Bandung, UPI

Gemuruh tepuk tangan memenuhi Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) saat satu per satu wisudawan melangkah maju menuju podium untuk menerima Ijasah dalam prosesi wisuda Gelombang III UPI, Selasa (21/7/2026).

Sementara di depan podium, duduk diantara para Guru Besar, seorang alumni memperhatikan pemandangan yang tak asing baginya. Ia memahami betul campuran rasa haru, bangga, sekaligus cemas yang tengah dirasakan para lulusan baru. Bertahun-tahun lalu, ia pernah berdiri di posisi yang sama.

Dialah Zaky Iben, alumni Pendidikan Teknik Mesin UPI yang kini dipercaya sebagai General Manager Divisi Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) PT Pindad.

Hari itu, ia kembali ke kampus bukan sebagai mahasiswa yang menanti namanya dipanggil, melainkan sebagai alumni yang diminta hadir untuk berbagi pengalaman kepada generasi penerus.

“Perasaannya senang. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya kembali ke sini. Beberapa waktu lalu Pak Rektor menghubungi saya dan meminta hadir. Sebagai alumni yang banyak dibesarkan di sini, tentu saya menyambutnya dengan senang hati,” ujarnya.

Kembalinya Zaky ke Bumi Siliwangi bukan sekadar nostalgia. Ia membawa cerita tentang perjalanan panjang yang dimulai dari ruang-ruang kuliah, laboratorium, hingga akhirnya mengantarkannya menduduki posisi strategis di industri pertahanan nasional.

Namun, perjalanan itu sama sekali bukan kisah tentang kesuksesan yang datang dalam semalam.

Saat menjadi mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK), Zaky aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi, termasuk komunitas robotik. Di sanalah ia belajar bahwa kuliah bukan hanya soal menyelesaikan mata kuliah, tetapi juga melatih kerja sama, kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan persoalan.

Ia masih mengingat bagaimana beratnya perjuangan menyelesaikan studi teknik.

“Teman-teman di jurusan teknik sangat susah payah. Kita harus mengeluarkan tenaga, waktu, dan pikiran. Karena itu, ketika melihat teman-teman diwisuda hari ini, saya ikut senang. Wisuda adalah klimaks dari perjuangan, tetapi bukan akhir dari segalanya.”

Kalimat terakhir itu bukan sekadar penghiburan. Itu adalah pengalaman yang pernah ia jalani sendiri.

Selepas wisuda, Zaky menghadapi kenyataan yang sama seperti ribuan lulusan baru lainnya. Tidak ada karpet merah yang langsung membawanya ke perusahaan besar. Tidak ada jabatan bergengsi yang datang begitu saja.

Sebaliknya, ia memulai semuanya dari nol.

“Saya harus masuk ke job fair, lalu ke job fair yang lain, berpindah dari satu kota ke kota lain,” kenangnya.

Ada rasa cemas. Ada penolakan. Ada ketidakpastian.

Namun, ia memilih untuk tidak berhenti melangkah.

Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing, dan setiap kemampuan yang dimiliki akan menemukan tempatnya jika terus diasah.

Kariernya tidak langsung dimulai di perusahaan besar. Ia justru memulai dari perusahaan kecil, mengumpulkan pengalaman sedikit demi sedikit. Dari setiap tantangan yang datang, ia belajar beradaptasi, memperbaiki diri, dan membangun kepercayaan.

“UPI sudah membentuk kita dengan karakter yang kuat, adaptif, dan pantang menyerah,” katanya.

Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi bekal paling berharga ketika dunia kerja menuntut lebih dari sekadar ijazah.

Baginya, kompetensi teknis memang penting. Namun, kemampuan beradaptasi jauh lebih menentukan.

Di tengah perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat, ia melihat perubahan sebagai sesuatu yang harus dihadapi, bukan ditakuti.

“Manusia bisa tergeser oleh teknologi. Tapi bukan berarti teknologi menguasai semuanya, karena harus ada mindset di balik teknologi itu. Kita harus menjadi orang yang berada di belakang teknologi tersebut, bahkan menjadi orang yang menciptakannya.”

Cara pandang itu terus membawanya bertumbuh hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi General Manager Divisi MRO PT Pindad. Sebuah pencapaian yang lahir bukan dari lompatan besar, melainkan dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan konsisten.

Meski telah berada di level manajemen, Zaky merasa dirinya masih seorang pembelajar.

Ada satu pelajaran dari UPI yang tidak pernah ia lepaskan.

Long life education atau pembelajaran sepanjang hayat.”

Prinsip itu, menurutnya, menjadi bekal paling relevan di tengah dunia yang terus berubah.

Ia percaya seseorang tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah lulus kuliah atau memiliki jabatan tertentu. Setiap generasi menghadirkan tantangan baru, setiap perkembangan teknologi melahirkan pengetahuan baru, dan setiap perubahan zaman menuntut manusia untuk terus memperbarui diri.

Selain itu, ia juga masih memegang teguh nilai Tridharma Perguruan Tinggi.

Baginya, penelitian mengajarkan seseorang untuk terus mengamati dan memahami lingkungan. Pendidikan mengajarkan keberanian untuk terus belajar. Sementara pengabdian mengingatkan bahwa ilmu yang diperoleh harus kembali memberi manfaat bagi masyarakat.

Nilai-nilai itu pula yang membuatnya tetap merasa dekat dengan almamaternya.

Sebelum meninggalkan kampus, Zaky menyempatkan diri menyampaikan pesan kepada para wisudawan yang baru saja memulai babak kehidupan berikutnya.

“Selalu tetap semangat, jangan pantang menyerah, dan jangan terlalu membandingkan diri dengan kesuksesan orang lain. Percayalah bahwa Tuhan sudah menyiapkan jalan dan rezeki setiap orang sesuai porsinya. Tugas kita adalah terus berikhtiar, berdoa, dan bertawakal.”

Pesan itu terasa sederhana. Namun, bagi seseorang yang pernah berpindah dari satu job fair ke job fair lainnya sebelum akhirnya dipercaya memimpin salah satu divisi strategis di PT Pindad, kalimat tersebut lahir dari pengalaman yang benar-benar dijalani.

Di luar Gedung Gymnasium, para wisudawan mulai meninggalkan kampus bersama keluarga masing-masing. Toga perlahan dilepas, bunga-bunga mulai dibawa pulang, dan halaman kampus kembali lengang.

Namun, seperti yang diyakini Zaky Iben, wisuda bukanlah garis akhir.

Ia hanyalah langkah pertama menuju perjalanan yang sesungguhnya perjalanan yang menuntut keberanian untuk terus belajar, kemampuan untuk terus beradaptasi, dan keyakinan untuk tetap melangkah, bahkan ketika jalan di depan belum sepenuhnya terlihat. (Adia)