Bandung, UPI

Luapan kebahagiaan membahana di area wisuda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Selasa (21/7/2026). Di antara ribuan orang tua yang datang mengenakan pakaian terbaiknya, seorang pria berusia 57 tahun berdiri mematung. Pakaiannya sederhana, raut wajahnya tegar, namun matanya tak bisa berbohong, ada genangan air mata syukur yang ditahannya sekuat tenaga.

Hari itu, putra bungsunya, Doni Faryawan, resmi menyandang gelar sarjana. Bagi keluarga asal Bogor ini, momen tersebut bukan sekadar prosesi pemindahan tali toga biasa. Doni adalah anak pertama dalam sejarah keluarga mereka yang berhasil menembus tembok perguruan tinggi.

Menghidupi keluarga dari upah yang tak pasti sebagai buruh harian lepas sudah dilakoni sang ayah sejak masih bujangan. Setiap rupiah yang dikumpulkan harus dibagi rata antara dapur yang tetap ngebul dan biaya sekolah anak-anak.

Namun, perjuangan itu tidak dipikulnya seorang diri. Di sampingnya, sang istri yang merupakan seorang penyandang disabilitas terus setia mendampingi. Meski terhalang keterbatasan fisik, sang ibu menjadi benteng doa yang tak pernah roboh, memberi semangat bagi Doni untuk terus melangkah hingga ke perguruan tinggi.

Ketika ditanya mengenai perjalanan panjang menguliahkan sang anak, sang ayah sempat terdiam cukup lama. Pandangannya menerawang ke udara, mengingat kembali setiap peluh dan pengorbanan yang telah dilewati. Suaranya mendadak bergetar.

“Yang penting anak sukses, enggak kayak orang tuanya,” ucap sang ayah lirih sembari mengusap sudut matanya yang basah.

Kalimat pendek itu menyuarakan segalanya. Tak ada penyesalan atas getirnya masa lalu, yang ada hanyalah tekad baja agar garis keturunan mereka memiliki masa depan yang jauh lebih cerah.

Perjuangan kedua orang tuanya dibayar tuntas oleh Doni. Di kampus, ia tak hanya tekun menimba ilmu, tetapi juga mengukir prestasi sebagai atlet handball (bola tangan).

Wajah sang ayah kembali berseri ketika menceritakan pencapaian putranya di bidang olahraga. Senyum bangga mengembang saat ia mengenang momen Doni dua kali berkesempatan membawa nama Indonesia bertanding di Malaysia.

Meski demikian, sang ayah tak pernah menuntut banyak hal dari jalan hidup yang dipilih putranya. Prinsipnya sederhana, tugas orang tua adalah mendukung dan mendoakan ke mana pun anak ingin melangkah.

“Anak itu harus benar-benar kita perjuangkan, supaya jangan sampai kayak kita gini. Yang penting semangat, jangan pantang mundur,” pesannya untuk Doni dan para orang tua lain yang tengah berjuang.

Di tengah ribuan wisudawan yang merayakan kelulusan hari itu, cerita keluarga Doni mungkin terlihat seperti satu dari sekian banyak kisah sederhana. Namun, di balik kain hitam toga yang dikenakan Doni, tertenun kerja keras seorang ayah buruh harian, keteguhan hati seorang ibu difabel, dan doa-doa malam yang akhirnya terjawab.

Air mata yang menetes di UPI hari itu bukanlah duka, melainkan luapan rasa syukur. Bagi pasangan suami istri ini, kebahagiaan terbesar dalam hidup bukanlah harta atau kemewahan, melainkan kesempatan melihat putra mereka berdiri tegak menatap masa depan yang baru (Fauzan)