
Bandung, UPI
“Menulis adalah Kebutuhan” demikian ungkapan yang dikatakan Deni Darmawan di sela-sela kesibukannya di Kampus UPI di Cibiru, Kabupaten Bandung. Tercatat sebanyak 62 judul buku baik itu buku yang ditulis sendiri maupun bersama telah dihasilkan.
Selama menjadi fasilitator umum di Kampus UPI di Cibiru, tepatnya 2 tahun lalu, kebiasaan menulis tetap menjadi kebutuhan. Jadi menurut Deni, dari kebiasaan menulis, lama kelamaan menjadi kebutuhan dalam menuangkan ide-ide pemikiran dan ide-ide terbarukan, bahkan idealisme dalam mewujudkan tujuan positif yang berhubungan dengan profesinya sebagai pendidik terus membumi.
Hingga saat ini di sela-sela kesibukannya dalam melayani civitas UPI di Cibiru, “Kebiasaan-Kebutuhan” tersebut tidak pernah terlewatkan. Kedua kata tersebut sampai sekarang seolah menjadi karakternya.

Menurutnya, untuk menulis sebuah buku, dibutuhkan suatu “Kebiasaan” dalam mengumpulkan sumber-sumber inspiratif dan ide-ide terbarukan. Kapan pun jika sudah menjadi kebiasaan maka tidak ada yang dapat menghalanginya. Kondisi kebiasaan ini terus berkembang dan akhirnya menjadi sesuatu yang dilakukannya dengan refleks. Maka terasa sekali ketika mendapatkan ide-ide baru, biasanya langsung dapat dikembangkan dan menjadi uraian serta deskripsi hingga menjadi berlembar-lembar.
Ketika “Kebiasaan” tersebut sudah merajalela dalam jiwa dan pemikirannya, maka setiap dirinya sedang dalam kondisi apapun, sering tersirat ide-pemikiran maupun inspirasi baru melesat dalam pikirannya, maka saat itupula secapat kilat harus ditangkap dan segera dituangkan dalam note-note keyboard laptopnya. Jika tidak segera, maka yang “melesat” tadi bisa saja menghilang terbang jauh dari kepalanya.
Ketika telah menjadi kebiasaan dalam melakukan pengembangan ide gagasan menjadi sejumlah lembaran naskah, selanjutnya hal tersebut menjadi sebuah “Kebutuhan”. Kenapa harus menjadi kebutuhan, karena setiap orang kalau sudah butuh, maka dalam dirinya bergumam (melalui keunggulan “Bio-communication”-nya), dan berkata antara saya dengan aku, demikian bergejolak keduanya berkomunikasi untuk dapat selalu memenuhi “Kebutuhan” untuk bisa menulis buku.
Itulah gejala transformative Bio-communication ke dalam kunci keberhasilan individu dalam meraih kemudahan untuk menulis sebuah buku yaitu dengan melatih untuk membiasakan diri menulis dan akhirnya menjadi suatu kebutuhan untuk mengaktualisasikannya dalma karya yang tidak akan habis.

Sampai saat ini di usianya yang ke-54 tahun, karyanya telah diserahkan kepada Perpustakaan UPI, hampir setengahnya, yaitu sebanyak 40 judul buku. Semoga tulisan pengalaman sederhana dari seorang Alumni SPGN 1 Bandung, lulusan IKIP Bandung, Ilmu Komunikasi Unpad, serta Alumni Austra Award Felowship ini dapat menjadi motivasi bagi siapaun yang ingin menjadi penulis buku. Karena ibarat kata, sebuah istilah bahwa “Gajah Mati Meninggalkan Gadingnya, Harimau Mati Meninggalkan Belangnya”, selanjutnya Manusia Mati Meninggalkan Karyanya”. Semoga karya-karya seperti yang telah dituliskan seorang Deni Darmawan dapat memberikan manfaat dan dibaca sepanjang masa oleh generasi ke generasi. (DD.Medio, Ramadhan 1446 H, 21Maret 2025)

