
Bandung, UPI
Sebelum membayangkan ruang-ruang perkuliahan di Jepang, Nabila Dwisepti Cahyani lebih dahulu belajar bagaimana bertahan di ruang kuliahnya sendiri. Mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu menjalani perkuliahan sambil bekerja sebagai freelance graphic designer, content creator, moderator, pembawa acara, hingga narasumber untuk membantu membiayai pendidikannya.
Kini, perjalanan tersebut membawanya ke tahap yang sebelumnya mungkin hanya berupa kemungkinan. Pada 28 September 2026, Nabila dijadwalkan berangkat ke Jepang untuk mengikuti Student Exchange Support Program di The University of Kitakyushu selama satu tahun.
Keberangkatan itu datang setelah Nabila meraih Juara III kategori Sarjana pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Nasional Tahun 2026. Senin (14/9/2026), Rektor UPI menyerahkan penghargaan atas capaian tersebut kepada Nabila dalam kegiatan di Ruang Rapat Gedung Rektorat UPI.
Namun, penghargaan itu tidak berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat perjalanan seorang mahasiswa yang memilih tetap kuliah ketika kondisi ekonomi keluarga membuat keputusan tersebut tidak mudah, kemudian menggunakan keterampilan yang dimilikinya untuk membiayai pendidikan sekaligus membangun pengalaman di luar ruang kelas.
Memilih Kuliah di Tengah Keterbatasan
Bagi Nabila, keputusan untuk kuliah bukan keputusan yang sederhana. Setelah lulus SMA, ia sudah menyadari bahwa dirinya perlu mulai bertanggung jawab atas kebutuhan sendiri. Kondisi ekonomi keluarga membuat biaya pendidikan tinggi menjadi salah satu pertimbangan utama.
Ayahnya sempat menyarankan agar Nabila bekerja karena hasilnya lebih pasti, sementara kuliah belum menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Nabila tetap memilih pendidikan karena percaya bahwa perguruan tinggi tidak hanya memberikan pembelajaran, tetapi juga membuka kesempatan yang mungkin sebelumnya tidak terlihat.
Kesempatan itu kemudian ia kejar dengan kemampuan yang dimilikinya.
Nabila bekerja sebagai freelance graphic designer dan memperoleh sejumlah klien dari luar negeri. Ia juga mengembangkan diri sebagai content creator, menerima pekerjaan sebagai moderator, MC, maupun narasumber dalam berbagai kegiatan. Penghasilan dari aktivitas tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan kuliahnya.
“Awal kuliah itu cukup berat,” kata Nabila ketika menceritakan perjalanan tersebut.
Ia tidak menyebut pekerjaan-pekerjaan itu sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan akademiknya. Justru melalui berbagai aktivitas tersebut, ia memperoleh pengalaman, jaringan, keterampilan komunikasi, dan kesempatan untuk mengenali kemampuan dirinya sendiri.
Perjalanan keluarganya juga menjadi bagian dari cerita tersebut. Ayah Nabila sebelumnya merupakan pengusaha fotokopi namun, setelah usahanya mengalami kebangkrutan, kondisi ekonomi keluarga berubah. Sang ayah kemudian bekerja sebagai pengemudi ojek daring.
Sementara itu, ibunya yang sebelumnya hampir 20 tahun menjadi ibu rumah tangga kini menekuni pekerjaan sebagai content creator. Nabila mengatakan kedua orang tuanya kini merasa bangga melihat apa yang telah ia capai dan semakin memberikan dukungan terhadap pendidikannya.
Prestasi yang Berangkat dari Kepedulian
Di kampus, Nabila tidak hanya mengejar capaian akademik. Ia berusaha mengembangkan diri melalui kompetisi, karya, publikasi, organisasi, dan kegiatan yang menurutnya dapat memberikan dampak kepada masyarakat.
Dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat nasional, ia menghadapi penilaian yang tidak hanya melihat kemampuan akademik. Nabila menyebut aspek yang dinilai mencakup kemampuan bahasa Inggris, capaian unggulan, dan gagasan kreatif. Ia juga melihat mahasiswa berprestasi melalui tiga pilar: berprestasi, berdampak, dan berkarakter.
Gagasan kreatif yang dibawanya berangkat dari persoalan pendidikan di kawasan 3T. Nabila menyoroti kondisi fasilitas sebuah sekolah dasar yang dinilai sangat tidak layak dan mengusulkan pemanfaatan material lokal sebagai bagian dari inovasi.
Gagasan tersebut memperlihatkan bagaimana latar belakangnya sebagai mahasiswa Arsitektur tidak berhenti pada persoalan desain. Ia mencoba menghubungkan keilmuan dengan kebutuhan masyarakat.
“Sebagai mahasiswa sebetulnya kita perlu untuk mengidekan apa yang bisa kita usahakan walaupun itu dari hal kecil,” ujarnya.
Bagi Nabila, langkah pertama bukan langsung menentukan solusi, melainkan mencari tahu persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
“Kita masih muda, masih banyak energi, kita harus bisa melakukan riset dan menanyakan apa kebutuhan masyarakat yang bisa kita fasilitasi,” katanya.
