CIKGU, SANG GURU BESAR

Masyarakat sekitar menyebutnya Cikgu Gabrail Wan. Ia seorang yang pernah mencapai jabatan Guru Besar pada Sekolah Kebangsaan Long Loyang di sebuah kampung, daerah Miri Serawak Malaysia.
Lho, koq bisa dipanggil Guru Besar? Di Malaysia, Guru Besar adalah jabatan terhormat dan bisa jadi dambaan bagi semua guru Sekolah Rendah Kebangsaan di Malaysia. Guru Besar adalah sebutan Kepala Sekolah atau Headmaster pada jenjang Sekolah Rendah di Malaysia. Demikian juga Cikgu Gabral Wan, ia salah seorang dari ribuan Guru Besar yang pernah memimpin Sekolah Rendah Kebangsaan di Malaysia.
Dari delapan ribu sekolah rendah yang tersebar di tiga belas negara bagian di Malaysia, semua sekolah tersebut dipimpin oleh seorang Guru Besar. Sehingga seorang rekan, dosen dari salah satu perguruan tinggi di Indonesia, yang lama menuntut ilmu di salah satu universitas Malaysia, pernah berseloroh bahwa kualitas pendidikan di Malaysia bisa mencapai puncak kejayaan, karena tiap sekolah rendah dipimpin langsung oleh seorang Guru Besar. Guru Besar di Malaysia adalah jabatan struktural untuk posisi kepala sekolah. Sedangkan di Indonesia, jabatan kepala sekolah dasar disebut Kepala Sekolah.

Guru Besar atau Profesor

Di Indonesia, Guru Besar atau Profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. (UU no. 14/2005 tentang Guru dan Dosen). Guru besar atau Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi. Ia memiliki kewenangan membimbing calon Doktor. Ia juga memiliki tugas khusus menulis buku dan karya ilmiah lain serta menyebarkan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat. Oleh karena peran Guru besar sangat diharapkan masyarakat, masing masing PT didorong untuk menghasilkan Guru Besar agar tercipta pendidikan tinggi yang lebih berkualitas. Semakin banyak Guru Besar di suatu universitas, semakin tinggi peluang PT untuk melaksanakan Tri Dharma secara lebih berkualitas.
Guru Besar adalah seorang guru, pendidik, sekaligus peneliti yang hasil penelitiannya sangat ditunggu masyarakat sebagai perwujudan dan komitmen dalam pengembang bidang akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
Saat ini jumlah Profesor atau Guru besar di Indonesia, hanya sekitar 2% dari jumlah dosen yang ada di PTN ataupun PTS. Menurut Kemendikbudristek (2021), total Guru Besar di Indonesia saat ini sebanyak 5.479 orang dari total jumlah dosen yang berjumlah 312.890 orang. Berdasarkan jabatan akademik/fungsional dosen, jenjang tingkatan jabatan fungsional dosen di Indonesia, mulai dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, dan Profesor.
Sebagai pembanding tingkatan jenjang jabatan akademik universitas di beberapa negara termasuk Universitas di USA dikenal dengan nama Associate Professor atau Assistant Professor dan Professor.
Di universitas di Perancis, para profesor yang mengajar di perguruan tinggi dikenal dengan sebutan Professeur de l’universit√® (PU).
Sedangkan sistem jabatan akademik di Universitas Australia dikenal dengan Level E- Professor, Level D – Associate Professor, Level C – Senior Lecturer, Level B – Lecturer; Level A- Associate Lecturer.
Ada keterkaitan jumlah dan komposisi Doktor (Ph.D) di satu negara, dengan kemajuan bangsanya.
Weforum.org (2020) melaporkan bahwa Slovenia merupakan negara urutan pertama yang jumlah Doktor warganya terbanyak di Dunia. Sekitar 4 prosen warga Slovenia telah meraih gelar Doktor. Peringkat kedua diraih Swiss dengan prosentase lebih 3 %. Amerika Serikat berada di urutan keempat.
Lebih dari 2% warga USA bergelar Doktor. OECD (2014) melaporkan bahwa negara dengan jumlah Doktor terbanyak dicapai oleh USA. Yaitu mencapai lebih dari 67.449 orang warga USA telah meraih gelar Doktor. Jerman sebanyak 28.147 orang, dan Inggris mencapai 25.020 orang.

