
Sumedang, UPI
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerapkan pendekatan berbasis analisis kebutuhan masyarakat dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) Kampus Berdampak Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Kebutuhan masyarakat menjadi salah satu dasar bagi program studi dalam menentukan bentuk keterlibatan mahasiswa di wilayah sasaran.
Kepala Divisi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan UPI, Dr. Sandey Tantra Paramitha, S.Si., S.H., M.Pd., M.H., mengatakan pendekatan tersebut menjadi salah satu hal yang membedakan pelaksanaan P2MB saat ini. Analisis dilakukan oleh program studi dengan mempertimbangkan kebutuhan yang berasal dari kepala desa dan masyarakat, kemudian disesuaikan dengan bidang keilmuan mahasiswa.
“Basis daripada pelaksanaan KKN P2MB ini adalah berbasis analisis yang dilakukan oleh program studi,” ujar Sandey dalam Sosialisasi dan Pendampingan P2MB Kampus Berdampak “Sauyunan” di Kampus UPI di Sumedang, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat pelaksanaan P2MB tidak berhenti pada penempatan mahasiswa di suatu wilayah. Mahasiswa diharapkan memiliki keterkaitan keilmuan dengan kebutuhan yang ditemukan di masyarakat sehingga ilmu yang diperoleh di kampus dapat diterapkan secara langsung.
Sandey menjelaskan, masyarakat menjadi sasaran pemberdayaan, sementara desa ditempatkan sebagai laboratorium bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan yang telah diperoleh di lingkungan kampus. Proses tersebut diarahkan agar ilmu yang dibawa mahasiswa dapat digunakan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk persoalan yang berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.
Pada Semester Ganjil 2026/2027, rekap penempatan KKN/P2MB mencatat 376 mahasiswa dalam 35 kelompok yang tersebar di 26 desa pada tujuh kecamatan di tiga kabupaten, yaitu Subang, Sumedang, dan Garut.
Dari jumlah tersebut, Kampus UPI di Sumedang melalui Program Studi PGSD menempatkan 213 mahasiswa dalam 19 kelompok. FPOK melalui Program Studi Gizi menempatkan 95 mahasiswa dalam delapan kelompok, sedangkan Program Studi KFO menempatkan 68 mahasiswa dalam delapan kelompok.
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa penempatan P2MB disusun dengan mempertimbangkan tiga unsur, yakni fakultas atau program studi, wilayah, dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, keberadaan mahasiswa di desa diharapkan tidak sekadar menjadi aktivitas akademik, tetapi menjadi ruang untuk menerapkan kompetensi yang dimiliki dalam situasi nyata.
Pendekatan tersebut juga menempatkan mahasiswa sebagai pihak yang perlu memahami persoalan masyarakat secara langsung sebelum memberikan intervensi. Karena itu, pengalaman di lapangan menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Sandey berpesan agar mahasiswa mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di kampus ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembentukan mahasiswa yang mampu memberikan manfaat secara langsung.
“Mahasiswa yang kekinian adalah mahasiswa yang berdampak,” tegasnya.
Melalui model tersebut, P2MB UPI menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai dasar perencanaan program dan kompetensi keilmuan sebagai modal mahasiswa untuk memberikan intervensi. Desa kemudian menjadi ruang nyata bagi mahasiswa untuk menguji sekaligus menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. (RK/Angga)

