Bandung, UPI

Kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) mulai diarahkan pada mekanisme kolaborasi yang lebih konkret, tidak berhenti pada forum koordinasi. Sejumlah bentuk dukungan, mulai dari skema pendanaan khusus, pengelolaan data riset, penyelarasan peta jalan penelitian hingga pengembangan sumber daya manusia peneliti, disiapkan dalam pembahasan Forum Dialog Strategis BRIN dan Majelis Senat Akademik PTN-BH di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Selasa (22/9/2026).

Deputi Bidang Fasilitas Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, mengatakan PTN-BH merupakan mitra strategis BRIN dalam pengembangan riset dan inovasi karena sumber daya manusia unggul di bidang tersebut banyak berada di perguruan tinggi. BRIN, menurutnya, berkomitmen membangun kerja sama riset dan inovasi bersama PTN-BH.

Salah satu bentuk dukungan yang tengah disiapkan adalah mekanisme pendanaan baru yang secara khusus ditujukan bagi PTN-BH. Prof. Agus mengatakan skema tersebut direncanakan diluncurkan pada November 2026.

Selain pendanaan, BRIN juga memiliki layanan manajemen pengetahuan berupa platform repository data yang dapat dimanfaatkan peneliti PTN-BH untuk menyimpan dan melakukan pencadangan data penelitian. Fasilitasi lainnya mencakup kekayaan intelektual dan manajemen pengetahuan.

Menurut Prof. Agus, pembahasan kerja sama tersebut kemudian diturunkan ke dalam tiga kelompok kerja. Kelompok pertama membahas penyelarasan agenda dan peta jalan riset, termasuk bagaimana peta jalan tersebut diterjemahkan ke dalam pendanaan dan mekanisme pelaksanaannya.

Kelompok kedua membahas etika penggunaan kecerdasan artifisial (AI). BRIN bersama PTN-BH akan menyusun panduan pemanfaatan AI yang dapat menjadi rujukan bagi para peneliti, baik di BRIN maupun perguruan tinggi.

“Ini komitmen bersama agar Indonesia mempunyai platform yang bisa mengendalikan penggunaan AI dengan mendahulukan manusia daripada kecerdasan artifisial itu sendiri,” ujar Prof. Agus.

Sementara itu, kelompok ketiga membahas mobilitas dan pengembangan sumber daya manusia peneliti. Salah satu gagasan yang dibahas adalah membuka peluang jabatan fungsional peneliti di PTN-BH sehingga tenaga pendidik yang memiliki fokus riset dapat memiliki jalur karier sebagai peneliti hingga jenjang profesor.

Sekretaris Majelis Senat Akademik PTN-BH sekaligus Ketua Senat Akademik UPI, Prof. Dr. Yadi Ruyadi, S.H., M.Si., melihat langkah tersebut sebagai bagian dari kebutuhan membangun ekosistem riset yang lebih terkoordinasi. Menurutnya, selama ini BRIN, PTN-BH, dan Kementerian Dikti Saintek masih menghadapi persoalan koordinasi dalam pengembangan riset.

“Ini menjadi satu momentum penting untuk kita bisa kerja bareng, bagaimana menghasilkan riset dan inovasi yang betul-betul bisa menyelesaikan masalah-masalah bangsa kita dan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat,” kata Prof. Yadi.

Forum Dialog Strategis MSA PTN-BH dan BRIN dijadwalkan berlangsung pada 28–30 September 2026. Sebelum forum tersebut, UPI menjadi tuan rumah rapat koordinasi untuk menyiapkan rumusan dari tiga kelompok kerja yang akan dibawa dalam pembahasan bersama BRIN. (RK/RI)