Sendai, Jepang
Langit musim semi baru saja menyambut ketika Edi Widianto dan Dayu Rifantodi awal Mei 2025, dua mahasiswa doktoral Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, resmi menginjakkan kaki di Negeri Sakura. Sejak Mei hingga Juli 2025, mereka menjalani program student exchange sebagai special research student di Graduate School of Education, Tohoku University. Sebuah proses panjang yang dicapai melalui persiapan matang sejak tahun 2024 lalu.

Keduanya pada tahun 2024 yang lalu juga terlibat dalam riset kolaborasi antara UPI dan Tohoku University mengenai eksplorasi pendidikan nonformal dan informal di Suku Tengger, Bromo. “Kami dikenalkan dulu kepada Sensei kami melalui proyek ini. Jadi, saat sampai di Jepang, tidak merasa kaku lagi,” jelas Edi.
Program ini bukan sekadar perjalanan akademik, tapi juga sebuah lompatan lintas budaya dan nilai budaya. Di bawah bimbingan Sensei Dai Matsumoto, yang juga kolega Dr. Yanti Shantini, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, Edi dan Dayu menelusuri berbagai sudut kehidupan masyarakat Jepang, menggali praktik pendidikan karakter, strategi parenting, serta budaya literasi yang mengakar kuat.
Namun sebelum menikmati udara segar Sendai dan terpesona oleh tertatanya sistem pendidikan social Jepang (di Indonesia dikenal dengan Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Nonformal dan Informal), keduanya harus melewati tahap persiapan yang tidak sederhana. “Mulai dari proposal riset, data admission, paspor, visa, sampai menentukan tempat tinggal. Semua harus dilakukan secara presisi. Jepang sangat menekankan detail,” ungkap Dayu.
Sesampainya di Bandara Narita, pengalaman unik langsung menyambut mereka. Salah antre visa, kebingungan membaca petunjuk dalam bahasa Jepang, hingga mencari jalur keluar menuju imigrasi menjadi pembuka cerita mereka di tanah asing ini. “Kami sempat canggung dan kikuk, tapi setelah dapat residence card dan dijemput oleh Mas Taku Watanabe, mahasiswa S2 Prodi Seni Musik Tohoku, rasanya seperti menemukan cahaya,” ujar Edi sambil tertawa.
Tantangan Iklim dan Budaya
Menginjakkan kaki di Jepang pada awal musim semi bukan perkara mudah bagi Edi dan Dayu yang terbiasa dengan cuaca tropis. “Dingin banget! Padahal warga lokal masih pakai pakaian biasa. Kami sudah berlapis-lapis,” tutur Edi, mengisahkan awal adaptasi mereka di Sendai.
Mereka tinggal di International House Sanjo I, sebuah asrama kampus yang meskipun dibangun tahun 1983, memiliki fasilitas lengkap dan nyaman. Di sinilah mereka bertemu mahasiswa internasional dari berbagai negara, membuka cakrawala persahabatan lintas benua.
Namun, adaptasi budaya terbukti menjadi babak yang penuh kejutan. Dari dua kali tersesat saat naik bus, hingga merasa ‘sunyi’ di tengah keramaian karena budaya diam orang Jepang di kendaraan umum. “Saya terkejut melihat orang-orang begitu tertib, antri di kasir, menyeberang jalan selalu lewat zebra cross dan tunggu lampu hijau. Di Indonesia? Hehehe… you know lah,” canda Dayu.
Budaya bersih dan disiplin Jepang juga membuat mereka angkat topi. “Semua orang memilah sampah dari rumah. Bahkan bungkusnya diberi kode warna dan tulisan. Dan… hampir tidak ada yang buang sampah sembarangan,” ujar Edi.

Meneliti, Mencatat, Mengagumi
Dalam dua bulan pertama, agenda keduanya cukup padat. Dimulai dari briefing awal program riset di kampus Tohoku, menyaksikan kemeriahan Sendai Aoba Festival, kunjungan ke Sendai Mediatheque, SD Ayashi, wawancara ke rumah orangtua siswa bernama Ibu Saito, hingga wawancara dengan Ibu Ando-san, selaku koordinator sekolah, dan kunjungan ke SMP sore berbasis sukarelawan.
Edi menggali lebih dalam tentang praktik parenting dan pendidikan karakter yang melibatkan kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat. “Saya kagum bagaimana komunikasi antara orangtua, guru, dan masyarakat berjalan intens dan harmonis. Ini bisa jadi referensi bagi pendidikan karakter di Indonesia,” ungkap Edi penuh semangat.

Sementara itu, Dayu mendalami budaya literasi masyarakat Jepang yang sangat kuat. “Di rumah salah satu orangtua siswa, saya melihat minat baca orangtua yang tinggi ! Anak-anak tumbuh di lingkungan yang memang mendukung literasi sejak dini,” ujar Dayu takjub.
Jepang dan Pelajaran Hidup
Selain dunia akademik, pengalaman hidup di Jepang pun memberi banyak pelajaran. Edi masih tidak habis pikir bagaimana jalanan Jepang begitu lengang dari kemacetan. “Jepang negara produsen otomotif, tapi tak ada mobil parkir di sembarang tempat. Semua punya tempat parkir pribadi atau sewa. Dan yang paling mengagetkan, tidak ada tukang parkir! Semua serba otomatis,” tegas Edi.
Harga makanan yang mahal memaksa mereka untuk rajin memasak. “Beras 5 kilogram harganya ¥4,500, hampir setengah juta rupiah! Kami jadi belajar hidup hemat dan mandiri,” kata Dayu sambil tersenyum.
Meski banyak kejutan dan tantangan, semangat mereka tidak luntur. Setiap hari menjadi ruang belajar baru. Setiap kejadian menjadi bagian dari refleksi diri sebagai peneliti dan calon akademisi.
Kisah Edi dan Dayu bukan sekadar catatan akademik, tetapi kisah hidup tentang ketekunan, keberanian, dan adaptasi lintas budaya. Mereka bukan hanya belajar tentang Jepang, tapi juga sedang menulis ulang definisi tentang arti belajar itu sendiri.
“Jepang mengajarkan kami tentang hidup yang tertib, sederhana, dan bermakna. Dan kami ingin membawa pulang nilai-nilai itu ke Indonesia,” tutup Edi.
Sementara Dayu menambahkan, “Yang kami alami di sini akan menjadi narasi panjang dalam perjalanan akademik dan pribadi kami. Jepang bukan hanya tujuan riset, tapi juga rumah kedua yang penuh makna.”