Profesor Pertama

Siapa Doktor dan Profesor pertama yang diraih warga negara Indonesia? Merdeka.com (2020) melaporkan bahwa Prof.Dr. Hoesein Djajadiningrat merupakan seorang warga pribumi Bumi Putra pertama yang meraih gelar doktor. Ia lahir di Serang Banten tahun 1886. Ia dikenal sebagai warga pribumi yang berkesempatan meraih Doktor bidang Arkeologi di Universitas Leiden pada tahun 1913. Disertasi penelitiannya berjudul Critische Beshouwing van de Sadjarah Banten: Bijdrage ter Kenschetsing van de Javaansche Geschiedschrijving. Atas prestasi akademiknya, pihak Universitas Leiden membuat Patung Hoesein. Patungnya terpajang rapih di pojok kampus Universitas Leiden sampai saat ini.Dalam perjalanan karier akademiknya, pada tahun 1940 Dr. Hoesein Djajadiningrat diangkat sebagai Guru Besar di Rechtschoogeschool de Batavia( Sekolah Ilmu Hukum Batavia) untuk bidang ilmu agama dan sastra. Ia sebagai Doktor dan Profesor pertama di Indonesia.

Profesor Killer

Al kisah, seorang Profesor bahasa Inggris bernama Richard Brown baru saja mendapat kabar buruk. Dokter pribadinya menyebutkan ia menderita kanker paru paru pada stadium empat. Usianya diprediksi hanya berbilang bulan. Sang profesor sangat putus asa mendapat kabar itu. Dokter pribadinya mengatakan usianya bisa tertolong manakala ia melakukan kemoterapi rutin dan mengisi sisa usianya dengan berbuat kebaikan. Richard Brown sang Profesor cerdas namun sering disebut dosen galak atau dosen killer sangat terpukul. Ia berupaya dan mencoba mengganti sifatnya yang galak pada mahasiswa nya dan menjadi a smart and emphatic smiling professor. Dosen cerdas yang ramah dan sangat berempati pada semua mahasiswa mahasiswinya.

Profesor Richard Brown mengisi waktunya dengan riang gembira. Ia mengajar dengan sentuhan komunikasi yang terjaga dan cita rasa humor yang tinggi. Suatu kebiasaan mengajar yang jarang ia lakukan sebelumnya. Mahasiswanya kini sangat senang. Dan Profesor Richard pun mengisi waktunya dan bercengkrama bersama mahasiswa mahasiswinya dengan amat riang gembira. Untuk mengetahui kisah Profesor Richard Brown silahkan buka link The Professor Official Trailer (2019) Jonny Depp- Youtube.

Humor Profesor

Profesor juga sering menjadi objek humor. Suatu hari Prof Malik Fajar (alm.) sebagai salah seorang tokoh Muhammadiyah bertemu dengan sahabatnya dari Nahdatul Ulama (NU) Dr.KH Hasyim Muzadi (Alm).
Suatu saat KH Hasyim Muzadi mendapati Prof. Malik Fajar sedang merokok.
“Lho, sampeyan tokoh Muhammadiyah merokok ?”, tanya KH. Hasyim Muzadi.
“Yah, aku sedang mencoba pindah ke Nahdatul Ulama (NU)”, jawab Prof Malik dengan nada enteng sambil mengepulkan asap rokok yang dihisapnya.
“Jadi, kalau merokoknya sudah selesai bagaimana?”, tanya Kyai Muzadi.
“Ya, saya pindah lagi ke Muhammadiyah”, jawab Prof. Malik Fajar dengan senyum terkekeh.
Itulah sisi lain dari tulisan ringan Cikgu, Guru Besar dan Sang Profesor.
Selamat menikmati libur akhir pekan.