Cara berpikir tersebut menjadi bagian dari perjalanan Nabila dalam membangun portofolio. Ia menyadari bahwa capaian mahasiswa tidak hanya dibentuk dari nilai di ruang kelas, tetapi juga dari apa yang dilakukan setelah pengetahuan diperoleh.

Ketika Kampus Melihat Potensi
Dalam perjalanan menuju prestasi nasional, Nabila juga tidak berjalan sendirian. Ia menyebut dukungan keluarga, pimpinan fakultas, serta dosen dan pembimbing sebagai bagian penting dari proses yang dilaluinya.
Wakil Dekan, menurut Nabila, menjadi salah satu pihak yang melihat potensi dirinya dan menyadari bahwa berbagai pengalaman yang dimilikinya dapat menunjang pencalonannya sebagai mahasiswa berprestasi. Sementara para dosen Arsitektur membantu mengembangkan gagasan agar inovasi yang dibuatnya tidak berhenti sebagai ide, tetapi dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Dukungan tersebut menjadi penting bagi Nabila karena ia ingin menunjukkan bahwa mahasiswa berprestasi tidak harus hanya aktif di bidang akademik.
Pengalaman organisasi, pekerjaan, kompetisi, karya, kemampuan komunikasi, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat justru menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya.
Jepang Bukan Garis Akhir
Kesempatan belajar di The University of Kitakyushu menjadi kelanjutan dari perjalanan tersebut. Nabila menyebut kemampuan bahasa Inggris, publikasi, karya, dan pengalaman kompetisi sebagai beberapa modal yang membantunya terpilih mengikuti program pertukaran pelajar.
Sebelum berangkat, ia masih harus mempersiapkan visa, kebutuhan finansial, serta kemampuan bahasa. Program yang akan diikutinya menggunakan bahasa Inggris dalam kelas internasional, tetapi kehidupan di Jepang juga membuatnya ingin mempelajari bahasa setempat.
Selama satu tahun di Jepang, Nabila tidak menargetkan sekadar menyelesaikan program akademik. Ia ingin melihat bagaimana arsitektur berkembang dalam lingkungan yang berbeda, memperoleh perspektif baru, dan meningkatkan keterampilannya melalui pertemuan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.
“Di sana saya hanya datang sebagai gelas kosong,” ujar Nabila.
Ia ingin datang untuk belajar sebanyak mungkin dan kembali membawa sesuatu yang dapat memberi dampak.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa bagi Nabila, prestasi bukan titik akhir. Penghargaan sebagai Juara III Mahasiswa Berprestasi Nasional justru membuka pintu menuju pengalaman berikutnya.
Ia bahkan berharap capaian yang diperolehnya tidak berhenti pada dirinya.
“Prestasi yang Nabilah dapat hari ini tidak hanya berhenti pada Nabilah tapi juga akan berlanjut ke mahasiswa-mahasiswa lainnya,” katanya.
Dari Satu Perjalanan Menjadi Kemungkinan bagi yang Lain
Kisah Nabila memperlihatkan sisi lain dari kehidupan mahasiswa berprestasi. Di balik panggung penghargaan terdapat proses yang berlangsung setiap hari: kuliah, bekerja, mengembangkan keterampilan, mengikuti kompetisi, mengerjakan karya, dan mencari cara agar pendidikan tetap dapat berjalan.
Ia tidak menunggu semua kondisi menjadi ideal untuk mulai berkembang. Ketika biaya kuliah menjadi persoalan, ia mencari pekerjaan yang dapat dilakukan dengan keterampilan yang dimilikinya. Ketika kompetisi membuka kesempatan, ia mengikutinya. Ketika menemukan persoalan masyarakat, ia mencoba merumuskannya menjadi gagasan.
Kini, Jepang menjadi ruang belajar berikutnya.
Nabila berharap satu tahun di The University of Kitakyushu memberinya perspektif yang lebih luas mengenai arsitektur dan kehidupan akademik di negara lain. Ia juga ingin pulang dengan pengetahuan yang dapat dibagikan kembali.
Bagi mahasiswa lain yang mungkin sedang berada di titik awal perjalanan, Nabila memiliki pesan yang lahir dari pengalamannya sendiri.
“Kalau kalian tidak bisa menjadi bintang untuk orang lain, kalian harus bisa menjadi bintang untuk diri sendiri,” tuturnya.
Pada 28 September nanti, Nabila akan berangkat membawa pencapaian yang telah diraihnya. Tetapi yang lebih penting, ia membawa pengalaman tentang bagaimana sebuah kesempatan bisa dicari, diperjuangkan, dan kemudian dibagikan kembali.
Dari pekerjaan lepas yang membantu membiayai kuliah, ruang kompetisi yang mengantarnya menjadi juara nasional, hingga ruang kelas di Jepang, perjalanan Nabila belum selesai. Ia baru saja membuka bab berikutnya. (RK/RI)

