuat. Begitu pula Monolog Cahaya. Menurut gue Monolog cahaya juga merupakan perenungan. Di Fenomenologi Ruang juga ini merupakan hal yang berhubungan,” ujar Taris Barikan, Ketua Pelaksanaan Fenomenologi Ruang Pendidikan Seni Rupa. 

Ruang dan cahaya merupakan unsur yang tidak bisa terpisahkan, ruang akan disebut ruang apabila terdapat cahaya yang didalamnya menyinari. Maka dari itu dua element ini adalah dua elemen yang saling berkesinambungan dan saling melengkapi. 

“Dibalik tim yang hebat, terdapat komunikasi yang kuat,” ujar Taris dan Ryan ketua pelaksana pada Kamis, 19 Juni 2025.

Kolaborasi Monolog Cahaya  menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara suara dan visual mampu menghadirkan pengalaman artistik yang mendalam dan menyentuh. Lewat kekuatan cahaya, ruang, musik, dan rupa, pertunjukan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk karya, tetapi juga cerminan perjalanan reflektif dan kreatif para mahasiswa dalam meresapi dan mengekspresikan makna. Sebuah penutup semester yang tidak hanya menggugah mata dan telinga, tetapi juga hati.

Reporter: Anma Risanti Maulidia
Editor: Muhammad Fariz Virgiansyah
Kontributor dari FPSD